Revolusi Mental di Mata Saya


“Anjinggggggg…..”

Sontak saya terkejut mendengar teriakan seperti itu. Di depan saya, berdiri seorang anak berumur kisaran dua tahun, dengan badan kecil kerempeng, berkali-kali teriak ‘anjing’ pada nenek yang mengasuhnya. “Bego Lu….!” sang Nenek lantang menjawab.

Saya cuma bisa terdiam. Jantung saya rasanya berhenti sejenak mendengar dialog nenek-cucu seperti itu. Ini di rumah, bukan di jalanan. Seumur hidup, baru kali ini saya melihat langsung adegan saling melempar kata-kata kotor antara seorang nenek dan cucunya yang masih balita seperti itu.

Beberapa bulan tinggal di Jakarta akhirnya membuat saya ‘terbiasa’ dengan sikap-sikap negatif seperti itu. Kasus Dinda, misalnya. Bisa jadi cara si ibu hamil meminta tempat duduk kepada Dinda memang tidak cukup baik sehingga membuatnya kesal. Tapi, kesalahan yang dilakukan Dinda adalah mempostingnya di media sosial, dan akhirnya malah menunjukkan betapa ia tidak memiliki empati. Sayangnya pula, komen-komen dari temannya justru menguatkan sikap Dinda tersebut. Ini menunjukkan betapa banyak anak muda sekarang yang sudah mulai kehilangan sikap empati dan belas kasih. Bukannya mengingatkan, banyak orang yang akhirnya malah mem-bully Dinda di dunia maya.

Belum lagi kasus-kasus kriminal yang makin marak bermunculan, mulai dari kasus pembunuhan, pemerkosaan, penganiayaan di sekolah, pengeroyokan, penyerangan, perusakan bangunan publik, penyiraman air keras di angkutan umum, dan lain sebagainya. Beberapa waktu lalu, seorang pengendara mobil dihajar massa karena menabrak seorang pengendara motor hingga tewas. Apakah dia bersalah dan melanggar peraturan lalu lintas? Justru sebaliknya. Pengendara motor lah yang melanggar peraturan karena melawan arus. Apakah masyarakat peduli dengan peraturan tersebut? Tidak. Di mata masyarakat umum, kendaraan yang lebih besar lah yang harus dipersalahkan ketika terjadi kecelakaan. Ini common mistakes yang ada di masyarakat kita, dari dulu hingga sekarang. Lucunya, tidak ada yang berusaha meluruskan kesalahan ini, termasuk polisi lalu lintas. Masyarakat memilih untuk mendiamkan, dan akhirnya menjadi kesalahan-kesalahan yang dianggap wajar.

Maka jangan heran kalau ada kecelakaan yang melibatkan kendaraan-kendaraan besar (seperti bus atau truk), sopir dan kernet yang selamat mayoritas memilih melarikan diri. Seperti berita yang tadi pagi saya lihat di TV, sebuah bus jurusan Jakarta-Bekasi dihancurkan massa karena menyerempet seorang pengendara sepeda motor. Pengendara motornya hanya luka ringan, justru bus tersebut yang hancur diamuk warga. Buat saya ini mengerikan. Masyarakat kini semakin sulit membedakan mana yang benar, mana yang salah. Mana yang sesuai aturan, mana yang tidak. Masyarakat juga sulit belajar arti tanggung jawab. Andai saja masyarakat tidak beringas seperti itu, mungkin sang sopir dan kernet tidak memilih melarikan diri, malah justru membantu melarikan si pengendara motor ke Rumah Sakit terdekat. Sopir belajar arti tanggung jawab dan mengakui kesalahan (kalau memang dia yang salah), pengendara motor belajar memaafkan (atau malah meminta maaf).

Apakah peristiwa-peristiwa seperti ini hanya terjadi di Jakarta? Sayangnya tidak. Masyarakat di kampung-kampung sudah terpapar berita-berita negatif yang akhir-akhir ini muncul di TV, maka pelan tapi pasti, virus negatif itu sudah menyebar bahkan ke masyarakat-masyarakat pedesaan. Di dekat kampung saya pun, yang selama ini saya yakini masyarakatnya santun, sekitar dua tahun lalu terjadi kasus mutilasi. Seorang suami tega membunuh istrinya sendiri, memotong-motongnya menjadi beberapa bagian, lalu memasukkannya ke dalam dandang yang biasa dipakai istrinya menanak nasi. Siapa yang menemukan jasad itu untuk pertama kali? Anaknya sendiri yang masih berumur 9 tahun, dan baru pulang dari sekolah! Ini mengerikan. Ini sangat mengerikan!! Berita kriminal di TV buat sebagian orang mungkin hanya sekedar informasi sambil lalu yang bisa dinikmati sambil santap siang. Tapi bagi sebagian yang lain, ini bisa jadi sumber inspirasi untuk melakukan hal yang sama, atau bahkan yang lebih mengerikan.

Masih banyak lagi cerita-cerita lain yang membuat saya minimal geleng-geleng kepala atau ngelus dada. Apalagi menjelang pilpres bulan Juli nanti. Begitu banyak fitnah, kampanye hitam, saling serang, saling menghina dan menghujat, bahkan sesama teman dan saudara saling bermusuhan hanya karena perbedaan pilihan. Kalau yang bersikap seperti ini adalah (maaf) orang-orang tidak berpendidikan, saya masih mahfum. Ini sebaliknya. Banyak masyarakat dari golongan ekonomi menengah dan berpendidikan tinggi yang saling melempar fitnah dan hujatan baik secara langsung maupun di media sosial. Beberapa teman saya yang berprofesi sebagai dosen bahkan secara terang-terangan menjelekkan salah satu capres di media sosialnya. Media sosial memang milik pribadi. Tapi apakah mereka lupa mereka adalah pendidik, yang segala sikap dan perilakunya bisa jadi panutan anak didiknya?

Image

Maka benar apa kata Anies Baswedan di atas. Sebagai mantan mahasiswa Psikologi, dan saat ini bekerja sebagai staf Direktorat Sumber Daya Manusia (SDM), saya paham betul bahwa manusia adalah inti majunya sebuah institusi. Termasuk institusi kenegaraan. Menilik kondisi bangsa Indonesia saat ini, maka saya sangat setuju dengan konsep Revolusi Mental yang diusung salah satu capres.

Revolusi Mental menurut saya adalah upaya untuk memperbaiki kepribadian bangsa yang saat ini di mata saya sudah mulai rusak. Revolusi Mental adalah upaya untuk mengembalikan masyarakat kepada nilai-nilai positif yang dianut generasi pendahulu kita. Tepa salira, gotong royong, saling memaafkan, saling membantu sesama, dan sikap-sikap positif lain yang dulu saya dapatkan di pelajaran PPKn (Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan), dan diajarkan keluarga di rumah. Dulu, Pancasila adalah nilai dasar bangsa Indonesia, dan dipahami oleh seluruh lapisan masyarakat. Meski prakteknya belum sempurna, tapi setidaknya masyarakat punya landasan berpijak yang jelas. Nilai dasar bernegara ini penting, karena akan menentukan kemana bangsa ini akan bergerak maju (atau mundur?).

Tengok Singapura. Negara yang sudah bisa dianggap modern dan maju seperti itu pun masih merumuskan nilai-nilai sebagai landasan bernegara. Ada beberapa nilai yang dianut negara Singapura (Silahkan baca buku Cracking Values karya Rhenald Kasali jika ingin tahu lebih detail), di antaranya:

  • Kepentingan masyarakat diutamakan
  • Keluarga adalah bangunan utama bangsa
  • Menghormati hak-hak individu dan mendorong komunitas untuk menolong orang-orang yang tidak beruntung
  • Pemecahan masalah berdasarkan kesepakatan bersama
  • Hubungan yang harmonis

Lihat betapa core values sebuah bangsa dirumuskan dengan bahasa lugas dan sederhana, sehingga mudah dipahami dan dipraktekkan oleh masyarakatnya. Bandingkan dengan kelima sila Pancasila kita. Sila kelima, Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia, misalnya. Keadilan sosial seperti apa yang dimaksud? Apakah adil berarti semua harus berada di level ekonomi sosial yang sama, atau seperti apa? Maka wajar jika sebagian masyarakat sering mempertanyakan implementasi sila kelima ini. Banyak masyarakat yang merasa belum ada keadilan dalam kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat Indonesia. Apalagi dengan maraknya kasus korupsi yang dilakukan para pejabat pemerintahan, sila kelima ini terasa semakin jauh dari kenyataan. Keadilan sosial menjadi sesuatu yang terkesan utopis.

Maka, Revolusi Mental di mata saya adalah perombakan tata nilai bangsa Indonesia. Kita harus melakukan Cracking Values, meminjam istilah Rhenald Kasali. Kita harus menyusun ulang core values bangsa Indonesia agar sesuai dengan kebutuhan bangsa ini sekarang dan di masa depan. Core values yang akan menjadi landasan kita berpijak dan bergerak maju. Core values yang disusun dengan bahasa lugas dan sederhana, dan mudah dipahami oleh seluruh lapisan masyarakat Indonesia. Karena saat ini kita tidak hanya butuh sesuatu yang sifatnya teoritis, tapi lebih aplikatif. Saatnya pula kita harus ikut urun rembug, ikut turun tangan, bekerja keras untuk kemajuan bersama. Bukan lagi saatnya kita duduk ongkang kaki di depan TV, sambil menghujat kesalahan para pejabat negeri.

Ini memang hanya sebagian kecil dari konsep Revolusi Mental yang saya pahami. Masih banyak hal-hal yang bisa dibenahi, dan sejalan dengan semangat Revolusi Mental bangsa Indonesia. Namun yang pasti, sudah saatnya bangsa ini berbenah, memperbaiki diri. Siapapun presiden yang terpilih nanti, saya harap Revolusi Mental ini tidak berhenti di tataran konsep, tapi benar-benar dijalankan dengan optimal. Jangan sampai, pemerintahan baru nanti yang justru butuh diperbaiki mentalitasnya.

 

Salam.

 

 

 

N.B: Saya tidak bermaksud kampanye di sini, saya hanya membahas soal Revolusi Mental di mata saya. Jika anda setuju dan terinspirasi setelah membaca tulisan ini, silahkan di-share. Jika anda tidak setuju, silahkan dilupakan saja atau beri tanggapan dengan baik. Caci-maki hanya akan membuat saya berkesimpulan bahwa anda adalah salah satu orang yang mentalnya butuh Revolusi.

Advertisements

219 thoughts on “Revolusi Mental di Mata Saya”

  1. Setuju…mental harus diperbaiki agar dapat membedakan mana yg baik mana yg tidak…mana yg benar ..contoh contoh sdh banyak diungkap…
    Ibarat penyakit sdh stadium 4..mungkin butuh waktu lama untuk perbaikan mental…kalau tidak dimulai sekarang ..ya kapan lagi..

    1. Setuju mas Anies…. budi pekerti harus ditanamkan kembali, semestinya tidak memerlukan waktu terlalu lama.. Insyaa Allah

  2. Revolusi mental merupakan kewajiban buat kita semua, untuk menjadi manusia yg mencintai kebaikan kebenaran akhlak yang baik pada sesama, saling sayang menyayangi menghormati dan menghargai satu sama lakn sebagai makhluk ciptaan tuhan. Berkontribusi manfaat buat diri dan sebanyak2 orang lain dimulai dari keluarga. Pemahaman yg baik melalui pendidikan dan nilai2 agama dan istiadat memberi kekhasan inilah kita bangsa indonesia. Bangsa yg mandiri, mandiri, kuat, terhormat, berkeadilan, tolong menolong dan tidak dikuasai oleh orang lain apalagi bangsa asing. Oleh karenanya kita pilih pemimpin yg tegas, yg memiliki track record blusukan puluhan tahun membela keamanan dan integritas nkri di garis terdepan tanpa kenal lelah dan kadang2 dibully oleh orang yang mentalnya rusak karena jang dan haus kekuasaan.

