Sehangat Serabi Solo


“Kamu mau kemana, Cah Ayu?”

Aku meletakkan backpackku di bawah meja kasir, lalu duduk disamping perempuan ayu berbaju batik di belakang meja kasir tersebut. Hari ini aku berniat pamitan padanya, sahabatku sedari kecil.

“Kemanapun, sejauh apapun,” jawabku sekenanya.

Aku melihat sekeliling. Pasar Klewer selalu ramai setiap hari Minggu, apalagi hari libur nasional. Salah satu ikon kota kelahiranku ini memang selalu jadi incaran wisatawan, baik asing maupun lokal. Dan batik adalah salah satu barang yang dicari-cari banyak orang. Banyak pedagang kemudian mengambil peluang ini, termasuk sahabatku.

“Kamu ini lho, enam bulan menghilang ndak ada kabar, dateng-dateng cuma buat pamitan.”

Aku tersenyum getir. Kisah hidupku tidak layak untuk diceritakan, termasuk pada sahabatku ini. Cukuplah desas-desus yang beredar itu mewakili. Biar orang-orang mengambil kesimpulan sendiri atas apa yang terjadi.

“Aku ndak bisa ngasih apa-apa buat sangu, tapi ini tadi aku pesenin serabi Solo kesukaanmu, masih hangat.”

Mirna menyorongkan satu dus serabi, Serabi Notosuman, yang juga jadi incaran siapapun yang sedang mencari oleh-oleh khas Solo.

Aku menepis pemberian Mirna. Bahkan melihat bungkusnya saja aku tak sanggup. “Ndak usah Mir, makasih.”

*

“Bu, ini apa?” Aku melihat ke arah sebuah bungkusan yang dipegang ibuku.

“Ini serabi, Nduk…Serabi Solo. Ayo dicoba, enak lho…mumpung masih hangat.”

Aku mengambil satu bungkus serabi dari tangan ibuku. Benar kata ibuku, serabi itu masih hangat. Aku menempelkan serabi yang terbungkus daun pisang itu ke pipiku.

“Lah, kok ditaruh situ serabinya?” Ibuku tersenyum geli melihat tingkahku.

Sambil nyengir aku berkata, “Hihi…Serabinya hangat, rasanya kayak lagi dicium Ibu.”

Ibu tergelak, lantas memelukku. Diciumnya pipiku berulang kali.

“Lebih hangat mana, ciuman ibu atau serabi itu?”

Aku tersenyum. Ciuman ibuku memang tiada bandingnya, bahkan hangatnya serabi Solo tidak mampu mengalahkannya.

Sejak hari itu, di usiaku yang ke-5, aku resmi menjadikan serabi Solo sebagai makanan favoritku.

*

Ahh, sial. Setiap melihat serabi, aku ingat perempuan itu.

“Kamu kenapa, Sa? Kamu banyak berubah…dan kamu bahkan tidak pernah cerita sedikitpun padaku.”

Aku menatap Mirna sekuat yang aku bisa. Dan bahkan di depan Mirna mulutku tetap tak sanggup mengurai cerita,

“Aku ndak sanggup cerita, Mir. Lagipula, kamu pasti sudah dengar ceritanya dari desas-desus yang beredar.”

Aku segera mengambil backpackku dan mendukungnya di punggung. Semakin lama di sini hanya akan membuat perasaanku semakin getir, terutama dengan hadirnya serabi itu. Ahh..

“Aku pamit, Mir. Maaf…”

Aku memeluk Mirna yang mulai meneteskan air matanya satu-satu. Bergegas aku meninggalkan Mirna, bergegas aku meninggalkan semua kenangan di kota kelahiranku ini.

“Jadi benar yang dibilang orang-orang… Hardi nikah sama ibumu?” tiba-tiba Mirna berteriak, suaranya bergetar.

Langkahku terhenti sejenak. Ada palu yang memukul hatiku keras, sakit!

“Iya, Mir…di tanggal yang sama ia berjanji menikahiku. Dulu…”

Aku bergegas, bahkan setengah berlari aku meninggalkan Mirna dan toko batiknya. Masih kudengar isak tangis Mirna, berbarengan dengan isak tangis hatiku sendiri.

Advertisements

11 thoughts on “Sehangat Serabi Solo”

    1. Huahaha..ngarep.com nih ceritanya :p

      Nih oom ta kasih serabi aja, masih hangat loh 😉 *sodorin serabi, sama bonnya* 😀

      1. Bisa dikirim/dianter langsung ke perpus kami, atau bisa kami ambil bukunya….

        Kontak ke henpon aja mas biar gampang janjiannya kalau mau kami jemput bukunya 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s