Anak Kampung


Keponakan dan mainannya :D
Keponakan dan mainannya πŸ˜€

Momen lebaran buat anak kampung seperti saya adalah momen yang paling ditunggu selama setahun. Di momen seperti inilah kami mendapat kesempatan pulang kampung, alias mudik, melestarikan tradisi orang lama yang kini mulai ditinggalkan: silaturahmi. Ya. Silaturahmi di era modern seperti sekarang sudah mulai tergeser teknologi digital yang makin berkembang. Kalau dulu orang merayakan lebaran dengan saling berkunjung ke rumah kerabat dan tetangga untuk minta maaf, kini tradisi itu berganti dengan saling kirim SMS, BBM, Whatsapp, atau saling mengirim komentar di status jejaring sosial. Kalau malas – biasanya dengan alasan sibuk – ucapan minta maaf cukup dikirim via broadcast BBM atau Whatsapp. Sekali pencet ‘send’, ucapan minta maaf langsung terkirim ke semua teman di kontak phone/BBM. Praktis & efisien, tapi kehilangan makna.

Beruntung saya lahir dan besar di salah satu kampung kecil di Kab. Magelang, Jawa Tengah. Sampai saat ini, tradisi silaturahmi saat lebaran masih dilestarikan. Pagi, setelah shalat Ied, kami biasanya pergi ke makam untuk ziarah kerabat yang sudah meninggal. Berbagai doa dilantunkan di makam yang terletak di tengah sawah….benar-benar menyejukkan. Ditambah hiasan balon-balon plastik yang beterbangan di langit biru cerah di atas kami. Terlepas dari sampah plastik yang dihasilkan oleh tradisi ini, tapi sungguh balon-balon plastik saat lebaran adalah salah satu hal yang saya rindukan setiap lebaran. πŸ˜€

Setelah ziarah ke makam, kami biasanya beberes rumah mempersiapkan kue-kue lebaran untuk dihidangkan. Karena beberapa saat lagi para tetangga akan mulai berdatangan untuk bersilaturahmi. Kami pun juga harus bersiap-siap untuk mengunjungi tetangga sekampung untuk bersilaturahmi, meminta maaf untuk setiap kesalahan selama setahun berselang. Begitulah makna lebaran bagi anak kampung seperti saya. Kami pulang untuk bertukar maaf dengan kerabat dan para tetangga. Kami pulang untuk melepas rindu pada keluarga tercinta, pada damainya hidup bertetangga, pada indahnya pemandangan desa yang tak kami temui di kota, pada tradisi yang tak ingin kami tukar dengan teknologi secanggih apapun.

Btw…selain tradisi silaturahmi, indahnya suasana & pemandangan di desa juga selalu membawa saya pulang kampung sesering mungkin. Berikut foto-fotonya:

Dua keponakan saya berpose di tengah sawah di belakang kampung
Dua keponakan saya berpose di tengah sawah di belakang kampung
This is our playing ground
This is our playing ground

Kupu-kupu berkeliaran bebas di kampung saya

Ini sunrise Merapi dilihat dari kampung saya
Ini sunrise Merapi dilihat dari kampung saya
Sunrise Merapi dari sudut pandang kampung tetangga :D
Sunrise Merapi dari sudut pandang kampung tetangga πŸ˜€
Merapi saat siang...gantengnya luar biasa!!
Merapi saat siang…gantengnya luar biasa!!
nemu bunga secantik ini di pinggir jalan ;)
nemu bunga secantik ini di pinggir jalan πŸ˜‰
Advertisements

One thought on “Anak Kampung”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s