      1. Bentuk revolusi mental ini adalah nilai nilai yang saya lihat di negara bmw, mercedes benz, dan audi. Empati, keharmonisan, penghormatan hak hak individu, kontrol dan penguasaan diri, keterikatan batin yang kuat terhadap sesama dimulai dari keluarga. Istilah “ordentlichkeit” atau “alles in ordnung” biasa dipakai untuk memastikan semuanya harus dalam keadaan baik baik saja atau keteraturan. Hal ini diresapi oleh seluruh individu German. Kepribadian yang kuat ini pastinya diimbangi oleh rasa pride sebagai individu dan juga sebagai bangsa, dimana setiap individu sadar harus mengeluarkan maksimal effort to the limit atas segala pekerjaan atau urusan yang menjadi tanggung jawabnya, atau dikenal dengan istilah “alles muss raus”. Strong charasteristic seperti ini mustahil diresapi seluruh individu tanpa teladan dari seorang pemimpin yang juga memiliki strong leadership. Jika angela merkel terkenal dengan kediktatoran yang berjiwa sebagai pelindung atau ibu yang mampu menopang ekonomi eropa dengan mempertahankan euro semasa pemerintahannya, maka kita melihat teladan Rosululloh atau sederet karakteristik yang kuat dari khalifah2 setelahnya, seperti umar bin khattab, abu bakar, dll. Untuk itu, inti dari revolusi mental yg saya baca disini tidak lain dan tidak bukan adalah strong characteristic individu yang diteladani dari leader yg memiliki strong leadership, yakni leader dengan determinasi yang kuat, bold, sangat cerdas, sangat tegas, mampu menunjukan pride sebagai individu dan bangsa, di samping sangat berpengalaman dalam urusan pertahanan dan keamanan negaranya (taktik berperang atau kemampuan politik yg kuat) seperti sederet pemimpin yang saya sebutkan.

      2. Sepakat…. pembentukan karakter bangsa sangat butuh pemimpin yang memiliki strong leadership 🙂

  3. setuju banget revolusi mental tanggung jawab kita semua……..
    mari kita mulai revolusi tsb dari masyarakat terkecil…yaitu keluarga.

      1. Lingkungan keluarga, lingkungan masyarakat sekitar dan lingkungan dunia belajar hrs sinkron…. Saling menjaga, saling mengingatkan, saling menjaga dan saling mengasihi… Siapkah?, mampukah? team bulusukan yang profesional dan berpengalaman hrs terbentuk utk melayani masyarakat sepenuhnya.

    1. Setuju sekali, revolusi mental dimulai dari ruang lingkup kecil/keluarga.

      Tulisan yg sangat bagus, saya share dan banyak apresiasinya.

  4. Hi Prienz…..ter inspirasi karena baca tulisan anda….setujuuuuu….saatnya KITA sama sama bergerak, berbuat sekecil apapun untuk kebaikan….untuk better Orang Indonesia!!!!

  5. Super sekali. Saya lega masih menemukan tulisan seperti ini dari Indonesia. Tadinya saya mengira masyarakat bangsa ini sudah terlalu parah sampai-sampai membuat saya berpikir untuk ganti warga negara.. Mengenai Singapura, sekedar info, saya baru saja menyelesaikan masa kerja 6 tahun saya di sana. Sama saja Mba. Pembunuhan sudah banyak. Copet juga. Anak2 muda tidak tahu sopan santun terhadap orang tua dan tidak mau merawat mereka. Orang-orang tidak mau membantu satu sama lain, no matter what. Saya melihat sendiri Ibu hamil terjatuh dan tidak ada yg menolong. Motor tertabrak bukan dibantu malah di-klakson. Dan pengalaman pribadi : saya jatuh tersungkur dan luka di jalan, tidak ada yg membantu. Malah saya dilangkahi oleh para pejalan kaki lainnya. Dalam hal ini saya rasa Indonesia mungkin masih lebih baik (walaupun ujung2nya dompet hilang ^^). Tapi itu urusan Singapura. Saya hanya peduli dengan negara ini, Indonesia. Dan saya setuju sekali, serta mendukung penuh Revolusi Mental di negara ini. Maju dan jayalah Indonesia!

    1. Terima kasih untuk tambahan informasi dan ceritanya soal Singapura. Bersyukur sekali kalau ternyata kita masih memiliki karakter yang lebih bagus 🙂

      Sebenarnya masih banyak yang peduli dan memiliki karakter bagus di negeri ini kok. Tapi sayang, media lebih banyak menyampaikan berita-berita yang negatif. Bahkan, komunitas-komunitas sosial pun banyak bertebaran, khususnya di Jakarta…. tapi memang belum terintegrasi dengan baik sehingga masyarakat mungkin belum banyak yang tahu.

      Apapun itu… Kita masih bisa berbuat sesuatu untuk bangsa ini. 🙂

  6. Di usia saya yang menginjak 58 tahun ini, baru saya temui seorang Anies Baswedan yang mengulas soal Budi Pekerti secara jelas, gamblang. Jadi sekitar 45 tahun saya lamanya menanti.. mengingat waktu itu kelas 3 atau 4 SD terakhir menerima pelajaran budi pekertiini. Saya ingat, buat kebanyakan teman2 pelajaran membosankan.. buat saya sangat berarti.

    1. Wahh… Penantian yang cukup panjang ya Pak. Hehehe…

      Sepertinya pelajaran budi pekerti perlu dihidupkan kembali 🙂

      1. Ada beberapa sekolah yang sudah mengajarkan kembali pelajaran budi pekerti (seperti di sekolah anak saya) tapi sayangnya masih kurang porsinya dibanding pelajaran lain.semoga Bp Anies Baswedan bisa menjadi menteri pendidikan dan membenahi kurikulum sekolah agar dapat lebih baik

  7. Mendukung penuh konsep Revolusi Mental ini karena sesuai dgn ide saya sejak dulu. Saya sering mengungkapkan ide saya ke istri bahwa sebaiknya semua stasiun tv diharuskan lebih sering menayangkan iklan pelayanan masyarakat yang berupa contoh penegakan kedisiplinan dan budi pekerti. Sekedar share, saya & istri pernah membuat deal (sampai bersalaman segala hehe) utk memberikan bantuan apabila melihat seseorang, khususnya wanita, yang mendapatkan kesulitan di jalan. Deal kami ini krn dilatarbelakangi maraknya perampokan dgn modus ranjau paku. So far kami sudah menjalani ini satu kali ketika suatu malam melihat wanita seorang diri yang ban mobilnya rusak parah di jalan yang sepi. Kami memberhentikan kendaraan dan menawarkan bantuan. Ternyata saat itu dia sudah menelpon kerabatnya utk datang menggantikan ban dan posisi sudah dekat dgn lokasi. Jadi kami hanya menemani wanita itu utk memastikan keamanannya sampai kerabatnya tiba. Contoh lain, saya pernah memungut sampah yang baru saja dibuang seseorang. Saya lakukan itu di hadapan dia dan mudah2an terkoreksilah mental dia. Semoga kita semua tanpa terkecuali bisa saling menebarkan budi baik agar tercapai tujuan dari Revolusi Mental ini

    1. Contoh yang baik banget pak… Semoga makin banyak keluarga yang mengikuti langkah bapak & keluarga. Menolong orang lain itu harus jadi budaya di keluarga 🙂

      1. Nah… Itu juga harus jadi salah satu agenda. Sekarang orang sudah saling curiga, sehingga mau bantu orang lain pun harus waspada 😉

  8. betul apa yang disampaikan pak baswedan karena tujuan utama diturunkanny autusan allah adalah untuk revolusi mental, sabda nabi : tiada lain dan tiada bukan aku diutus kemuka bumi untuk menyempurnakan akhlak yang mulia atau dalam bahasa kita sekarang diutus untuk revolusi mental, memang betul kalau manusia mentalnya rusak maka hancurlah negara, mari kita mulai berbenah dari diri kita untuk menjadi orang yang baik, karena lebih baik orang yang bodoh tapi berkhlak ketimbang orang yang pintar tapi maksiat, tentu yang ideal adalah sidiq ( jujur ), amanah ( memegang amanat), tablig ( menyampaikan yang hak), fatonah ( cerdas alias berpendidikan ), selamat memulai.

      1. Ya, revolusi mental sekarang ini sdh mendesak dilakukan, untuk kepentingan generasi mendatang. Karena itu, yang sepuh-sepuh/dewasa hendaknya mampu dan sanggup mejadi teladan hidup. Tua akan datang semabri tidur, tetapi dewasa harus diperjuangkan. Bagaimana kita mendewasakan anak kita, generasi muda, jika kita sendiri tidak dewasa secara mental.

  9. Rasulullah saw menjalankan Revolusi mental dari masjid Nabawi, masjid di Indonesia bertebaran ada disetiap lingkungan masyarakat, sayang masjid bisu seribu bahasa, tak berdaya ditengah penderitaan dan prahara bangsa………… mari kita jadikan masjid sebagai gerbang kesatuan ummat dan mengurai masalah akhlak bangsa……… saya baru selesai bikin konsepnya : Manajemen Musyawarah Masjid, pintu gerbang kesatuan ummat, garda terdepan mengurai masalah akhlak bangsa……proposal pelatihan Manajemen Musyawarah Masjid untuk sejuta ta’mir masjid sudah siap……… saya harus bekerjasama sama siapa ya…………

    1. Wah…seperti apa itu nanti kegiatannya Pak? Sepertinya konsepnya bagus dan bermanfaat… Mungkin bisa ajak kerjasama pengurus-pengurus masjid di sekitar daerah bapak tinggal terlebih dahulu.

    1. Hehehe… Memang ada orang cerdas dan berpendidikan, namun tidak mendidik masyarakat, malah sebaliknya. Namun ada juga yang karena pengetahuannya kurang, sehingga tidak tahu cara bersikap yang baik.
      Sepertinya revolusi mental ini dibutuhkan untuk semua lapisan 🙂

  10. Iya, seharusnya dari DKI sudah mulai dilakukan……. Di DKI mental sudah luar biasa. Pemalakan dianggap sebuah lowongan kerja, lampu merah dianggap cuma untuk hati hati, jika sudah tidak ada kendaraan boleh jalan. polisi seakan akan memperbolehkan kendaraan bermotor lewat manapun, mau itu trotoar, lawan arus atau bahkan lewat jalur busway. Jalan sudah menjadi lapak rebutan pedagang kaki lima, Uang sesuatu prioritas dan lebih penting daripada menyelamatkan nyawa korban kecelakaan. Tetapi semua itu bisa dilakukan dengan mengangkat pendidikan yang biayanya luar biasa. Gas, Emas. dan hasil bumi lainnya harus dioptimalkan sebagai pendapatan negara untuk kemakmuran dan kesejhahteraan bangsa, termasuk meningkatkan pendidikan. jika sudah sejahtera dan cerdas, masalah satu persatu InsyaALLAH akan bisa diatasi.
    .

  11. Harga diri dr sebuah Bangsa adalah sikap rakyatnya yg santun. Cara berpikir, berbicara dan sikap yg menghormati dirinya juga orang lain. Sebagai wanita yg berpredikat Ibu yg memiliki klrga memang berawal revolusi mental dari diri sendiri, memberi teladan bagi anak2nya.. klrga dan teman2 sosialnya. Revolusi Mental Mutlak dimulai dari sekarang. Setuju mas Anis. Salam damai.

  12. Tulisan yang cerdas dan sesuai dg jaman kapanpun. Revolusi Mental tidak ada hubungan dengan kampanye atau pilihan presiden tertentu, tapi mutlak harus kita lakukan sepanjang hidup kita. Dimulai dari kita pribadi dg menjadi tauladan, keluarga, tetangga sekitar, keluarga besar, dan lingkup yg semakin besar. Hidup jelas tidak akan sempurna tapi kita bisa memilih untuk selalu lebih baik setiap waktunya.

