Langit pun Tersenyum


Aku menatap langit Wakatobi malam ini. Bintang bertaburan di atas sana, bak cendawan di musim hujan. Sekitar sepuluh meter dari tempatku duduk, ada segerombolan remaja tanggung sedang melingkari api unggun. Salah satu dari remaja itu memainkan gitarnya sambil bernyanyi keras-keras.

“Let me go homeeee….I’m just too far, from where you are, I wanna come home…”

Oh sh*t! Alam begitu kompak mengejekku malam ini. Ingin rasanya kusumpal mulut remaja itu dengan pasir di genggaman tanganku . Tapi demi mengingat pelajaran moral jaman SD dulu, kuurungkan niatku. Kulempar segenggam pasir di tanganku ke bibir pantai, sambil berteriak kesal.

Why don’t you just go home, honeyyyy??”

Beberapa pasang mata menatapku, dan aku tak peduli. Sudah lima tahun aku menunggu kepulangan seseorang di pantai ini. Lima tahun sudah penantianku sia-sia. Dia tidak pernah kembali, bahkan sekedar memberi kabar pun tidak.

“Kamu ngapain sih nungguin dia terus? Palingan dia udah kawin di negaranya sana.”

“Waras dikit dong…dia tuh cuma turis yang lagi liburan doang. Ngapain sih masih ngarep dia buat balik?”

“You’re sick, man!”

Berbagai komentar negatif selalu mampir di telingaku, di setiap keberangkatanku di Wakatobi. Meski kalimat itu menamparku keras-keras, tepat di ulu hati, aku tak pernah peduli. Entah kenapa aku begitu yakin, suatu saat nanti entah kapan, perempuan cantik berambut ikal itu akan muncul kembali di Wakatobi.

“I’ll be back here…soon!”

 Kalimat itu masih terdengar dengan jelas di telingaku. Aku yakin, aku masih waras saat itu, dan pendengaranku pun sedang sangat sehat. Aku  tidak mungkin salah dengar. Aku melihatmu meninggalkanku di tepi pantai, tepat di titik aku duduk sekarang. Kamu mencium keningku malam itu, bahkan lembut bibirmu masih terasa sampai sekarang.

Aku menatap langit Wakatobi, sekali lagi. Langit masih tersenyum, persis seperti malam terakhir kamu berlalu dengan tas selempang coklatmu. Dan aku masih menunggu, berharap malam ini kamu pulang kembali ke sini, ke hatiku.

“I’m home….and I know that you wait for me, I know it for sure!”

 Aku menoleh dengan cepat.

“Hey, how could you..? I thought that you…” Aku tergeragap, kehilangan kata-kata.

“I receive your message…that you sent to me through the sky.” Perempuan itu menunjuk langit sambil tersenyum.

Aku menatap langit. Langit balas menatapku sambil tersenyum. Aku ikut tersenyum, menatap perempuan itu.

Dengan kikuk kuulurkan tanganku, aku tak mau menyia-nyiakan waktu, aku tak mau menyesal untuk yang kedua kalinya, “My name is Rey…what’s yours?”

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s