Males vs Males


Ada kejadian menarik yang saya temui di kantor beberapa hari yang lalu. Ceritanya, tempat dimana saya (akan) bekerja ini punya semacam database yang seharusnya diisi oleh tiga pekerja yang memang punya tanggung jawab penuh terhadap proses pekerjaan yang mereka tangani masing-masing. Entah kenapa, mereka bertiga jarang (bahkan hampir tidak pernah) mengisi database tersebut. Pada suatu hari, saya mencoba mengingatkan salah satu pekerja tersebut untuk mengupdate database yang jadi tanggung jawabnya (dengan harapan tanggung jawab itu tidak lagi ada di pundak saya, karena memang bukan tanggung jawab saya..hehe). Dan jawaban beliau langsung membuat saya sakit perut, antara sebel dan geli, “Males”, jawabnya singkat. Lain hari, saya berusaha mengingatkan Manager saya agar beliau juga mengingatkan para pekerja yang bersangkutan. Jawabannya lagi-lagi bikin sakit perut, “Males ah, udah capek..nggak ada gunanya.”

Jadi…masalahnya sebenarnya begini: Pekerja tersebut males buat ngurusin databasenya, jadinya manager saya juga ikutan males buat ngingetin…atau…gara-gara manager saya yang males, pekerja tersebut jadi males ngurusin databasenya. Haha…well, intinya toh sama saja mau siapa yang males duluan. Ketika kita udah bilang “Males”, untuk alasan apapun, kita nggak bakal ngelakuin hal yang bikin males itu. Ketika kita udah bilang “Males” segala bentuk teguran dan reminder tidak akan membuat kita tergerak untuk berbuat sesuatu. Alasannya toh jelas, karna kita Males.

Sama saja ketika di suatu hari yang dingin dan hujan, anda berpikir “Males mandi ah”, atau “Males bangun ah”, atau “Males nih keluar rumah”. Males itu adalah sebuah alasan yang paling tepat untuk menjelaskan kenapa kita enggan melakukan sesuatu.

Hati-hati,,,terkadang kata ‘males’ adalah penyebab utama masalah komunikasi.

Seperti dalam kasus di kantor saya ini, Manager dan senior saya sama-sama Males.. senior saya males sama Manager saya, jadinya males ngerjain tugasnya. Di saat yang bersamaan, Manager saya males ngingetin karna menurut dia peringatan dan teguran sudah nggak mempan buat anak buahnya tersebut. Kalau hal seperti ini dibiarkan, masalah tentunya nggak akan selesai..ujung-ujungnya orang lain yang harus bertanggung jawab terhadap pekerjaan itu.

Tidak berniat menyalahkan siapapun sebenarnya. Tapi dalam kasus ini, menurut saya seorang Manager, sebagai leader, tidak boleh bersikap seperti itu. Ketika ada anak buahnya yang males-malesan, harusnya dia punya power untuk menegur dan mengingatkan anak buahnya tersebut.

Seorang leader tidak hanya berperan sebagai pemimpin (yang terkadang disalah artikan sebagai ‘bos’). Seorang leader sekaligus adalah role model bagi anak buahnya. Seorang leader yang sering terlambat bisa jadi contoh buat anak buahnya untuk ikut terlambat, sebaliknya jika ia disiplin, anak buahnya juga akan ikut disiplin. Pun seorang leader yang males, bisa membuat anak buahnya ikut-ikutan males.

Kalo Anda jadi leader, dan anak buah anda males mengerjakan tugas yang memang jadi wewenangnya, tegurlah..ingatkanlah! (bukannya malah melempar pekerjaan tersebut pada anak buah yang lain -__-). Jangan ‘Males’ untuk ngingetin…karna bisa jadi anak buah Anda menjadi malas karna sikap anda yang juga dianggap malas.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s