Memori Tentangmu


Angin berhembus pelan, sepelan langkahku menapaki setiap tangga menuju Pura Besakih. Kunikmati langkah demi langkah ini, seperti aku menikmati detik demi detik momen bersamamu. Dan setiap langkah kaki serasa menguar satu memori tentangmu. Pun di setiap helaan napasku, ada ribuan detik memori tentangmu yang terhirup. Terhirup sangat dalam, menembus pori-pori, lantas paru-paru, menyedot habis udara di rongga dadaku. Ini mungkin penjelasan paling ilmiah kenapa setiap mengingat kamu, dadaku langsung sesak.

Aku menghela napas dalam-dalam, berat! Berharap ada sedikit ruang yang tersisa untukku. Tapi tidak, tidak sama sekali. Tidak ada sedikitpun ruang yang tersisa untukku. Semua telah terisi memori tentangmu, tentang wajah teduhmu, tentang mata indahmu, tentang rambut ikalmu yang sering kumainkan dengan jemariku, tentang senyum yang selalu terukir di bibirmu, tentang kecupanmu yang setiap pagi menyapa pagiku. Ahh, hidupku sudah terlanjur penuh olehmu.

Penuh, hingga benar-benar sesak. Bahkan setiap senti, setiap mili, bagian tubuhku ada memori tentangmu. Kamu memenuhi isi kepalaku, hanya tersisa sedikit ruang yang masih memungkinkanku untuk menulis dan memasak masakan kesukaanmu setiap hari. Kamu bahkan ada di setiap helai rambutku, membuatku menikmati setiap momen menyisirnya dengan jari jemariku. Kamu ada di semua ruang hatiku, benar-benar tak tersisa satu sudut pun. Kamu ada di setiap titik kulit tubuhku, membuatku terkadang enggan menyiramnya dengan air sabun, takut memori itu perlahan luntur.

Kamu sudah terekam di lensa mataku, membuatku mampu melihatmu meski sedang terpejam. Kamu terus sembunyi di gendang telingaku, hingga aku bisa mendengar kamu memanggil-manggil namaku di keheningan malam, bahkan di tengah keramaian.

Dan keramaian Pura Besakih hari ini sama sekali tak mampu mengusir suaramu yang mendengung-dengung di telingaku. Suaramu justru semakin keras, seolah memanggilku untuk kembali ke tempat ini setiap tahun. Setiap tahun, persis di tanggal kamu memasangkan cincin di jari manisku untuk pertama kalinya.

Sesampainya di dalam pura, aku langsung berlutut, memohon doa!

Tuhan, aku tak  hendak meminta Kau kembalikan suamiku, pun tak ingin kau kirim penggantinya. Cukuplah kau simpan ia dalam ingatanku…dan jangan ambil kembali. Kau boleh beri aku sakit apapun…tapi kalau aku boleh memohon, Tuhan…jangan pernah beri aku penyakit lupa…itu saja!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s