    1. Yup….ini tidak ada hubungannya dengan pilihan presiden, hanya kebetulan yang mencetuskan salah satu kandidat presiden…

      Yuk kita mulai dari diri kita 😉

  13. Tulisannya bagus sekali dan sangat inspiratif..sangat setuju..mari kita mulai revolusi mental ini dengan membangun values ini dengan org2 terdekat kita yaitu keluarga

  14. SETUJU! Kalau sudah setuju kita harus menerapkan dan menjalankan, minimal dimulai dari diri kita sendiri 🙂 orang di sekitar kita juga akan ikut terpengaruh untuk ikut merevolusi mental

  15. Hallo! It’s simple thought but it’s the most important thing! Aku tinggal di Holland. Dulu aku pun tak terbiasa dengan “kekasaran sikap” jadi saat aku masih tinggal di tanah air, aku termasuk orang yang santun dan dinilai berhati lembut. Mungkin karena bekerja dengan anak anak, mungkin karena karakterku. Saat pindah ke Holland. Mulai bekerja di perusahaan Belanda. Belajar beradaptasi dan mulai berasimilasi. Akhirnya aku menemukan diriku ternyata masih sangat jauh “tingkat mentalitas” yang aku miliki dengan orang orang di sekitarku. Kadang aku menemukan becandaku yang tak layak. Komentar aku yang tak layak. Ternyata kesantunanku masih jauh tertinggal. Revolusi mental. Mungkin akan sulit tapi tak ada yang tak mungkin. Paling tidak generasi yang akan datang akan lebih baik. Mari dibudidayakan kata “selamat pagi, siang, malam” kepada siapapun. Mulai dibudidayakan kata “apa kabar?” Walau setiap hari ketemu. Mari dibudayakan bertanya pada orang mungkin terlihat susah, menawarkan bantuan mengangkat barang yang terlalu berat misalnya…. Percaya, efek ini sangat besar. Share dari pengalamanku. God bless Indonesia. God bless all nice people like you! Never gives up!

    1. Waduh…tertohok nih baca komennya. Saya pun terkadang juga masih bersikap kasar, berbicara nggak baik, gosipin kejelekan orang lain, dll.

      Mari berbenah, minimal dari diri sendiri. Mari biasakan hal-hal baik, minimal bertanya kabar dan berterima kasih.

      Terima kasih komennya… Jadi teguran juga buat saya 🙂

  16. Setuju banget nich….tiap pagi sebelum kekantor saya selalu menyempatkan diri ntn berita…tp kdg rsnya kecewa dgn masyarakat kita yg suka main hakim sendiri, ketika mobil bertabrakan dgn motor yg dikeroyok selalu yg pnya mobil dl pdhl belum tentu salah…trus dipengadilan…ketika ssorg didakwa bersalah…si hakim bs dikejar dan dipukul. Belum lg udah tau kota Jakarta itu macetnya ampun2…tp tidak mau saling mengalah…saling nyalip…pdhl itu yg bikin macet….so thanks untuk tulisannya, semoga bs membuka mata banyak org.

    1. Iya. Media juga harusnya mulai berbenah ya…lebih banyak materi yang negatif dibanding yang positif.

      Harusnya tidak ada lagi konsep ‘bad news is a good news’…. Harusnya ‘good news is always a good news’ 🙂

  17. Sangat setuju, sudah saatnya kita mulai revolusi mental ini, saat ini di sekitar kita keadaan sdh sangat parah, contoh paling sederhana di jalan raya, kemacetan sering terjadi hanya gara2 ego dari para pengendara yg mementingkan dirinya sendiri, sistem dan aturan diabaikan, semua merasa dirinya lebih layak utk didahulukan, budaya antri dan tepo seliro benar2 makin menjauh, mari kita mulai dari diri sendiri, tunjukkan kasih dan menghargai sesama, walaupun di sekitar kita orang2 saling menunjukkan yg sebaliknya, GOD Bless Indonesia, salam damai.

  18. jujur saya takut dgn kondisi Indonesia sekarang yg mental orang2nya sudah jauh dari sopan dan bermartabat, karena itu mari kita bangun lagi mentalnya utk jadi manusia beradab, tidak ada kata terlambat utk memperbaiki karena bagaimanapun ini adalah tugas kita bersama…..

    1. Awalnya saya juga takut…ngeri bahkan. Tapi kalau melihat semua komen di artikel ini, harapan saya muncul kembali. Masih banyak kok ternyata yang peduli, dan memiliki karakter yang baik. Buktinya, semua komennya santun dan penuh ide… 🙂

      Harus dimulai dari kita kalau memang ingin Indonesia yang lebih baik 😉

  19. Setuju.
    Dahulu diajarkan di sekolah PMP (penddkan moral Pancasila). Kemudian menjadi PPKN. Hingga kuliah mata pelajaran Pancasila ada. Tdk tahu skrg apakah msh diajarkan. Jaman skrg bahaya. Teknologi maju kurang diimbangi dg moral yg kuat.

    1. Iya betul. Seharusnya ada pelajaran khusus untuk ‘Kesiapan Teknologi’ ya… Karena banyak yang tak tahu bagaimana menggunakan teknologi dengan benar, sehingga teknologi bukannya bermanfaat malah jadi menjerumuskan.

  20. Revolusi mental ???

    Setujuuuuu….!!!
    Wah…cocok nih utk di indonesia, biar mental korup di sebagian masyarakat indonesia semakin berkurang.

    Tapi apa bener akan berkurang ???
    Kita lihat saja keberanian dan ketegasan bapak RI 1 amanah rakyat 🙂

    1. Hehe… Masyarakat juga harus bantu kalau memang mau korupsi benar2 ilang.

      Tidak hanya bantu melaporkan jika melihat ada pelaku korupsi, tapi kita juga jangan ikut menyuburkan korupsi itu. Memakai jasa calo, memberi ‘tips’ pada petugas untuk jasa-jasa yang seharusnya gratis, membayar polisi saat kena tilang, dll. Terkadang korupsi itu ada karena masyarakat yang menumbuhkannya….hehe

  21. Setuju dengan penulis….
    Revolusia mental harus dilakukan, krn kemerosotan mental udah Saya rasakan semenjak kerusuhan 98 terjadi, banyak masyarakan seolah2 terbebas dari sikap bebas berpendapat kemudian kebablasan jd ga tau aturan….
    15thn berjalan bebas berpendapat seolah2 sekarang jadi bebas semaunya bahkan di lalu lintas….
    Mental bangsa sebenernya bisa terlihat dr psikologis cara berkendara, disiplin berkendara hampir menjadi hal yg semu…..
    Semoga dengan terpilihnya Presiden baru jgn smp ada lg kejadian dmn penerobos lampu hijau disalahkan krn menabrak penerobos lampu merah…..
    Terima kasih

    1. Sippp… Memang, sekarang masyarakat terlalu bebas berpendapat, khususnya di media sosial. Terkadang miris membaca komen-komen di dunia maya… Cyber bullying menjadi sesuatu yang semakin dirasa wajar.

      Semoga ini juga jadi perhatian khusus oleh pemerintahan baru nanti 🙂

    1. Kalo rajalele itu setau saya jenis beras pak…hehe *bercanda 😀

      Sebenarnya menurut saya yang lebih diutamakan itu pendidikan, baru soal ekonomi masyarakat. Saya sendiri lahir dari keluarga miskin lho pak… Sampai umur 26 th masih tinggal di rumah yang tak layak. Tapi Alhamdulillah pendidikan karakter di keluarga saya cukup bagus, dan dapat kesempatan untuk kuliah… Kemiskinan itu bukan hambatan seorang anak untuk tumbuh menjadi orang baik dan sukses. Kekayaan juga bukan jaminan seseorang akan memiliki karakter yang baik. Pendidikan lah yang akan membentuk seseorang, baik formal maupun non formal 🙂 *CMIIW

  22. Terimakasih atas pencerahan ini. Saya yg beruntung bisa hidup di tanah Eropa dalam sistem demokrasi sosial dimana hukum adalah panglima. Tidak ada seorang anak dibawah umur bisa pegang mobil ortu shg menabrak orang hingga tewas, dan ortunya tidak dikenai sangsi. Warga yg miskin, cacat mendapat santunan dari negara. Tidak ada pejabat negara atau anggota parlemen yg bisa kaya mendadak, semua kekayaan mereka didata dan diaudit. Melihat irama kehidupan di Indonesia ( tanah yg kaya raya ) selama 60 tahunan merdeka tapi mayoritas rakyatnya justru makin miskin, jurang antara kaya miskin makin lebar, korupsi kronis dan kekerasan marak. Kesimpulan saya, Indonesia merdeka dari penjajah asing, tapi rakyat tetap terjajah oleh elite penguasa pribumi.
    Penguasa republik dari akhir 60an terus menggerogoti kekayaan nusantara, mereka pongah dan tanpa risih memamerkan kekayaan didepan warga yg papa. Tak heran jika kekerasan merebak subur, mau kemana rakyat mengadu jika keadilan bisa dibeli, hukum hanya memihak yang berada.
    Pendidikan formal sudah jadi barang dagangan, anak2 menghafal dogma tapi mereka tak punya panutan lagi. Pelajaran civic ( dulu di th 50 hingga 60 an ada pendidikan budi pekerti dan tidak ada mata pelajaran agama) diganti pelajaran hafalan Pancasila dan agama . Anehnya, bukan makin arif dan sosial kelakuan anak2 kita, justru tawuran dan gang2 yang marak. Kami berharap, dengan hadirnya seorang pimpinan yg sipil dan mengedepankan pendidikan mental dan humanisme, dibarengi dengan penegakan hukum, sistem yg bersih dari KKN, kita akan memiliki SDM yang handal dalam menghadapi tantangan berat dunia global. Semoga.

    1. Terima kasih juga untuk tanggapannya yang sangat mencerahkan. Memang kalau dibandingkan dengan negara-negara di Eropa kita masih ketinggalan jauh. Terkait kesenjangan sosial, saya sendiri bisa melihatnya sehari-hari. Teman-teman saya bisa hidup bermewah-mewah, belanja barang-barang bermerek bisa setiap hari tanpa harus mikir. Sementara saat berkegiatan sosial di komunitas, saya harus bertemu dengan anak-anak yang tinggal di perumahan kumuh dan hidup seadanya. Harus ada yang menjembatani si kaya dan si miskin memang… Harus ada yang mengajak mereka yang kaya untuk peduli dan berbagi dengan mereka yang miskin, khususnya terkait kesempatan pendidikan. Karna saya sendiri membuktikan, pendidikan mampu membawa saya keluar dari garis kemiskinan.

      Butuh proses memang…dan proses itu harus dimulai dari sekarang 🙂

  23. Setuju banget! Inilah yg sdh lama jadi keprihatinan saya,mental,watak/karakter kebanyakan(sekali lagi kebanyakan) anak bangsa yg sdh RUSAK dan hrs sgra di REFORMASI. Mari kita sama2 memulainya,dr pribadi kt terlebih dulu,lalu keluarga kita demikian seterusnya.

