Menunggu Lampu Hijau


Segerombolan awan putih bercengkrama di bawah naungan langit Bukittinggi siang ini. Jarum jam Gadang di atas sana menunjukkan angka 11.15. Pantas keringat mulai menetes satu-satu dibalik kerah polo shirtku.

Aku menatap Jam Gadang yang berdiri kokoh tak lebih dari 10 meter di depanku. Hari ini, 20 tahun yang lalu. Masih kuingat teriakan nyaringmu kala itu, “Kita pasti bertemu lagi nanti. Pasti!” Dan lampu hijau di sudut jalan itu membawaku pergi menjauh darimu.

Sepuluh hari yang sama, tahun yang berbeda. Aku selalu berdiri tepat di tempatmu dulu berdiri, berharap janjimu terbukti. Di sudut jalan ini, di bawah tiang lampu tiga warna, tak jauh dari Menara Jam Gadang kebanggaan kota kelahiranku tercinta. Ini kali kesebelas aku hadir di tempat ini lagi, berharap sosok ceriamu tiba-tiba hadir. Entah apa yang akan aku ucapkan jika aku melihatmu nanti. “Selamat ulang tahun,” barangkali? Atau mungkin…kenapa kamu tak pernah muncul lagi di sini? Kemana saja kamu selama ini?

Ahh..sejujurnya terlalu banyak kata yang ingin kuucapkan, terlalu banyak tanya yang ingin kusampaikan. Ada bahagia, dan lebih banyak sedih, yang ingin kubagi. Ada pesan yang harus kusampaikan, dan barangkali kamupun menyimpan pesan yang sama.

“Belum ketemu juga Mas yang dicari?” Seorang pedagang asongan tiba-tiba sudah berdiri persis di sebelahku. Kami menatap ke arah yang sama, Jam Gadang. Seolah-olah ada magnet yang menarik pandangan mata kami ke arah gerak jarum jam besar di atas sana. Entahlah, mungkin uda di sebelahku ini juga sama-sama ingin memutar kembali waktu ke masa lalu.

“Belum, Uda.” Aku tersenyum, menolehkan kepalaku sebentar ke arah pedagang asongan berwajah Jawa itu.

*

Kami saling menyapa pertama kali di kedatanganku yang kelima di tempat ini. Ada kesamaan yang membawa kami merasa dekat satu sama lain, dan membuat kami sama-sama nyaman berdiri bersebelahan dalam diam, sambil menatap jarum jam besar di atas menara jam Gadang.

“Saya mencari istri saya di sini, Mas.” Ujarnya di hari pertama kami saling kenal. “Dulu dia dibawa kesini sama pamannya, katanya mau dikasih kerjaan di Malaysia. Waktu itu saya masih di Kalimantan, jadi kuli tambang. Saya belum pernah ke Bukittinggi Mas, bahkan gambarnya di peta saya ndak tahu. Seminggu setelah berangkat, tiba-tiba dia ndak bisa dihubungi.” Pria berkulit coklat itu menatapku gamang, ada bulir luka tertahan di sudut matanya.

*

Aku menatap sekeliling, mencari objek apapun yang bisa aku jadikan bahan cerita. Aku sedang tak ingin mendengar cerita sedih hari ini, untuk kesekian kalinya. “Hari ini ramai sekali ada apa, Uda? Biasanya tak ada badut di sekitar sini.”

Aku menatap tiga badut yang sedang menghibur anak-anak di dekat Menara Jam Gadang. Ada satu badut berkostum Winnie the Pooh yang dari tadi hanya diam berdiri. Menatapku? Ah, kostum itu…mengingatkanku padamu.

“Sudah setahun belakangan ini tempat ini jadi ramai, Mas. Badut-badut itu selalu ada tiap hari Minggu atau hari-hari libur.”

Aku tidak begitu mengindahkan penjelasan pedagang asongan di sebelahku. Mataku menatap langkah si badut Winnie the Pooh itu yang semakin mendekatiku. Kami saling tatap, meski matanya tersembunyi dalam kostum itu, tapi aku tahu ia sedang menatapku.

Saat jarak kami tinggal selangkah. Ia terdiam sebentar, masih menatapku. Perlahan ia buka kepala Winnie The Pooh itu, menghadirkan sebuah wajah yang aku kenal. Pedagang asongan itu menatap kami berdua bergantian. Mungkin ia heran melihat dua wajah yang persis sama saling berhadap-hadapan.

“Mama meninggal dua tahun lalu, Uda.” Dan dari sekian banyak kalimat yang kusimpan sejak sepuluh tahun lalu, kalimat ini yang justru keluar.

“Dan Papa menyusul sebulan yang lalu,” Pria yang kupanggil Uda itu memelukku erat, kami tergugu dalam pelukan. Tepat di bawah tiang lampu tiga warna, tak jauh dari Menara Jam Gadang yang kali ini menatap kami lekat-lekat.

Lampu menyala hijau. Puluhan kendaraan mulai bergerak, dan aku memilih berhenti. Aku tidak lagi menunggu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s