Sasirangan


Aku terayun-ayun di atas sebuah klotok di antara para pedagang di Pasar Terapung, Banjarmasin. Air sungai Barito yang kecoklatan tak henti bergerak. Riak kecilnya menghadirkan sensasi tersendiri bagi perutku yang tak biasa dibuai gelombang. Susah payah aku bertahan, menahan laju isi perut yang rasa-rasanya hendak keluar.

“Galuh…”

Seorang perempuan berbaju merah melambaikan tangan ke arahku. Caping besar di atas kepalanya hampir membuatku tak mengenali perempuan itu.

“Bu Ami!”

Aku melambaikan tanganku dengan semangat. Perempuan inilah yang membuatku rela terombang-ambing di atas klotok sepagi ini. Setidaknya perempuan ini akan memberiku sedikit petunjuk atas sebuah pertanyaan yang tersimpan di benakku. Pertanyaan yang membawaku terbang dari Jakarta sedari subuh tadi.

*

“Saya yakin ayah saya masih hidup, Bu. Seminggu yang lalu, ada yang mengirimkan kain Sasirangan ke rumah saya di Jakarta, tepat di hari ulang tahun saya. Motifnya sama persis dengan kain yang membungkus tubuh saya saat bayi dulu.”

Bu Ami tersenyum. Aku tahu ada yang ia sembunyikan dariku.

“Kain itu ibu yang kirim.”

“Atas pesanan siapa?”

“Bukan siapa-siapa. Ibu sendiri yang berniat memberikanmu kado.”

Aku tak percaya. Sebuah kado di hari ulang tahun tanpa nama, berupa kain Sasirangan bermotif sama persis dengan kain yang membebatku saat lahir. Pasti ini ada hubungannya dengan identitas orang tuaku.

“Saya tidak percaya, Bu…dan saya tidak akan pernah berhenti mencari.” Aku beranjak pergi, meninggalkan perempuan yang telah mengasuhku sejak kecil itu. Perempuan yang darinya aku percaya, bahwa keluarga itu ada.

*

Aku menatap Galuh dengan perasaan ngilu bercampur lega. Aku sudah lelah menyembunyikan semuanya dari gadis yang sudah kuanggap anak kandungku sendiri. Dua puluh tahun sudah aku berbohong pada banyak orang, termasuk Galuh sendiri, bahwa ia anak yang kutemukan di pasar. 

Aku tahu persis siapa ayahnya. Kain Sasirangan itu memang sengaja aku kirimkan ke Jakarta. Biarkan ia pelan-pelan menunjukkan siapa ayah kandung Galuh sebenarnya. 

Aku menatap baliho pemilihan gubernur yang terpancang di seberang jalan depan rumahku. Cagub unggulan bernomor urut 2, sedang tersenyum menatapku dengan angkuhnya. Aku tersenyum, balik menatapnya.

“Biarkan nanti semuanya tahu…” gumamku pelan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s