Mimpi tak Mengenal Usia


Hari itu, Sabtu, 7 September 2013, pertama kalinya saya memulai program mengajar baca tulis untuk ibu-ibu Manggarai yang belum bisa membaca. Dalam bayangan saya, ibu-ibu ini paling tidak bisa mengenal huruf, namun belum lancar membaca. Saya tidak mempersiapkan apapun untuk mengajar, hanya papan tulis dan spidol. Saya juga sama sekali belum punya bayangan akan mengajar dengan cara seperti apa…boro-boro lah mikirin kurikulum atau silabus.

Singkat cerita, di jam yang sudah dijadwalkan…datang tiga orang ibu usia 40-50an tahun ke pos kamling yang menjadi kelas dadakan kami. Bu Nas (istri penjaga perpus), bu Juju (mamanya Yuni) dan mamanya Rahmat. Pelajaran saya mulai dengan menuliskan dua puluh enam huruf kapital di papan tulis, “sekedar pengingat,” pikir saya kala itu. Namun ternyata, ketiga ibu tersebut masih terbata mengeja huruf satu per satu. Saya coba ajak mereka bertiga untuk menuliskan beberapa kata, dan hasilnya membawa saya pada satu kesimpulan: mereka sama sekali tidak bisa membaca…bahkan sekedar mengenal huruf pun tidak!

Sesampainya di rumah selesai mengajar, saya termenung. Saya yang hobi membaca, dan sudah membaca entah berapa ratus buku dan berapa ribu tulisan saja masih sering merasa tidak tahu apa-apa. Saya mencoba membayangkan seandainya saya tidak bisa membaca. Gelap. Dunia jadi gelap buat saya. Sekedar membayangkan saja saya tidak sanggup. Saya tidak akan tahu nama obat yang saya minum, merk sabun yang saya pakai, saya bahkan tidak tahu cara menulis nama saya sendiri. Wah… 😦

Eniwei, hari kedua mengajar, saya ketambahan murid baru…namanya Ibu Rosani. Bu Rosani paling muda di antara yang lain, jadi semangatnya juga paling membara. Ia juga murid yang paling suka ketawa kalau ada yang tidak bisa membaca…hehe. Bu Rosani ini bekerja sebagai pengasuh anak. Dari ceritanya, ia bisa sedikit membaca karena saat mengantar anak asuhannya ke sekolah TK, ia juga ikut menyimak pelajaran dari luar kelas. Semangat belajarnya saya acungi jempol. Bahkan baru hari pertama belajar dia sudah berkata, “Wah..ini setahun udah bisa baca ini.” Padahal untuk sekedar mengucap ‘ef’ saja ia kesulitan, selalu ‘ep’ yang keluar dari mulutnya. :))

Di pertemuan keempat, murid kami menjadi enam orang. Ada bu Iyem dan mamanya Ita (lupa namanya). Bu Iyem ini umurnya sudah kisaran 60 tahun. Dari caranya menulis dan membaca, sudah ketahuan kalau ia belum pernah mengenyam pendidikan. Bahkan menulis huruf ‘a’ saja ia kesulitan. Tapi meski saya tahu ia kesulitan mengikuti pelajaran, dan sering tertinggal menyalin tulisan dibanding ibu-ibu yang lain…saya tahu semangat belajarnya luar biasa. Saya tahu ada harapan yang menyala di matanya yang sudah tidak bening lagi. Saya tahu usahanya ini tidak akan pernah sia-sia.

Bu Sardjiyem adalah murid ketujuh kami yang paling sepuh. Umurnya sudah 76 tahun. Meski tidak pernah menyelesaikan sekolahnya, namun ia paling melek pendidikan di antara ibu yang lain. Dari awal datang ke pos kamling, ia sudah bercerita tentang pentingnya pendidikan, hingga ia memilih menyekolahkan anaknya ke sekolah yang bagus. Ia juga yang kemampuan baca tulisnya paling maju di antara yang lain.

Tujuh ibu-ibu ini bukan sekedar murid sebenarnya, tapi justru mereka adalah guru kehidupan buat saya. Saya ini orangnya paling susah sabar. Tapi entah kenapa di depan mereka saya bisa benar-benar belajar sabar. Ibu-ibu ini juga mengajarkan satu hal pada saya, bahwa mimpi itu tidak mengenal usia. Mimpi itu milik siapa saja dengan segala keterbatasannya. Saya tahu, Tuhan dengan sengaja mempertemukan kami di kelas ini. Saya tahu, Tuhan ingin saya belajar dari mereka. Mereka yang sudah paruh baya saja masih semangat belajar membaca, mengejar impian yang dulu sempat tertinggal. Kalau saya hanya diam di sini, membiarkan impian-impian saya hanya sekedar jadi hiasan di tembok kamar, atau bahkan tercecer tak karuan…rasanya saya malu. Sungguh malu.

Ahh…. Mengingat wajah ibu-ibu di Manggarai selalu mengingatkan saya pada ibu di kampung, membuat saya saat ini juga ingin berlari pulang. Lain kali saja saya tulis lagi kisah tentang mereka. Saya janji. 😀

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s