Enjoying My Last Day in the Bugis Land


All that has been started must have an end…

Begitu juga perjalanan saya di Makassar kali ini. Sabtu, 1 Juni 2013, adalah hari terakhir saya berkunjung ke Makassar. Sebagai penutup, saya bersama salah seorang teman — Putri namanya — berencana pergi ke Bantimurung, salah satu destinasi wisata yang cukup terkenal di kota Coto ini. Sempat hampir gagal berwisata karena sopir kantor mendadak tidak bisa mengantar kami, padahal jam di tangan sudah menunjuk angka 11 siang. Syukurlah ada yang bisa dihubungi untuk sewa mobil. Setelah tawar-menawar, kami sepakat menyewa mobil beserta sopir seharga Rp 400.000.

Kami sampai di Bantimurung saat jam makan siang, setelah melewati perjalanan yang cukup bikin jantung deg-degan. Jalan menuju Taman Bantimurung adalah jalan kecil yang merupakan salah satu jalur masuk ke Kab. Maros, dan selanjutnya Makassar. Jalan sekecil itu seringkali dilewati truk bermuatan barang yang akan menuju pelabuhan. Ditambah lagi pada hari itu adalah hari pengumuman kelulusan SMP. Jadilah hari itu kami berkejar-kejaran dengan waktu, sambil sesekali berpapasan dengan truk-truk bermuatan barang di sebuah jalanan sempit yang sedang dipenuhi anak-anak SMP bermotor-tanpa-helm-kebut kebutan-dan berbaju warna-warni penuh piloks. Fyiuhhhh…..

Tapi…begitu sampai di Taman Bantimurung, semua kengerian di perjalanan tadi menguap. Sejuknya udara di lingkungan taman, kupu-kupu kecil yang beterbangan, suara anak-anak tertawa riang, dan suara air terjun serta pemandangan taman yang indah membuat saya merasa nyaman. Buat saya yang terbiasa tinggal di bisingnya Ibukota, berada di Bantimurung adalah hal yang sangat menyenangkan. Sayang kami hari itu tidak mempersiapkan baju ganti di backpack, dan juga karena waktu yang sangat terbatas, sehingga tidak memungkinkan kami mencicipi mandi di bawah air terjunnya yang dingin.

Putri berpose di depan air terjun
Putri berpose di depan air terjun

Selesai berfoto ria di air terjun, kami melanjutkan perjalanan menuju sebuah Goa (I forget the name T.T), yang terkenal dengan monyet pertapa-nya. Untuk masuk ke dalam Goa, kami harus menyewa senter dengan harga Rp 10.000/orang, serta guide yang akan mengantar kami masuk ke dalam Goa dengan tarif Rp 50.000. Cukup mahal untuk individual traveller. Tapi jika sangat penasaran dengan isi Goa dan tidak ingin terpeleset apalagi nyasar, it is not that expensive. 😉

Ini adalah Foto di pintu masuk Goa:

Persis di depan Goa....seremmmmm
Persis di depan Goa….seremmmmm

Serem kan? Jadi, buat yang takut gelap atau penderita claustrophobia, atau asma, tidak saya sarankan masuk ke dalam Goa. Karena si Putri baru masuk sekitar 10m sudah sesak nafas, dan tetap harus bayar sewa senter…hiks *eh

Konon ceritanya, Goa ini dulu pernah dipake sesosok pertapa berwujud monyet yang sekaligus jadi penunggu Goa ini. Ini adalah salah satu dinding Goa yang (kata guidenya) merupakan jelmaan si monyet.

"Relief' di dinding Goa yang -katanya- representasi monyet
“Relief’ di dinding Goa yang -katanya- representasi monyet

