Sepanjang Jalan Braga


Jalan Braga

Aku membidikkan kameraku pada seorang anak kecil yang sedang berdiri persis di depan sebuah lukisan, di salah satu sudut jalan Braga. Lukisan seorang perempuan paruh baya yang sedang menggandeng tangan mungil seorang bocah bermata bulat. Ahh..lukisan itu mengingatkanku pada seseorang. Seseorang yang menjadi satu-satunya alasan kenapa aku ada di Jalan Braga pagi ini.

“Sampai kapan kamu akan terus mencari, Sam?”

Untuk kesekian kali pertanyaan itu diucapkan Soni, satu-satunya sahabat yang setia menemaniku dalam pencarian ini.

“Sampai ketemu!”

“Kamu bener-bener gila… kenapa tidak sekalian sewa detektif, atau tim Termehek-mehek tuh, biar sekalian masuk tipi?!”

“Hahahahaha.”

Aku tergelak mendengar kata-kata Soni, dan melihat ekspresinya yang bersungut-sungut kesal. Sudah enam bulan Soni ikut dalam misi pencarianku, yang selalu ia sebut “Mission Very-Impossible.” Betapa tidak, kami tidak punya petunjuk apapun, tidak juga punya kenalan yang dapat membantu pencarian kami. Hanya berbekal sebuah nama “Asri”, kami menyusuri setiap sudut kota yang kami anggap MUNGKIN akan mempertemukan kami dengannya. Ya…kemungkinan-kemungkinan itulah yang menjadi bekal kami satu-satunya.

*

Boutique Antique: Tempat Meleburnya Ribuan Kenangan

Aku tersenyum membaca plakat nama sebuah toko di depanku. Ini adalah toko barang antik ketiga yang kutemui di Braga, sekaligus toko ke 70 yang kutemui sejak hari pertama aku memulai pencarian ini. Dan setiap masuk ke sebuah toko barang antik, Soni akan melemparkan pertanyaan yang sama, “Ke tempat kayak gini lagi?? Oh man…”

Aku melemparkan pandang ke setiap barang antik yang dipajang di dalam toko. Toko ini sepi, bahkan tidak tampak satu orangpun penjaga. Aneh.

Setelah mengambil beberapa gambar, aku berniat meninggalkan toko itu. Langkahku terhenti saat sudut mataku menangkap sebuah benda yang tertempel di dinding, di atas meja kasir.

Sebuah pisau belati kecil dalam bingkai kaca, di atasnya tertulis ‘NOT FOR SALE.’ Aku mendekati benda itu, berjinjit dan mendongakkan kepala untuk mengamati benda itu lebih jeli. Dan tepat di atas gagang kecilnya aku menemukan sebuah tulisan jawa kuno yang berbunyi “Asri”!

“Nggak ada siapa-siapa di sini, Sam…kamu nggak akan nemu yang kamu cari.”

“Sudah. Aku sudah menemukannya.”

Aku menatap Soni, nyengir, sambil menunjuk belati itu.

What the… Owh, God damned!!” Soni melayangkan tinjunya padaku. “Jadi kamu keliling Indonesia, keluar masuk toko barang antik, cuma buat nyari beginian? Holly shit…kupikir ceritanya bakal romantis.”

Aku masih nyengir menatap Soni, yang langsung keluar toko dengan sumpah serapahnya. Well, sesuatu yang bagi kita sangat berharga, terkadang hanya jadi sampah di mata orang lain, pun demikian sebaliknya.

Barangkali tak ada yang tahu, belati ini adalah barang berharga bagi keluargaku. Sesaat sebelum meninggal, ibuku memberikan sebuah foto usang.

“Le, cah bagus, tolong cari belati ini…belati ini adalah benda keramat pemberian Ibunda Permaisuri. Dulu, saat aku dan bapakmu masih jadi abdi dalem keraton, beliau memberikan belati ini sebagai kenang-kenangan buat keluarga kita. Belati ini pula yang jadi pemotong tali pusarmu. Carilah…dan tanamkan di makam simbokmu ini. Barangkali dengan begitu, simbok bisa merasa dekat dengan bapakmu.”

Hanya foto itu yang diwariskan ibu kepadaku, beserta kenangan akan sosok ayah yang hilang. Kekacauan politik di dalam keraton sepuluh tahun lalu menyisakan duka bagi keluarga abdi dalem yang taat pada sang Raja. Duka atas hilangnya sosok ayah, penopang keluarga.

Aku berjinjit sekali lagi untuk mengambil belati itu. Saat tanganku berhasil meraih ujung bingkainya, seorang bapak tua muncul dari balik pintu.

“Benda itu ndak dijual…”

Aku menoleh, dan seketika lututku lemas.

“Bapak….???”

Gambar diambil di sini

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s