Genggaman Tangan


Aku memandangi bulir-bulir air yang meloncat riang dari balik bebatuan di dasar air terjun Tawangmangu. Suara gemuruh kumpulan air beradu dengan batu memberi sensasi tersendiri bagiku yang sedang duduk sendiri di pinggiran air terjun. Mataku tak lepas dari segerombolan bocah yang sedang asyik berenang di bawah air terjun. Demi melihat tawa riang bocah-bocah itu, bibirku tiba-tiba tersenyum.

Ahh, masih kuingat jelas genggaman tangan itu. Genggaman tangan yang hangat, menuntunku menyusuri setapak demi setapak jalan menuju air terjun Tawangmangu. Dulu, lima belas tahun lalu.

“Tangan Papa hangat!” kataku genit sambil menempelkan tangannya ke pipiku.

Dan sebuah pelukan yang lebih hangat menjadi hadiah terindahku darinya hari itu. Tepat di hari ulang tahunku yang ke-7.

*

Tak pernah kusangka, hari itu adalah ulang tahun terakhirku bersama papa. Sehari setelah kepulangan kami dari liburan di Tawangmangu, ada seorang pria lain menunggu kami di rumah, bersama mama. Waktu itu aku belum paham apa yang terjadi. Yang aku tahu, mama mengajakku pergi meninggalkan papa bersama pria itu. Dan sejak hari itu pula, mama memintaku memanggil pria itu dengan sebutan papa.

Aku hanya ingat kalimat mama saat terakhir memeluk papa, “Makasih untuk semua pengorbananmu, Mas.”

Saat itu, kalimat mama tidak berarti banyak untukku. Tapi sejak setahun lalu, setelah mama kudesak untuk menceritakan semuanya, aku baru paham apa makna dibalik kalimat sederhana itu. Aku bukan anak kandung papa!

*

“Putri!”

Seseorang tiba-tiba menepuk pundakku. Meski suaranya telah berubah, aku tahu itu suaranya.

“Papaaaaa…”

Kupeluk laki-laki berbadan kurus itu dengan erat. Penantianku selama lima belas tahun tak sia-sia. Pencarianku selama setahun terakhir akhirnya berbuah begitu manis.

Meski ia bukan papa kandungku, bagiku ialah papaku sesungguhnya. Meski ia dulu menikahi mama hanya untuk menutupi aib mama di depan keluarganya, aku tahu ia sungguh-sungguh mencintai mama. Cintanya kepada mama jauh lebih besar dibanding papa kandungku sendiri, yang bahkan tak punya nyali untuk sekedar menampakkan diri, ketika tahu mama telah mengandungku.

“Kembalilah pada papa kandungmu, Putri…dia lebih berhak dariku”

Papa melepas pelukanku, lalu menggenggam kedua tanganku erat.

“Bagi Putri, papa adalah papa kandung Putri. Tidak ada siapapun yang bisa menggantikannya.”

Air mata mengalir di pipi keriputnya. Kami pun kembali berpelukan. Biarlah air terjun Tawangmangu yang menjadi saksi, bahwa ikatan cinta kami tidak terpisahkan. Bahkan meski tanpa ikatan darah sekalipun.

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s