Aku Kembali


 

Mataku nanar menatap sekeliling. Jarum jam masih enggan beranjak dari angka 6. Suasana pagi yang cukup dingin di Surabaya kali ini membuatku cepat-cepat merapatkan jaket di tubuhku. Jaket kiriman suamiku (ah, mantan suami lebih tepatnya) sepuluh tahun yang lalu. Sekilas terbayang wajah teduh mantan suamiku, dan seketika hatiku ngilu. Rasanya masih tak rela menyebutnya ‘mantan suami.’ Ahh…cepat-cepat kutepis bayangannya, aku belum mau menangis sepagi ini.

Langit Surabaya seperti menyambut kepulanganku hari ini. Mendung menggayut di atas sana, semakin tebal. Pertanda rombongan gerimis sebentar lagi menghujam bumi yang kupijak. Sekali lagi kulihat sekeliling, sepi. Hanya ada satu-dua orang tampak berlari-lari kecil dengan earphone terpasang di telinga. Sepuluh tahun dibalik jeruji besi membuatku agak asing dengan kota kelahiranku sendiri.

Tempat inilah yang jadi saksi semua yang terjadi 10 tahun lalu. Seandainya setiap jengkal tanah dan dinding di tempat ini bisa bicara, aku yakin hakim tidak akan menjatuhkan hukuman padaku begitu lama.

*

Old Town Surabaya, Juni 1992

Mendung di langit Surabaya malam ini membuatku segera bergegas. Pekerjaan di kantor hari ini cukup menyita waktu, membuatku tidak bisa pulang lebih awal untuk menyiapkan makan malam bagi mas Rudi, suamiku sejak setahun yang lalu. Biasanya suamiku menjemputku sepulang kerja, tapi entah kenapa sejak satu jam yang lalu dia tidak bisa kuhubungi. Berbekal rasa khawatir yang semakin membuncah, aku memaksakan diri pulang.

Dan di sinilah aku sekarang. Berjalan sendirian menembus gelapnya malam, melewati bangunan-bangunan tua di daerah Old Town. Kalau kecepatan jalanku konstan, sekitar 15 menit lagi aku sampai di rumah. Sebentar lagi aku pulang, Mas. Aku bergumam sendirian. Tersenyum menatap sebungkus sate ayam yang masih hangat di tanganku. Sengaja aku beli untuk suamiku, menebus rasa bersalah karena malam ini aku tak bisa memasakkannya makan malam.

Langkahku terhenti ketika seorang pria tinggi besar tiba-tiba sudah berdiri persis di depanku. Dari bau nafasnya aku tahu ia sedang mabuk, dan dari caranya menatapku aku tahu apa yang diinginkannya dariku.

Yang aku tak tahu, malam itu ternyata jadi malam terakhir aku bisa menghirup udara bebas di tanah kelahiranku sendiri.

*

Hufttttt….. kuhembuskan nafasku kuat-kuat. Berat rasanya mengingat-ingat kejadian malam itu. Yang lebih berat adalah menerima kenyataan bahwa pada akhirnya akulah yang harus menanggung semua. Ibarat sudah jatuh tertimpa tangga, menjadi korban perkosaan tidak meringankan kesalahanku karena membunuh pelakunya.

Aku memang membunuhnya, pria biadab itu. Dengan pistol yang kutemukan di saku jaketnya, kuhabisi nyawanya. Tiga peluru di tiga titik. Kepala, perut, dan satu peluru terakhir bersarang di tanda kejantanannya.

Kesalahan terbesarku adalah, aku tak tahu menahu bahwa pria itu anak salah satu pejabat di kota ini. Yang akhirnya aku tahu, untuk apapun alasanku, aku tetap dianggap pembunuh. Hukuman penjara 10 tahun dianggap tepat untuk perbuatanku.

Hari ini aku bebas. Aku kembali. Bukan untuk balas dendam, pada siapapun yang berkonspirasi memberiku hukuman yang tak sebanding dengan kejadian yang kualami.  Pun pada suamiku yang telah meninggalkanku sejak peristiwa itu. Suamiku (iya, maksudku mantan suami) menikahi seorang perempuan tak kukenal, setahun setelah vonis dijatuhkan padaku. Belakangan aku baru tahu, perempuan itu pulalah yang menjadi alasan kenapa pada malam naas itu, mantan suamiku tidak menjemputku.

Ahh, sudahlah. Yang penting aku sudah kembali. Aku kembali, sekali lagi, bukan untuk balas dendam. Aku kembali untuk memperjuangkan keadilan, bagi siapapun perempuan yang mengalami kejadian serupa yang pernah kualami. Aku bangkit kembali…untuk calon bayiku yang hanya bertahan dua bulan di dalam rahimku. Ia dipaksa pergi, setelah aku dipukul berkali-kali oleh sipir penjara, di hari pertama aku menjadi seorang tahanan.

Aku kembali…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s