Pintamap… Sebuah Ide Gila yang Berawal dari Rasa Kecewa


Pontianak, 18 April 2014

Hari masih pagi ketika saya dan mbak Tri, salah satu teman kantor, sampai di bandara Supadio, Pontianak. Ini pertama kalinya saya menginjakkan kaki di Pontianak, sekaligus pertama kali mencoba penerbangan paling pagi. Sensasi akan berpetualang di tempat baru menghilangkan rasa lapar di perut sekaligus kantuk menghebat yang saya rasakan sejak berangkat dari Jakarta.

Sayang, kami tidak mencari cukup informasi tentang Pontianak sebelum berangkat. Keluar dari bandara, kami baru tahu kalau kota ini minim angkutan umum. Satu-satunya kendaraan umum yang bisa mengantar kami keluar dari bandara adalah taksi, dengan tarif 120.000 rupiah untuk menuju destinasi pertama. Cukup mahal untuk ukuran pejalan seperti kami. Kepalang tanggung, kaki sudah menginjak bumi Pontianak, sayang kalau harus membatalkan rencana keliling kota hanya karena mahalnya ongkos transport.

Di sepanjang perjalanan, kami mencoba mengumpulkan informasi tentang Pontianak kepada bapak supir taksi tersebut. Dari obrolan tersebut, akhirnya kami malah berdiskusi soal minimnya transportasi umum di Pontianak. “Sekarang angkot pada mati, kalah sama sepeda motor. Dulu ramai angkot di Pontianak, sekarang jarang,” kata pak supir. “Trus, kalau kita pengin keliling Pontianak bisa naik apa ya Pak?” tanya kami sedikit kecewa.

Naik taksi bisa…tapi pasti mahal. Atau bisa juga sewa mobil, sekitar 250 ribu tapi belum termasuk sopir dan bensin. Kalau mau murah mending sewa angkot aja, mungkin 250 ribu mau,” jawab pak supir taksi. Tadinya perjalanan ini kami rencanakan paket hemat dengan naik angkot atau transportasi apapun yang murah. Namun informasi dari bapak supir barusan memaksa kami mencari alternatif lain. Waktu kami di Pontianak hanya seharian, karena malam kami akan naik bus menuju Kuching, Sarawak. Pilihan nebeng dan sewa motor harus kami hapus dari alternatif transportasi mengingat banyaknya destinasi yang ingin kami kunjungi dalam sehari itu. Saran bapak supir taksi untuk menyewa angkot keliling Pontianak sejauh ini adalah ide yang paling masuk akal.

Berbekal informasi dari sebuah blog yang memuat informasi wisata Pontianak, kami meminta sopir taksi mengantar kami ke sebuah warung makan bernama ‘Bubur Padas Pak Ngah’. “Wajib dicoba”, begitu yang tertulis di blog tersebut, dan membuat kami sangat penasaran. Lagi-lagi karena minim informasi, kami baru tahu dari bapak supir taksi kalau bubur yang dimaksud adalah bubur pedas, tidak biasa disantap sebagai menu sarapan. Maka diantarlah kami ke sebuah warung bertuliskan ‘Bubur Padas Pak Ngah’, yang pagi itu pintunya pun masih tertutup rapat.

Bingung mau kemana lagi karena destinasi pertama yang gagal, saya mencoba menghubungi teman yang pernah tinggal di Pontianak. Niatnya mau nanya tempat apa yang bisa dikunjungi sepagi ini. Sayang, teman saya ternyata sudah lupa tempat-tempat yang ada di Pontianak. Akhirnya kami mencoba destinasi lain yang ada di blog, dan diputuskan kami ke warung kopi Winny di Jl. Gadjah Mada. Sebagai penggemar kopi, ini jadi salah satu tempat favorit saya selama di Pontianak. Kopi susunya sangat pas diminum di pagi hari, apalagi ditemani camilan-camilan berupa jajanan pasar khas Pontianak. Lagi-lagi sayang, saya lupa apa nama jajanan pasar tersebut.

Sambil ngopi di Wk. Winny, saya dan mbak Tri ngobrol ngalor-ngidul soal dunia pariwisata Indonesia. Obrolan ini berawal dari kekecewaan kami akan minimnya informasi pariwisata di Indonesia. Setiap mengunjungi suatu daerah, kami tidak pernah bisa menemukan informasi yang komplit tentang pariwisata di daerah tersebut, lengkap dengan petanya. Informasi biasanya hanya kami peroleh dari blog pribadi yang tentunya bersifat subyektif. Contohnya adalah perjalanan kami ke Pontianak kali ini. Tentunya kami cukup kesulitan ketika ada teman, khususnya yang berasal dari luar negeri, yang ingin berkunjung ke daerah-daerah Indonesia. Belum ada sumber informasi yang mumpuni untuk bisa dijadikan acuan dalam mencari informasi tempat wisata di Indonesia. Ini berbeda sekali dengan Singapura atau Malaysia yang informasi pariwisatanya sudah cukup bagus. Setiap berkunjung kesana, saya dengan mudah menemukan peta wisata yang lengkap sehingga membantu saat melakukan perjalanan.

