Berhenti Berharap


Sepagi dini ini saya membaca novel Amba. Entah kenapa di suatu halaman, saya tertumbuk pada satu kata ‘harapan’.

Kata ini mengingatkan saya pada sesuatu… pada seseorang, yang kepadanya saya pernah mengirim pesan, “… aku tidak mau setiap hari membangun harapan, namun tak tahu apakah harapan itu akan terwujud atau tidak.”

Kurang lebih seperti itu isi pesan saya. Kurang lebih, karena hanya jeda beberapa hari, pesan itu saya hapus dari telepon seluler saya…berharap sekaligus terhapus dari ingatan. Memang tidak terhapus sepenuhnya, tapi setidaknya detil itu tak lagi mengganggu .

Bicara soal harapan, saya ingat beberapa hari lalu saya dihubungi seorang sahabat. Kepada saya ia bercerita tentang perasaannya pada seorang laki-laki, yang sayangnya sudah terikat janji pada perempuan lain. Laki-laki yang – katanya – memberi harapan pada pada sahabat saya itu, tapi tak pernah memberi kepastian. Laki-laki yang telah membuat sahabat saya jatuh cinta.

Kisah-kisah seperti ini sebenarnya tidak asing lagi bagi saya. Sahabat-sahabat (perempuan) saya yang lain juga mengalaminya. Jatuh cinta pada seorang pria yang punya bakat membuat banyak perempuan jatuh cinta – ya, meskipun ini juga dialami sahabat pria juga. Sering dikhianati, diselingkuhi, disakiti atau bahkan ditinggalkan. Tapi herannya, perempuan-perempuan ini dengan gampang memaafkan si pria, lalu kembali jatuh cinta. Lalu si pria kembali berkhianat dengan perempuan lain, lalu si perempuan (sahabat saya) itu memaafkannya, lalu mereka ‘rujuk’ kembali. Begitu seterusnya…bagai siklus yang tak berujung pangkal.

Di satu sisi saya gemas bukan kepalang…ingin rasanya sesekali mendatangi perempuan (sahabat saya) itu, menamparnya keras-keras lalu berteriak, “sadarlah!” Terkadang mereka sadar setelah berdiskusi panjang lebar dengan saya (terkadang sambil menangis)…. tapi tiba-tiba mereka suatu hari datang lagi kepada saya dengan kisah yang sama, “Pria itu berkhianat…tapi aku sudah kepalang cinta.”

“Ahh…makan tu cinta!” (kata saya, dalam hati….tentu saja)

Saya bukannya tidak percaya cinta… saya orang yang mudah jatuh cinta, dan bersyukur saya tidak mudah ‘jatuh’ karena cinta. Kenapa? Karena prinsip saya, saya tidak akan membangun harapan terlalu tinggi pada seseorang yang belum tentu akan jadi suami saya. Dan saya tidak pula membangun harapan seseorang akan menjadi ‘lebih baik’ setelah bersama saya.

Nah…inilah yang membuat perempuan (sahabat-sahabat saya) itu seringkali ‘dijatuhkan’ oleh cintanya pada seseorang. Mereka membangun harapan terlalu tinggi… berharap suatu saat si pria player, atau playboy, atau semacamnya itu akan menjadi pria baik-baik, lalu hanya memilih satu perempuan dalam hidupnya. Atau berharap dengan bersamanya, si pria akan berubah…atau menjadi lebih baik…atau apapun. Intinya adalah ‘harapan’.

Karena sebenarnya cinta itu kan tumbuh juga karena harapan. Harapan bahwa cinta kita akan dibalas oleh orang yang kita cintai, harapan bahwa orang yang kita cintai akan menjadi pasangan kita yang abadi, harapan bahwa bersama orang yang kita cintai..hidup kita akan lebih bahagia. Bahkan kita setiap hari menjalani hidup dengan harapan. Kita tidur dengan harapan besok bangun lagi, kita bekerja dengan harapan dapat gaji tiap bulan, dan sebagainya. Harapan itu adalah motivasi, demikian kata Broom dalam teori motivasinya: expectation theory.

