Secarik Kertas


Jay menatap secarik kertas di tangannya. Senyumnya mengembang. Sebuah surat cinta untuk teman sebangkunya dulu waktu SMA, yang tak pernah sampai ke tangan penerimanya. Surat cinta di secarik kertas berwarna merah muda, bergambar hati dengan tulisan ‘Love’ di atasnya. Surat cinta yang kisahnya berakhir di sebuah kardus bekas mie instan, dan teronggok di bawah dipan, tempat Jay tidur atau melamun sepanjang malam. Lima tahun sudah kertas itu tersimpan di sana. Lima tahun sudah Jay menghimpun keberanian untuk mengantarkan surat itu pada sebuah nama, yang tertulis di sudut kanan atas kertas itu. Tepat di bawah gambar hati, dengan tulisan ‘Love’ di atasnya.

“Cepetan Jay, kertasnya sudah ditunggu tukang loak nih.” Suara seorang perempuan paruh baya membuyarkan angan Jay. “

Iya, Ma.” Untuk terakhir kali, Jay menatap kertas itu. Pelan ia masukkan kembali kertas itu ke dalam kardus, tepat di tumpukan paling atas. Dan lima tahun perjuangan Jay, hanya berakhir di tangan seorang ibu berbadan gempal, tukang loak kertas bekas.

***

“Maaaaa….adek main cinta-cintaan nih.” Lala berteriak histeris memegangi secarik kertas. Secarik kertas berwarna merah muda, bergambar hati dengan tulisan ‘Love’ di atasnya.

Seorang perempuan berdaster batik warna merah, tergopoh-gopoh mendatangi Lala, yang sedang berdiri di depan kamar adik laki-lakinya. Perempuan itu menatap secarik kertas di tangannya dengan tatapan nanar. Dibacanya kata demi kata, badannya tegak bergetar. Cepat ia berlari sambil menggenggam secarik kertas itu erat. Sesaat kemudian ia telah berdiri menggenggam gagang telepon di sudut ruang keluarga.

“Papaaaaa….” Jeritnya tertahan.

Adik laki-laki Lala itu kini sedang berdiri bangga di depan teman-teman sekelasnya, memamerkan hasil prakaryanya berupa topeng yang ia buat dari kertas bekas. Kertas bekas seharga lima ribu perak, yang ia beli dari ibu-ibu gempal tukang loak. Topeng itu keras mengkilap, berwarna hitam tegas, dan ia beri judul “Topeng Baja Hitam.” Tepuk tangan gegap gempita dari teman-temannya membuat ia bernafas lega.

Untung kertas pink tadi tak jadi kumasukkan dalam adonan kertas, jadi warnanya bisa hitam sempurna. Ujarnya pelan dalam hati. Sepelan cicit burung yang hinggap di atas papan nama sekolahnya. Papan nama dari kayu, bertuliskan huruf-huruf sederhana: “SD Harapan 2.”

***

Bu Guru Uci termenung di balik mejanya. Ruang guru sudah sepi, semua guru telah pulang. Setelah mereka lelah berdebat, tentang siapa yang harus bertanggung jawab atas kasus yang menimpa salah satu murid mereka. Siang tadi, sepasang suami-istri datang tergopoh-gopoh ke sekolah. Membawa secarik kertas bertulisan tangan acak-acakan, khas anak sekolah dasar. Namun isinya sungguh tak pantas ditulis tangan mungil anak seusianya. Kertas itu berwarna merah muda, bergambar hati dengan tulisan ‘Love’ di atasnya.

Bu Guru Uci tertunduk sedih. Sebagai guru pelajaran Bahasa Indonesia, ia adalah orang yang paling tepat untuk jadi sasaran lemparan tanggung jawab. Ia yang paling mungkin memberikan pelajaran menulis surat. Dan memang demikian kenyataannya. Ia pernah memberikan pelajaran menulis surat pada anak didiknya di kelas 5. Surat untuk sahabat pena, bukan untuk pujaan jiwa.

“Akan kubuktikan kalau aku tidak bersalah,” Ujar Bu Guru Uci, sambil mengepalkan tangannya kuat-kuat. Tekadnya bulat sudah. Ia akan menemui sahabat lamanya – seorang sarjana di bidang kelistrikan – yang kini bekerja di toko alat elektronik, di bagian reparasi. Orang yang selama ini ia anggap jenius. Orang yang ia yakini, bisa membantunya menemukan siapa yang harus bertanggung jawab untuk kasus surat cinta ini.

“Orang yang menulis ini sepertinya sedang dalam tekanan. Ini terlihat dari garis tulisannya yang terlalu tegas…dan amburadul.” Jono, sang sarjana kelistrikan, mengamati kertas di tangannya dengan kaca pembesar. Pelan ia mendekatkan lembar kertas itu ke hidungnya. “Humph… bau kertas tua. Mungkin ia sudah lama merencanakan semua ini.” Jono mengernyitkan keningnya kuat-kuat. Menandakan ia sedang berpikir keras. Di sebelahnya, Bu Guru Uci harap-harap cemas. Mulutnya komat-kamit membaca doa.

Dan sore itu, dia pulang dengan membawa misteri yang belum terpecahkan. Bahkan oleh Jono sekalipun, sang jenius, Sarjana Kelistrikan.

***

“Bu, kertas Uci yang di atas meja kemana ya? Warnanya pink, ada gambar hatinya,” Bu Guru sibuk membolak-balik majalah lawas di atas meja ruang tamu. Ia ingat betul, sebelum beranjak tidur, ia membaca surat itu di ruang tamu.

