Negeri 1001 Mall


Kalau Abu Nawas tinggal di Negeri 1001 Malam… barangkali suatu hari nanti saya akan bangga (?) menyebut negeri yang saya tinggali sebagai Negeri 1001 Mall. Yah, tidak selebay itu sih…tapi memang kenyataannya Indonesia itu negeri mall. Beberapa sumber (yang belum tahu bisa dipertanggungjawabkan atau tidak, hehe) menyebutkan bahwa di Indonesia saat ini ada sekitar 300 Mall yang tersebar — secara tidak merata — di berbagai kota. Di Jakarta sendiri ada 70 Mall yang aktif dikunjungi penduduk Ibukota (sumber lain ada yang menyebutkan jumlahnya mencapai 170…WOW!).

Banyaknya Mall di Indonesia, khususnya di Jakarta, menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia adalah masyarakat  konsumtif. Coba tengok setiap Mall di Jakarta, hampir tidak pernah sepi pengunjung, apalagi saat weekend. Saat weekdays pun, Mall selalu ramai saat jam makan siang atau makan malam. Mall kini bukan lagi hanya sekedar tempat belanja, tapi juga tempat wisata kuliner, tempat liburan dan hiburan, tempat rapat, tempat…apapun! Minimnya ruang publik di Jakarta menjadikan Mall sebagai tempat ‘pelarian’ bagi mereka yang ingin berlibur di saat weekend. Hebatnya, Mall kini bisa menghadirkan arena ice skating di Jakarta yang notabene panas, menghadirkan taman bermain yang semakin susah ditemui, atau bahkan kebun binatang mini. Semuanya tentu saja artifisial…

Beragamnya fasilitas yang ada di Mall membuat masyarakat semakin kesulitan untuk ‘lepas’ dari ketergantungan akan hadirnya mall di tengah kehidupan mereka. Jalan-jalan di Mall menjadi rutinitas biasa bagi keluarga setiap minggu, bahkan mungkin tiap hari. Tanpa sadar masyarakat dibentuk menjadi masyarakat yang makin hari makin konsumtif. Mereka yang tak punya cukup uang hanya bisa menonton dari kejauhan, atau dipaksa berhutang dalam balutan kemewahan kartu kredit.

Pertumbuhan mall yang begitu tinggi di Indonesia di satu sisi menunjukkan bahwa daya beli masyarakat Indonesia semakin membaik. Hal ini juga seiring dengan tingginya kenaikan jumlah orang kaya di Indonesia, yang bahkan dikatakan tertinggi di Asia tahun ini. Dari artikel yang pernah saya baca, jumlah orang kaya (mungkin bisa disebut golongan menengah ke atas) mencapai angka 130juta, atau sekitar 50% dari total penduduk Indonesia.  Jumlah orang yang mampu beli mobil, atau paling tidak barang-barang bermerek seharga puluhan juta, kini semakin bertambah. Setidaknya ini bisa dilihat dari makin banyaknya orang menenteng tas bermerek semacam Hermes yang harganya bisa mencapai puluhan juta per item. Pun demikian dengan jumlah orang yang mampu membeli tiket konser penyanyi luar negeri yang harganya hampir selalu di atas satu juta. 

Buat saya ini ironis…sekaligus miris!

Di satu sisi, jumlah orang kaya terus bertambah secara signifikan. Di sisi lain, jumlah orang miskin tak jua berkurang secara signifikan. Masih ada sekitar 29,13 juta penduduk miskin di Indonesia… yang saking miskinnya mungkin pendapatan mereka per tahun tidak cukup untuk membeli satu tas Hermes (asli..bukan KW…hehe :D). Jangankan untuk beli tas, untuk makan sehari-hari pun masih kurang… apalagi untuk biaya pendidikan!

Ini yang buat saya miris… kalau saja dari 130 juta orang itu mau menyisihkan 10,000 saja setiap bulan untuk bantu beasiswa pendidikan bagi anak dari keluarga miskin, setiap tahun akan ada jutaan anak yang masa depannya terselamatkan. Saya adalah salah satu orang yang percaya bahwa pendidikan adalah salah satu jalan terbaik untuk meningkatkan taraf hidup seseorang. Kalau setiap anak dari keluarga miskin mendapat kesempatan akan akses pendidikan yang baik, saya yakin jumlah penduduk miskin di Indonesia akan terus menurun setiap tahun secara signifikan.

Ini tentunya juga harus dibarengi dengan akses terhadap lapangan kerja yang semakin mudah. Nah..untuk menciptakan lapangan kerja yang banyak, tentunya paradigma konsumsi itu harus diubah menjadi paradigma produksi. Kalau semua orang Indonesia hanya bisa konsumsi, siapa yang akan menyediakan barang untuk kita konsumsi?? Ujung-ujungnya negara lain yang diuntungkan. Kita akan lebih banyak impor barang ketimbang ekspor. Jangankan untuk ekspor, untuk memenuhi kebutuhan masyarakat sendiri saja bisa jadi kita akan semakin kewalahan.

Pfiuhhh… kalau udah bahas negara gini bisa nggak brenti nulis ini saya…hehe *lebay

Intinya, saya ingin mengajak pembaca sekalian untuk lebih produktif, ketimbang konsumtif. Ketimbang tiap hari ngabisin duit di mall, mending duitnya ditabung buat mulai bisnis kecil-kecilan…atau disisihkan sebagian untuk bantu orang lain yang nggak mampu. Jangan biarkan Indonesia menjadi negara konsumtif…ayo jadikan negara ini lebih produktif. Kurangi pertumbuhan mall di Indonesia, dan dukung pertumbuhan pabrik lokal.

Kitalah yang memegang kendali … karena kitalah konsumen itu sendiri..:D

Advertisements

3 thoughts on “Negeri 1001 Mall”

  1. “Minimnya ruang publik di Jakarta menjadikan Mall sebagai tempat ‘pelarian’ bagi mereka yang ingin berlibur di saat weekend..”

    kalau menurut ta itu bisa dibalik Prie..
    jangan-jangan banyaknya Mall lah yang membuat ruang publik jadi minim dan masyarakat “dipaksa” untuk memilih mall sebagai pelarian #suuzon

    1. Nah…itu dia Tha, aku curiganya juga gitu..hehe

      Intinya masyarakat kita ‘dipaksa’ utk jadi konsumtif, makanya mall banyak berdiri…dan mungkin berdirinya mall2 itu menggusur ruang2 publik…masalahnya adalah, masyarakat juga menikmati ‘keterpaksaan’ itu…Nah, gimana tuh? Hekekeke

      1. iyak betul..
        keterpaksaan yang kelamaankan bisa jadi kebiasaan dan akhirnya jadi kenikmatan jugakan??
        *lingkaran setan*
        hehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s