Kampanye Presiden Damai


Baru-baru ini, sedang ramai diperbincangkan sikap salah satu media massa yang secara terang-terangan menyatakan dukungannya kepada salah satu pasangan capres. Terlepas dari pro-kontra yang muncul setelah kolom editorial berjudul ‘Endorsing Jokowi‘ itu beredar luas, saya sangat menyukai tulisan itu. Well written kalau orang bilang. Apalagi saya juga pendukung capres yang dimaksud, tentu saja.

Saya coba kutipkan salah satu paragraf yang saya sukai:
In five days this nation too will make a moral choice. In an election like no other — divisive in its campaigning, pre carious in its consequences — Indonesians will be required to determine the future of our body politic with a single piercing of a ballot paper.”

Ya. Moral. Sesuatu yang sudah mulai dilupakan bangsa ini dalam berkampanye. Padahal Piilihan capres menurut saya adalah pilihan moral, rasional dan sekaligus emosional. Ketiganya harus dalam taraf yang seimbang. Maka seharusnya kampanye dari masing-masing pihak juga dilakukan dengan pertimbangan ketiga hal di atas. Sayangnya, kampanye yang selama ini berjalan (khususnya di dunia maya), lebih banyak yang sifatnya emosional. Pertimbangan moral hampir-hampir dilupakan oleh sebagian besar pendukung kedua capres. Maka jangan heran jika banyak kampanye hitam pun negatif beredar. Bahkan masing-masing kubu pendukung saling hujat, saling serang, saling tuduh, saling merendahkan. Tak peduli itu saudara, kawan, rekan kerja, atau mungkin pasangan.

Ini bisa dipahami, karena dalam teori Psikologi Sosial, bias dan prasangka adalah dua hal yang akan terus melekat ketika sebuah kelompok terbentuk. Bias adalah ketika anggota sebuah kelompok merasa ‘kelompokku yang benar, kelompok lain salah’. Prasangka adalah dugaan-dugaan negatif yang muncul terhadap kelompok lain, tanpa didasari alasan faktual dan objektif. Pemilu kali ini hanya menyediakan dua pilihan, yang alhasil membentuk dua kelompok besar masyarakat: kelompok pendukung Prabowo – Hatta dan kelompok pendukung Jokowi – JK. Kalau digambarkan dalam bentuk diagram vena mungkin seperti ini:

20140705-094324.jpg

Bagian yang di tengah adalah para swing / undecisioned voters. Bagian inilah yang mungkin masih netral, karena tidak ada bias dan prasangka yang muncul. Bagian ini pulalah yang sedang diperebutkan oleh kelompok 1 dan 2, dengan berbagai cara. Baik kelompok 1 maupun kelompok 2 akan berusaha menunjukkan ‘Pilihanku yang benar, pilihanmu salah’, dan berusaha menunjukkan dugaan-dugaan yang selama ini mereka yakini benar. Baik dugaan positif tentang pilihannya, maupun dugaan negatif tentang pilihan lawan. Memang hanya dugaan atau asumsi saja, karena yang sebenar-benarnya tahu tentang Prabowo atau Jokowi hanya mereka sendiri dan Tuhan.

Hal ini sebenarnya wajar, dan akan selalu terjadi dalam kehidupan sehari-hari kita. Di sekolah, di kampus, di kantor, di dunia olahraga… Dimanapun akan selalu muncul kelompok-kelompok. Maka dimanapun akan muncul bias dan prasangka. Dimanapun, dan di ranah apapun, sangat mungkin muncul kelompok-kelompok fanatik. Kelompok fanatik tidak hanya muncul di kelompok agama, bahkan di industri hiburan juga muncul kelompok fanatik. Belieber, misalnya… Atau Vvota? Dan, mau kelompok fanatik agama, artis, bola, politik atau apapun itu…karakter anggotanya akan selalu sama. Penuh bias dan prasangka.

Sekali lagi ini hal wajar. Tapi… Jika 250-an juta penduduk Indonesia terbelah ke dalam dua kelompok, dan kedua-duanya adalah kelompok fanatik, ini harus diwaspadai. Bukan tidak mungkin, selesai pilpres nanti akan terjadi chaos.

Sebentar lagi kita akan memasuki hari-hari tenang kampanye. Coba diam sejenak, tenangkan pikiran, tarik napas dalam-dalam sambil pejamkan mata, lalu hembuskan perlahan. Kosongkan pikiran dari hal-hal negatif yang selama dua bulan terakhir membuat kita menjadi orang yang ‘selalu waspada’ dan ‘curiga’. Waspada baik, curiga juga baik agar kita tidak mudah tertipu. Tapi, selalu waspada dan curiga tidak baik untuk kesehatan mental kita. Buka mata, hati, dan pikiran kita lebar-lebar untuk berita-berita positif. Akui kalau selama dua bulan terakhir ini kita pernah, meski sekali, menyebarkan salah satu berita negatif tentang pasangan capres yang tidak kita pilih. Akui, kalau selama dua bulan terakhir ini kita mungkin telah berubah menjadi seorang pemilih fanatik. Akui juga, bahwa sejelek-jeleknya Prabowo atau Jokowi di mata kita, mereka masih punya sisi baik.

Tenaga sudah dikerahkan, emosi sudah dicurahkan, pertemanan sudah dikorbankan. Mungkin sudah saatnya kita menarik diri dari pertarungan, menahan tangan untuk tidak klik ‘share’ atau ‘retweet’ berita negatif, menutup mulut dari hujatan. Sambil tetap lantang melantun doa:
“Bismillah… Semoga pilihan kita, siapapun itu, adalah pilihan terbaik di mata Tuhan. Semoga pemimpin kita, siapapun itu, adalah pemimpin yang amanah…dan akan membawa kedamaian dan kebaikan untuk kita semua. Semoga kita telah memilih berdasarkan pertimbangan moral dan rasional, bukan sekedar emosional.”

I prefer to be a smart and mature voter. What about you? šŸ˜‰

20140705-094042.jpg

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s