Selamat hari Kartini untuk Kartiniku…


Untukmu Kartiniku… untukmu perempuan hebatku.

Perempuan itu berdarah Jawa asli. Lahir dan besar di Sleman, Yogyakarta, sekitar 50 tahun lalu. Hidupnya yang sedari kecil sederhana mungkin tak pernah memberinya bayangan, bahwa kelak hidupnya akan diwarnai dengan ujian yang tak pernah bisa dibilang sederhana.

Pada umurnya yang ke-12, seperti laiknya remaja perempuan di masanya, ia sudah dinikahkan. Menikah, di umurnya yang masih sangat muda, rupanya memberi ketakutan yang sangat pada dirinya. Maka dengan halus, dan penuh rasa takut, ia menolak setiap sang suami mengajaknya ber-‘malam pertama.’ Begitu seterusnya hingga sang suami jengah, dan terpaksa mengembalikannya pulang kembali pada keluarganya.

Beberapa tahun kemudian, saat usianya sudah lebih dewasa (meski masih terbilang belasan juga), ia kembali dinikahkan. Kali ini pilihan jatuh pada sesosok pria sederhana dari Magelang, bernama Marsan. Seorang pria yang dengan segala kekurangannya tetap ia cintai dengan sempurna. Seorang pria yang tak pernah tergantikan, meski takdir telah membawanya pulang.

Pada Agustus 1987, saat putri bungsunya masih belajar berjalan di usianya yang baru saja genap setahun, Tuhan mengambil kembali suami tercintanya. Tak ada kesedihan yang lebih hebat, selain ditinggal sang terkasih, dengan titipan tujuh bocah kecil, tanpa harta sedikitpun. Di tempat yang (saat itu) terbilang jauh dari keluarga asalnya.

Perempuan itu tidak lantas limbung, ambruk, atau menyerah. Ia bertekad dalam hati, demi apapun, untuk membesarkan anak-anaknya dengan sebaik yang ia bisa. Maka, dengan berat hati ia titipkan anak perempuan pertamanya yang masih sekolah pada adik bungsunya di Cilacap. Demi satu harapan, di tengah kondisinya yang sedang rapuh, anaknya tak lantas putus sekolah.

Beberapa kali pria baru datang hendak meminangnya, namun dengan halus ia menolak. Alasannya cuma satu, takut nanti anak-anaknya tak bahagia dengan seorang bapak baru. Ah, bahkan di saat kondisinya sekritis itu, ia sama sekali tak memikirkan diri sendiri. Padahal kalau dipikir pakai akal sehat, hidupnya tentu akan lebih bahagia bila ia punya sandaran baru. Bagaimanapun, seorang perempuan yang hanya berijazah SD, tanpa skill khusus apapun maupun modal usaha, tentu sulit membesarkan tujuh bocah kecilnya sendirian. Apalagi dengan gunjingan di kiri-kanan soal status janda-nya.

Tapi bukan Kartini kalau lantas menyerah pada keadaan. Kartini sejati tak pernah berhenti melangkah, meski rintangan menghalang di kiri-kanan. Pun demikian perempuan itu. Berpeluh ia mencari rezeki halal untuk anak-anaknya, sambil mengawasi perkembangan anak-anak kecilnya yang masih bandel itu. Impiannya tak muluk-muluk, yang penting anaknya sehat dan tak berbuat aneh-aneh. Karna toh ia sadar, hanya dengan dua tangan, ia tak bisa merengkuh ketujuh anaknya dengan sempurna. Hanya dengan dua mata, ia tak bisa mengawasi tujuh anaknya dengan sempurna. Hanya dengan satu mulut, ia tak bisa mengajari ketujuh anaknya dengan sempurna. Hanya dengan sedikit rezeki yang ia dapatkan ia tak bisa memenuhi keinginan anak-anaknya dengan sempurna. Ia sepenuhnya sadar, bahwa rumah tangga sejatinya ditopang dua tiang. Saat satu tiang roboh, dan tak ada lagi tiang pengganti, satu tiang yang tersisa harus berjuang agar rumah itu tak ikut tumbang dan hancur berkeping. Dan rumah yang ditopang hanya dengan satu tiang, tentunya tak akan setegak rumah bertiang dua. Maka ia hanya bisa berpasrah pada dua hal, ‘sabar’ dan ‘ikhlas.’

“Semua hanya titipan Gusti Allah,” demikian yang ia pahami. Dengan segenap hati, ia jaga titipan itu dengan sebaik yang ia bisa. Dan Tuhan tak pernah tidur saat mengawasi umat-Nya. Tuhan selalu memperhitungkan apa yang dikerjakan umat-Nya.

Dan inilah salah satu hadiah yang Tuhan berikan untuk perempuan itu. Hadiah yang tak pernah ia duga, pun demikian saya. Untuk segala perjuangan yang telah ia lakukan sepanjang hidupnya,… Perempuan itu memang layak mendapatkan hadiah -hadiah terindah.

Selamat hari Kartini untuk Kartiniku. Selamat hari Kartini, Ibu. Duduklah, tersenyumlah, aku tau engkau lelah. Kini giliranku menjadi perempuan hebat sepertimu…kini giliranku mempersembahkan hadiah-hadiah terindah untukmu.

I love u Mom,,,as always.. :*

*Untuk seluruh perempuan yang kisah hidupnya jauh lebih ‘ringan’ dari ibuku, percayalah…kalian bisa jadi perempuan yang juga jauh lebih hebat dari beliau, dan bisa menghadirkan generasi penerus yang juga jauh lebih hebat dariku. Percayalah…karena kalian semua perempuan hebat.

Selamat hari Kartini…

Jakarta, 21 April 2012

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s