  24. Luar biasa!!! Dahsyat…Terimakasih Mas Anies …tebarkan terus virus kebaikkan yg ada sehingga dunia menjadi tempat yg damai n nyaman utk dihuni olh anak cucu kita…pd kesempatan ini saya ingin mengapresiasi atas segala upaya,sepak terjang Mas Anies selama ini,,,lewat Indonesia mengajar,sbg timses Jkw-Jk(salah satu yg sangat saya kagumi adl Anies Baswedan’s great speech)…efeknya mnrt saya sungguh dahsyat! Saya analogkan Mas Anies spt seorang nabi dikirim olh Tuhan utk merevolusi mental bukan hanya Indonesia,tapi dunia…saya sampai ter-kagum2 sekaligus bersyukur…masih ada orang sebaik n sekaliber Mas Anies(IQ,EQ,SQ)nya super duper…santun,cerdas,bijaksana…inilah sosok pemimpin Indonesia masa depan,,,benar sekali SDM lbh penting dp sumber daya alam yg melimpah..,contoh Spore,,,kekayaan alamnya jauuuuh dibanding Indonesia,,namun rakyatnya lbh makmur! Jadi revolusi mental hrs segera diimplementasikan ,URGENT!!! Suatu hari nanti kita akan tersenyum bangga:) ,,,krn karakter org Indonesia menjadi bermental penuh kepedulian,toleran,cerdas,penuh kasih! Anda pantas dinobatkan sbg Pahlawan Revolusi Mental.Salam hormat n penuh kekaguman.Indah Wullur

  25. Setuju banget, mbak, terima kasih untuk ulasannya yang mewakili rasa miris melihat degradasi karakter yang semakin parah sejak zaman “repotnasi” 98. Untuk masalah kecelakaan masalahnya adalah mindset “yang besar, yang salah”. Kalau mau jujur, selain angkutan umum, pengendara motor banyak yang suka seenaknya silap salip dan nyerempet2 bahaya, tanpa ingat resiko kesenggol stang/setir nya aja udah pasti jatuh. Ingat peristiwa bus transjakarta yg nabrak tiang gara2 menghindari motor yang menerobos masuk ke jalur trans, sebulan 3x terjadi. Penganiayaan di dunia media juga seolah-olah tidak ada pagarnya, ngomong sesuka hati tanpa ingat norma dan etika. Semoga kedepannya masyarakat semakin bijak berpikir dan bertindak. Jika kita punya pemerintahan yang super bagus, tapi karakter masyarakat tidak berubah, semua pembangunan akan sia-sia saja. Tingkatkan pendidikan moral, kuatkan mental, berjuang keluar dari kemiskinan. Pray for Better Indonesia. Salam dari Surabaya, mbak 🙂

    1. Salam kenal mbak 🙂

      Setuju sekali… Pemerintahan bagus harus didukung juga dengan masyarakat yang baik, dan mau ‘bekerja’ 😉

  26. Sy setuju dengan pemikiran dan uraian diatas. Tp jgn revolusi mental yg serukan itu hanya sekedar selogan. Diperlukan suatu sistem dan pengawasan yg teruji utk mengimplementasikan. Dan sistem itu sdh pernah ada pada jaman order baru dan berhasil. Bukan berarti sy setuju 100% dgn orba. Tp sistem yg pernah dilakukan berhasil menyatukan
    bangsa ini dan membawa indonesia swasembada pangan.

  27. Saya sangat terinpirasi dengan statement Bang Anies….. “orang baik harus kita dukung”… tulisan ini makin membuat saya serasa dibangunkan… tidak hanya untuk orang baik saja yang kita harus dukung.. yang lebih penting lagi adalah meningkatkan kepedulian kepada orang disekitar kita yang kurang beruntung…

  28. Sangat setuju. Membenarkan kebenaran dan tidak membenarkan yg salah. Saya sudah cape menemui keadaan di negri kita dimana orang2 seenaknya membolak balik fakta dan membenarkan dirinya sendiri atau golongannya. Sungguh jauh dari sikap gentleman…seandainya kita belajar jujur pada diri sendiri, bertanggung jawab dan takut akan Tuhan…mental yang kuat dan baik akan membuat bangsa ini menjadi lebih baik di masa depan. Amin

  29. Setuju pak…saya salah 1 org kaum minoritas di indonesia..saya bangga jadi warga indonesia..meskipun kaum kami sering di caci..tapi kami ttp bangga..semoga revolusi mental kedepan ga ada caci maki buat kaum kami lagi. #salam3jari #damaiindonesia

  30. Good, setuju perubahan, mereform mentalitas bangsa suatu keharusan kalau masih peduli dengan bangsa kita tapi arah kebijakannya mau dibawa kemana ? Revolus mental wajib diawali atau harus didahului oleh revolusi ilmu, ada pertanyaan standar keilmuannya mau diarahkan kemana ? tanpa menentukan titik tujuan , percayalah revolusi revolusi itu takkan berhasil, hanya wacana dan lipservice aja

    1. Pertanyaan yang kritis.

      Semoga konsep ini nantinya dirumuskan dengan baik, dan masyarakat mau bantu dengan ide dan karya.

  31. Revolusi mental setuju dimulai dari revolusi ilmu, arah kebijakannya mesti dimulai dan mengacu standar ilmu berdasarkan Al Quran, bukan standar sosialis maupun kapitalis, hanya Al Quran saja yang nisa merombak tatanan masyarakat dan itu sudsh terbukti,

    1. ikuti saja bangsa yg sudah berhasil. setidaknya mencontohi yg positifnya. tidak ada standar yg baku di dunia ini. jadi harus digabung dan selalu diperbaharui menjadi sempurna. kelebihan Al Quran kita ambil. kekurangannya yg masih belum bisa sy terima adalah bolehnya poligami. klo anda seorang wanita, apakah anda ikhlas di madu ? (hanya contoh)

  32. Anak sy yg paling besar kelas 3sd ,semoga di pemerintahan yg baru di bawah pimpinan pak Jokowi, bisa mendapatkan pelajaran budi pekerti dan masih bisa membentuk karakter mereka,,, menurut pepatah china ( membentuk pohon harus mulai dr kecil, Kalo sudah besar tidak bisa di bentuk lg)

  33. Thanks God untuk seorang Anies, laksanakan jika bapak brada dalam lingkaran RI 1, kebutuhan akan revolusi mental menjadi kebutuhan pokok bangsa ini n melebihi makanan pokok bangsa ini, karna bangsa kita kaya n melimpah akan kebutuhan pokok !
    Kalau saya boleh usul ke bapak untuk kepemimpinan yang akan datang harus diisi oleh figur x yang kuat, kuat dalam smangat perubahan juga kuat dalam pelaksanaannya, karna seorang mentri yang baik n hebat tidak akan efektif jika yg bersangkutan tidak mengontrol segala kebijakan nya dilingkaran birokrasinya, karna birokrasi kita sdh menceng n rusak parah ! Apalah artinya seorang mentri dengan kebijakan A keluar dari birokrasi kekuarnya hanya kemasannya saja A, isinya sampah !
    Management kontrol pak Jokiwi benar x harus di jalankan dalam skala nasional ! Maaf kalau boleh saya ukangi BAJA YANG BULAT n LURUSS dimasukan ke birokrasi kelurahan, kecamatan, pemda kabupaten or kota, provinsi apalagi BIROKRASI PUSAT kekuarnya sudah jadi BESI BETON ESER KARATAN YANG BENGKOK n BONYOK GA KARUAN !!! PAGI ini saya melihat n mendengar di net tv kebijakan walikota Surabaya tentang mobil dinas yg tidak boleh digunakan mudik berjalan dengan efektif karna seorang Risma yg Tegas, kontrol yg terus menerus, PECAT yg bandel n yang paling sakti karna bu Risma,,,BERANI, BERSIH n JUJUR serta bersemangat PENGABDIAN tanpa punya kepentingan pribadi n kelompok !!!
    Kalau saya amati untuk TANAH ABANG jakarta, brapa Gubenur yang JENDERAL (bukan general) sudah silih berganti Ga pernah bisa BERES, seorang Jokowi dari Solo n Ahok yang SIPIT datang ke Jakarta,,,,,,,,Tanah Abang CAIR !!!
    Pak Anis yth, sambung saran untuk pak Jokowi tanggalkan baju merah PDIP, pak JIKOWI SEKARANG SUDAH JADI the FIRST, PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA n PDIP harus bangga telah mengantarkan kader terbaiknya,,,PETUGAS PARTAI menjadi PRESIDEN RI !!! Status pak Jokowi sekarang bukan lagi sebagai PETUGAS PARTAI tapi sebagai PResiden segaligus PELAYAN SELURUH RAKYAT INDONESIA or BATURnya Rakyat, jangan grecoki n rusuhi pak jokowi dengan urusan x kecil/partai !!! The FIRST jangan turun kelas jadi ketum partai, ini namanya MUNDUUR N PUNYA KEPENTINGAN KELOMPOK N PRIBADI !!!
    👌💗👬SALAM TIGA JAREEEEEEEEEEE
    MAJULAH INDONESIAKU bersama BATUR RAKYAT INDONESIA,,,jokowi jeka 😍😚😍
    Salam hormat n trima kasih untuk ibu mega yang telah menyiapkan petugas partainya menjadi BATUR RAKYAT INDONESIA n tolong siapkan petugas partai untuk 5 or 10 tahun yad !!! SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1435 H
    MOHON MAAF LAHIR n BATHIN 💌

    Note,
    BATUR RAKYAT sangat terhormat jika bisa melayani n mensejahterakan rakyat RI. PRESIDEN sangat menjijikan n konyol kalau tidak bisa melayani n hanya mensejahterakan kelompoknya ! atau hanya untuk melanggengkan kekuasaan dari presiden menjadi ketum 😆

    1. Semoga pemerintahan ke depan bisa benar2 ‘Berani, Jujur dan Tegas’ seperti kata Bapak. Mari kita bantu kawal 😉

  34. Saya juga setuju dgn upaya agar bangsa Indonesia bangkit akan terpurukan terutama mental dari kalangan atas hingga bawah, dari dunia pendidikan hingga pemerintahan, dari keluarga kecil hingga masyarakat Indonesia seluruhnya, saya sgt rindu akan tata krama spt negara tetangga kita terutama Singapore, salah satunya kita akan rasakan saat naik angkutan umum, mereka akan mempersilahkan penumpang kurang mampu kondisi fisiknya , orang tua, wanita terutama yg sedang hamil, dll dgn tidak memandang anda turis atau citizen.
    Media sangat berperan utk perubahaan tersebut dgn menyajikan acara dan berita yg berkwalitas dgn mendewasakan pendidikan mental sambil nonton TV atau membaca koran, bbrp media yg saya salut isi acara dan beritanya spt ( maaf bukan promosi tp fakta, mohon dikoreksi apabila salah ), DAAI TV, METRO TV, KORAN KOMPAS. Revolusi mental akan terwujud dgn kerja keras kita bersama, jangan lagi memojokan maupun mencaci maki siapa benar atau salah, semoga Indonesiaku jaya kembali, agar anak cucu kita bangga akan usaha para pendahulu mereka. Usaha yg baik akan selalu di Berkati, dilindungi umatNya, Amin.

    1. Aamiin…

      Saya tambahkan media yang menurut saya bagus pak, NET Tv… Beritanya cukup positif…hehehe *bukaniklan 😀

  35. setuju, revolusi mental sangat dibutuhkan bagi bangsa ini. Dunia pendidikan dapat menerapkan hal ini sejak dini.

  36. manusia tanpa hukum dan aturan, tak bedanya dengan makhluk hidup tanpa aturan (hewan dan tumbuhan). badan yg paling tidak berfungsi adalah penegak hukummnya. aturan sudah ada undang2 ada, sanksi jelas. tapi tidak pernah profesional. alias mandul. tidak sadarkah bahwa indonesia tidak “memiliki” penegak hukum. mau indonesia bangsa teratur sopan santun etika dan disiplin. mulailah dari penegak hukum. coba dipikir2 hidup sehari2 anda.

  37. Sy sepakat dg tulisan Anda, memang kalau melihat perkembangan nilai karakter manusia di indonesia tdk sejalan dg perkembanganbaik teknologi maupun ekonomi yg ada dn bila flash back 15 th kebelakang pendidikan karakter yg teravaluatif jarang dijumpai shg dampaknya saat ini benar2 mulai nampak kalau sy blh istilah kemerosotan moral. Jd menurut sy ada harga yg dibayar oleh pemerintah utk speed up ketinggaln tsb . Masukan dr sy materi edukasinya hrs searah dg penekanan bgmn seseorang punya pribadi yg benar2 takut akan Tuhan. Krn dg yg kelihatan sj tdk takut apalagi dg yg tdk kelihatan. Salam

  38. Revolusi Mental memang sebuah istilah atau ungkapan yang sangat menginspirasi, melihat kondisi moral bangsa ini yang semakin terpuruk. Membangun karakter dan integritas yang sesuai nilai2 moral universal, agama dan kepribadian bangsa Indonesia tidak lah semudah membalik telapak tangan. Kelemahan pendidikan kita terutama kurikulum 2013 yg diterapkan baru2 ini pada tidak adanya strategi membangun budaya sekolah yang berkarakter …hingga saat ini muatan kurikulum 2013 masih baru menyentuh tataran wacana/permukaan. Belum membangun budaya dan keteladanan nasional

    1. Sepakat…kurikulum 2013 masih harus disempurnakan lagi. Kalau dari curhatan teman yang guru, kurikulum ini terlalu fokus pada pencapaian akademis siswa…sehingga guru disibukkan dengan penilaian2 dan mungkin jadi tidak sempat memperhatikan perkembangan moral dan karakter anak didiknya.

