Negeri Penggerutu


Akhir-akhir ini hujan deras mengguyur negeri tercinta, tak terkecuali Jakarta. Sudah pasti itu tandanya musim banjir tiba. Kalau sudah begini, saya bakalan sering denger komentator2 yang menyalahkan pemerintah atas terjadinya banjir, khususnya di Jakarta. Komentator ini beragam jenisnya, mulai dari pengamat yang muncul di berita TV, bapak-bapak yang lagi nongkrong di warung kopi, ibu2 yang lagi belanja sayur di pasar, mahasiswa2 yang lagi ngumpul ngerjain tugas, atau siapapun yang sedang nulis status di jejaring sosial. Seperti sebuah status di FB yang barusan saya baca, ditulis salah seorang teman, “Perasaan pas foke gak banjir deh…”

Hehe..nggak tahu kenapa saya pengin ketawa baca status itu. Bukan… Bukan karna Saya pendukung gubernur DKI Jakarta yang sekarang atau apa. Tapi menurut saya status itu lucu, dilihat dari sisi intelektualitas manapun. Pertama, banjir di Jakarta itu sudah terjadi puluhan tahun,nggak mungkin akan hilang begitu saja hanya dengan ganti Gubernur. Apalagi Gubernur yang baru juga belum genap 3 bulan resmi memimpin. Kedua, penyebab banjir itu bukan melulu pemerintah…tapi juga dari perilaku masyarakat sendiri. Sudah bukan rahasia umum kalau buang sampah ke sungai itu bisa bikin banjir…tapi ya masih ada juga yang nggak peduli, dan ikut-ikutan nabung sampah ke sungai. Kalau ditegur, paling jawabnya “Ah, kan cuma dikit, nggak akan bikin banjir.” Lha iya dikit…tapi kalau setiap hari ada 1000 orang yang berpikiran sama, ya lama-lama jadi banyak dan bikin banjir.

Masyarakat sudah sering dihimbau untuk bikin sumur resapan… Tapi saya yakin di seluruh Jakarta ini yang bikin sumur resapan belum nyampe 10% dari total jumlah penduduknya. Sementara tanah2 kosong semakin berkurang karena didirikan bangunan. Bangunan yang didirikan pun seringkali melanggar peraturan tata kota. Banyak bangunan yang berdiri di jalur hijau, banyak pula yang melanggar batas ketinggian bangunan…bahkan tak sedikit yang mendirikan bangunan tanpa memikirkan ketersediaan saluran air yang memadai.

Saya tahu urusan tata kota ini tanggung jawab pemerintah. Tapi kalau kebijakan pemerintah tidak didukung masyarakat ya pasti nggak akan jalan. Contohnya ijin pendirian bangunan di daerah jalur hijau. Pemerintah sudah buat undang-undang dan peraturannya… Kalau ada oknum2 yang melanggar, masyarakat jangan diam saja. Lawan oknum2 yang melanggar peraturan.

Mungkin masyarakat sudah apatis dan distrust pada pemerintah. Oke… Kalau memang begitu, do something! Jangan hanya mengeluh dan protes pada pemerintah… Tapi tidak berbuat apa2! Kalau buang sampah aja masih belum benar, bikin sumur resapan nggak mau, nanam pohon nggak punya lahan… Yasudah, mending pindah kampung aja yang nggak kebanjiran…hehe.

Tidak hanya banjir yang sering jadi bahan omelan rakyat terhadap pemerintah. Ada banyak hal lain yang seringkali jadi bahan tumpahan kekesalan masyarakat pada pemerintah. Pendidikan, misalnya. Kapan hari saya berdiskusi dengan salah seorang teman tentang betapa buruknya sistem pendidikan di Indonesia, dan tentang kegiatan sosial saya di bidang pendidikan. Teman saya berkomentar, “Kalau makin banyak masyarakat yang turun ke lapangan…artinya pemerintah gagal!”

Iya…saya setuju. Pemerintah memang belum berhasil membangun sistem pendidikan yang baik. Saya juga lebih senang duduk santai di rumah menikmati hidup ketimbang repot2 naik bajaj/kereta, kadang kehujanan, demi mengajar anak2 pemulung. Tapi…apakah duduk santai itu bisa membuat sistem pendidikan Indonesia lebih baik? Apakah dengan menyalahkan gagalnya pemerintah akan membuat keadaan lebih baik? Tidak. Sama sekali tidak.

Mengeluh, protes, nyinyir, nyalahin pemerintah, demo…menurut saya bukan jalan menjadikan bangsa ini lebih baik. Satu2nya cara untuk memperbaiki kondisi bangsa ya BERBUAT! Kalau tidak mau banjir…berbuatlah! Ikuti komunitas2 pecinta lingkungan, bantu pungutin sampah di Jakarta, turunlah ke Ciliwung, didik masyarakat pinggir kali untuk lebih sadar lingkungan, didik diri sendiri utk peduli pada lingkungan! Kalau mau bangsa ini pintar… Bacalah, buat diri sendiri pintar, lalu bagi pengetahuan itu pada anak-anak bangsa yang lain.

Mengeluh sama sekali tidak menyelesaikan masalah… Bukankah yang akan membawa pulang piala itu para pemain bola yang telah berkeringat di lapangan, bukan komentator yang mengoceh di balik layar? Maka berhentilah mengeluh dan menggerutu…berbuatlah sesuatu. 😉

Advertisements

6 thoughts on “Negeri Penggerutu”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s