Life: When it runs out of your plan!


Pernah nonton film Life? Film ini dibintangi oleh Katherine Heigl (sebagai Holly) dan Josh Duhamel (sebagai Messer). Holly dan Messer adalah dua orang dengan pribadi saling bertentangan. Holly, seorang perempuan perfeksionis yang hidup (dan karirnya) terencana. Sedangkan Messer, sesuai namanya, adalah lelaki cuek yang menjalani hidup sesuka hatinya. Pada awalnya mereka dicomblangkan oleh sahabat mereka masing2, sepasang pengantin baru, namun usaha perjodohan itu gagal karena justru mereka bertengkar di pertemuan mereka yang pertama. Mereka tetap menjadi sahabat terbaik bagi kedua pengantin baru, meski setiap bertemu mereka tidak pernah akur.

Sampai pada suatu hari,ada sebuah kejadian tak terduga yang mereka alami. Sepasang pengantin itu meninggal dalam sebuah kecelakaan, meninggalkan anak semata wayangnya yang masih berusia 1 tahun. Dalam wasiatnya, mereka menitipkan si bayi bernama Sophie itu pada Holly dan Messer. Dengan segala keterpaksaan, mereka berdua akhirnya tinggal bersama di rumah keluarga sahabat mereka itu untuk merawat Sophie. Here’s the story begin… Holly dan Messer, keduanya sama sekali tidak berpengalaman merawat bayi. Mereka tidak tahu apa makanan yang tepat untuk Sophie, bagaimana caranya ganti popok, dan sebagainya… Yang seringkali berujung pada pertengkaran antara Holly dan Messer. Akhir film ini, seperti film drama pada umumnya, mudah ditebak..dan happy ending! Holly dan Messer akhirnya saling jatuh cinta, dan konflik di antara mereka pun berakhir.

Buat saya film ini sangat menghibur, terutama di adegan2 konyol kedua tokoh utama saat merawat si bayi. Dan terlepas dari ceritanya yang mungkin terdengar picisan, saya justru menemukan sebuah pesan penting dan menarik dari film ini: Preparation!

Dalam hidup, kita akan selalu menemui hal2 yang terjadi di luar rencana…termasuk kehilangan. Holly dan Messer tentunya tidak pernah mengira mereka akan kehilangan sahabat, lalu dititipi seorang bayi. Peristiwa ini memaksa mereka merubah rencana hidup yang sudah disusun rapi, bahkan kehilangan mimpi yang sudah direncanakan jauh2 hari. Pada awalnya mereka terganggu dengan perubahan ini… Tapi kemudian mereka sadar bahwa memang itulah yang harus mereka jalani.

Saya yakin, setiap orang pernah mengalami hal seperti ini… Hidup yang berjalan tidak sesuai rencana. Tidak lulus ujian, tidak diterima di jurusan kuliah yang diinginkan, diselingkuhi pacar, bercerai, orang terdekat meninggal…atau sekedar kehilangan barang kesayangan. Bagi sebagian orang, peristiwa seperti itu mungkin akan dilalui dengan lancar, meski didahului derasnya air mata. Tapi bagi sebagian yang lain, hal seperti ini bisa sangat mengganggu…bahkan menimbulkan stres dan depresi yang berkepanjangan.

Menonton film ini bagi saya seperti menonton kembali drama hidup keluarga saya. Ibu, dan saudara2 saya, dulu juga pasti tidak pernah mengira ayah akan meninggal begitu cepat…meninggalkan kami dalam kondisi belum stabil, dan anak2nya masih kecil. Tapi saya sangat bersyukur, ibu tidak lantas menyerah… Ia hanya berpikir bahwa ini terjadi atas kehendak Tuhan, maka ia tidak bisa menyalahkan siapa-siapa. Yang harus ia lakukan hanyalah berjuang-entah-dengan-cara-apa agar anak2nya bisa makan. Kalau meminjam istilahnya, ibu menjalani hidup ini dengan ikhlas dan sabar. Ikhlas dan sabar.

