Tentang Nyonya-nyonya Istana


Para pecinta teater pasti sudah tahu apa yang mau saya tulis begitu membaca judul di atas. Yup, Nyonya-Nyonya Istana adalah sebuah teater yang beberapa waktu lalu dipentaskan di Taman Ismail Marzuki. Tepatnya Sabtu dan Minggu, 17-18 November 2012. Tokoh utamanya diperankan oleh Butet Kertarajasa dan Yu Ningsih. Mendengar nama Butet, yang otomatis terbayang adalah sentilan khasnya pada kondisi (pemerintahan) bangsa yang di beberapa sisi memang tampak morat-marit.

Dan itu pula memang, setidaknya yang saya tangkap, dari pementasan teater yang disutradai Hanung Bramantyo ini. Sebenarnya nonton teater ini bukan sesuatu yang saya rencanakan. Hari itu saya baru saja beraktifitas di Manggarai bersama relawan-relawan Komunitas Jendela Jakarta. Selepas Maghrib saya pulang naik kereta bersama mbak Tri, teman kantor saya. Dialah yang mengajak saya nonton teater ini (yang bahkan saat itu dia lupa judul teaternya apa -__-“). Sampai di stasiun Manggarai kami berpisah tujuan, saya pulang ke Kwitang sementara mbak Tri menuju Senayan untuk mengunjungi pameran buku. Sampai di kos saya iseng googling apa judul teater yang sedang dipentaskan di TIM. Begitu membaca sinopsisnya di beberapa postingan yang saya temukan, saya langsung menelepon bagian pemesanan tiket TIM, dan hasilnya “Maaf mbak, tiket sudah habis untuk semua kelas!”

Aaarggghhh…saya begitu kecewa saat itu, karena bahkan sinopsisnya saja sudah membuat saya begitu jatuh hati. SMSpun saya kirim ke teman saya dengan nada kecewa….namun pada akhirnya kami sama2 mengambil keputusan , “Yuk nekat aja datang kesana, sapa tau dapat tiket.”

Alhasil di tengah gerimis yang semakin meringis, saya berjalan keluar kos mencari apapun moda transportasi yang bisa mengantar saya dengan cepat ke TIM. Saat itu sudah jam 7.30, sementara pementasan teater dimulai jam 20.00, dan teman saya masih di Senayan! *panic attack

Jam 20.00 lewat teman saya sampai di TIM dan kami segera berjalan menuju ticket box. Beberapa calo sempat menghampiri kami dan menawarkan sebuah tiket seharga 200.000 IDR. Tapi dengan keyakinan yang absurd kami tetap bergegas menuju ticket box.

Dan Tuhan bersama orang2 yang mau berusaha… Saat kami sampai di ticket box, ternyata baru saja ada yang mengembalikan 2 tiket festival (alias tempat duduk di balkon) seharga masing2 100.000 IDR. Waaaaa….pengin banget peluk mbaknya yang jaga ticket box saking seneng dan terharunya saya. 😀

Saya dan mbak Tri pun segera berlari menuju ruang pertunjukan dengan sangat bersemangat. Dan meskipun dapat tempat duduk di balkon paling belakang, yang sangat sempit sampai kaki saya tak lagi bisa bergerak dengan sempurna, tapi saya sama sekali tak kecewa. Baru duduk beberapa detik, saya sudah bisa ikut tertawa menikmati lelucon yang ditampilkan para pemain teater Nyonya-Nyonya Istana.

Teater ini memang lebih banyak menampilkan sisi humornya, sambil tetap menyisipkan kritik2 cerdas nan menggelitik terhadap carut marut kondisi bangsa. Para pemainnya pun mayoritas adalah para pelawak yang sudah dikenal khalayak, seperti Marwoto, Den Baguse Ngarso, Susilo Nugroho, Cak Lontong, dll. Sedangkan para Nyonya Istana diperankan oleh sosialita2 ibukota.

Secara umum teater ini bercerita tentang betapa penting peran istri-istri pejabat (kalau tidak bisa dibilang mendominasi) dalam pemerintahan Indonesia. Bahkan disinyalir istri2 pejabat itu justru seringkali menjadi penentu pengambilan kebijakan…. Secara khusus, teater ini bercerita tentang kegundahan ibu negara melihat kekuasaan suaminya yang hampir habis sebagai presiden, lalu berniat menjadikan anaknya sebagai pengganti sang ayah.

Sangat satir, sekaligus nyindir. Tidak hanya dialog para tokoh, tapi juga monolog Butet Kertarajasa yang berperan sebagai presiden. Nah, bagian monolog inilah yang benar2 membuat saya ngakak sambil tutup muka, terutama ketika dia mengatakan “Saya heran kenapa sekarang para penyanyi ingin jadi presiden, sementara saya yang sudah jadi presiden malah pengin jadi penyanyi” (tau kan siapa penyanyi yang dimaksud? :D). Lalu sang presiden mengeluh betapa ia sengsara namun rakyat tak mau memahaminya, “Rakyatku ki ncen asssuuuuuu….. Kalau aku menghilang, semua mempertanyakan…giliran aku muncul, dibilang pencitraan. Mereka tidak tau kalo aku ini sengsara…bayangkan…bayangkan….album udah 5 tapi nggak laku-lakuuuu…” =))))))

Masih banyak hal-hal satir lain yang ditampilkan, masih banyak sindiran-sindirian lain yang membuat penonton ngakak sekaligus geleng-geleng kepala. Suguhan 3 jam ini menurut saya benar2 menghibur, meski sebenarnya isi ceritanya hampir bisa ditebak, dan gaya penyampaian Butet mirip di acaranya sendiri, Sentilan-Sentilun. That is his style, anyway 😉

Jadi intinya perjuangan saya menembus hujan dan nekat meski tanpa tiket datang ke TIM malam itu tak sia-sia. Suguhan yang benar2 apik, dan sedikit membuat mikir begitu keluar dari ruang pertunjukan. Kok ya negaraku begini amat ya? Haha

20121127-172410.jpg

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s