  39. Sangat positiv…sbg pendidik kami mengalami masalah yg besar karena ketidaksinkronnya pendidikan di keluarga,masyarakat dan sekolah…
    Contoh2 di atas setiap hari kami temukan di tempat- tempat umum dan dalam aktifitas setiap hari..nilai2 etika hampir tergerus di bangsa ini….masyarakat yang msh memegang nilai2 etika bahkan dianggap manusia kuno yg tdk modern dan seringkali disalahkan…miris sekali ttp inilah bangsa kita saat ini..dibutuhkan kebesaran dan kerendahan hati untuk merubah moral bangsa ini …mari kita mulai dari diri sendiri..

    1. Betul banget. Saat ini masih kurang sinkron antara pendidikan di keluarga, masyarakat dan sekolah.

      Mari mulai perbaikan dari diri sendiri 🙂

  40. Setuju sekali dg pemikiran revolusi ini. Memang bangsa Indonesia sekarang sudah terlalu riskan. Masalah kecelakan yang bang anies ceritakan diatas mungkin pernah terjadi pada siapapun. Mohon kiranya ide2 ini bisa di aplikasikan oleh presiden terpilih. Supaya bangsa kita tercinta ini bisa pulih dan makin bersatu dan lebih bermartabat.

  41. Di era Soekarno, soal “revolusi mental” ini dikenal dengan Nation Character Building dan untuk melaksanakannya, tidak mungkin dari atas ke bawah, harus dilakukan dengan mendorong rakyat mengorganisir diri, untuk mendidik dirinya sendiri, dan peran pemerintah adalah mendukung/mendorong melalui regulasi, infrastruktur bahkan tenaga ahli

  42. Mas dlam salah satu paragraf (stelah yg 5 point) itu kesannya ga setuju dgn sila ke-5 Pancasila kita.. bila brkenan tlg pnjelasannya, mungkin sya yg kurang paham.. terima kasih.

    1. Panggil mbak aja ya 🙂

      Bukan tidak setuju, tapi menurut saya kalimat “Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia” itu masih kurang aplikatif. Kata-kata ‘adil’ buat sebagian orang dimaknai sebagai ‘harus sama untuk semua’. Saya sangat setuju dengan konsep ini, tapi mungkin perlu diperjelas lagi agar rakyat bisa memahami…sekaligus pemerintah bisa membuat kebijakan/program yang mudah diimplementasikan, sehingga sila ini tidak sekedar jadi slogan. 🙂

      Ini menurut saya…. Silahkan kalau ada tanggapan atau tambahan 😉

  43. Sangat SETUJU.. Cerita diatas sungguh memprihatinkan kita semua. Revolusi mental harus segera di lakukan untuk menuju Indonesia Hebat. Dgn Pemimpin yg Baru saya sangat… sangat optimis. Salah satu yg bisa dilakukan sebagai alat untuk sosialisasi ke seluruh rakyat Indonesia melalui media TV, Setiap hari seluruh station TV hrs memberikan waktu total 2 jam (dibagi per 5 menit) 24x tayang sepanjang hari, unt menyiarkan cuplikan2 nilai2 kehidupan, nilai2 agama, nilai2 yg kebajikan, nilai2 integritas, dll contoh : saling tolong menolong, toleransi, saling menghormati, kejujuran, keharmonisan, kebaikan, sopan santun, kelemah lembutan, menghargai orang lain, budaya antri, budaya memberikan duduk kepada orang yang lebih tua di tempat umum, dll, akibat2 jika korupsi, akibat2 jika mencuri, akibat2 jika membunuh, akibat2 jika tidak menghormati orang lain, akibat2 tidak jujur, dll. Dibuat dalam bentuk cuplikan cerita pendek (seperti iklan2 di bulan puasa yg memiliki nilai2 kehidupan). Tayangan ini menjadi peraturan pemerintah yg harus dilakukan oleh setiap station TV unt rakyat indonesia dan tanpa biaya. Semua ini untuk merubah mindset dan membangun mental bangsa kita. Di TV yg kita tanton sudah terlalu banyak berita peristiwa yg mengerikan seperti yg sdh Sdr Anies ceritakan di atas.. yg ditonton bukan hanya beritanya, tetapi menjadi suber inspirasi bagi sebagian orang unt melakukan hal yang sama bahkan lebih sadis kagi. Supaya ini tidak semakin menular dari kota ke desa bahkan dari sabang sampai merauke, revolusi mental hal yang mutlak. Contoh lain: di TV kalau kita melihat ada orang mencuri, membunuh, dll, mereka di pinjamkan sarung muka yg kelihatan hanya matanya untuk menutup malu, semestinya mereka pantas mendapat malu dan tidak perlu menggunakan sarung muka. Hal2 demikian unt membuat jera para pelaku, bukan malah di pinjamin sarung muka ? Bayangkan klu seluruh station TV menayangkan masing2 24x sepanjang hari, berapa tanyangan nilai positif yg akan di tonton oleh seluruh masyarakat indonesia, dari anak2, dewasa dan orang tua. Saya melihat cara ini akan membantu revolusi mental dan menuju Indonesia Hebat.

    1. Makanya iklan layanan masyarakat hrs diperbanyak setiap ganti waktu film selanjutnya hrs disertakan iklan layanan masyarakat, spt bahaya berbohong, korupsi, dll… Akibat korupsi, dll…jd bukan hanya tampilkan hasil akibatnya tapi lebih ke arah efek akibatnya, contoh sy kmrn sy beli gas namun cepat habis….ini sample kecil yg hrs di infokan banyak, krn smua dimulai dr yg kecil dan ini bisa menjd suatu kejadian yg terulang dan sistematis…. Jangan sampe org salah jd benar…org benar jadi salah…..

  44. Udah kelamaan Indonesia sakit kita generation baru hrs bang-kit, yg tua suruh duduk pension Saja biar kita yg generasi muda bekerja. Tlg jgn dikasih penyakit yg lama bawalah penyakit lama utk kalian sendiri.Kasihan anak cucu kita nantinya,bila org membaca article Anda masih tdk mengerti Wah… Kebacut Udah tll Dlm article Anda tq for writing to Us semoga sll Damai rakyat Indonesia.

    1. Generasi muda juga butuh yang lebih senior untuk belajar. Orang tua lebih banyak pengalaman hidupnya…. Yang muda dan yang tua harus kerjasama biar hasilnya lebih optimal 😉

  45. Revolusi adalah perubahan seketika dlm wkt singkat. Dan itu sangat jarang bisa dilakukan, kalau bukan org yg super. Apa tdk sebaiknya diganti Reedukasi mental, di mana ada unsur pembelajaran. Krn tdk mungkin jg sekali jadi. Pasti ada jatuh bangunnya.
    Asset terbesar bangsa kita betul kata Anies adalah manusianya, namun Asset tambang, sumber daya alam, dll juga hrs masuk dlm reedukasi mental. Seorang yg bermental budak saja yg tdk peduli thd kekayaan alam bangsanya, dan membiarkannya dijarah.

    1. Terima kasih idenya… Sangat menarik.

      Tapi sebenarnya kalau cek di KBBI, revolusi bisa juga diartikan sebagai ‘perubahan yang cukup mendasar di suatu bidang’. Sehingga kata ini sudah cukup tepat digunakan. Lebih lanjut, dalam website jokowi.id tentang penjelasan konsep Revolusi Mental oleh Joko Widodo, ada sedikit penjelasan soal kenapa kata ‘revolusi’ digunakan… Yaitu sbb:

      “Penggunaan istilah ”revolusi” tidak berlebihan. Sebab, Indonesia memerlukan suatu terobosan budaya politik untuk memberantas setuntas-tuntasnya segala praktik-praktik yang buruk yang sudah terlalu lama dibiarkan tumbuh kembang sejak zaman Orde Baru sampai sekarang. Revolusi mental beda dengan revolusi fisik karena ia tidak memerlukan pertumpahan darah. Namun, usaha ini tetap memerlukan dukungan moril dan spiritual serta komitmen dalam diri seorang pemimpin—dan selayaknya setiap revolusi—diperlukan pengorbanan oleh masyarakat.”

      Semoga menjawab 🙂

  46. Saya hanya ingin bertanya sedikit. Selain revolusi mental, perlukah ada revolusi hukum juga? Karena saya dulu pernah membaca sebuah jurnal penelitian (saya lupa karya siapa) yg menyimpulkan bahwa bila empati seseorang tidak diajarkan dr kecil maka pd bagian otak yg berhubungan dg empati dan rasa sosial seharusnya terjadi rangsangan dan reaksi kimiawi ini tidak terjadi. Ini ilmiah, dr sample otak para pembunuh berdarah dingin di penjara yg memiliki persamaan. Intinya adalah akan sulit sekali merevolusi mental untuk orang dewasa krn secara fisik sudah terbentuk otaknya yg mempengaruhi pola pikir dan intelektualitasnya.
    Nah mungkin sedikit solusi adalah merevolusi hukum. Contohnya penerapan hukum pecut atau cambuk seperti di Singapura, negara yg dicontohkan di atas. Dan hukuman mati utk pejabat korupsi spt di Tiongkok. Mungkin sebagian orang akan bilang hukuman cambuk dan hukum mati terlalu sadis bahkan melanggar HAM, nah disinilah argumen saya: simple, ya taatlah pada aturan dan jangan melanggar tata tertib pasti tidak akan kena hukuman tsb!
    Masyarakat Indonesia pd umumnya masih takut pada aparat bukan pd hukum dan aturannya, contoh sudah disebut, lampu merah kl tdk ada polisi menjadi tak ada artinya lagi. Nah hukum cambuk ini hrs ditegakkan agar ada efek jera. Orang akan takut hukumannya bukan takut kl ada aparatnya saja. Hukum cambuk ini bs diterapkan tdk hanya utk pelanggaran lalu lintas saja tp bs utk kriminal juga.
    Revolusi hukum jg dilakukan berbarengan dg revolusi mental para aparat dan pihak kepolisian jg. Ada sanksi berat bila polisi terbukti terima suap spt skorsing, penurunan pangkat, hingga pemecatan dan cambuk jg diterapkan bila pelanggaran kewenangan terjadi. Tetapi tidak lupa setelah kesejahteraan hidup mereka ditingkatkan, fasilitas juga ditambah dgn kualitas lbh baik.
    Tentunya hukuman2 ini harus disosialisasikan jg di media2 secara rutin agar alasan “saya tidak tahu” tidak bs dijadikan pembelaan.
    Semoga revolusi mental dan hukum bs berjalan dan diterapkan di Indonesia siapapun presidennya, siapapun pemimpinnya sehingga negara kita menjadi negara maju yg tidak hanya kaya SDA tp juga kaya dan berkualitas SDMnya.

  47. Hebat tulisannya.

    Saya hanya ingin berbagi. Saya kebetulan tidak lagi tinggal di Indonesia, tetapi saya kebetulan mempunyai banyak kontak dengan calon-calon mahasiswa yang baru datang dari Indonesia.

    Yang saya perhatikan adalah, masih terlalu banyak mahasiswa Indonesia yang pergi keluar negeri dan lupa, bahwa Pancasila adalah identitas negara kita, yang terjadi seringkali mahasiswa Indonesia (dan calon-calon) mudah didoktrin oleh kelompok2 tertentu yang masuk dengan mudah ke pikiran mahasiswa dengan memanfaatkan kegalauan mahasiswa tersebut baik di bidang finansial, agama, maupun politik.

