Ada Surga di Rumah Kita


“Orang tuamu adalah jembatan menuju surga atau neraka” (HR ath-Thabrani)

Hari ini saya menyelesaikan membaca sebuah buku karangan ustadz Ahmad Al Habsyi berjudul ‘Ada Surga di Rumahmu; 7 Keajaiban Orangtua’. Secara garis besar, buku ini bertutur tentang manfaat berbakti kepada kedua orang tua kita, khususnya ibu. Ada banyak contoh tokoh dan peristiwa dalam buku ini yang menunjukkan betapa besar manfaat mencintai orang tua bagi kita.

Salah satu cerita yang menarik buat saya adalah tentang Sa’ad bin Abi Waqash, salah satu di antara sahabat Rasul yang dijamin masuk surga. Kenapa? Karena beliau menyayangi ibunya dengan sepenuh hati, selalu berbuat baik tanpa pernah sedikitpun menyakiti, bahkan meskipun ia dibenci ibunya karena masuk Islam.

Ridho orang tua (bukan Ridho Rhoma lho ya :p), terutama ibu, akan mempermudah jalan kita baik di dunia maupun di akhirat. Ada beberapa cerita dalam buku ini yang menunjukkan betapa ridho ibu sangat berpengaruh pada kelancaran rejeki seorang anak. Salah satu contoh, misalnya, adalah kisah seorang tukang ojek yang akhirnya menjadi orang kaya. Tukang ojek ini sangat menyayangi ibunya. Suatu hari ia meminta pekerjaan kepada ust. Al Habsy. Sang ustadz mau memberinya pekerjaan dengan satu syarat, ia harus mau membagi uang gajinya dengan sang ibu. Ia pun setuju, dan sejak ia menerima gaji pertamanya, uang gajinya selalu ia berikan kepada ibunya…hanya menyisakan sedikit untuk hidupnya sendiri seadanya. Beberapa waktu kemudian, ada seorang pengusaha yang tertarik dengan kebaikan pria itu…dan lantas menikahkannya dengan putri kesayangannya. Saat ini pria mantan tukang ojek itu telah menjadi orang kaya, dan sering bepergian ke luar negeri.

Masih ada banyak kisah lain tentang keutamaan berbakti pada orang tua, baik yang tersurat dalam buku ini…maupun yang benar-benar terjadi di lingkungan hidup kita sehari-hari. Banyak pula kisah tragis nan menyedihkan tentang anak yang durhaka kepada orang tuanya. Sayangnya, tidak banyak dari kita yang sadar, bahwa mencintai dan berbakti kepada orang tua itu bukan sekedar kewajiban yang diatur dalam Al Qur’an, sunnah rasul maupun hadist. Banyak yang tidak sadar, bahwa mengasihi orang tua akan memberi surga bagi kita, baik di dunia maupun di akhirat.

Inilah 3 kesalahan utama yang sering kita lakukan ketika mengejar surga:

1. Sibuk mencari surga yang jauh, tapi yang dekat terlewatkan

Tentang ini, banyak sekali contohnya dalam kehidupan sehari-hari. Seringkali kita begitu semangat memberi sedekah, mengumpulkan uang untuk naik haji, menyantuni fakir miskin, menyumbang bencana, ikut rombongan jihad, dan banyak hal lain. Namun, seringkali ada amalan-amalan penting yang justru terlupakan, dan jauh lebih mudah dan sederhana untuk dilakukan…misalnya menelpon orang tua setiap hari jika berada jauh dari mereka (bagian ini saya tertohok T.T), mencium dan memeluk ortu untuk menunjukkan rasa sayang kita pada mereka, mengirimi mereka uang setiap bulan, mengingat hari ulang tahunnya…dan yang terpenting, meminta ridho atau ijin mereka untuk setiap apapun hal yang kita lakukan.

2. Sanggup menciptakan kebahagiaan di luar rumah, tapi lupa menciptakan kebahagiaan di dalam rumah

Coba diingat-ingat, saat terima gaji pertama dulu…siapa yang pertama kali Anda traktir? Pacar? Teman? Humm..seringkali kita begitu gampang membagi rejeki kita dengan orang lain, terutama teman. Namun seringkali kita lupa bahwa ada yang jauhhhh lebih berhak atas apapun yang kita miliki, yaitu orang tua kita. Dulu waktu kita kecil, orang tua seringkali mengalah untuk kesenangan kita. Saya masih ingat betul waktu kecil dulu, setiap ibu mengikuti pengajian, ibu tidak pernah memakan snack yang didapatkan di acara pengajian tersebut. Beliau selalu membawa pulang untuk diberikan kepada anak-anaknya, terutama saya yang paling kecil. Bahkan, jika kami sedang makan bersama, Ibu selalu membiarkan saya mengambil makanan yang paling saya suka dari piringnya, baru sisanya beliau habiskan. Selalu ada pengorbanan yang dilakukan orang tua, khususnya ibu, bagi anak-anaknya…meski bentuknya berbeda-beda.Pengorbanan yang selalu sama dilakukan setiap ibu bagi anak-anaknya adalah: mengandung selama 9 bulan, dan mempertaruhkan nyawanya saat melahirkan.

