I am (Not) a Traveller


enhanced-buzz-29911-1358194467-2

A person who is travelling or who often travels.

Itu adalah salah satu definisi ‘Traveller’ yang saya temukan di kamus online. Ada pula yang mendefinisikan ‘traveller’ sebagai “a person who changes location“.

Menilik definisi-definisi di atas, secara harfiah, traveller adalah seseorang yang melakukan perjalanan dari satu tempat ke tempat yang lain. Udah itu aja. Tanpa embel-embel tempat apa yang dia kunjungi, moda transportasi apa yang digunakan, dengan siapa ia melakukan perjalanan, berapa lama ia melakukan perjalanan atau berapa biaya yang ia keluarkan. Intinya, ketika saya melakukan perjalanan dari Yogyakarta ke Jakarta, misalnya, saya bisa klaim diri saya sebagai seorang traveller.

Apakah ini salah? Tentu tidak… secara harfiah. Maka, jangan heran kalau sekarang mulai banyak bermunculan orang-orang yang meng-klaim dirinya sebagai traveller. Fenomena menjamurnya status traveller ini sepertinya makin marak setelah boomingnya buku ‘The Naked Traveller’ oleh @trinity. Menjadi seorang ‘traveller’ seolah-olah menjadi gaya hidup baru yang wajib ditiru. Sama seperti menjamurnya 5 or 10K Runner, yang kini digilai oleh banyak orang, sampai-sampai hampir tiap minggu di Jakarta ada event lomba lari.

Travelling & Running. Dua gaya hidup yang menurut saya sangat bagus untuk dijadikan habit, atau bahkan budaya. Travelling, bagi saya adalah sarana untuk belajar lepas dari zona nyaman. Belajar mencoba pengalaman baru, melihat hal-hal baru, bertemu dengan orang-orang baru, dan mendapat pelajaran baru. Jadi…. sayang kalau travelling hanya diartikan sebagai proses berpindah dari satu tempat ke tempat lain saja. Karna bagi saya, travelling bukan sekedar ‘kemana tujuan perjalanan’, tapi lebih pada ‘bagaimana proses perjalanan itu’.

One's Destination is never a place. But a new way of looking at things - Henry Muller

Setuju banget sama quote di atas, “One’s Destination is never a place, but rather a new way of looking at things” (Henry Miller). Melakukan perjalanan adalah belajar melihat segala sesuatu dengan cara baru. Belajar memperluas sudut pandang, memperlebar wawasan, membuka mata, hati, telinga dan pikiran. Dulu saya selalu kesal membaca berita atau kolom-kolom komentar di dunia maya, tentang bagaimana masyarakat di negeri-mantan-suami-Manohara memandang rendah bangsa tercinta. Apalagi membaca kasus-kasus kriminal yang menimpa TKI kita, dan melihat bagaimana mereka ‘mencuri’ beberapa warisan budaya Indonesia. Reaksi saya selalu marah, emosional, dan berbagai reaksi negatif lainnya.

Begitu saya, pada suatu waktu, travelling ke negeri-mantan-suami-Manohara itu…pandangan saya seketika berubah. Dulu, kita boleh merasa ‘lebih baik’ atau bahkan ‘lebih tinggi derajatnya’ dibanding negeri tetangga itu. Tapi kini, secara infrastruktur kita sudah ketinggalan jauh. Wajar kalau sebagian masyarakatnya mulai berani memandang rendah bangsa kita, wajar pula sebagian masyarakat kita marah. Tapi saya tidak lagi marah… saya justru berpikir, “Indonesia harus segera berbenah!!” Meski beberapa kali melihat iklan pariwisata di TV sana yang mencomot lagu atau tempat wisata kita, tapi saya tetap acungi jempol dengan gigihnya usaha Kementerian Pelancongan dan Kebudayaan di negara tersebut dalam mempromosikan pariwisata mereka. Bandingkan dengan iklan pariwisata kita…. hampir nggak ada. Padahal materi promosi pariwisata kita jauh lebih bagus dan lebih banyak. Bakal butuh durasi berjam-jam mungkin untuk membuat sebuah iklan yang berisi semua tempat wisata yang kita miliki.

Oke….saya mulai meracau. Tapi intinya, perjalanan telah membuka mata dan pikiran saya, sehingga bisa menilai sesuatu dengan lebih objektif. Travelling teach me how to see things in a different way.

Kembali lagi ke definisi traveller di atas. Secara harfiah, siapapun yang telah melakukan perjalanan dari satu tempat ke tempat lain memang bisa disebut traveller. Tapi, jika dalam melakukan perjalanan kita hanya fokus pada kuantitas (apa dan berapa destinasi yang sudah dikunjungi)… hummm, mungkin kita hanyalah seorang literally traveller (nggak usah cari di google translate, ini saya bikin istilah sendiri). 😀

Menulis ini ibarat menampar diri saya sendiri. Saya sering sok-sokan menyebut diri sebagai traveller. Menuliskannya di bio twitter, seperti orang-orang kebanyakan. Check-in di Path saat melakukan perjalanan, atau posting foto-foto liburan, hanya untuk menegaskan bahwa saya seorang traveller. Pada akhirnya, saya sadar…. I am not a traveller. Paling tidak dilihat dari segi kualitas. Karena seorang traveller sejatinya adalah seorang pembelajar. Dan saya hanyalah seorang pemalas bebal yang lebih banyak sok tahu, ketimbang rasa ingin tahu-nya.

Kalau kamu bagaimana??

 

“It is good to have an end to journey toward; but it is the journey that matters, in the end.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s