Belajar dari Musibah


Dua hari ini adalah dua hari yang menguras emosi, pikir, dan energi fisik. Ceritanya kemarin sore saya dan salah satu teman kantor saya lembur berdua. Selesai sholat Maghrib, kami berdua merasa ada getaran cukup keras di ruangan kantor, yang membuat kami memutuskan untuk bergegas pulang. Tidak ada pertanda apapun, kami beranjak pulang sambil bercanda dan tertawa seperti hari-hari sebelumnya.

Di sebuah tikungan menuju kos saya (tepatnya di tikungan depan Toko Gunung Agung, Kwitang), teman saya menghentikan motornya untuk menunggu jalanan sepi agar kami bisa menyeberang. Saya kebetulan pakai rok hari itu, jadi posisi saya duduk menyamping, membonceng di belakang. Saat kami sedang bercakap di atas motor sambil menunggu waktu menyeberang, tiba-tiba dari arah kiri motor kami (which is persis dari arah depan saya -___-) meluncurlah sepeda motor yang dikendarai seorang remaja tanggung dengan sangat kencang. Hanya dalam hitungan detik, kami bertiga sudah geleparan di aspal.

Kebetulan saya dan teman saya ini sama-sama anak Psikologi, jadi entah kenapa kami langsung kepikiran untuk memberikan shock therapy pada remaja tanggung itu agar dia sadar bahwa tindakannya nyebrang nggak hati-hati dan ngebut itu salah. Jadilah kita ‘ngerjain’ remaja itu, ngomelin dia habis2an….

Beberapa saat setelah suasana mulai sepi, teman saya tiba-tiba tersadar “Tas Gue mana?”

Dan saya pun ikut tersadar, “Hah…tasmu mana Mbak?”

Dan sejak detik itu, tas teman saya resmi hilang. Dan saya yang justru terkena shock therapy begitu tahu isi tas teman saya tersebut: dompet berisi semua kartu identitas dia (KTP, Sim A, Sim C, STNK), semua atm dan kartu kredit, beserta semua buku tabungan, passport…BB…dan 2 buah hardisk external masing-masing 1 terra.

Kebetulan teman saya ini mau training di Aussie pertengahan bulan ini, dan dia berniat mengurus visa keesokan harinya, makanya semua dokumen pentingnya dia bawa. Mengingat ini, perut saya tetiba serasa ditonjok… membayangkan dia gagal ke Aussie membuat saya ikut-ikutan miris.

Setelah beberapa saat dalam kepanikan, kami memutuskan untuk melaporkan kehilangan ini ke kantor polisi terdekat. Dibawalah kami oleh Oom si remaja tanggung yang menabrak kami ke Polsek stasiun Gambir. Sesampainya di Polsek tersebut, kami tidak menemukan satupun pria berseragam polisi. Yang kami temui adalah segerombolan pria-pria berkaos butut yang sedang main catur di belakang kantor. Sesuai arahan salah satu pria yang duduk di gerombolan itu, polisi yang akan kami temui adalah seorang bapak-bapak tambun berkaos putih. Bapak itu sedang sibuk main catur, sambil mulutnya tak henti mengunyah. Tak sedetikpun kepalanya menoleh ke arah kami, hingga saya dengan jengkel mendekatkan kepala ke arah bapak itu, sambil bertanya, “Kami bisa melapor kapan, Pak?”

Bapak itu menjawab dengan sangat menjengkelkan, “Santai mbak…ni lagi makan”, lagi2 tanpa menolehkan kepalanya dari papan catur.

Beberapa saat menunggu, akhirnya bapak itu beranjak masuk ke kantor, menuju sebuah mesin ketik tua yang dikerubungi nyamuk. Sumpah, saya belum pernah melihat gerombolan nyamuk sebanyak itu. Waktu saya iseng nanya, “Kok nyamuknya banyak banget sih, Pak?”, sambil mengibas-ngibaskan tangan… Bapak tambun menjawab, “Kalau nggak mau digigit nyamuk, makan nyamuk yang besar..pasti nyamuknya nggak berani gigit..Saya juga suka gitu kalau nggak mau digigit nyamuk.”

Hah,,,sumpah saya melongo dibuatnya. -___-

Eniwei, perjuangan berat kami menangkis ribuan nyamuk di sudut stasiun Gambir itu hanya berujung pada kalimat, “Wah, kalau itu nggak bisa diproses di sini..silahkan ke Polsek Sawah Besar.”

Dan itupun masih ditambah embel-embel si bapak tambun, “Kami bukannya mau melempar-lempar mbak. Polisi emang selalu dibenci masyarakat…tapi kalau lagi pada butuh begini pasti pada datang. Tolong ya ini biar pada nggak benci terus sama polisi….”

Rasanya saya pengin teriak kencang-kencang di depan bapak itu, “Menurut Loooooooooo????!!!!”

Akhirnya kami berpindah ke Polsek Sawah Besar. Untunglah suasana di Polsek ini lebih manusiawi. Pelayanannya lebih ramah…meski kami sempat mau dilempar lagi ke kantor polisi yang lain, tapi akhirnya dengan beberapa penjelasan…petugas jaganya mau membuatkan kami Surat Kehilangan. Petugas jaganya sempat emosi saat teman saya tak ingat alamat lengkap rumahnya sendiri, pun alamat kosnya…hoho.