Maka jangan heran, jika ada seseorang yang masih bisa mencintai kekasihnya, meski sudah disakiti berkali-kali. Ia hanya sedang membangun harapan, bahwa suatu saat sang kekasih akan berubah…menjadi seseorang yang ia inginkan. Yang mungkin ia tak sadar…perubahan itu butuh proses yang panjang.

Bayangkan saja…misalnya kita mengenal seseorang pada usianya yang sudah 24 tahun. Selama 24 tahun dia sudah bertemu banyak hal sehingga dalam dirinya sudah terbentuk sikap dan sifat A, B, C. Lalu dalam 3 bulan kita pacaran/menikah dengan orang tersebut. Yakin dia akan bisa berubah menjadi seseorang dengan sikap dan sifat X, Y, Z dalam 1-2 tahun ke depan? Percayalah … merubah seseorang itu tidak semudah Limbad membengkokkan paku dengan giginya. Jadi tidak usah bermimpi…tidak usah berharap.

Kalau kamu sudah memilih untuk mencintai seseorang, pahami konsekuensinya. Kalau ternyata orang yang kamu cintai adalah tipe orang yang juga mudah mencintai orang lain…pilihannya hanya 2: bertahan, dan menerima ‘bakat’nya itu…atau tinggalkan! Jangan berdiri di tengah… dilepas sayang, tapi tiap hari menangis karena merasa disakiti. “Tai kucing lah….” (kata saya…lagi-lagi dalam hati) 😀

Saya punya sahabat yang selalu berpesan pada saya, “Jangan ulangi kesalahan saya!” Beliau sudah menikah, dikaruniai 5 anak (kalau tidak salah hitung), anak pertamanya sudah dewasa…sudah lulus S2. Ia berpacaran dengan suaminya selama 9 tahun sebelum akhirnya memutuskan menikah. Sejak pacaran, suaminya itu terkenal playboy…menebar jaring dimana-mana. Sampai menikah sifatnya tak berubah sama sekali. Bahkan di usianya yang sudah hampir 50, sahabat saya masih sering mendapat teror dari perempuan-perempuan lain sang suami. Sang suami akhirnya berubah memang… menjadi pria manis yang ‘diam’ di rumah, mencintai istrinya sebagai satu-satunya perempuan yang ia miliki. Tapi itu terjadi setelah pernikahan mereka hampir mencapai 30 tahun…saat sang suami sudah hampir pensiun!!

Lewat tulisan ini saya cuma ingin berpesan,khususnya pada kaum perempuan. Nduk, cah ayu.. janganlah membangun harapan terlalu tinggi, di saat kamu tak yakin harapan itu akan terwujud suatu hari nanti. Saya menulis ini karena saya juga pernah ‘kesandung’, ‘kepeleset’ oleh sebuah harapan yang saya bangun sendiri… tapi lantas saya berdiri, membangun harapan baru lagi. Boleh kok berharap…sepanjang itu tidak menyakiti diri kita sendiri. Boleh kok berharap…asal ada kepastian bahwa harapan itu akan terwujud.

Berhentilah berharap ketika kamu merasa tersakiti… berhentilah.

Advertisements

6 thoughts on “Berhenti Berharap”

  1. Reblogged this on The Life of Decci and commented:
    ” Ia berpacaran dengan suaminya selama 9 tahun sebelum akhirnya memutuskan menikah. Sejak pacaran, suaminya itu terkenal playboy…menebar jaring dimana-mana. Sampai menikah sifatnya tak berubah sama sekali. Bahkan di usianya yang sudah hampir 50, sahabat saya masih sering mendapat teror dari perempuan-perempuan lain sang suami.”

    manggut manggut 😀

  2. mbak… tulisannya bagus…. enak dibaca… mengalir kayak kayak susu coklat, nikmat dan gampang dicerna ijin copast artikel2nya 🙂

  3. dan berhenti lah juga berharap tuhan itu ada. jelas-jelas ia tak pernah menemui manusia. kok masih berharap. Tuhan itu fiksi, dunia ini nyata.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s