Iseng, saya pun menulis status di Path saya, “Obrolan pagi sambil ngopi di Wk. Winny kali ini menghasilkan ide baru: bikin tourism map se-Indonesia Raya yang bisa diakses online….hehe let’s dream big. Ada yang punya ide kreatif buat majuin pariwisata Indonesia gak ya? Share yuk…”

Tidak disangka, beberapa orang teman Path saya merespon positif ide tersebut. Bahkan ada yang langsung memberikan idenya di kolom komentar. Berbekal dukungan dari beberapa teman tersebut, hari itu juga saya menghubungi salah satu teman saya yang berlatar belakang IT, namanya Ari. Saya menghubungi Ari lewat whatsapp hari itu juga. Saya ceritakan semua ide di kepala saya, untuk menanyakan apakah ide tersebut mungkin untuk diwujudkan.

***

Jakarta, 1 Mei 2014

Sebuah pesan singkat masuk dari Ari, membalas pertanyaan saya tentang ide membuat web peta wisata Indonesia beberapa waktu lalu. “Engga susah, paling mobile-nya aja yang agak mikir.” Meski responnya lama, tapi isi responnya membuat saya terharu. Awalnya saya mengajak Ari kerjasama secara profesional, jadi saya tanyakan ke dia berapa biayanya. Ternyata, dia langsung menjawab, “Aku masuk aja di timnya.”

Hari itu juga saya undang teman-teman yang sempat merespon status Path saya beberapa waktu lalu untuk berdiskusi di grup chat. Maklum, lokasi kami semua berjauhan. Saat itu kami ber-sembilan. Tiga di antaranya teman kantor saya, dua teman kuliah, dan tiga lagi teman komunitas di Jendela. Belakangan anggota tim bertambah satu orang dari teman komunitas, sehingga total kami ber-sepuluh. Dari kesepuluh orang itu, satu orang berdomisili di Yogyakarta, Ari saat ini di Palembang, sisanya tersebar di Jakarta. Toh jarak bukan hambatan bagi kami untuk ‘berkumpul’ dan saling berbagi ide.

Berangkat dari rasa kecewa yang sama akan minimnya sumber informasi wisata di Indonesia, kami berencana membuat sebuah web berisikan peta wisata Indonesia yang lengkap dan komprehensif. Berdasarkan hasil diskusi, kami memilih nama ‘pintamap’ sebagai nama web kami tersebut. Mimpi kami tak muluk-muluk sebenarnya, hanya ingin mempermudah wisatawan asing maupun lokal mendapatkan informasi tentang tempat-tempat wisata di Indonesia. Mimpi sederhana, namun ternyata butuh usaha yang luar biasa untuk mewujudkannya. Tempat wisata di seluruh Indonesia saat ini ada ribuan, bahkan mungkin jutaan. Entah akan selesai kapan proyek ini jika hanya dikerjakan kami sendiri. Maka kami pun berencana melibatkan masyarakat untuk menulis review tempat wisata di Indonesia yang pernah dikunjungi, sekaligus menunjukkan lokasinya di peta. Ini juga sekaligus agar masyarakat dapat mempromosikan tempat wisata yang ada di daerahnya masing-masing.

Tentunya proses pembuatan web ini bukan tanpa hambatan. Mulai dari masalah dana, susahnya ketemuan antar anggota tim, kesibukan anggota tim yang hampir seluruhnya bekerja, hingga sikap apatis beberapa teman terhadap masa depan web ini. Salah seorang teman dekat saya ternyata lebih memilih menyalahkan pemerintah yang tidak peduli pada pariwisata Indonesia, alih-alih mendukung rencana kami. Ironis memang. Banyak anak muda Indonesia yang sebenarnya punya banyak ide untuk memajukan bangsa ini, namun berujung menyerah karena merasa tidak dipedulikan pemerintah.

Lah, bukankah lebih baik berbuat sesuatu yang positif daripada tiap hari nyinyirin pemerintah? Memangnya kalau kita tiap hari protes dan mem-bully pemerintah, kondisi bangsa ini bisa jadi lebih baik? Banyak yang mungkin tidak sadar bahwa sikap protes, nyinyir, bully, atau penggerutu ini justru akan membuat bangsa ini lebih terpuruk. Hanya sedikit yang cukup cerdas untuk membalik sudut pandang, merubah paradigma. Bahwa hal-hal buruk yang kita temui setiap hari justru bisa jadi ide awal untuk berbuat sesuatu dan memperbaiki keadaan. Bahwa terkadang kita harus berani melangkah di tengah kegelapan malam, menjadikannya titik awal perjalanan hidup untuk menuju hari yang lebih terang.

Bahwa sebenarnya rasa kecewa bisa memunculkan sebuah mimpi besar. Bagi kami, mimpi itu bernama Pintamap…. sebuah ide gila yang muncul justru dari rasa kecewa.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s