Di Polsek ini, teman saya juga diperbolehkan meminjam telpon untuk menghubungi bank agar memblokir kartu-kartunya. Ada satu Bank Negara (milik Indonesia) yang prosedur pemblokiran kartunya cukup menggelikan. Teman saya sudah menceritakan bahwa ia kehilangan semua kartu identitasnya, termasuk KTP, dan ia berniat memblokir kartunya gegara kehilangan itu. Operator Bank Negara itu keukeuh minta teman saya menyebutkan nomor KTP (Tolong tunjuk tangan bagi siapapun yang baca tulisan ini dan hapal nomor KTP-nya di luar kepala!). Saya berani bertaruh, operator itu juga tidak hapal nomor KTP-nya sendiri.

Akhirnya setelah berdebat cukup lama, operator tersebut menginfokan bahwa kartu teman saya akan diblokir sementara. Which is artinya 2 hari setelah pelaporan akan diaktifkan lagi kalau teman saya tetap tidak bisa menunjukkan KTP ke bank yang bersangkutan. Mmm…saya curiga operator itu nggak paham bahwa KTP hilang itu artinya: kita nggak bisa nunjukin KTP ke bank, dan nggak mungkin ngurus penggantian KTP selama 2 hari sementara teman saya berasal dari Medan!!!

Sampai tulisan ini dibuat, urusan per-KTP-an itu belum ada titik temunya. Si Bank Negara itu tetap minta KTP agar teman saya bisa mengurus kartu dan tabungannya…..*cape deh*

Eniwei, sore tadi selepas maghrib, kami kembali menuju Polsek Sawah Besar untuk mengurus STNK. Di sana kami disambut baik seorang Bapak tua berkacamata, yang langsung menuju komputer tuanya untuk membuatkan Surat Kehilangan…yang berujung pada kalimat, “Ini tidak bisa diproses di sini Mbak…silahkan ke……”

Yah..paling tidak kami bisa buat surat kehilangan hari ini. Teman saya pun menceritakan banyak hal tentang kesulitannya mengurus berkas-berkas karena KTPnya yang berasal dari Medan. Teman saya juga bercerita kalau motornya berplat Jakarta karna dulu waktu ngurus STNK pakai KTP sementara Jakarta. Bapak tua mendengarkan sambil manggut-manggut..beberapa saat kemudian, dia mengamati copy BPKB teman saya dan bertanya dengan kening berkerut, “Loh…ini kok bisa ya diurus pakai KTP sementara? kok bisa ya?”

Errrrr….*garuk2aspal* (kenapa tadi manggut-manggut dan nggak komen pak, waktu teman saya cerita? -__-)

Dan…beberapa menit kemudian dia bertanya lagi, “Ini cara hapusnya gimana ya? pake apa?”

Tuhan, tolong…T.T

Seorang petugas yang pekerjaan sehari-seharinya bikin surat laporan, nggak tahu caranya menghapus tulisan…nggak tahu tombol ‘Delete’ adanya di sebelah mana -___- *elusdada*

Pfiuh…ada banyak pelajaran berharga yang saya dapatkan dua hari belakangan ini:

Pertama, jika kita mengalami musibah…jangan langsung panik apalagi emosi. Jangan dulu peduli apakah badan kita masih utuh tidak, masih bisa nafas atau tidak. Tapiiii,,,cek dulu barang2 bawaan Anda, jangan sampai berpindah tangan! *miris

Kedua, jangan hanya hapalkan pin BB, atau nomor HP…hapalkan nomor KTP mulai dari sekarang!!!!

Ketiga, buat backup untuk semua file dan berkas yang kita miliki. Just in case kejadian tidak menyenangkan seperti ini terjadi pada kita, paling tidak kita masih punya copy berkas2 penting seperti kartu identitas…ataupun copy file-file penting. Kalau perlu scan semua dokumen penting kita 😉

Keempat, selalu siapkan uang cadangan di kantong-kantong baju, atau apapun yang melekat di tubuh kita. Paling tidak kalau dompet/tas kita hilang, kita masih punya ‘pegangan’ 🙂

Kelima, cari tau kantor polisi terdekat (dengan pelayanan terbenar, ter-ramah, tercepat…dan petugasnya bisa mengoperasikan komputer).

Keenam, kalo sedang mengalami musibah,,,pastikan kita tahu lokasi kejadian itu ada di kelurahan mana. Karena ternyata pelaporan tindak pidana hanya bisa dilakukan di kantor kepolisian yang menangani wilayah/kelurahan TKP tersebut.

*kenapa ya data antar kantor kepolisian itu tidak saling terintegrasi?? jadi masyarakat nggak perlu mikir musti lapor ke kantor polisi mana,,,Uhuk,,,,kecanggihan IT dan Telekomunikasi ternyata belum merambah dunia Kepolisian…T.T

Ketujuh,,,sekaligus terakhir…. Kejahatan ada dimana-mana… Waspadalah…waspadalah!!!!

Advertisements

5 thoughts on “Belajar dari Musibah”

    1. Dicancel sayang,,,hiks.
      Udah nggak sempet lagi ngurus2..karna kan butuh bikin passport baru..sementara kalo bikin passport butuh KTP,,,hehe

  1. heheheheee…lucunya negeri kita, terus tasnya ketemu?laporannya diproses gak yaaa?atau hanya ditumpuk berteman dgn nyamuk2 gendut,heheheee…btw mbak Prie udah hapal nomor KTP nya?? 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s