Keyla (Tetesan 3)


Angin sore berhembus pelan, berbisik-bisik pada setangkai anggrek ungu yang tergantung anggun di salah satu sudut balkon Teras cafe. Anggrek cantik itu tampak sesekali mengangguk-angguk, seolah memahami bahasa angin. Keyla menikmati sapaan angin di sela-sela rambutnya, sambil mendengarkan obrolan angin dan bunga anggrek yang tertangkap sudut matanya. Entah apa yang sedang mereka perbincangkan, tapi apapun itu sepertinya sesuatu yang menarik.
“Apa kabar London, Key? Masih banyakkah stok pria ganteng di sana?” Suara seorang perempuan mengalihkan perhatian Keyla. Sejenak ia tergelak, ditatapnya perempuan yang duduk persis di depannya.
“Pria ganteng banyak, Mbak Liz… yang mau sama aku sayangnya nggak ada.” Keyla mengedipkan sebelah matanya, lalu menyeruput espressonya pelan.
“Yang mau sama kamu banyak, Key. Tapi yang kamu mau nggak ada.. itu kalimat yang lebih pas!”
“Hehehe….” Keyla tersenyum jengah.
Perempuan yang dipanggil Liz itu menghela napas, lalu mengambil sebatang rokok dan menyalakannya. Selesai hisapan pertamanya, ia menatap Keyla sambil berkata, “Look at me, Keyla… no one is perfect, including you. Finding a perfect person in this kind of unperfect world is nonsense!”
Keyla lagi-lagi tersenyum jengah. Ia menarik mundur badannya, menghindari serangan asap rokok yang sangat tidak ia suka. Liz adalah sahabatnya di kantor. Perempuan berusia 40 tahun itu adalah seorang single parent untuk dua anaknya yang sedang beranjak remaja. Anak pertamanya saat ini kelas 2 SMP, dan anak keduanya masih kelas 5 SD. Dua pangeran kecil yang wajahnya selalu mengingatkan Liz pada sesosok pria yang meninggalkannya lima tahun silam, demi perempuan lain yang lebih muda darinya. Hidup, bagi Liz, adalah kepingan-kepingan puzzle yang tidak sempurna. Selalu ada kepingan yang hilang – menurut Liz – dalam setiap bagian hidupnya.
“Kamu boleh perfeksionis kalo urusan kerjaan, Key. Tapi kalo cari pasangan, don’t be! Kerja itu lebih banyak pake otak, kalo nyari pasangan pake hati…. Jangan disamain.” Liz menghembuskan asap rokoknya kuat-kuat tepat di depan muka Keyla. Ia langsung terkekeh melihat Keyla terbatuk-batuk sambil mengibaskan tangannya menghalau asap rokok.
“Kalo nyari pasangan nggak pake otak, entar gampang ditipu….” Keyla menghentikan ucapannya, lalu menatap Liz penuh rasa bersalah. “Maksudku….”
Liz mengibaskan tangannya, seolah berkata ‘nevermind’. “Kamu nggak sebodoh aku, Key… kamu nggak mungkin ditipu lelaki macam dia. Tapi musti diinget, terlalu pinter juga nggak bagus. Kamu tuh kebanyakan mikir, makanya susah jatuh cinta…hahaha.” Lagi-lagi Liz terkekeh. Baginya, seorang Keyla yang belum pernah pacaran sampai di umurnya sekarang itu adalah hal yang lucu. Ia tak pernah habis pikir bagaimana seseorang tidak pernah jatuh cinta. Ia bahkan telah pacaran sepuluh kali saat umurnya baru genap 17 tahun. Cinta pertamanya adalah Diko, teman sebangkunya waktu TK. Hari itu Diko memegang tangannya saat berjalan bersama pulang sekolah, dan entah kenapa itu membuatnya sangat senang. Sesampainya di rumah, Liz berbisik pelan di telinga mamanya, “Ma, pacal aku namanya Diko.”

