Tentang Life of Pi


Kemarin – akhirnya – saya bersama Widya dan Kintan (teman kantor) nonton film ‘Life of Pi.’ Saya belum baca novelnya, tapi saya sudah terlalu sering membaca komen orang2 yang menonton film itu. Kesimpulannya selalu sama: orang2 bingung dengan endingnya, lalu membuat kesimpulan berdasarkan perspektifnya masing2. Menarik. Apalagi buat saya yang anak Psikologi, yang udah terbiasa dengan film2 ber-ending tanda tanya bagi penontonnya. So now…let me give some reviews about the movie here.

Film Life of Pi dibuka dengan narasi dari Piscine Molitor Patel, sang tokoh utama, yang diperankan seorang aktor India bernama Irfan Khan. Piscine bercerita tentang keluarga dan awal mula ia tinggal di India. Sebuah lagu India menjadi backsound narasi Piscine selama ia bercerita, ditambah video tentang hewan2 kebun binatang sebagai pembuka. Buat saya, pembukaan film sangat mirip Discovery Channel…dan langsung menimbulkan tanda tanya saya yang pertama, “Buset, ini film tentang apaan sih?”

Well, anyway…let’s move out from the zoo…and move in to the main story. Setelah opening scene selesai, muncullah si tokoh utama yang ternyata sedang menceritakan tentang kisah hidupnya pada seorang bule penulis. Alkisah si bule sedang mencari inspirasi menulis buku baru, lalu atas rekomendasi seseorang ia menemui Piscine. Piscine Molitor Patel…sebuah nama yang berasal dari nama kolam renang tersohor di Prancis, yang seringkali diplesetkan menjadi ‘pissing’ (atau ‘pipis’ di bahasa kita)…dan memaksa si empunya nama menyingkatnya menjadi: Pi.

Pi adalah pribadi yang unik, yang sejak kecil tertarik dengan sisi spiritualitas hidup, sehingga membuatnya meyakini 3 agama sekaligus: Hindu, Kristen, dan Islam. Ayahnya yang seorang rasionalis berpendapat bahwa mempercayai banyak hal itu sama artinya dengan tidak percaya. Kalau ingin meyakini satu hal, berangkatlah dari rasionalitas… Buat saya, diskusi ini menarik. Seringkali orang meyakini satu agama hanya karena keluarganya meyakini agama tsb, atau karena tidak punya pilihan lain, atau sekedar agar dibilang normal karena beragama. Agama seringkali dianggap sebagai sesuatu yang ghaib, yang tabu kalo dikait2kan dengan hal2 yang berbau rasional. Maka banyak orang yang mengaku beragama, tapi sebenarnya tidak. Agama hanya melekat sebagai sebuah status, layaknya jenis kelamin, perempuan atau laki-laki…lantas kalau tidak beragama dianggap kelainan, karena statusnya nggak jelas. Berangkatlah dengan rasionalitas maka kita akan lebih memahami agama kita…bagi yang Muslim, mungkin kita akan tahu kenapa kita harus sholat lima waktu, kenapa harus puasa, kenapa harus sedekah, dan banyak hal lain yang bisa dijelaskan dengan logika. Dan kalau pertanyaan2 itu sudah terjawab, barulah kita akan yakin dengan agama kita…dan barulah kita disebut orang beragama!

Back to Pi again….singkat cerita, karena sesuatu hal, Keluarga Pi harus pindah dari India. Ayah Pi memutuskan mereka akan pindah ke Kanada, dengan membawa serta seluruh binatang dari kebun binatang mereka untuk dijual. Berangkatlah mereka pada suatu hari dengan naik sebuah kapal buatan Jepang. Di tengah perjalanan saat melewati samudra Pasifik, terjadi badai hebat yang menenggelamkan kapal…menyisakan Pi (Pi muda diperankan oleh Suraj Sharma) di sebuah sekoci, bersama zebra, hyena, orang utan…dan Macan Bengali!

Dalam perjalanannya… Hyena membunuh zebra untuk kemudian memakannya, lantas orang utan yang marah mencoba memukul si Hyena, tapi karna kalah kuat ia justru dikalahkan oleh Hyena tersebut. Tiba-tiba dari balik terpal yang menutupi sekoci atau kapal kecil itu, muncul seekor macan yang gantian membunuh si Hyena…dan lantas memakan semua binatang tersebut. Tinggallah Pi dalam ketakutan dan depresinya, mencoba bertahan hidup di tengah lautan dalam sebuah kapal kecil bersama seekor Macan Bengali. Banyak cara yang dilakukan Pi untuk membuatnya bertahan hidup…dan terutama bertahan untuk hidup berdampingan dengan seekor macan dalam kapal tersebut. Di tengah keputusasaannya, dan perbekalan yang sudah habis, ia terdampar di sebuah pulau dengan alga beracun dan ribuan meerkat. Pulau itu membuatnya ‘hidup’ kembali…dan ia lantas melanjutkan perjalanan, hingga ia terdampar di daratan Meksiko.

