My (Lost) Passion


Saya adalah pecinta anak-anak sejak dulu. Bukan! Saya bukan pedofilia atau sejenisnya,,,,tapi entah kenapa anak-anak dan dunianya bagi saya selalu menarik. Jadi jangan heran kalau lagi jalan sama saya dan ketemu anak kecil, saya sering histeris sendirian…hehe. :p

Kecintaan saya pada anak-anak membuat saya selalu tertarik dengan kegiatan yang ‘berbau’ anak-anak. Maka waktu teman KKN saya, Aam, mengajak saya ikut sebuah komunitas sosial yang kegiatannya ngajar di panti asuhan, tanpa berpikir panjang saya langsung mengiyakan. Itu sekitar tahun 2010 kalau tidak salah. Pertama kalinya saya ikut kegiatan sosial, dan saya langsung jatuh cinta setengah mati. Hingga tahun 2011, waktu itu lagi heboh-hebohnya program Indonesia Mengajar. Indonesia Mengajar adalah sebuah program yang digagas oleh Anies Baswedan (baca websitenya www.indonesiamengajar.org), dimana relawan-relawan yang berminat dan memenuhi syarat akan dikirim ke beberapa pelosok negeri untuk menjadi guru SD selama satu tahun. Bukan menjadi guru SD-nya yang menjadi daya tarik, tapi bagaimana kita bisa menginspirasi anak-anak di pelosok itu untuk meraih pendidikan setinggi-tingginya lah yang membawa ribuan anak muda tertarik untuk mendaftar.

Well,,,,saya yang juga anak muda ini (*ehem), tentunya sangat tertarik. Tanpa banyak berpikir, dan tanpa ijin keluarga, saya mendaftar dan mengikuti seluruh proses seleksi dengan penuh semangat. Sampai akhirnya hasil seleksi diumumkan, dan saya lolos. Kebayang kan betapa bahagianya saya.. saya sudah merancang banyak hal yang akan saya lakukan selama setahun berada di daerah.

Yah…tapi kan katanya manusia hanya berencana ya, sementara Tuhan yang menentukan (sambil ngelus dada). Sebelum saya tanda tangan kontrak, saya minta ijin dulu ke keluarga, karena memang sebenarnya dari awal saya tahu bahwa saya nggak akan diijinkan. Dan, seperti tebakan saya dari awal, keluarga tidak mengijinkan! Ya..keluarga tidak mengijinkan saya ke daerah!!! Ya…Oke!! *mewek

Ini sudah setahun….dan ternyata saya masih belum bisa move on, kawan! Setiap kali saya mendengar hal-hal yang berkaitan dengan program itu, entah kenapa hati saya masih suka nyesek. Hehe… lebay kali ya saya. Tapi ya begitulah…

Dan kemarin saat saya cek timeline di twitter, saya menemukan sebuah quote dari akun @damnitstrue yang benar-benar membuat saya tertampar.

“In the end, we only regret the chances we didn’t take, relationships we were afraid to have, and the decisions we waited too long to make.”

Yes, Indeed… we must regret every (good) chance we didn’t take! And so do I…..

Sudah setahun belakangan ini saya tidak aktif di kegiatan sosial. Dan itu semakin membuat saya sedih. Meskipun saya punya alasan kuat kenapa saya absen setahun terakhir ini.

Dan beberapa hari lalu saya memutuskan untuk move on dari passion saya yang hilang setahun lalu. Saya memutuskan untuk meninggalkan zona nyaman saya yang baru saja terbentuk, lalu beranjak untuk do something. Kebetulan saya saat ini masih tergabung dalam sebuah komunitas bernama Komunitas Jendela (cek websitenya di http://www.komunitasjendela.org), yang kegiatan utamanya ada di Jogja. Saya memutuskan untuk mengembangkan kegiatan komunitas saya di Jakarta, karna kebetulan ada beberapa orang yang sudah siap jadi relawan untuk Komunitas Jendela di kota ini.

Berbekal niat, saya mulai menghubungi calon relawan yang sudah terdaftar di database komunitas. Responnya sungguh luar biasa. Meskipun tidak semua orang yang saya hubungi membalas sms saya, tapi beberapa orang memberikan respon yang cukup antusias. Memberi saya keyakinan yang cukup bahwa komunitas ini bisa berjalan di Jakarta. Saya belum berani bermimpi terlalu tinggi, karena terus terang saya belum benar-benar tahu kondisi anak2 di Jakarta seperti apa. Tapi setidaknya demi melihat respon calon relawan, saya yakin ada sesuatu yang bisa kita lakukan untuk anak2 Jakarta…untuk masa depan mereka, untuk bangsa yang sungguh saya cintai-apapun-kondisinya. Setidaknya saya berbuat baik untuk diri saya sendiri dengan melakukan sesuatu yang memang sudah jadi passion saya dari dulu. Setidaknya….saya masih bisa berbagi dengan apa (yang sedikit) yang saya punya.

Bismillah…semoga niat baik ini diRidhoi, dan dimudahkanNya. Aamiin…. šŸ™‚

Advertisements

5 thoughts on “My (Lost) Passion”

  1. Slam kenal..
    Gmn cranya jd anggota komunitas jendela??
    Kegiatannya ngapain ja y?
    Kbetulan aq tgal di jakarta n aq kpengen bet jd guru relawan..*curcol dikit y he..

    1. Hai Putri, salam kenal juga…

      Buat daftar jadi relawan, isi form dulu di web kami http://wwww.komunitasjendela.org karna untuk database relawan. Trus follow twitter kami di @jendelajakarta atau twitterku @prienzeast…nanti kalo ada kegiatan bakal diinfo di situ. Sila cek fb kami juga di Komunitas Jendela dan Jendela Jakarta šŸ™‚

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s