Wiji Thukul: yang Hilang Namun Tetap Dikenal


Nama aslinya Wiji Widodo. Dikenal kemudian sebagai Wiji Thukul, yang berarti ‘biji yang tumbuh’. Dia adalah sastrawan yang mungkin dulu tak dikenal banyak orang, namun disegani banyak aktivis nasionalis. Badannya kurus kerempeng, rambut awut-awutan, sekilas hanya tampak sebagai sosok rakyat jelata biasa saja. Tapi dari tangannya lahir ratusan puisi yang mampu mengubah sejarah bangsa ini. Dari matanya terpancar semangat membela rakyat yang tak pernah padam. Dari mulutnya terdengar teriakan yang menyiutkan nyali penguasa di masanya, “Hanya ada satu kata: Lawan!”

Perkenalan pertama saya dengan Wiji Thukul terjadi tanpa sengaja di sebuah toko buku, ketika saya melihat sampul buku bertuliskan namanya sebagai judul, dengan poster seorang laki-laki kerempeng yang tak menarik hati. Saya tentu saja tidak tertarik. Hingga pada Pertemuan kedua yang terjadi di perpustakaan kantor, saat saya sedang mencari majalah fotografi, mata saya justru tertumbuk pada majalah Tempo dengan edisi khusus ‘Wiji Thukul’. “Tentu dia bukan sembarang orang, sampai harus dibuatkan edisi khusus sebuah majalah nasional”, begitu pikir saya kala itu. Baru membaca satu halaman, saya pun melongo….saya terus lanjutkan membaca, makin ciutlah nyali saya.

Wiji Thukul adalah salah satu aktivis pergerakan reformasi 1998 (yang saat kejadiannya saya baru menginjak kelas 6 SD). Lewat puisi yang ia ciptakan, ia mampu menggoyahkan pertahanan rezim Orde Baru kala itu. Ia juga aktif memperjuangkan hak-hak kaum buruh, sampai matanya hampir buta dipopor senapan saat memimpin demo. Di tengah gonjang-ganjing reformasi, Wiji Thukul adalah salah satu tokoh yang dicari-cari Tim Mawar (sebutan bagi pasukan khusus yang dibentuk Rezim Orde Baru untuk melenyapkan para aktivis yang dianggap mengancam eksistensi rezim tsb). Maka dimulailah petualangan Wiji Thukul hidup dalam persembunyian. Banyak tempat yang ia singgahi untuk bersembunyi, bahkan sampai Kalimantan. Dua tahun setelah pamit dari istrinya, Wiji Thukul tak kembali….tanpa kabar sedikitpun. Wiji Thukul menghilang (atau dihilangkan??). Bahkan sampai detik ini, keberadaannya masih jadi pertanyaan. Masih hidupkah ia? Entah.

Yang pasti….karya-karyanya masih terus hidup sampai tulisan ini saya unggah. Bahkan dalam persembunyiannya, ia masih sempat melahirkan puluhan (bahkan mungkin ratusan) puisi. Sebagian di antaranya berhasil diselamatkan, dan -thanks God- dikumpulkan oleh Tempo menjadi sebuah buku kumpulan puisi yang sangat menggugah. Membaca puisinya, sekaligus perjalanan hidupnya, membuat saya malu bukan kepalang. Rasa cinta saya pada tanah air ini masih belum seujung kuku-nya Wiji Thukul. Perjuangan saya untuk rakyat Indonesia bagaikan butiran debu jika disandingkan dengan perjuangan yang dilakukan Wiji Thukul. Memang jalur perjuangan kami berbeda…tapi sudah sepantasnya saya mencontoh semangat juangnya yang tinggi. Bahkan nyawa rela ia taruhkan untuk sesuatu hal yang ia yakini benar untuk diperjuangkan.

Wiji Thukul mungkin sudah raib entah dimana, tapi karyanya akan terus menyala. Membaca salah satu puisinya yang berjudul ‘Peringatan’ membuat saya langsung paham, kenapa Penguasa Orde Baru kala itu meradang:

Jika Rakyat pergi ketika penguasa berpidato
Kita harus hati-hati
Barangkali mereka putus asa

Kalau rakyat sembunyi
Dan berbisik-bisik
Ketika membicarakan masalahnya sendiri
Penguasa harus waspada dan belajar mendengar

Dan bila rakyat tidak berani mengeluh
Itu artinya sudah gawat
Dan bila omongan penguasa tidak boleh dibantah
Kebenaran pasti terancam

Apabila usul ditolak tanpa ditimbang
Suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan
Dituduh subversi dan mengganggu keamanan
Maka hanya ada satu kata: LAWAN!!!

(Solo, 1986)

Advertisements

One thought on “Wiji Thukul: yang Hilang Namun Tetap Dikenal”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s