Selalu ingatlah orang tua saat kita menerima rejeki dan kebahagiaan. Bagilah setiap kebahagiaan yang kita dapatkan, ciptakan senyum pada mereka, meski dengan cara-cara yang sederhana. Menyenangkan orang tua adalah sunah nabi, bahkan beliau bersabda: “Kembalilah kepada kedua orangtuamu dan buatlah keduanya tersenyum bahagia.” (HR. Abu daud dan an-Nasa’i)

3. Mampu membangun kemuliaan surga di luar rumah, tapi tidak mampu membuat kemuliaan surga di rumah

Dalam setiap kesempatan pengajian, seringkali kita temui orang-orang yang berebut menyalami dan menciumi tangan sang ustadz. Bahkan dalam konser2 musik, saya juga seringkali melihat para penggemar yang berebutan memegang tangan penyanyi idolanya (hadehhhh). Sayangnya, tidak semua dari mereka yang di rumah berebutan menciumi tangan ayah-ibunya. Boro-boro cium tangan…pamit aja mungkin sering kelupaan :p

Inti dari tiga hal di atas adalah… Allah sudah menyediakan surga di rumah. Tidak hanya dari orang tua, tapi juga istri/suami dan anak-anak kita… Akan lebih baik kalau kita muliakan dulu yang di rumah, baru memuliakan orang-orang lain. Bukan berarti melarang kita untuk berbuat baik di luar rumah, tapi akan lebih sempurna ibadah kita kalau orang tua sudah ridho untuk apapun hal yang kita lakukan.

Membaca buku ini buat saya bagaikan tamparan yang sangat keras. Saya merasa sudah terlalu jauh melupakan ibu (dan bapak) saya di rumah. Saya jarang menelpon, lebih mengutamakan kebutuhan lain dibandingkan mengirim sebagian rejeki ke beliau, jarang pulang ke rumah, sering tidak memenuhi keinginan beliau, dan sudah mulai jarang membaca yasin untuk bapak saya di akhirat sana. Bahkan doa untuk bapak-ibu hanya jadi sekedar hapalan rutin selesai sholat, bukan doa tulus yang memang saya ucap dari hati.

Padahal rasul telah jelas bersabda, “Siapa yang ingin dipanjangkan usia dan dilapangkan rejekinya, hendaknya ia memuliakan orangtuanya.” (HR Ahmad). Mari pulang ke rumah, memeluk dan mencium ibu-ayah kita, sambil berucap, “Aku sayang ibu/ayah.” 🙂

Advertisements

16 thoughts on “Ada Surga di Rumah Kita”

  1. Saya baca dan saya tertohok, tertampar, dan teringat lagi untuk lebih berbakti pada orangtua.. Hmmm..Langsung menghubungi bapak ibu nih. Btw makasih mbak, tulisannya bagus sekali.. ^^

  2. silahkan siapa yang butuh bukunya ada ada ma kita rp.45.000 jabodetabek bebas ongkos kirim. best seller. call us 081519926511.syukran

  3. Itu di atas ada yang komen jual bukunya, coba dihubungi nomer itu. Dulu sih aku pernah beli di Gunung Agung, gak tau masih ada apa enggak 😉

  4. SUBHANALLAH sungguh buku itu merupakan tamparan bagi kita, waktu itu saya ditampar langsung oleh tuhan lantaran AL Habsy ketika beliau memberikan sedikit tausiyah tentang ada surga di rumahmu (ASDR) di masjid AL-AKBAR SURABAYA. puji tuhan ALLAH azza wajalla ketika mendengar yang beliau sampaikan hati sangat tersentuh, trenyuh sekali bagaikan tamparan keras betapa bodohnya saya, saya secara tidak sadar telah mengabaikan,menghiraukan, tidak mentaati himbauan kedua orang tua kita. waktu itu secara sadar berlinang air mata betapa kurangnya kita menghormati, menyayangi, mengasihi dan memuliakan kedua orang tua kita. semoga ALLAH selalu membukakan pintu rahmat, ampunan dan diberi kesabaran bagi bagi orang tua kita. yang tampa pamrih menyayangi kita amiin. ROBBIGHFIRLI WALIWA LIDAIYA WARHAMHUMA KAMA RABBAYANI SHOGHIRO

  5. Terima kasih atas teksnya .. Aku habis baca jadi inget sama ibuku yang di malaysia yang dulu ninggalin aku dari aku bayi sampai sekarang , aku belum pernah melihat wajahnya bahkan meminum asinya pun aku tak pernah 😦

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s