Pi adalah satu2nya penumpang yang selamat dalam pelayaran itu…hingga 2 orang wakil perusahaan pembuat kapal yang digunakan dalam pelayaran itu dikirim untuk menemuinya. Mereka diutus untuk mewawancarai Pi, dan mencari tahu sebab karamnya kapal mereka. Kedua orang Jepang itu menganggap cerita Pi tidak masuk akal…dan memaksa Pi untuk memberikan cerita lain yang lebih masuk akal. Cerita sebenarnya!

Sambil menangis, Pi menceritakan sebuah cerita tragis dan brutal..bahwa sebenarnya ada 4 penumpang yang bertahan hidup di sekoci itu, yakni seorang pelayar beragama Budha, koki kapal, Pi dan ibunya. Koki kapal membunuh si pelayar untuk memakannya… Ibu Pi berusaha melindungi anaknya dengan memukul si koki, namun ia kalah kuat hingga si koki justru membunuhnya….dan kalau diperhatikan dengan jeli, cerita ini sebenarnya sama dengan cerita pertama yang diungkapkan oleh Pi. Pelayar Budha sama dengan si zebra, koki adalah sang Hyena, ibu Pi adalah si orang hutan…dan Pi adalah si Macan Bengali!

Di scene terakhir, Pi dewasa mengakhiri kisahnya pada si penulis…yang tampak bingung dengan 2 kisah yang diceritakannya. Pi tidak secara eksplisit mengatakan cerita mana yang benar… Dia hanya mengatakan, “Aku menceritakan 2 kisah, yang keduanya tidak menjelaskan kenapa kapal itu tenggelam. Which one of both story that you think is better?” si penulis berpikir sejenak lantas menjawab, “Aku lebih suka dengan cerita yang pertama”.. Yang lantas dijawab oleh Pi, sekaligus menutup film ini, “And so it does with God.”

Dan kalimat terakhir itulah yang menurut saya adalah pesan dari keseluruhan film. Bahwa Tuhan itu sesuai prasangka umatNya.

Kedua kisah yang diceritakan Pi bisa saja benar…dan sebenarnya keduanya sama. Bahwa si Macan Bengali membunuh Hyena, yang terlebih dulu membunuh Zebra dan Orang utan untuk bertahan hidup. Pada akhirnya si Macan Bengali juga memakan hewan2 itu untuk bertahan hidup. Dan di cerita kedua, cerita yang sama, namun beda pelakunya. Bahwa Pi pada akhirnya membunuh koki (yang telah membunuh pelayar dan ibunya).. Dan kemungkinan besar juga memakannya. Andai saja sejak awal film ini menceritakan ‘kisah sebenarnya’, bagaimana si koki membunuh pelayar lalu memakannya, dan seterusnya…betapa film ini akan menjadi sesuatu yang mengerikan. Namun, dengan tokoh yang dianalogikan sebagai binatang…tragedi kanibalisme ini menjadi sesuatu yang dianggap ‘normal’.

Intinya adalah…sebuah kisah yang sama, bisa diceritakan dengan cara yang berbeda…dan menghasilkan efek yang berbeda pula. Ini masalah perspektif. Pun begitu cara kita memandang Tuhan… Ketika menghadapi sebuah masalah yang sama, sebagian orang akan menganggap Tuhan sayang pada mereka sehingga memberi ujian. Bagi sebagian yang lain, barangkali masalah itu justru sebagai tanda bahwa Tuhan tidak menyayangi mereka…atau mungkin dianggap Tuhan sedang marah lantas menghukum mereka. Cerita yang sama, jika dilihat dengan perspektif berbeda, maka akan menghasilkan efek yang berbeda pula. Hidup ini sesungguhnya benar-benar sesuai perspektif dan prasangka kita… Maka benar pula adanya, Tuhan itu sesuai prasangka kita, umatNya! πŸ˜‰

Lantas….cerita mana di film ‘Life of Pi’ ini yang benar? Jawabannya tergantung perspektif Anda… Selamat menonton! πŸ™‚
j

Advertisements

8 thoughts on “Tentang Life of Pi”

    1. Sambil baca buku juga mungkin pak…semakin banyak yang dibaca, katanya akan semakin memperkaya tulisan. Penulis yang baik itu adalah pembaca yang rakus…begitu katanya! *mbuh iku jare sopo πŸ˜€

  1. klo menurut saya perbedaan perspektif itu dalam hal menganut agama, sperti Pi yg menganut 3 agama, cara pembelajaran di tiap agama berbeda-beda tetapi intinya adalah Tuhan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s