Pagi Kuning Keemasan


Pulau Lengkuas, Belitung.

Untuk ketiga kalinya kita akan bertemu di tempat eksotik ini. Pertama kali kamu menginjakkan kaki di pasir putih pantai ini, kamu menangis sambil memelukku. Bukan karena sedih, tapi karena rasa syukur dan takjub akan kreasi Tuhan yang begitu indah. Betapa tidak? Pasir putih yang terhampar membuat kami serasa ingin berguling-guling seharian di atasnya, pun juga birunya air laut yang menggoda kami untuk membenamkan diri di dalamnya. Pulau minim penghuni ini benar-benar memberi ketenangan bagi kami yang ingin lepas dari hiruk-pikuk kehidupan Jakarta. Dan mercusuar tua di pulau ini, benar-benar membuat kami jatuh cinta. Mercusuar yang dibangun oleh Belanda pada tahun 1882 ini setara dengan bangunan setinggi 12 lantai. Melihat keindahan pulau dari ketinggian seperti itu benar-benar memberi sensasi menakjubkan. Apalagi bagi kami yang setiap hari hanya bisa melihat tata kota yang sangat buruk dengan keruwetan lalu lintasnya dari ruang kantor kami, persis dari lantai 12.

“Gila, Gue jatuh cinta banget ama pulau ini.” Pagi itu mentari benar-benar bersahabat. Sinarnya yang hangat memeluk kami erat.

“Lo liat deh, air laut di pulau ini benar-benar bening, saking beningnya sampai kita bisa lihat langsung seluruh isinya. Ini baru namanya laut…” kepalamu mendongak ke atas, kedua matamu terpejam. “Perpaduan angin dan sinar mentari pagi benar-benar keren ya!”

Aku terdiam. Sejenak kulayangkan pandang ke sekeliling. Ya, pagi ini benar-benar indah. Sinar mentari yang bersinar sempurna, menghasilkan pagi kuning keemasan yang menakjubkan. Seperti kamu.

*

“Dewi.” Ucapmu mantap sambil tersenyum lebar. Hari itu pertama kali aku mengenalmu, dan aku langsung jatuh cinta.

Kamu…perempuan paling cantik yang pernah aku kenal. Senyum selalu terkembang di bibirmu yang ranum, membuatku ingin sesekali mengecupnya. Kulitmu yang putih sangat kontras dengan rambut panjang hitammu. Kesempurnaanmu benar-benar bisa membuatku panas dingin kala berdekatan denganmu.

Aku tahu, memilikimu adalah hal tersulit yang akan aku hadapi di dunia ini. Tapi demi perempuan sehebat kamu, aku rela melakukan apapun. Termasuk menemanimu travelling keliling Indonesia, menelusur pulau-pulau tak berpenghuni. Ahh..seandainya kamu tahu, sejak kecil aku benci bepergian. For me, the best ever place on earth is my room. My very personal room. Aku bahkan benci jika harus bertemu orang yang tak kukenal. Aku benci semua orang di dunia ini, kecuali kamu. You are..the one-and-only exception.

*

“Hoiiiii…ngelamun aja! Haha.” Sebuah tepukan cukup keras di pundakku membuat tubuhku tersentak. Aku baru saja hendak berlari memelukmu saat tiba-tiba mataku melihat seseorang berdiri di sebelahmu. Seorang….pria.

“Eh, kenalin, ini Sean….my fiance. Sori, Gue nggak bilang kalo dia ikut…”

Hatiku beku. Hancur sudah semua rencana indahku untuk liburan berdua bersama Dewi kali ini. Damn!

“Cowok Lo kok nggak diajak?” Pria itu bersuara.

Bukkkk!!

Aku nggak peduli dengan teriakan Dewi di depanku. Kuraih ranselku…dan segera berlalu.

Aku berteriak sekencang-kencangnya dalam hati.

Gue nggak punya cowok. Gue nggak punya siapa-siapa. Gue cuma punya Dewi, yang nggak mungkin  gue miliki. Ya, gue perempuan. So what??

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s