    Mereka memang adalah korban dari Core Values yang kurang jelas, apalagi pendidikan PPKn kita dianggap sebagai momok (banyak yang sama sekali tidak tertarik dengan pelajaran ini disekolah). Saya pribadi pun tadinya begitu, di sekolah kita diharuskan menghafalkan pembukaan UUD dan berbagai macam salam dan sumpah, tapi tidak ada yang membantu kita mengerti isinya. Esensi sebuah dasar negara yang tadinya indah, mudah dipelintirkan, karena kita terlalu banyak menghafal, tapi tidak ada yang mengerti. Sampai sekarangpun banyak dari kita yang tidak tahu lagi apa itu kebajikan dan kenapa itu menjjadi pilihan yang selalu benar di soal pilihan ganda.

    Hafalan akan cepat hilang. Lihat saja setelah UN, banyak pelajaran yang segera kita lupakan. Sialnya itulah yang terjadi dengan masyarakat yang berada di kelas ekonomi menengah dan datang dari sistem pendidikan yang hanya mementingkan hasil.

    Mahasiswa-mahasiswa baru yang berangkat ke eropa banyak yang kaget. Disini mereka baru banyak melihat apa artinya ‘sosialisme’, ‘komunis’,’demokrasi, dan sebagainya. Mereka dihadapkan dengan orang-orang eropa yang berpikir banyak melalui core values yang kuat dan mudah. Darisinilah datang juga nilai benar dan salah. Banyak mahasiswa Indonesia yang akhirnya sadar, dan sialnya tidak mau balik ke Indonesia lagi, bukan karena mereka tidak mau, tapi takut tidak diterima lagi dengan nilai-nilai yang mereka bawa dan punya kebajikannya masing-masing.

    1. Terima kasih atas tanggapannya, menambah wawasan soal kondisi mahasiswa kita di luar.

      Sepakat bahwa selama ini kita diajarkan untuk menghafal, sehingga ketika mempelajari sesuatu kurang memahami esensinya. Semoga ada perbaikan di sistem pendidikan kita ke depan 😉

  48. Setuju, mental masyarakat harus segera direvolusi. Harus ada yang memulai, harus ada tindakan nyata, bukan hanya kata2.

  49. Revolusi mental yg hrs pertama kali dibentuk adalah media yg selalu memberikan informasi yg membentuk mental sdm indonesia bobrok…. Seperti acara2 sinetron yg banyak memberikan contoh sangat tidak baik, ttg perilaku artis dan aktor di acara2 celebs yg banyak memberikan teladan yg tidak baik utk anak bangsa… Bisakah anda menghentikan itu semua Pak Anies???

  50. Saya setuju sekali, SDM adalah asset yg luar biasa untuk Indonesia untuk itu SDM inilah yg hrs diprioritaskan untuk dibangun mulai dari sejak dlm kandungan hingga sampai kapanpun karena konstribusinya sangat luar biasa dibanding sumberdaya yang lain. Jika SDM ini berkualitas dan berintegritas apapun yang dikerjakan akan menghasilkan output yang luar biasa tak terhingga, krn Tuhan sudah meletakkan otoritas Nya kepada manusia sepenuh2nya untuk menguasai dan mengusahakan bumi dan segala isinya . Hanya Tuhan mau manusia tunduk pada FirmanNya dan pastinya berkat dan penyertaan Tuhan menjadi bagian nya, Amiin.

  51. setuju banget pak….. mau stadium berapa penyakit bangsa in gak perlu terlallu dipersoalkani..menurut hemat saya yg terpenting adalah harus ada pemimpin yg berani memulai untuk keluar dari keterpurukan ini…semoga revolusi mental ini dapat menjadikan pintu masuk menuju INDONESIA yg HEBAT…..

  52. Sangat setuju. Semoga setiap orang yg membaca dan setuju dengan artikel ini, termasuk saya, ini akan memulai sesuatu yang baru, yaitu menganalisa diri sendiri dan berkomitmen untuk mengubah diri dan mentalitas yang rusak, juga mengajarkan nilai-nilai tersebut kepada anak cucu dan sahabat-sahabat mereka. Saya rasa di zaman sekarang ini, untuk bertenggang rasa, tolong menolong, sopan santun dan sebagainya ini diperlukan keberanian. Karena resikonya adalah tertipu, ditolak, disalahpahamkan, dsb. Tapi inilah harga yang harus dibayar untuk menjadikan revolusi mental suatu kenyataan.

    1. Jangan lupa, Jokowi-JK manusia juga yang jauh dari sempurna…suatu saat bisa lupa. Harus terus dikawal dan diingatkan 🙂

  53. Saya setuju dengan “Revolusi Mental” tapi tidk jga harus mengenyampingkan, kekayaan “SUMBER DAYA ALAM INDONESIA”
    🙂

  54. Saya pribadi setuju dgn konsep Revolusi Mental yg menjadi usulan dr salah satu capres. Yg jelas moral dan mental masyarakat kita sdh sangat rusak dan benar2 hrs diperbaiki. Budaya malu sdh tidak berlaku dan seakan-akan sdh menjadi barang langka. Sebelum memperbaiki mental dan moral bangsa ini, sebaiknya hrs dimulai dahulu dr pemimpin yg ada diatasnya yg jelas2 bnyk kita lihat melakukan pelanggaran2 hukum tanpa rasa malu. Bertingkah laku yg tdk patut atau tdk bermoral sering dilakukan tanpa rasa malu. Apabila pemimpin yg diatasnya sdh dpt memberikan contoh yg baik, saya percaya sedikit demi sedikit moral dan mental bangsa ini akan berubah

  55. Setuju dik ulasan sampeyan………………….. aku selalu bermimpi apa mungkin bisa digapai kembali pelajran budipekerti sejak Tk dan SD, …………….pelajaran CIVICS-Kewarganegaraan sejak SMP sampai SMA. Kalau cak Anis Baswedan bisa terpilih menjadi pak Menteri pendidikan, semoga nilai ajaran mbah AR Baswedan bisa terlularkan kedalam sistem pendidikan kita. Amien….Amien.Amien

  56. Setuju banget Pak Anies, saya smp mem protect anak saya, di public area yang seperti itu krn saya panik anak bingung dengar hal2 spt itu,tp saya tau itu hnya utk kluarga kecil kita, sdgkan seharusnya seluruh keluarga Indonesia ini harus melangkah kluar dari lingkaran spt itu, saatnya berubah walaupun selangkah selangkah.

    1. Loh…nama saya bukan Anies lho pak…hehehe

      Tidak perlu over protective pak, cukup bekali anak dengan prinsip dan pengetahuan yang kuat. Seseorang dengan karakter positif yang kuat tidak akan terpengaruh lingkungan, justru bisa jadi agen perubahan untuk lingkungannya.

  57. Bagus sekali. Tapi bukankah kita tidak bisa mengubah orang lain? Maka perubahan harus dimulai dari diri sendiri dahulu. Lalu kalau kita seorang ibu, kita bisa memberi teladan anak-anak kita, lebih luas kita bisa memberi teladan apa yang disebut revolusi mental ini ke orang-orang di sekitar kita, tempat kerja kita, dan komunitas-komunitas kita. Memang olok-olok bahkan caci maki akan sering kita dapatkan. Tapi bukankah yang mengolok-olok itu memang menunjukkan mental yang harus didandani? Maka tetap semangat dan terus “on the right track” harus kita jalani.

    1. Kita tidak bisa mengubah orang lain, tapi kita bisa jadi contoh dan inspirasi bagi orang lain.

      Sepakat dengan mbak…. mulai dari diri sendiri dan terus konsisten. Setidaknya, kita bisa jadi inspirasi yang baik buat orang lain 😉

  58. Bagaimana dengan diri anis baswedan sendiri yg sdh menjilat ludah nya sendiri….. yg pernah mencela bhw blusukan jokowi adalah hanya utk pencitraan. Namun ternyata kemudian malah jadi ketua timses nya jokowi. Mental nya anis baswedan hrs di revolusi, supaya tidak jadi orang MUNAFIK. Supaya bangsa ini tidak tertular ke-munafikan-nya, aaaammiiiiinn

    1. Terima kasih atas tanggapannya. Mohon maaf tidak bisa memberikan feedback karena saya tidak mengenal Anies Baswedan secara pribadi.
      Bagaimanapun, berpikir positif lebih baik daripada berpikir negatif pada orang lain.

      Salam 🙂

  59. Semoga artikel2 seperti ini lebih banyak ditemukan di media sosial karena dgn sharing artikel ini, kita sedang memulai langkah pertama.

    Ini tahun ke-4 saya tinggal di Melaka Malaysia, saya tidak tahu persis kurikulum sekolah mereka, namun satu hal yang sangat nyata adalah mereka lebih tertib, lebih taat peraturan, ini sangat mudah dirasakan dengan melihat sopan santun di jalan raya. Lampu kuning artinya memperlambat laju kendaraan, saling sapa dan memberi senyum.

    Setiap saluran TV menyiarkan iklan menggalakan sopan santun, tenggang rasa dan saling menghormati yang dikemas dengan pesan iklan yg kreatif.

    Meskipun tingkat pembauran antar suku di Indonesia lebih baik daripada Malaysia, namun kwalitas mental mereka lebih baik dari kita. Tidak salah kalau kita belajar yg baik dari tetangga dekat kita.

    Salam damai..

    1. Terima kasih atas tanggapannya…

      Mungkin mbak/mas bisa coba cari tahu bagaimana sistem pendidikan (formal dan nonformal) di Melaka, lalu share dengan kami yang ada di sini…. sudah saatnya kita belajar hal-hal positif dari bangsa lain 😉

  60. Saya seorang ibu yang mempunyai anak berumur 4 tahun . Saya ingin sekali membahas tulisan di atas mengenai perilaku seorang anak yang dapat dengan lepas berbicara kasar ( anjing ) kepada ibunya. Kalau dikaji lagi apakah anaknya yang salah ataukah ibunya ?
    kalaupun anak tersebut bisa dan biasa berbicara kasar, dia artinya pernah mendengar, merasakan, menyaksikan orang besar berkata, dan berpelikaku dalam kehidupan sehari harinya , Diterima anak itu sebagai sesuatu yang biasa dan normal . Ini adalah bahaya .

    Intinya adalah apa yang kita biasa ajarkan kepada anak itu , anak itu lah menerima apa yang dimasukkan kedalam pikirannya semasa dia kecil dan terus berlanjut.

    Ini yang harus diperbaiki , diri kita sendiri yang menjadi contoh , karena anak dilahirkan dengan lembaran yang putih , Kita lah yang bertanggung jawab mengisi tiap lembaran nya , tentu jelas dengan pendidikan , tata krama , sopan santun dan perilaku yang baik.

    Karena saat ini kita di era technology , maka kita pula yang harus mengkaji dengan cermat apa yang anak itu tonton di media dan bermain di dunia maya . Kita pilih program tontonan yang educative,

    Untuk bangsa Indonesia baru , tugas Bapak Jokowi untuk memimpin negera ini kearah yang benar. dengan memberikan contoh yang benar dan baik . Kita buka tangan dan pemikirian kita untuk anak kita dengan harapan apa yang kita tanam budi baik akan menular ke saudara kita , tetangga. dan lingkungan yang lebih besar lagi.

    Perjalanan Indonesia masih panjang. generasi yang dibawah kita yang harus dipupuk agar nantinya menjadikan generasi penenerus baru . bersyukur Indonesia sekarang ini ada sosok Anies Baswedan.

    1. Menanggapi pertanyaan Ibu di paragraf pertama. Ada banyak faktor yang mungkin jadi penyebab kenapa anak sekecil itu bisa berbicara kasar: teladan orang tuanya yang kurang baik, lingkungan masyarakat yang juga berbudaya kasar, tontonan di TV yang kurang mendidik, dan banyak lagi yang lainnya. Intinya… ada banyak sumber belajar seorang anak, baik positif maupun negatif. Maka, implementasi konsep Revolusi Mental ini juga harus dari berbagai aspek, tidak hanya lewat pendidikan formal di sekolah, tapi juga lewat pendidikan keluarga, masyarakat maupun media.

