The war have just began…. Let’s fight!


October is known as breast cancer awareness month…..”

Beberapa hari lalu, tanpa sengaja saya membaca tulisan itu di sebuah tempat laundry cukup terkenal di Jakarta. Saya sejenak terdiam. There’s no such a coincidence. Baru beberapa hari sebelumnya, tepatnya hari Kamis, 17 Oktober 2013, saya mendapat telpon dari seseorang di Negeri jiran, Malaysia. Ia adalah kawan kakak saya yang sama2 merantau di sana. Berita yang disampaikannya mampu merubah rencana-rencana hidup yang sudah saya susun sangat rapi setahun belakangan ini, dan juga hidup keluarga saya ke depan. Kakak perempuan saya divonis kanker payudara stadium lanjut!

Saya terkejut. Cerita tentang kanker sering saya dengar dan saya baca di berbagai artikel, sering pula saya lihat dalam sinetron atau film, atau dalam berita-berita sedih di layar televisi. Tapi saya tidak pernah menduga cerita itu akan menjadi bagian dalam hidup saya. Yang lebih membuat saya tergugu, kakak saya saat itu masih ada di Malaysia. Yang saya lakukan sesaat setelah mendengar berita itu hanyalah menangis. Bahkan untuk mengabarkan pada keluarga di rumah pun saya tak sanggup.

Berbagai imajinasi mengerikan berhamburan di kepala saya. Bagaimana kalau kakak meninggal di sana? Bagaimana kalau ibu saya shock dan jatuh sakit jika mendengar kabar ini? Bagaimana kalau saya tak sanggup membiayai pengobatan kakak? Bagaimana nanti saya bisa membagi konsentrasi antara kerjaan dan pengobatan kakak? Bagaimana dengan impian & rencana yang sudah saya susun selama ini? Bagaimana kalau…. Ahh, berbagai pertanyaan membuat kepala saya makin penat dan tidak bisa berpikir. Apalagi selama 2-3 hari setelah vonis itu, kakak saya tidak bisa makan dan muntah-muntah. Sementara posisinya jauh dari keluarga dan saya tidak bisa berbuat apa-apa selain berdoa. Ini membuat saya juga kehilangan selera makan & tiap malam tidur seperti bayi…sering terbangun & menangis!

Hari ketiga, pikiran saya mulai tenang. Saya sudah bisa makan dan tidur dengan normal, meski pikiran saya rasanya selalu penuh, setiap saat terpikir apa yang harus saya lakukan untuk kakak. Ada beberapa hal yang harus saya putuskan segera saat itu. Pertama, saya harus memutuskan dimana kakak akan menjalani pengobatan. Berbagai masukan disampaikan teman-teman, termasuk agar kakak dirawat di Malaysia karena lebih murah & terpercaya. Kendalanya, keluarga akan kesulitan menjaga kakak. Biaya tentu menjadi pertimbangan utama kami…apalagi saat ini hanya saya yang sudah punya paspor. Saya yang pekerja kantoran ini tentu tak bisa seenak jidat ijin dari kantor untuk menjaga kakak sampai selesai pengobatan. Akhirnya saya putuskan membawa kakak pulang agar lebih dekat dengan keluarga. Hal berikutnya yang harus saya putuskan adalah ‘ Kapan dan bagaimana membawa kakak saya pulang?’ Rasanya ingin sesegera mungkin membawa kakak pulang…sementara kakak di sana juga masih terkendala ijin kerja dan tidak bisa langsung pulang. Dia harus mengurus permit yang memakan waktu sekitar seminggu. Makin panik lah saya….takut terjadi apa-apa selama seminggu kakak menunggu saya jemput.

Tapi lagi-lagi, manusia memang hanya bisa berharap. Tuhan sudah merencanakan semuanya. Dalam seminggu menunggu tanggal kakak diijinkan pulang, saya justru bisa mengurus beberapa hal. Saya bisa mengurus pengajuan KTA untuk persiapan biaya pengobatan, saya bisa menyelesaikan pekerjaan yang lagi riweh sebelum saya tinggal, saya bisa booking jadwal periksa dokter yang ternyata memang harus seminggu sebelumnya, saya juga bisa menunggu teman saya yang seorang dokter mengurus perpanjangan paspornya agar bisa menemani saya ke Malaysia, dan tentunya saya punya cukup waktu untuk mengumpulkan informasi dan mengambil keputusan yang tepat.

Siang hari ini, kakak sudah sampai di Jakarta. Kondisinya memang sudah cukup mengkhawatirkan. Kemungkinan kanker sudah menyebar ke bagian tubuh yang lain. Dia sudah sering mual & muntah, ngilu di beberapa bagian tubuh, dan badannya lemas. Ada banyak kekhawatiran yang siap menghadang saya di depan. Namun setidaknya saya sudah lega, kakak sudah di samping saya, dan keluarga akan segera menyusul ke Jakarta. Setidaknya saya bisa menyaksikan kakak bisa makan sebanyak 3x hari ini. Meski makannya tidak banyak, tapi ia tidak muntah.

Saya memang pasrah dengan kondisi kakak yang sudah terlambat ditangani. Tapi apa saya menyerah? Tentu tidak! Apa saya akan berhenti berjuang membantu kakak melawan sakitnya? Tentu tidak! Apa saya akan terus menangis & tidak bisa tidur memikirkan penyakit ini? Tentu tidak!! Saya akan berusaha untuk terus tersenyum & melawan penyakit ini. Cancer won’t fall us apart. I won’t let it win this fight… I won’t let it destroy my life.

The war have just began…. Let’s fight!

*Saya menulis ini sambil mendengar dengkuran halus kakak yang tidur di samping saya. Sleep tight dearest sista…tomorrow will be brighter than today, I promise! 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s