Days in The Bugis Land (2nd Day)


Akhirnya, setelah terjebak rutinitas sekian lama, saya bisa meneruskan cerita saya tentang Makassar. (alasan klasik untuk keterlambatan postingan blog :p)

Eniwei, di hari kedua saya di Makassar, ada banyak cerita seru. Hotel yang saya tempati misalnya, sebuah hotel yang baru-baru ini berubah nama dari Hotel Me*****, menjadi Ro***(entah untuk alasan apa). Hotel dengan tarif kamar Rp 500.000,00/malam ini (tarif kantor tentu saja :D), menurut saya sangat tidak recommended. Bagi backpacker atau wisatawan biasa dengan budget dari kantong sendiri, harga kamarnya terlalu mahal, namun dengan kualitas pelayanan yang tidak cukup bagus. Lobi hotel tersebut waktu kami datang sedang dalam tahap renovasi, sehingga untuk masuk ke hotel kami harus melewati parkiran di basement. Sebenarnya bukan sesuatu hal yang mengganggu, seandainya ada tulisan di depan hotel yang menginformasikan perihal tersebut, sehingga kami yang dari luar kota ini tidak perlu kebingungan mencari pintu masuk. -__-”

Begitu masuk ke dalam kamar, langsung ketahuan dari desain dan settingannya kalau hotel ini adalah hotel lama. Sepertinya agak spooky kalau nekat nginep sendiri di sini. :p

Yang paling berkesan selama saya menginap di sini sih pelayanan laundrynya. Cepat sih, bersih pula….tapi tiap hari ada laundry tertukar, ya Tuhan! Setiap hari! Untung saya lagi nginep rombongan, jadi ketukarnya sama temen sendiri. Untung pula ketukernya sama temen perempuan, jadi meski yang ketuker pakaian dalam masih bisa diurus dan tidak terlalu memalukan. Hadehhhh….

Di hari kedua ini, kami sempatkan menikmati sunset di Losari, berfoto di depan tulisan ‘City of Makassar’ dan mampir ke Masjid Terapung Amirul Mukminin.

Beautiful sunset at Losari
Beautiful sunset at Losari

Selain sunset, sebenarnya pemandangan di Losari tidak cukup menarik buat saya. Pantai selalu penuh dengan orang yang berkunjung sehingga terkesan crowded, dan kalau malam banyak anak jalanan berkeliaran di sana meminta uang. Masjid terapung-nya didesain sangat cantik, sayang persis di depannya ada semacam kolam (atau apalah) yang airnya kotor. Meskipun begitu, ada yang harus Anda coba kalau sedang berkunjung ke pantai Losari, yakni Pisang Epe! Ini adalah salah satu penganan khas dari Makassar. Terbuat dari pisang yang dibakar, lalu digeprek sampai gepeng. Pisang ini dihidangkan dengan saus manis yang terbuat dari cairan gula serta ditambahkan coklat atau keju, sesuai pesanan pembelinya. Ada beberapa pilihan rasa yang bisa dicoba, seperti coklat, keju, kelapa, serta durian.

Selain pisang Epe, Makassar memiliki alternatif kuliner lain yang juga patut dicoba. Malam kedua di Makassar, saya dan teman-teman memilih Conro Karebossi yang sudah cukup tersohor di dunia perkulineran Indonesia. Dengan semangat membara, membayangkan kelezatan iga bakar, ditambah perut yang memang sudah sangat keroncongan kami pun menuju Karebossi. Sesampainya di tempat makan yang dimaksud, kami pun langsung mencari tempat duduk yang kosong. Suasana di tempat makan sangat ramai malam itu, menandakan betapa memang si Conro Karebossi ini sangat terkenal dan dicari banyak orang. Asap beterbangan di setiap penjuru, mengiringi derap langkah terburu-buru pelayan melayani para pembeli. Entah memang sudah jadi SOP, atau itulah daya tarik tempat makan ini, para pelayannya tak satupun tampak tersenyum. Kami sih tak peduli…hanya Conro dan si Iga bakar yang menari-nari di kepala kami saat itu. Beberapa menit setelah kami menyebutkan pesanan, pelayan muncul membawa tumpukan piring berisi nasi putih, beserta gelas-gelas berisi es teh tawar. Bayangan sup conro dan iga bakar panas lagi-lagi menari di pikiran, menggoda perut kami yang sudah keroncongan. Sambil menunggu si iga dan sup conro datang, kami mengobrol, sambil sesekali menyeruput es teh yang terhidang. Sepuluh menit, 20, 30…. hampir satu jam kami menunggu, pesanan tak juga datang. Hanya asap tebal berbau iga yang berlarian menyerang kami, menempel di setiap pori-pori pakaian dan kulit kami.

Satu jam berlalu tanpa satupun pesanan datang. Gelas-gelas es teh sudah mulai kosong, nasi putih sudah dingin dan keras. Salah satu teman yang datang dari Balikpapan akhirnya mengeluarkan oleh-olehnya, kepiting dan amplang kuku macan. Dengan putus asa kami memakan kepiting dan amplang itu bersama nasi dingin, sekedar mencegah asam lambung naik berlebihan. Entah akhirnya setelah berapa lama menunggu, si Conro dan Iga bakar akhirnya datang juga. Hanya dalam hitungan detik, si iga sudah berpindah ke mulut kami.

Mungkin karena sudah terlalu lama menunggu, dan juga karena proses penyajian yang lama sehingga iga dan sup conro sudah mulai dingin, saya sama sekali tidak menikmati hidangan tersebut. Buat saya, iga bakar yang selama ini saya makan di restoran di Jakarta jauh lebih enak dibanding si Conro Karebossi. Tapi untuk menambah pengalaman kuliner selama di Makassar….tempat ini perlu juga Anda kunjungi. Yang penting siapkan stok sabar dan baju bersih yang banyak kalau mau makan di sini. Dijamin sepulang dari Conro Karebossi, rasa lapar Anda hilang, berganti dengan bau asap yang menempel di tubuh Anda…hahaha.

Sebelum lanjut ke cerita selanjutnya….silahkan nikmati oleh-oleh saya dari pantai Losari:

 

Bangunan Masjid Terapung yang cukup artistik jadi daya tarik bagi wisatawan
Bangunan Masjid Terapung yang cukup artistik jadi daya tarik bagi wisatawan
Salah satu patung di pantai Losari yang bercerita tentang sepak takraw *yakali :)))
Salah satu patung di pantai Losari yang bercerita tentang sepak takraw *yakali :)))
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s