      Sepakat dengan ibu, orang tua memiliki peranan penting dalam mendidik dan memberi teladan bagi anak-anaknya, agar mereka tumbuh menjadi generasi yang positif dan baik….mulai dari sikap maupun perilakunya.

      Mari kita mulai dari diri kita sendiri 🙂

  61. REVOLUSI MENTAL….istilah yg SANGAT HEBAT!!!Semoga bisa terwujud di negeri Indonesia tercinta ini…karena KRISIS MENTAL sudah dimana mana…..dari kalangan bawah sampai ke atas…Hanya sekedar pandang memandang saja bisa bertengkar….REVOLUSI AKHLAK juga perlu…Semoga ada TINDAKAN dan KETEGASAN dari Pemimpin Negara ini untuk pelaksanaan REVOLUSI MENTAL dan AKHLAK…

  62. Setuju sekali dengan pemikiran artikel ini. Kemajuan bangsa kita memang harus dimulai dari dalam diri kita sendiri, mulai dari mengubah sikap dan cara pandang kita terhadap bangsa ini, yang artinya “Revolusi Mental”. Namun tiada artinya jika revolusi mental hanya dimulai dari bawah, karena sejatinya teladan itu datang dari atas ke bawah. Maka memiliki pemimpin yang telah lebih dulu bermental baik dan bermoral Pancasilais adalah langkah pertama menuju perubahan bangsa tsb. Selamat kepada Jokowi dan seluruh timses-nya atas kemenangannya dan tolong tunjukanlah serta wujudkanlah karya-karya kenegarawan yang telah diprogramkan tsb. bersama kami, rakyat Indonesia yang membutuhkan perubahan bangsa ini.

  63. Mensim,

    Saya beryukur untuk begitu banyaknya tulisan dan tanggapan yang bagus, inspiratif, dan memang merupakan jawab atas banyak doa selama puluhan tahun.

    Kalau saya boleh menambahkan sedikit, ada istilah-istilah yang terlanjur begitu terkenal dan menjadi kosa kata umum yang perlu dicermati. Istilah “mandiri” itu bukan lalu masing-masing kita maunya hidup begitu bebas dan menjurus pada hidup sendiri-sendiri, lu-lugua-gua. Demikian juga halnya dengan HAM. Bagi saya yang sudah tua, 75 tahun (+), mandiri itu justru menjadi semkain dewasa bukan untuk begitu bebasnya tetapi justru ada kata kecil yang tidak kalah pentingnya:
    “saling”. Tidak seorang pun, teramsuk orang yang sudah dewasa dan punya pekerjaan mantap dan mapan, yang dapat hidup tanpa orang lain.

    Walau saya mendukung sepenuhnya: revolusi mental harus dimulai dari kelaurga, tetapi yang wajar justru dari diri kits sendiri masing-masing. Lalu ditularkan secara praktis dengan keteladanan yang konkret pada orang-orang paling dekat dengan kita, pasangan kita, anak-cucu kita, segenap keluarga kita.

    Yang kita tidak siap yakni dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang begitu cepat dan jumlahnya berliapt ganda, tidak dibarengi Idiimabngai) dengan perkemabngan bukan tetapi keteladanan kehidupan moral dan etika yang memadai. Bahkan hubungan antara anak-orang tua (kandung), ironisnya justru setelah diberkati (setelah menjadi berpendidikan dan ekonominya menjadi meningkat) kok malah masing-masing anggota keluarga sendiri saja tidak punya waktu khusus. Masing-amsing maunya “mandiri” sehingga setiap anggota keluarga seamkin menjadi asosial. Hari-harinya dihabiskan untuk berjam-jam di depan komputer, setelah pulang kantor, atau sibuk tenggelam dengan hp pintar atau sejenisnya. Dan anak-anak kecil begitu ahlinya dalam bermain berbagai game (yang nota bene nyaris berisikan “perlombaan”, “persaingan”, saling serang, saling tembak, saling bunuh. Herankah kalau anak-anak kita menjagi “cuek”, atau malah menjadi beringas, dan garang? Yang tidak kurang buruknya, “agama” apapun menjadi bermetamorfosa untuk saling menghakimi dan merasa paling benar (sendiri) dan saling merusak.
    Yang lebih dibutuhkan itu keteladanan konkret, istimeawnya oleh para pimpinan (politik, agama – apalagi yang menjadikan agama menjadi lahan subur politik! – dan para “pemimpin” atau “penguasa”). Yang terus ditumbuhkembangkan justru bukannya teladan yang baik. Yang semkain langka itu tuntunan (orang yang berani berdiri dan berjalan di depan untuk sesamanya, khususnya angkatan muda yang harus menggantikan kita) alih-alih tuntunan, yang berkemabngbiak justru TONTONAN. Yang menyedihkan tontonannya TIDAK lucu kertika Sri Mulat almarhum, telenovela menyajikan pertengkaran isi ruamh tangga karena ada WIL ada PIL dan perselingkuha. Lihat saja kata-kata dan gaya bahasa yang ditayangkan justru begitu tidak mendidik.

    Revolusi mental saya dukung sepenuhnya. Agar tidak berarti “menthal”, seperti bola karet yang kembali melawan maksud yang dituju, peran kaum ibu, isteri, harus ditingkatkan juga. Dan para sumai (ayah) jangan melarikan diri dari tanggungjawabnya. Adakan waktu khusus buat anak-anak kandungnya. Ironis, menyantuni anak yatim-piatu, aktif di LSM dan gerakan HAM tapi anak sendiri diterlantarkan dan digantikan dengan sejumlah peralatan elektronik yang mengasyikkan tapi memisahkan anak kita menjadi asosial bahkan tidak lagi mampu berkomunikasi dengan saudaranya atau orang tuabnya sendiri. Jangan selalu disalahkan anak-anak kecil. Revolusi mental harus dari diri kita sendiri, khususnya para suami (ayah). Kalau ngurus anak kandung sendiri, lebih mengangkat dearajt isteri sendiri sudah gagal, jangan menambah isteri lagi atau nambah anak lain ibu. Bukan nyindir nih. Tapi mari kita jujur. Revolusi mental berati kiat semua harus mau jujur terhadap diri sendiri terlebih dulu dan membuka hati untuk dikoreksi. kalau tidak berkenan dikoreksi oleh pasangannya, anak kandung dan kakak-adiknya atau orang tua atau mertua sendiri, saya tidak terlalu yakin revolusi mental akan berdaya guna. Maaf.

    Kita bersyukur untuk orang-orang (yang masih muda) seperti Anies Baswedan (kalau menyebut beberapa nama lainnya nanti dikira punya hidden agenda). Tetapi Jokowi itu sangat fenomenal, Rasmi, Rieke (mbak Oneng), dan jangan lupa Ahok.

    Maaf, sudah berkepanjangan. Dan bukan bermaksud menggurui. Banyak terima kasih sudah berkenan sabar membaca urun rembug orang tua..

    1. Terima kasih atas tanggapannya yang sangat detail Pak… menambah wawasan dan pemahaman saya soal konsep Revolusi Mental ini.

      Terima kasih juga sudah berkenan membaca tulisan saya dan memberikan komentar. Semoga ada kesempatan untuk bisa berdiskusi langsung dengan bapak 🙂

  64. Revolusi mental menurut sy bukan spt itu,ilustrasi di atas lebih pada,etika,sopan santun,budi pekerti dan humanisme dan tidak bisa di revolusi, revolusi mental adalah sikap yang mempunyai output,outcome dan impac kinerja dan ada 25 item yang harus di implementasikan,diantaranya…berfikir positif,antusias,think big,fokus pada solusi dst sampai 25 item bahkan lebih…..lebih pada mindset yang direvolusi….

    1. Terima kasih atas tanggapannya Pak. Mohon maaf ada bagian yang saya kurang sepakat. Bahwa etika, sopan santun, budi pekerti dan humanisme menurut saya sangat bisa direvolusi.
      Ini pemahaman Revolusi Mental dari saya Pak, bukan dari penggagas konsepnya. Dan tulisan ini juga cuma sebagian kecil dari apa yang saya pahami. Ibarat buku, ini mungkin baru pengantarnya saja…. 🙂

  65. setuju,,, budi pekerti sekarang mulai hilang .. mari tumbuhkan kembali,, saya sebagai anak muda merasakan betul , bahwa sopan santun sudah mulai hilang , mulai dari omongan , pakaian ,pargaulan,,lingkungan, jaman memang modern , mengikuti jaman boleh , asal tetap pada koridornya ,bangsa kita bangsa yg bermoral, saya bangga menjadi orang jawa,,tapi saya sedih karena budaya jawa, saya rasa sudah dilupakan ,, eh bukan dilupakan , tp tergantikan dengan budaya asing ,, contoh ,, sekarang anak” sekolah dituntut untuk bisa menguasai bahasa inggris misalnya ,, tp kenapa tidak dengan bahasa kita sendiri, misalnya bahasa suku kita suka jawa,, disekolah dipulau jawa ada pelajaran bahasa jawa tp tidak ditekankan betul ,, saya sekarang merasa begitu saya sudah mulai umur 21 tahun sekarang dan mulai sekolah diperguruan tinggi,, baru sadar kenapa bahasa budaya malah diabaikan ,, kenapa tidak dijunjung tinggi ,, ??kenapa jika ada orang asing malah kita yg harus mengikuti bahasa mereka ?kenapa bukan mereka yg mengikuti bahasa kita ,, sedangkan klw kita ke amerika misalnya ,, kita harus bisa bahasa inggris ,tp saya percaya untuk tahun” kedepan , semoga ,, konsep revolusi mental ini berjalan dengan baik atas kesadaran dari kita semua tanpa adanya paksaan ,semoga dengan terpilihnya bapak jokowi yg sama” dari karanganyar solo ,bisa menumbuhkan kembali budaya-budaya indonesia yg lebih baik lagi amin,

    matur suwun

  66. Good idea. Revolusi mental!
    Dimulai dari anak sefini mungkin.
    Harus diterapkan menjadi pelajaran wajib di pendidikan prasekolah, SD, smp, smu, PT.
    DAN ALANGKAH BAIKNYA LG JIKA PENCETUS IDE REVOLUSI MENTAL MENJADI MENTRI (PENDIDIKAN).

    SALAM REVOLUSI MENTAL

    #inspiratordarirayatongah

  67. Thanks for sharing sis..

    Jadi penasaran, sebenrnya kenapa sih orang2 indo or jakarta khususnya jadi pada begini?

    Saya bener2 berharap rakyat Indonesia bs bangkit & lebih maju lagi pola pikirnya

  68. Setuju. Tp yg penting juga adalah mensosialisaikan setiap saat. Bgm caranya? Lewat media TV dan radio. Dibuat kayak iklan rokok. Semua prilaku yg tdk baik selalu dilawan dgn kalimat ” revolusi mental “

  69. Apa yg dimaksud revolusi mental? Bagaimana cara mengaplikasikannya? Apa ideologi yg jd dasar paham revolusi mental ini? Sungguh revolusi mental pun hanya sebatas teori saja, tanpa mengetahui bagaimana cara mengaplikasikannya.

    Berbagai degradasi moral yg sudah terjadi di rakyat Indonesia adalah hanya karena masyarakat kita sudah banyak yg meninggalkan pemahaman terhadap agama. Sebagai contoh di Islam kami diajarkan untuk selalu taat kepada Allah, berakhlak baik, toleransi dan berbaik sangka. Tapi karena masyarakat sendiri sudah banyak yg terdoktrin paham sekulerisme yg memisahkan kehidupan sosial/institusi dgn agama, keadaan seperti skr inilah yg terjadi.

    Sungguh revolusi mental tdk perlu kita besar2kan asalkan masyarkat sadar akan pentingnya menjadi manusia yg beragama. Agama menanamkan mental takut kepada Allah dgn begitu semua org yg takut kepada Allah akan selalu menjaga sikap, ucapan, pikiran dan perbuatan’y untuk selalu berbuat baik kepada sesama, lingkungan, alam, dan orang lain.