*
Seorang perempuan muda berparas cantik tampak berjalan tergesa-gesa sambil menenteng tas di tangan kanan, dan tumpukan berkas di tangan kiri. Rambut panjangnya bergerak-bergerak mengikuti gerakan tubuhnya yang lincah, selincah langkah kedua kakinya yang ditopang wedges warna pink setinggi 7 cm. Senyum seolah terpasang permanen di bibirnya, membuat siapapun yang melihatnya tiba-tiba merasa sumringah. Wangi musk yang tertebar dalam setiap gerakannya – sekecil apapun – membuat setiap pria yang ia lewati menoleh sejenak.
“Hey, sori tadi rapatnya molor… lama banget diskusinya.” Tara, perempuan-pengalih-perhatian itu memamerkan deretan gigi putihnya yang rapi, sambil mendekat ke arah Keyla dan Liz. Dengan gerakan cepat, ia mencium pipi Liz dan Keyla bergantian, lalu duduk di kursi kosong di sebelah Keyla. “Apa kabar, Kak… kapan balik dari London? Sehat-sehat aja kan?” Tara langsung memberondong Keyla dengan pertanyaan. Mata bulatnya menatap Keyla dengan jenaka, siapapun yang mendapat tatapan seperti itu pasti langsung lumer hatinya, tak terkecuali Keyla.
“Aku baik-baik aja sayang, kamu gimana? Sudah berapa pria yang kamu tolak selama aku di London?” Keyla mengacak rambut Tara dengan gemas.
“Ih,,, kakak ini apa banget deh…” Tara cemberut kesal. Mukanya justru tambah menggemaskan kalau cemberut seperti itu.
“Jangan ikuti jejak kakakmu ini, Ra. Cepat pilih salah satu dari penggemarmu itu, sebelum mereka keburu kabur, dan umur kamu terlanjur uzur…hehehe.” Lagi-lagi Liz terkekeh, sengaja banget ia menggoda Keyla yang sedari tadi sudah terlihat jengah.
“Ibu Liz nakal banget ihh…” Tara mencubit lengan Liz, namun senyum di bibirnya tak dapat menutupi kegeliannya pada kalimat yang baru saja meluncur dari bibir Liz.
*
Tiga perempuan beda usia itu bersahabat sejak hari pertama Tara menjadi karyawan di perusahaan tersebut. Pertemuan pertama mereka bertiga terjadi di ruang interview calon karyawan baru. Saat itu, tentu saja, Tara adalah sang calon karyawan. Usianya baru genap 22 tahun saat ia menenteng ijazah S1-nya ke ruang interview. Wajah dan jawaban-jawabannya yang polos membuat Liz dan Keyla sangat tertarik dengan perempuan muda itu.
“Apa yang membuat kamu tertarik bergabung di perusahaan ini?” Liz membuka sesi interview dengan pertanyaan wajib yang ada di guideline interviewnya. Liz adalah supervisor bagian rekrutmen. Hari itu adalah jadwalnya mewawancarai calon pekerja baru bagian Marketing, ditemani seorang karyawan perwakilan Marketing yang bahkan baru ia kenal saat masuk ruang interview.
“Ini adalah perusahaan impian Papa saya.” Tara menjawab mantap, sambil tersenyum. Ada sekilas luka di sorot matanya, yang meski tertutup samar namun tetap bisa tertangkap oleh mata Keyla.
“Kenapa bukan Papa kamu yang melamar kerja di sini?” Keyla menatap perempuan muda di depannya dengan tatapan penuh rasa ingin tahu.
“Papa saya sudah meninggal, Bu…”
Liz dan Keyla reflek saling tatap.
“Saya tahu alasan saya terdengar ridiculous. Tapi bagi saya, memenuhi impian papa adalah impian terbesar yang saat ini ingin saya capai. Meski bahkan saya tidak mampu mengingat wajah beliau, tapi bagaimanapun papa adalah orang yang berperan dalam hidup saya. Setidaknya ia telah memilih seorang perempuan terbaik untuk jadi mama saya, hingga saya bisa jadi seperti sekarang. Setidaknya ia juga yang telah membuat saya lahir di dunia. Jadi saya pikir, membahagiakan papa dengan mewujudkan impiannya adalah kewajiban saya sebagai seorang anak.”
“What if… This company doesn’t meet your passion, or your values, or anything that makes you realize someday, that you’re not suppossed to be here?” Keyla menatap Tara tajam.
“Memenuhi impian papa adalah passion saya… Dan kalau saya bilang sekarang bahwa saya pasti akan betah dan bisa selamanya di perusahaan ini, saya bohong. Karna tidak ada satupun di antara kita yang bisa tahu apa yang akan terjadi nanti, besok… atau bahkan satu detik ke depan. Saya tidak bisa menjamin bahwa saya akan terus bekerja sesuai ekspektasi perusahaan, seperti halnya saya tidak bisa menjamin apakah perusahaan juga bisa memberikan apa yang menjadi ekspektasi saya. Kalau dua ekspektasi itu pada suatu hari nanti tidak mencapai titik temu, perusahaan punya hak untuk memecat saya, dan saya juga punya hak untuk tidak melanjutkan karir saya di sini. Yang bisa saya jamin adalah bahwa saya akan bekerja sebaik mungkin di setiap kesempatan, dan yang saya tahu, saya memiliki komitmen dan loyalitas yang cukup tinggi. Bukan seberapa lama saya ada di perusahaan ini yang penting, tapi seberapa besar kontribusi saya bagi perusahaan, buat saya itu lebih penting.”
“Bagaimana kalau kamu gagal dalam seleksi ini?” tanya Liz.
“Saya akan coba lagi!” jawab Tara mantap.

*
Keyla, Liz, dan Tara. Tiga perempuan penuh pesona dengan tiga karakter yang berbeda. Jika digambarkan seperti musim, Keyla adalah Summer yang hangat, cerah, aktif dan energik. Keyla seolah tak pernah kehabisan energi, selalu aktif setiap saat. Ide dan semangatnya beterbangan bagai burung di alam bebas. Sementara Liz, lebih tepat jika disamakan dengan Winter. Musim dingin yang beku, dan terkesan sendu. Namun, justru karena itulah kehadirannya selalu dirindukan. Bagi Keyla, Liz adalah peredam emosinya yang kadang terlalu banyak diekspresikan. Berada di dekat Liz akan membuat Keyla merasa tenang, kalau tidak bisa dibilang nyaman. Sementara itu, Tara, si kecil, adalah Spring yang berbunga-bunga. Spring adalah musim transisi antara Winter dan Summer. Maka, kehadiran Tara adalah penengah bagi Keyla dan Liz. Jika ketiganya disatukan, masing-masing akan saling menyempurnakan.
Bagi Keyla, sahabat bagaikan potongan puzzle bagi seluruh kisah hidupnya. Hadirnya sahabat, bagi Keyla, sama pentingnya dengan hadirnya hujan bagi bumi. Hadirnya hujan akan membasahi yang kering, menumbuhkan yang layu, menghidupkan yang hampir mati. Seperti itu pula arti sahabat bagi Keyla.
Hujan , seperti halnya sahabat, bisa menambah sempurnanya hidup.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s