Sebelum Menyesal


Pernahkah kalian marah? Apa yang kalian lakukan saat marah? Mungkin ada yang memaki, mengumpat, membanting sesuatu, memukul, menampar, menulis, melukis, menangis, atau bahkan diam. Ada berbagai cara yang dilakukan orang untuk mengungkapkan emosi marahnya, untuk menunjukkan kepada seseorang “Gue nggak suka kayak gini”.

Marah adalah salah satu emosi dasar manusia. Maka, marah itu emosi yang wajar ada pada diri seseorang. “Berarti boleh marah dong?” Yup, bener banget. Setiap orang berhak untuk marah. Justru kalau kemarahan itu ditahan atau dipendam, malah nggak baik. Memendam amarah itu bagaikan merakit bom waktu, suatu saat ketika jumlahnya sudah terlalu besar, meledaklah ia. Amarah yang tertumpuk-tumpuk seperti itu, ledakannya akan jauh lebih hebat dari amarah-amarah kecil yang menyala sebentar lalu mati.

“Berarti sering marah-marah itu sehat ya?”

Ya nggak gitu juga. Apapun itu, kalau berlebihan, pasti hasilnya nggak baik. Bahkan hal baik kalau berlebihan, jadinya nggak baik juga. Terlalu sering menolong orang, misalnya. Baik sih, tapi hati-hati…orang yang anda tolong bisa jadi bukannya ‘tertolong’, malah jadi ketergantungan dengan pertolongan yang anda berikan.  Akhirnya ia jadi nggak mandiri, dan selalu menunggu ‘ditolong’ agar bisa keluar dari permasalahan yang sedang ia hadapi.

“Jadi, gimana dong?”

Marahlah, ketika kamu memang berhak marah. Tapi, hati-hatilah dalam mengungkapkannya. Nasehat ini sebenarnya saya tujukan untuk diri saya sendiri. Karena terus terang saya orang yang gampang mengungkapkan emosi marah. Bukan marah karena hal-hal sepele ya… kalau untuk hal-hal sepele, seperti kaki keinjek, diserobot orang waktu ngantri, ditipu sopir taksi, janjian sama tukang ngaret, (hampir) dicopet, atau sekedar dikerjain orang,,, paling-paling saya tersenyum aja, lantas menjadikan itu sebagai bahan guyonan. Bukannya apa-apa sih, hemat energi aja gitu…marah untuk hal-hal sepele kan nggak ada untungnya juga buat kita. :p

Saya akan marah ketika saya memang berhak marah. Misalnya, baju kesayangan saya diambil orang (dan saya tahu siapa yang ngambil….errrr -__- ). Sayangnya, saya seringkali menyesal setelah saya marah. Apalagi jika kemarahan itu saya ungkapkan langsung kepada yang bersangkutan, dengan kata-kata yang kurang pantas. Bahkan meskipun orang itu memang pantas untuk ‘dimarahi.’ *eh

Saya pernah membaca sebuah ilustrasi cerita seperti ini:

Pada suatu hari ada seorang anak yang marah pada ayahnya. Sang ayah lantas berkata, “Nak, setiap kamu marah…tancapkan sebuah paku di atas papan dengan palu ini.” Sang ayah memberikan palu, paku dan sebilah papan pada anak tersebut. Maka, setiap kali sang anak merasa marah, ia memasang satu paku ke papan tersebut. Seminggu kemudian, sang ayah menunjukkan papan yang telah penuh dengan paku tersebut, lalu berkata kepada sang anak, “Lihatlah nak, ini adalah jumlah kemarahanmu selama seminggu ini.” Kemudian ia mencabut semua paku yang ada di papan, dan kembali berujar, “Lihatlah bekas  paku-paku ini, apakah lubang-lubang ini bisa tertutup kembali?” Sang anak hanya menggeleng sambil menatap ayahnya. “Begitulah ketika kamu marah pada seseorang, Nak… kemarahanmu mungkin hilang saat itu, tapi bekasnya tak akan hilang sampai kapanpun. Bekas itu tertinggal di hati orang yang menerima kemarahanmu.”

Menyesal memang selalu datang belakangan. Jadi, sebelum menyesal…berpikirlah. Jangan jadi gegabah karena marah. Marah itu hak pribadi kita, bahkan marah bisa menjadi benteng pelindung saat keselamatan kita terganggu. Tapi…marahlah dengan pintar, marahlah dengan bijak.

Kalau dalam teori psikologi, ada yang disebut dengan sublimation atau sublimasi. Sublimasi adalah salah satu defense mechanism yang bisa digunakan orang ketika marah, yaitu dengan merubahnya menjadi sesuatu yang lebih bisa diterima secara social, misalnya dengan menunjukkan ‘kemarahannya’ dalam sebuah karya. Karya apa saja, tulisan, lukisan, lagu, atau bahkan sekedar coretan. Kalau merasa tidak punya bakat seni, ya buatlah/lakukan sesuatu yang tidak melulu soal seni. Apapun hal positif yang bisa kamu lakukan.

Kalau sudah terlanjur marah?

Yasudah, minta maaf adalah jalan terbaik. Kalaupun orang yang kita ‘marahi’ tidak memaafkan…paling tidak kita sudah berusaha minta maaf…hehe. 😀

Advertisements

3 thoughts on “Sebelum Menyesal”

  1. hehehehe…^_^, ak juga pengalaman pribadi mb…belajar untuk lebih sabar dan mengontrol “emosi2 sesaat” karena mmg jadi bumerang buat diri kita sendiri ketika kita tidak pandai untuk mengelolanya….*speak to my self…eeeeaaaaa…..^_^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s