    Kuncinya adalah takut kepada Allah. 🙂

    1. Apa yang dimaksud revolusi mental? Bisa dibaca penjelasan singkatnya di sini http://www.jokowi.id/berita/revolusi-mental/

      Soal implementasi resmi dari penggagasnya saya nggak bisa berkomentar banyak karena memang bukan timses ataupun relawannya….hehe.

      Tapi menurut saya, implementasi revolusi mental ya harus dimulai dari diri sendiri dulu, tanpa harus menunggu kebijakan pemerintah. Ada tiga hal penting menurut saya yang harus dilakukan masing-masing kita: Mulai melakukan hal-hal yang ‘benar’, memberi tahu orang lain untuk melakukan hal yang ‘benar’, dan memberi contoh pada orang lain bagaimana melakukan hal yang ‘benar’.

      Contoh paling sederhana misalnya budaya membuang sampah. Mulai dari diri kita untuk tertib membuang sampah di tempat sampah, menegur orang lain yang buang sampah sembarangan, dan memberi contoh untuk mengajak orang lain melakukan hal yang sama. Ini berlaku juga untuk revolusi di bidang agama seperti yang bapak uraikan di atas. Intinya mulai dari diri sendiri dulu, dan lakukan dengan konsisten agar bisa menginspirasi orang lain. 🙂

      Mohon maaf kalau terkesan sok tahu 😉

  70. Artikel yang bagus. Perlu lebih banyak lagi yang seperti ini. Banyak orang membicarakan hal-hal “Besar” namun lupa basicnya. Bangsa yang besar berasal dari manusia yang besar. Manusia yang membangun bangsa, bukan perusahaan, teknologi, kekayaan alam, dll.
    Maju terus, Indonesiaku!

  71. Mental bersemayam pada tiap individu dan berkontribusi pada kualitas SDM bangsa..
    Kunci maju tidak nya suatu bangsa memang dipegang oleh kualitas SDM..
    Rakyat yang hidup di suatu negri yang tandus pun bisa makmur dan maju bila kualitas SDM nya dibangun..
    Rakyat yang hidup di negri yang kaya SDA dan subur pun bisa tetap tertinggal jika SDM nya buruk..
    Kemajuan SDM indonesia mmg msh terus terabaikan krn lbh sibuk dg perkara2 lain yg sbtulnya tidak lbh penting/prioritas..

  72. Sebuah artikel yang menyehatkan setelah banyaknya ricuh di pilpres…ibarat sebuah oase di padang gurun… artikel yang bagus…semoga banyak orang membaca dan memahami artikel ini…^^

  73. Mantap, sangat setuju mas, emang mentalitas kita dah pada rusak, semoga anak cucu kita kelak dapat hidup lebih baik lagi dimasa mendatang dan semoga jokowi joko wi lainnya pada bermunculan guna untuk kepedulian terhadap keadaan yang sudah menjauh dari jalan kebenaran agar tidak menjadi human humanilupus,, salam tiga jari.

    1. Aamiin… tidak hanya butuh sosok seperti Jokowi, tapi juga sosok lain yang bagus, positif dan inspiratif.

      Kita juga bisa jadi bagian dari sosok-sosok positif itu kok…. mari 🙂

  74. Di dalam Islam semuanya sudah sangat jelas dengan mempelajari Islam secara kaffah sesungguhnya tidak sekedar Revolusi Mental tapi juga dengan pengamalan ajarannya akan menjadikan Manusia mempunyai kekuatan dan kesehatan mental yang akan membawa kemaslahatan baik bagi diri, keluarga dan umat pada umumnya. Tinggal bagaimana kita membuat sistem yang memberikan ruang yang cukup kepada umat untuk bisa mempelajari Agamanya dengan benar.

    1. Sebagai sesama umat Islam, saya setuju.

      Bahkan saya yakin, agama lain juga mengajarkan kebaikan yang sama, meski mungkin dengan cara yang berbeda 🙂

  75. Hi Prienz…saya setuju dgn revolusi mental. Sebenarnya sejalan dgn program yang sedang kami jalankan. Bahkan program ini sdh di mulai sejak 13thn yang lalu oleh penggagasnya Ayah Edy. Dan Alhamdulillah program ini telah banyak menginspirasi teman2 di seluruh Indonesia bahkan sampai negara tetangga. Indonesian Strong From Home (ISFH) mengajak seluruh orang tua, guru dan seluruh lapisan masyarakat untuk kembali ke rumah masing2, memperkuat rumahnya masing2 melalui mendidik anaknya dgn good parenting yang di mulai dr memperbaiki diri sendiri yang nantinya akan di contoh oleh anak2nya, anak didiknya. Karena anak adl pencontoh yang sangat ulung. Harapan dr program ISFH adl Indonesia yang kuat dr segi karakter terutama generasi muda. Pendidikan karakter kami mulai dr rumah sendiri. Tdak sepenuhnya berharap dr sekolah.
    Program ini kami lakukan melalui berbagi CD Parenting Ayah Edy secara GRATIS dan berantai. Isi CD adl kumpulan talkshow Ayah Edy di radio Smart FM, ada 36 judul antara lain : anak yang tdak bisa di didik atau ortu yang tdak tau mendidik, memahami alam bawah sadar anak, doktrin vs kesadaran dll.
    Jika anda2 berminat untuk belajar memperbaiki diri dan berdomisili di Jabodetabek, saya bersedia mengirimkannya, GRATIS termasuk ongkos kirim. Silahkan hubungi saya via FB Suke’ Tasmin atau email suke_nvl@yahoo.co.id. Jika domisili di luar Jabodetabek anda bisa membaca syaratnya di FB foto timeline saya.
    Bagi kami yang terpenting adl berbuat sesuatu untuk bangsa ini, bukan hanya menunggu penyelenggara negeri melakukan perubahan.
    Jika setiap keluarga dan setiap rumah di Indonesia mampu mendidik putera puterinya untuk menjadi cerdas dan Mulia maka Mulialah negeri ini.
    Kalau bukan kita, mau berharap pd siapa lagi?
    Kalau bukan sekarang, mau kapan lagi?
    (FYI : jargon diatas adl milik ISFH yang di pakai oleh salah satu capres dan tanpa izin.)

    1. Terima kasih untuk tambahan informasinya.

      Saya bantu sebarkan info programnya. Program Indonesian Strong From Home (ISFH) ini bagus, harus didukung 🙂

    1. Memang…. semoga segera diimplementasikan.

      Semoga masyarakat, seperti kita, juga mau bantu mewujudkan wacana ini. Sesuatu yang bagus perlu didukung, bukan? 🙂

  76. Satu mentalitas lagi yang perlu direvolusi adalah sikap diskriminatif dan fanatisme patologis.. tidak membeda-bedakan orang berdasarkan atribut yang bersifat asasi, pribadi, atau genetis, selama itu tidak bertentangan dengan hukum .. sehingga semua orang benar-benar merasa bahwa negeri ini adalah milik kita bersama..

  77. “Caci-maki hanya akan membuat saya berkesimpulan bahwa anda adalah salah satu orang yang mentalnya butuh Revolusi.” ♥

  78. capres gagal ngamuk-ngamuk malah di bela, orang yang sudah melakukan zinah dan tersebar videonya malah dipuja, Acara TV yang sudah direkomendasikan untuk tidak ditonton malah menjadi acara favorit. Bangsa ini memang sudah waktunya di revolusi mental kok … 😦

  79. Mungkin dianggap ekstrim, tetapi menurut saya perlu pendekatan yg lebih kuat. Baik itu pendidikan kebangsaan, disiplin terlebih sopan santun. Hal tersebut telah dengan sengaja dihilangkan lebih dari 16 tahun dengan alasan demokrasi dan HAM. Kebanyakan orang hanya mencari apa yg bisa dibenarkan dan dipersalahkan dari pada apa yg pantas dan yg tidak pantas.

    Saya setuju dengan bapak, tapi sebaiknya dapat di aplikasikan secara bersamaan dan berkesinambungan.
    Salam.

    1. Yup… semoga Revolusi Mental tidak sekedar jargon dan konsep, tapi benar-benar diimplementasikan oleh pemerintahan baru nantinya 🙂

  80. Revolusi mental yg paling utama perlu dicampakkan adalah pemikiran bahwa manusia bisa menentukan benar dan salah sesuai keinginannya sendiri padahal yg berhak menentukan benar dan salah hanyalah Allah SWT semata, Sang Pencipta. Kembali ke buku “Manual”… jalankan hidup di segala sendi kehidupan sesuai hukum Allah SWT yg sudah terbukti mensejahterakan dan menenteramkan. Stop menyombongkan diri dgn merasa hukum buatan manusia sudah super. Hanya kembalinya Khilafah Ar rasyidah yg akan menjadi solusi permasalahan umat manusia yg hidup di bawah naungannya. Wallahu ‘alam…

  81. Revolusi Mental mgkn bisa dimulai dr tayangan di tv.. tontonan yg tidak sehat di tv justru malah menjadi konsumsi langganan anak2 .. sinetron2 yg mempertontonkan sikap tak sopan seorang anak kpd org tua, murid kepada guru, istilah2 kasar yg gak jelas artinya menjadi contoh buat anak2..

    1. Ini saya sepakat. Tapi program TV juga mengikuti selera pasar…jadi ada baiknya kalau orang tua yang mengontrol dan mendampingi tontonan anaknya.

  82. Yang saya sayangkan adalah tulisan ini merupakan salah satu bagian dari upaya kampanye revolusi mental kandidat presiden, jika saja bukan, isinya yang sangat bagus akan lebih mengena bagi semua pihak, bukan hanya pendukung sang kandidat, tapi bagi semua orang. *Gambar ilustrasi dan kutipan kalimat tokoh yang diambil sebagai acuan sudah menggambarkan kecenderungan arah tulisan ini.
    Saya termasuk orang yang kurang sreg dengan istilah revolusi mental. Jika revolusi mental butuh waktu panjang sebagaimana penjelasan dalam artikel ini, karena memerlukan proses yang rumit, maka arti kata revolusi itu saja sudah tidak tepat. Terbentuknya mental seorang individu dan mental masyarakat pasti memerlukan proses panjang, baik itu mental yang positif maupun mental yang negatif. Sehingga untuk mengubahnya pun tidak mungkin melalui sebuah revolusi, tetapi melalui sebuah upaya panjang. Dalam ilmu sosiologi perubahan masyarakat dan kebudayaan yang memerlukan waktu panjang disebut dengan istilah evolusi, bukan revolusi.

    Bahwa revolusi mental harus dimulai dari diri sendiri dulu untuk kemudian meningkat pada lingkungan sekitar (keluarga, tetangga dst), itu adalah kalimat klise yang sudah lama bergaung sebelum istilah revolusi mental mengemuka. Dan hingga hari ini hasilnya masih saja seperti uraian artikel ini, belum menunjukkan hasil yang signifikan dalam mengubah budaya dan perilaku masyarakat. Alih-alih menjadi lebih baik, justru menjukkan gejala yang makin parah. karena pihak yang paling berperan dalam membentuk mental dan kepribadian juga sudah terkontaminasi oleh kepentingan sesaat. Media massa dan lingkungan pergaulan sekarang ini jauh lebih berperan dibanding lingkungan keluarga dan lingkungan sekolah dalam membentuk kepribadian individu.

    1. Salam kenal pak Ma’arif 🙂

      Terima kasih atas tanggapannya yang kritis dan membangun. Sebenarnya tulisan ini tidak dimaksudkan untuk kampanye, toh percuma juga kampanye karena pilpres sudah usai, dan tulisan ini justru banyak dibaca setelah pilpres. Kalaupun ternyata tulisan saya dipahami pembaca sebagai bentuk kampanye, itu hanya karena saya yang kurang cerdas merangkai kata. Kalau quote Anies Baswedan yang saya ambil sebagai ilustrasi, ya karena memang quote itu pas dengan apa yang ingin saya sampaikan.

      Mengenai kata ‘revolusi’ saya sudah pernah jelaskan dalam salah satu komen sebelumnya. Sepertinya akan menarik kalau bisa diskusi langsung dengan bapak…semoga ada kesempatan. 🙂

      Salam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s