Dua kata yang terdengar klise…dan bahkan basi jika didengar seseorang yang baru saja mengalami musibah atau kehilangan. Tapi ya memang itu kunci penting untuk menjalani hidup ini dengan bahagia, apapun masalah yang dihadapkan pada kita. Ikhlas itu artinya ‘melepaskan’ sekaligus ‘menerima’. Melepaskan apa yang pernah kita miliki, dan menerima bahwa ia tidak akan kembali. Bukankah memang semua hal yang kita miliki di dunia ini hanya pinjaman dari Tuhan? Bukankah dulu kita lahir tak membawa apa2, dan nanti juga kembali tidak membawa apa2 lagi?

Ikhlas itu bukan berarti menyerah pada keadaan… Pun begitu dengan sabar. Sabar itu artinya mau berjuang untuk mendapatkan apa yang kita inginkan. Kalau tiba-tiba saya kehilangan orang yang saya cintai…artinya saya harus berjuang lagi dari nol untuk mendapatkan cinta itu kembali, meski mungkin bukan dari orang yang sama. Atau jika saya kehilangan barang kesayangan, mungkin artinya saya harus berjuang kembali mengumpulkan uang agar bisa membeli barang yang sama.

Ikhlas dan sabar itu harus dipersiapkan dari awal… Sehingga saat mengalami sebuah kehilangan, misalnya, kita sudah siap untuk menghadapi kehilangan itu…lalu move on. Setiap orang pasti tidak mau kehilangan, tapi setiap orang harus selalu SIAP jika harus menghadapi sebuah kehilangan. Karena, ada hal2 yang mungkin terjadi di luar rencana kita… yang mungkin bahkan tidak pernah mampir di pikiran kita.

Mungkin persiapan-persiapan berikut bisa membantu kita cepat pulih dari sebuah musibah atau kehilangan:
1. Selalu berpikir bahwa apa yang kita miliki sekarang tidak akan abadi, suatu saat ia bisa pergi. Orang yang kita sayangi misalnya, pasti suatu saat akan meninggal, entah kapan dan dengan cara apa. Barang kesayangan juga sangat mungkin hilang, rusak, atau bahkan dicuri orang. Kita bisa saja mencegah itu semua terjadi, tapi tetap harus selalu mempersiapkan diri jika (di luar kehendak kita) hal2 tersebut tidak lagi kita miliki.
2. Selalu punya plan A-B-C, dst. Sehingga jika A gagal, kita masih punya B, C, dan lainnya. Misalnya, kita sangat ingin bekerja di perusahaan A… Buatlah target lain seandainya kita tidak diterima di perusahaan tersebut. Tapi tentunya tetap berusaha dengan sebaik-baiknya agar kita bisa diterima di perusahaan impian kita. Contoh lain, misalnya target punya bisnis sendiri di usia tertentu, atau target menikah, punya anak, dsb. Selalu siapkan plan B-C-D dan sebagainya, sehingga jika target belum tercapai, kita tidak lantas putus asa.
3. Buat back up! Back up itu bentuknya bisa macam2. Agar kita tidak stres saat komputer rusak, atau hardisk ext rusak/hilang padahal isinya penting, buatlah back up file penting di tempat lain. Toh sekarang banyak fasilitas untuk memback up file, seperti Dropbox misalnya. Jika kita takut suatu saat atm kita dibobol orang, buatlah tabungan dengan rekening lain untuk back up. Atau jika kita takut tiba2 suatu saat kita meninggal, ikutlah asuransi untuk back up bagi keluarga yang akan kita tinggalkan. Tentang hal ini saya punya sebuah cerita tentang seorang teman… Yang terbiasa hidup serba ada karena kedua orang tuanya memiliki pekerjaan yang bagus. Pada suatu hari kedua orang tuanya meninggal dalam sebuah kecelakaan, meninggalkan teman saya dan empat saudaranya yang lain yang saat itu masih remaja. Untungnya, kedua orang tuanya sudah mempersiapkan 5 asuransi untuk masing2 anaknya…sehingga saat ini dia dan saudara2nya bisa tetap survive, meski hidup mereka tak lagi nyaman seperti dulu.

Inti dari pesan saya di atas adalah: preparation! Kita, mau tidak mau, harus selalu siap (dan mempersiapkan diri) untuk menghadapi hal2 yang terjadi di luar rencana kita. Karena sebaik-baik usaha yang sudah kita lakukan… Hasil akhir tetap di tangan Tuhan!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s