Bagian yang ditunjuk pake tongkat adalah relief monyet. Guide saya sambil nunjuk ‘relief’ itu sempat bertanya pada saya, “Ini kalau dilihat-lihat mirip monyet kan?” Karena menurut saya tidak sopan jika dijawab “tidak”, jadilah saya hanya bergumam “ooo….” sambil sibuk memotret. 😀 Di bagian lain Goa, ada sebuah ceruk kecil yang diyakini sebagai tempat bertapanya sang monyet tadi. Terlepas dari benar-tidaknya mitos pertapaan ini, saya iseng-iseng foto di ceruk tadi. Hehehe…..sebenarnya cuma mau nyoba badan saya muat nggak di situ. :pEniwei, sayang sekali hasil jepretan si Guide agak burem, jadi fotonya nggak bisa saya uplot di sini. Lesson learn-nya, sebelum masuk Goa settinglah dulu kamera sampai bener-bener oke…dan ajari si Guide untuk ambil foto dengan cara yang benar. -___-” Di salah satu bagian Goa yang lain, yang diyakini sebagai tempat Shalat-nya si pertapa, ada sebuah petromaks yang ditaruh di lantai. Di bagian itu pula, saya sempat menemukan sebuah alat kecil yang tergantung di dinding Goa. Menurut penjelasan guide, itu adalah alat pendeteksi kandungan gas, yang dipasang untuk keperluan penelitian. 

There's a light in the cave :D
There’s a light in the cave 😀
Ini si alat pendeteksi kandungan gas di dalam goa....bentuknya unyu :D
Ini si alat pendeteksi kandungan gas di dalam goa….bentuknya unyu 😀

Yang menarik dari goa ini sih buat saya adanya stalagtit-stalagtit yang menggantung di langit Goa. Terlepas dari apa yang diyakini penduduk setempat, buat saya Mitos yang disampaikan guide lebih sebagai pemanis dan pelengkap wisata. Kalau tidak ingin mengeluarkan minimal Rp 60.000,00, barangkali sekedar berfoto di depan Goa sudah cukup untuk melengkapi album wisata Anda.

Selesai berwisata di Goa, kami sempatkan mampir di tempat penangkaran kupu-kupu.

Ini salah satu koleksi kupu-kupu di penangkaran
Ini salah satu koleksi kupu-kupu di penangkaran

Taman Bantimurung memang terkenal sebagai taman kupu-kupu. Sayang sekali saat ini sudah tidak banyak kupu-kupu yang beterbangan bebas di tempat ini. Kupu-kupu lebih gampang ditemukan di toko suvenir, dalam bentuk awetan. Sungguh sayang (dan kejam) menurut saya. Padahal ini bisa jadi aset wisata penting bagi Makassar. Saya sempat dideketin salah seorang pedagang suvenir, dan saya cuma bisa berkomentar “kasihan sekali kupu-kupunya.” Si pedagang dengan nada agak tinggi mencoba menjelaskan, “Memangnya mbak tahu siklus hidupnya kupu-kupu? Kupu-kupu itu selesai bertelur langsung mati, jadi ini awetan kupu-kupu yang sudah mati.”

Saya segera berlalu dari tempat itu, takut emosi saya meluap. Bagaimana mungkin mereka bisa mendapatkan kupu-kupu mati sebagus dan sebanyak itu. Bagaimana pula mereka bisa menjelaskan drastisnya penurunan populasi kupu-kupu di Taman Bantimurung jika mereka hanya menangkap kupu-kupu yang sudah mati. I do believe in that life cycle, dan memang yang saya tahu siklus hidup kupu-kupu tidak panjang. Tapi, dari artikel yang saya baca….pada umumnya saat berkopulasi (atau bahasa gaulnya ‘kawin’ :p), sayap belakang si kupu-kupu akan terkoyak. Rusaknya sayap ini adalah bukti bahwa kupu-kupu telah berkopulasi. Nah….masih mau berdebat bahwa ribuan kupu-kupu awetan yang cantik dan dijual itu SEMUA sudah mati sebelum diawetkan? I do not believe….not at all!!

So….buat teman-teman yang mau menyelamatkan populasi kupu-kupu di Bantimurung, please jangan pernah beli kupu awetan sebagai oleh-oleh. Melihat kupu-kupu hidup dan beterbangan di sekitar kita dijamin jauh lebih indah dan memorinya lebih awet dibanding hiasan kupu-kupu yang mungkin akan rusak/hilang.

Wanna see more butterflies in Bantimurung? Do save them.... stop buying them as a souvenir!
Wanna see more butterflies in Bantimurung? Do save them…. stop buying them as a souvenir!
Advertisements

3 thoughts on “Enjoying My Last Day in the Bugis Land”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s