Mungkin (Takkan) Ada Lagi


Aku menutup jendela rapat-rapat. Ini adalah hari kedua, sekaligus hari terakhirku, di Raja Ampat. Sudah kuhabiskan semua sisa uangku untuk perjalanan ini. Sudah kuhabiskan pula sisa waktuku jalan-jalan keliling pulau, permintaannya dulu yang belum sempat kupenuhi.

Malam ini semua akan berakhir. Kuakhiri lebih tepatnya! Mungkin takkan ada lagi canda tawa di antara kami, sedu sedan (yang akhir-akhir ini lebih banyak datang dari aku), diskusi panjang lebar di kala malam, atau sekedar sarapan pagi bersama. Atau bahkan rengekan kecilnya minta dibelikan ini-itu, atau sekedar keinginan untuk jalan-jalan di taman dekat rumah.

Semua akan berakhir malam ini. Meski buatku, semua sudah berakhir sejak lima tahun lalu. Sejak terakhir ia berhenti memanggilku dengan sebutan ‘sweety’, sejak terakhir ia berhenti mengajakku keliling pulau-pulau di ujung negeri, dan sejak terakhir ia menatapku dengan cahaya di matanya setiap aku terbangun di pagi hari.

Aku tidak menyerah, aku hanya lelah. Lelah menunggu keajaiban bahwa ia akan kembali. Lelah untuk setiap doa yang kuucap di malam hari, dan kubisikkan ke telinganya setiap pagi. Aku lelah untuk terus berusaha keluar dari mimpi buruk ini, dan semakin lelah ketika akhirnya kudapati, ini bukan mimpi!

“Aku bermimpi kita berdua ke Raja Ampat, Mas. Take me there, please…I just don’t want it become my last dream.” Kamu merengek padaku suatu hari. Hari itu, tepat di ulang tahun pernikahan kita yang kedua. Hari itu, lima tahun yang lalu.

I will, my sweetheart. But not today, I’m so sorry…

Ahh…Bahkan kata maaf belum juga sempat kuucap. Kamu terlalu terburu-buru, sayangku. Bukankah  sudah kubilang aku tidak bisa menemanimu ke Raja Ampat hari itu? Tak bisakah kau bersabar sedikit saja, sayang? Barangkali kalau kamu mau bersabar, kamu tidak akan ikut dalam penerbangan sialan itu!

Goddamn it!

Prraaanngggg!!!

Aku membanting botol whisky yang sedari tadi kupegang. Serpihan kaca berhamburan di lantai, terhambur bersama serpihan-serpihan lain yang lebih dulu ada sejak kemarin malam. Entah ini botol keberapa, mungkin tidak tersisa lagi botol yang bisa kulempar seenak hati.

Aku terduduk lesu. Keringat mulai membasahi tubuhku, air mata pun mulai menetes satu-satu. Seiring gelap yang mulai membayang di langit Papua, aku menguatkan tekad. Untuk sebesar apapun sakit yang akan kurasa, ini harus berakhir. Kuakhiri lebih tepatnya!

Aku mengumpulkan sisa tenagaku satu per satu. Kulangkahkan kakiku di atas serpihan-serpihan kaca di lantai kamar hotel murahan ini. Kudekati seorang perempuan yang terbaring di atas tempat tidur, dengan berbagai alat yang menempel di tubuhnya.

Hey, sweetheart…malam ini kamu akan tidur nyenyak. Aku lelah menatapmu tersiksa seperti ini.” Dengan lembut, kulepas satu per satu alat yang menempel di tubuhnya. Alat bantu pernafasan, alat pengontrol detak jantung, alat perekam aktivitas harian otaknya, entah alat apa lagi yang tertempel di tubuhnya. Semua sudah kulepas, jiwanya bebas sekarang.

Mungkin takkan ada lagi senyum indah dan pelukan hangatnya. Takkan ada lagi suara merdu dan rayuan-rayuan kecilnya. Tapi mungkin akan ada kesempatan kami bertemu lagi di tempat berbeda. Mungkin!

Kuambil pistol di atas meja.

“Sampai jumpa di surga, sayang!”

Dorrrrrr!!!!

………………………………………………………………………………………..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s