“Nggak tau, nduk. Mungkin tadi dipake Mak Ijah buat alas nampan.” Seorang perempuan berkebaya, dengan rambut digelung rapi, menjawab dari ruang sebelah. Ia tampak sibuk menata kue-kue di atas nampan.

Mak Ijah, saat itu sedang berjalan ke warung di ujung gang perumahan. Mengantarkan kue dagangan majikannya. Kue lapis berwarna-warni, ditata di atas nampan. Secarik kertas berwarna pink nampak tersembul malu di ujung nampan, tertutup tumpukan kue lapis warna-warni.

“Bawa apa Mak?” Seorang ibu muda berteriak keras dari balik pagar sebuah rumah beraksen Belanda. Rumah tua yang masih nampak bagus penampilannya.

“Kue lapis, Neng. Mau dibawa ke warung ujung gang.” Teriak Mak Ijah tak kalah kerasnya. Ia berhenti persis di depan pintu pagar rumah itu.

“Sini saya beli saja semuanya. Kebetulan, hari ini ada pengajian di rumah saya.” Transaksi jual-beli kue lapis warna-warni itu pun terjadi dalam hitungan menit saja. Tak ada tawar-menawar, tak ada ragu soal kualitas barang dagangan, tak ada jaminan verbal bahwa makanan itu bebas pengawet atau semacamnya. Bahkan Mak Ijah tak perlu ngecap mempersuasi calon pembelinya. Sebuah bentuk customer trust tingkat wahid, hasil dari perjuangan berpuluh-puluh tahun Ibunda Guru Uci, untuk menghasilkan barang dagangan dengan kualitas yang tak pernah terbantahkan.

Dan dalam hitungan menit, semua kue lapis warna-warni itu telah berpindah tangan, dibungkus secarik kertas berwarna pink. Kertas itu bergambar hati, dengan tulisan ‘Love’ di atasnya.

***

“Habis borong apa, Kak?” Kintaka menghampiri kakak perempuannya yang baru masuk dari teras rumah. Kedua tangan kakaknya tampak kerepotan membawa sebuah bungkusan.

“Kue lapisnya Ibunda Guru, buat pengajian nanti siang.” Jawab sang kakak sambil membawa bungkusan itu ke ruang makan. Di belakangnya, Kinta mengekor. Wangi pandan yang meruap dari kue lapis di tangan kakaknya begitu menggoda. Pelan, sang kakak perempuan meletakkan bungkusan kue itu di atas piring bundar.

Kintaka diam mematung. Bukan karna wangi ruapan daun pandan, atau cantiknya warna-warni lapisan kue. Tapi karna ia membaca sebuah nama, yang tertulis di kertas pembungkus kue itu.

Teruntuk: Kintaka

Wangi semerbak bunga-bunga menghiasi taman hatiku. Harmoni simfoni alam terdengar merdu, bagai orkestra ternama memainkan sebuah lagu. Indah, sangat indah. Begitulah hidupku terasa setelah mengenalmu. Aku bukan pujangga yang setiap saat bisa menggubahkanmu sebuah puisi. Aku bukan penyanyi yang bisa melantunkanmu lagu merdu. Bukan pula seorang Mugal Sah Jehan yang bisa menghadiahkan Taj Mahal untukmu. Aku hanyalah seorang lelaki yang terus bertanya malu, “Maukah kamu jadi pacarku?”

P.S: Kalau jawabanmu ‘iya’, kutunggu kamu di perpustakaan, siang ini sepulang sekolah.

Tertanda, Teman sebangkumu

 

Tawa Kinta seketika berderai, seiring air matanya yang tumpah ke lantai. Bukan karena isi surat itu yang lugu, atau tulisan pengirimnya yang berantakan seperti cakar anak ayam. Ia tertawa, karena penantian panjangnya selama lima tahun, hanya terjawab oleh secarik kertas lusuh berwarna merah muda. Kertas lusuh berminyak yang menebarkan wangi pandan. Secarik kertas berwarna merah muda, yang pernah tanpa sengaja ia lihat di laci meja teman sebangkunya. Hari itu, lima tahun yang lalu.

Tapi Kinta tersenyum penuh kelegaan. Dipegangnya kertas itu di dada. “Setidaknya kesempatan itu masih ada.” Ucap Kinta dalam hati.

***

Jay menatap lekat sebuah potongan gambar di tangannya. Gambar teman sebangkunya saat SMA, yang ia gunting paksa dari album kenang-kenangan sekolah. Sejak lima tahun terakhir, potongan gambar itu setia menemani Jay kemana-mana. Diam di dalam sebuah dompet kulit berwarna hitam, dibalik uang kertas lawas jaman kemerdekaan. Jay mencium potongan gambar itu sambil terpejam. Ada haru yang menguak rindu. Diletakkannya potongan gambar itu di atas bangku kosong di sebelahnya. Sedetik kemudian, suara seorang perempuan yang terdengar dari pengeras suara memaksa Jay beranjak dari tempat duduknya. Para penumpang pesawat yang hendak ke Paris dan tidak ingin ketinggalan pesawat diharap segera mengantri di Jalur 7. Demikian kurang lebih makna pesan perempuan bersuara sengau itu.

Jay berdiri, mematung sebentar, lalu beranjak pergi.

“Kesempatan itu sudah tidak ada.” Gumamnya lirih.  

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s