Belajar Mencintai Bangsa


Remaja : Ibu di Indonesia tinggal dimana?

Dosen : Yogyakarta.

Remaja : Yogyakarta itu dimana sih? Deket Malang ya? Eh, ato Surabaya?

Dosen : ^&%$$%%???

Percakapan di atas ada di status FB salah satu mantan dosen saya sekitar satu bulan yang lalu. Dosen saya saat ini sedang studi di Australia, dan ia menulis status itu berdasarkan hasil obrolannya dengan remaja dari Indonesia yang baru tinggal di Australia dan hendak kuliah di sana. Agak miris mengingat remaja itu akan tinggal di Australia, dan mungkin akan jadi salah satu sumber informasi buat teman-temannya yang ingin tahu tentang Indonesia. Kalau salah satu propinsi di Indonesia saja dia tidak kenal, barangkali budaya-budaya Indonesia yang sangat beragam itu juga tak dikenalnya sama sekali. Humm…di saat negara lain berebutan ingin mengakui kekayaan bangsa Indonesia menjadi kekayaan bangsanya, justru generasi bangsa kita sendiri tak mengenal Indonesia dan segala isinya.

Beberapa hari kemudian teman FB bu dosen menyambung cerita itu yang juga dari hasil pengalamannya, kurang lebih seperti berikut:

“…sebelahan sama TKI, ada org Eropa yg bisa sedikit2 bahasa Indonesia, “Kota-kota di Indonesia indah dan menarik ya, saya suka ke Indonesia..” jawab si TKI, “nggak lah, lebih enak tinggal di LN, di Indonesia mah miskin-miskin nggak mewah kayak di LN – Arab maksudnya” *dikutip dari status FB ibu Wahyu Utami, tgl 29 September 2012

Yang lebih miris adalah lanjutan dari cerita di atas, ketika bu Wahyu Utami sedang dalam sebuah perjalanan di Amsterdam dan bertemu seorang keturunan asli Indonesia yang bahkan tak mengenal bangsanya sendiri, seperti dalam kutipan berikut:

“Ngobrol sama org Indonesia (usia sekitar 30th) yg ortunya asli semarang-yogya. ‘Bu, saya belum pernah ke Indonesia, tapi saya pernah diajak ortu saya ke Bali…”

Sudah jadi rahasia umum kalau dunia lebih mengenal Bali ketimbang Indonesia. Banyak turis asing yang tak paham bahwa Bali adalah salah satu pulau yang ada di negara Indonesia. Padahal jika mereka tahu dan mau menjelajah Indonesia lebih dalam, masih banyak pesona alam yang bisa mereka nikmati seindah Bali, termasuk kekayaan budayanya. Nah..kalau generasi muda Indonesia juga hanya mengenal Bali – dan mungkin Jakarta – bagaimana mereka bisa bantu mempromosikan kekayaan bangsa ini? Kalau mengenal saja tak bisa, apalagi mempertahankan dan memperjuangkan. Maka jangan heran jika nanti ada lagi kasus ‘pencurian’ budaya Indonesia oleh negara lain. Lha wong warganya sendiri nggak kenal sama budaya bangsanya 😦

Saya tidak bermaksud menjelek-jelekkan generasi muda, karena saya juga termasuk di dalamnya. Hanya saja saya sedih menyadari bahwa kami, generasi muda Indonesia, tidak mengenal negaranya sendiri. Contoh sederhana nih, saya baru tahu kalau kain tenun khas Lampung itu namanya Tapis, gara-gara kemarin ngisi TTS di sebuah majalah. Jadi kalau tiba-tiba suatu hari ada sebuah negara yang bilang kalau Tapis itu milik negaranya, barangkali saya nggak ngeh kalo hasil ‘nyuri’ dari negara saya. Eh, jangan-jangan yang tari Tor-Tor itu juga nggak pada kenal loh… bisa jadi banyak orang yang baru mengenal Tor-Tor justru saat ia sedang direbut oleh negara tetangga. Duhhh…. *miris

Barangkali untuk sedikit mengingatkan, coba jawab quis di bawah ini (tanpa googling tentunya :p):

  1. Di propinsi manakah Taman Laut Bunaken berada?
  2. Apa nama Ibukota propinsi Kalimantan Tengah?
  3. Tari Jaipong berasal dari….
  4. Kulintang adalah alat musik khas daerah….
  5. Apa nama batik khas dari Banjarmasin?
  6. Jam Gadang ada di …..
  7. Tari Serampang Dua Belas adalah tarian khas daerah….
  8. Ada di propinsi manakah kota Kebumen?
  9. Palu adalah nama ibukota propinsi….
  10. Badik adalah….. yang berasal dari…..

