Biru, Jatuh Hati


“Biru…”

Pria itu mengucap sebuah nama lirih, sambil memandang birunya laut Pangandaran. Sore ini, untuk kesekian kalinya, pria kurus berambut ikal itu berdiri persis di bawah pohon kelapa di salah satu sisi pantai Pangandaran. Kalau tidak salah hitung, ini adalah kali keenam pria itu datang ke Pangandaran, persis di tanggal tsunami melanda pantai indah itu.

Aku tidak tahu persis cerita apa yang terjadi di balik setiap kedatangannya. Yang aku tahu, setiap kali ia datang, ia akan mengajukan pertanyaan yang sama kepada orang-orang yang ia temui di sepanjang pantai Pangandaran.

“Apakah kamu pernah melihat seorang perempuan cantik berbaju biru? Matanya biru… dan setiap kali ia tersenyum, siapapun pasti jatuh hati padanya.”

Tentu saja setiap orang yang ditanya menggeleng tanda tak tahu. Bahkan pria itu tak bisa menunjukkan sehelai foto sebagai petunjuk, atau bahkan sekedar nama untuk mempermudah orang mengenalinya.

Dan di setiap sore dalam kunjungannya ke Pangandaran, ia akan duduk di bawah sebuah pohon kelapa di pinggiran pantai, sambil berteriak kepada laut.

“Biruuuu, aku jatuh hati padamuuuu…”

Begitu seterusnya. Sampai esok hari, para nelayan akan menemukannya tertidur di bawah pohon kelapa. Dan saat ia terbangun, menu sarapan akan terhidang di sebelahnya. Bentuk kepedulian – atau rasa kasihan lebih tepatnya – warga kampung kepada pria malang itu.

Rasa penasaran membawaku mendekati pria itu di suatu senja, entah di kunjungannya yang keberapa. Dari ceritanya yang mengalir tak terbendung, aku mulai mengenal siapa si Biru yang ia tunggu-tunggu.

*

Pada hari itu, 17 Juli 2006, ia sedang berlibur bersama teman-teman kantornya di  pantai ini. Tak pernah ada firasat atau tanda-tanda bahwa gempa dan tsunami akan melanda Pangandaran kala itu. Namun beruntungnya ia, tim SAR berhasil menemukannya tak sadarkan diri di bawah sebuah pohon kelapa di pinggir pantai, tiga hari setelah musibah itu terjadi.

Seminggu setelah ia siuman, ia menyadari sesuatu, “Seorang gadis berpakaian biru telah menolongku..” demikian ia bertutur.

Maka untuk alasan balas budi dan berucap terima kasih, ia mencari gadis Biru itu. Yang belakangan aku tahu, bukan itu alasan kunjungannya setiap tahun ke Pangandaran. Ia tidak hanya ingin berbalas budi, ia telah jatuh hati.

*

Berbekal penasaran yang sama, sore ini aku kembali mendekati pria itu. Matahari hampir tenggelam saat kami mulai berbincang. Langit senja berwarna jingga, terpantul-pantul dari permukaan air laut yang beriak kecil. Angin pelan-pelan membelai kulit kami, menghadirkan sensasi dingin namun menghangatkan. Suasana sore yang tenang, setenang wajah pria kurus itu. Agak ganjil bagiku, tapi demi melihat ketenangan di wajahnya, entah kenapa aku sedikit merasa lega.

Aku meninggalkan pria itu tepat jam 8 malam, setelah aku bersikukuh mengajaknya mampir ke rumah, dan ia bersikukuh menolak. Sesaat sebelum aku beranjak, ia menyalamiku erat. Dan ia tersenyum. Ganjil. Tapi ia tersenyum!

*

Mungkin tak ada yang tahu, malam itu si pria kurus berambut ikal itu telah bertemu gadis Biru-nya. Gadis itu benar-benar datang. Dengan gaun panjangnya yang berwarna biru, ia merengkuh pria itu. Dituntunnya pria itu dengan anggun, menuju laut, tempat ia tadi datang.

Tak ada yang tahu, pun seorang nelayan yang melihat pria itu berjalan sendirian ke arah laut, bahwa penantiannya sudah berakhir. Hanya alam yang tahu, bahwa ia tidak bunuh diri, seperti yang diberitakan di berbagai media, atau jadi desas-desus warga kampung. Tidak, justru ia sekarang lebih hidup. Meski di alam yang berbeda.     

Advertisements

4 thoughts on “Biru, Jatuh Hati”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s