Nah….berapakah jawaban Anda yang benar dari sepuluh pertanyaan di atas? Hehehe. Tentunya pertanyaan-pertanyaan di atas belum mewakili pengetahuan tentang Indonesia secara keseluruhan. Tapi setidaknya jadi gambaran, kalau dari sepuluh pertanyaan di atas kita hanya bisa menjawab kurang dari lima yang benar, artinya kita belum mengenal negeri kita sendiri.

Btw, kenapa sih kita harus mengenal negeri kita?

Weits…penting dong. Pernah dengar istilah ‘Tak Kenal Maka Tak Sayang’, kan? Semakin kita tidak mengenal bangsa Indonesia, semakin rendah pula rasa sayang dan cinta kita pada bangsa ini. Semakin banyak warga yang tak cinta pada bangsanya, semakin banyak pula yang tak peduli pada bangsa itu. Ibaratnya kalau kita punya barang kesayangan, pasti kita akan merawat barang itu dengan baik, dijaga agar tak rusak, dibeliin aksesoris biar makin cantik, disimpan agar tak dicuri orang, dan bahkan dipamerkan dengan bangga ke banyak orang. Gimana rasanya kalau barang kesayangan kita dicuri orang? Atau dihina dan dibilang jelek, bahkan dilecehkan di depan kita, pasti sedih kan? Nah… sama halnya dengan bangsa kita ini, kalau kita sayang dan cinta pada Indonesia, pasti kita akan menjaganya dari kerusakan, dan berusaha ‘memamerkannya’ pada dunia.

Menurut saya, pendidikan formal masih jadi media paling ampuh – sebenarnya – untuk mengenalkan kekayaan bangsa pada generasi muda Indonesia. Ini artinya, guru memiliki peranan penting dalam menumbuhkembangkan rasa cinta tanah air. Teman-teman mungkin masih inget ya jaman SD dulu sering dapat pelajaran tentang budaya Indonesia. Waktu SMP malahan saya ingat betul, guru geografi saya selalu kasih tugas untuk merangkum materi tentang tiap propinsi di Indonesia. Meski tak banyak yang saya ingat, tapi tugas-tugas itu lumayan membantu saya mengenal peta Indonesia secara keseluruhan.

Sayangnya, tak banyak guru yang bisa menjelaskan tentang Indonesia dengan cara-cara yang menarik, agar murid-muridnya bisa mengenal Indonesia dengan lebih baik. Kebanyakan masih menggunakan metode kuno, yaitu ceramah atau komunikasi satu arah. Artinya, guru menjelaskan di depan kelas, dan murid mendengarkan. Padahal, banyak sekali metode mengajar yang bisa digunakan untuk mengenalkan Indonesia dengan cara yang lebih baik. Melalui film atau video, misalnya, dan mengajak anak-anak berdiskusi secara interaktif tentang kekayaan Indonesia.

Ada sebuah cara yang unik dan saya pikir menarik dan efektif dilakukan oleh relawan Komunitas Jendela  di Yogyakarta dalam mengenalkan keragaman budaya Indonesia kepada anak-anak. Misalnya mengenalkan budaya Papua lewat program “Menyapa Papua”. Relawan-relawan Komunitas Jendela tidak hanya bercerita tentang budaya Papua, namun langsung mengajak anak-anak mengenal Papua lewat lagu, tarian, dan kreasi. Anak-anak diajak menari sambil menyanyikan lagu Yamko Rambe Yamko, serta membuat atribut-atribut budaya Papua. Kegiatan ini selain menarik, juga akan memberikan pengetahuan mengenai budaya Papua yang lebih lama tertanam di memori anak-anak, karena melibatkan pengalaman langsung atau experiential learning. Experiential learning artinya belajar dari pengalaman.

"Menyapa Papua"Gambar diambil dari http://www.komunitasjendela.org

 

Cara di atas tentunya bukan satu-satunya cara yang bisa digunakan untuk lebih mengenalkan kekayaan bangsa kepada anak-anak Indonesia. Namun, metode experiential learning menurut saya tetap menjadi metode terbaik dalam mengajarkan sesuatu kepada anak-anak. Hal ini mengingat perkembangan kognitif anak-anak usia SD masih pada tahap operational konkret (Piaget) , dimana anak-anak belum bisa diajak berpikir abstrak. Mengajarkan sebuah budaya kepada anak-anak melalui metode ceramah tentunya akan sia-sia, karena anak belum bisa mengimajinasikan apa yang diceritakan guru di benaknya.

Apapun metode mengajar yang digunakan, saya berharap setiap guru terus mengenalkan budaya dan kekayaan Indonesia pada anak didiknya. Bahkan bukan hanya guru, setiap orang tua punya kewajiban yang sama terhadap anak-anaknya. Ini bukan pilihan lagi, tapi sebuah keharusan. Karna kalau bukan kita yang (mulai) mencintai bangsa ini, siapa lagi? Jangan sampai orang asing justru lebih cinta Indonesia daripada kita dan anak-cucu kita. 😉

Advertisements

3 thoughts on “Belajar Mencintai Bangsa”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s