Belajar dari Tukang Pijat


Bu O namanya (sebut saja begitu :D). Perempuan sepuh berdarah Sunda, tukang pijat langganan anak-anak kos. Meski sudah terbilang sepuh, namun tenaga pijatnya masih luar biasa. Hanya dengan imbalan uang lelah sebesar Rp 50.000, beliau sanggup memijat seluruh badan dari ujung kaki sampai ujung rambut selama 2 jam. Benar-benar service excellent!

Buat saya, bukan hanya pijatannya yang luar biasa, tapi cerita-cerita yang diungkapkannya dengan lugu juga benar-benar juara. Kali pertama saya dipijat, saya hampir kelepasan ngakak waktu beliau bilang “Startehis” untuk menyebut kata yang sebenarnya dibaca “Strategis.” Dan dengan lugunya malam ini Bu O bercerita banyak tentang masa mudanya.

Gegara melihat sebuah cincin melingkar di jari manis tangan kiri saya (yang langsung ia pikir cincin tunangan :p), meluncurlah cerita masa lalu Bu O. Suami Bu O ini sudah meninggal. Konon ceritanya, pernikahannya dengan sang suami adalah hasil perjodohan saudaranya. Hanya setelah perkenalan singkat sekitar satu bulan, menikahlah ia dengan sang suami. Padahal waktu itu, Bu O masih berpacaran dengan seorang calon mantri di Bandung, selama kurang lebih 3 tahun.

Dan lesson learn yang didapat beliau adalah, “Kalau bisa sih sebelum menikah kenal dulu barang setahun, jadi udah tahu karakter masing-masing…nggak kayak saya, banyak konflik.” Waduh…jadi deg-degan saya…padahal nggak berencana pengin pacaran sebelum nikah…haha. Apa berubah pikiran ya? *eh 😀

“Sekarang mah, mantri itu udah kaya duluan…udah naik haji, punya rumah tiga…bla..bla…” Hehe…si ibu nyesel tuh keknya nggak jadi nikah ama pak Mantri. Apalagi habis itu dia bilang, “Dulu saya tuh nggak pengin punya suami yang item ama pendek…eh, dapetnya begitu.” Huahaha…sampai di sini saya udah nggak kuat nahan ketawa. Lesson learn-nya oke sih,,,jangan dulu mendahului takdir. Apa yang kita anggap ‘jelek’ sekarang belum tentu ‘jelek’ di mata kita nanti, karena bisa jadi kita justru akan berjodoh dengannya. Buat saya sih, ini nggak hanya berlaku buat calon pasangan hidup, tapi juga buat pekerjaan, teman/sahabat, dll. Barangkali suatu pekerjaan kita anggap nggak keren sekarang, tapi bisa jadi loh ternyata rejeki kita datang dari situ.

Eniwei, bicara soal pekerjaan..ada satu pelajaran berharga yang saya dapat dari Bu O. Bu O sempat bercerita kenapa akhirnya beliau berprofesi sebagai tukang pijat. Selain karena suaminya yang sudah meninggal, dan beliau harus mencari nafkah untuk dirinya dan cucu-cucunya, juga karena sistem kerja sebagai tukang pijat rupanya sesuai dengan keinginannya. “Saya nggak mau kalo kerja di rumah (jadi pembantu_red), soalnya waktu kerjanya terikat…makanya saya pilih jadi tukang pijat saja.”

Wow…bahkan seorang nenek-nenek seperti ibu O sudah bisa memilih pekerjaan yang sesuai passion-nya. Saya jadi termenung. Terus terang saat ini saya bekerja bukan karena passion, tapi lebih karena tuntutan kebutuhan. Kebutuhan finansial, kebutuhan eksistensial, kebutuhan status sosial…apapun itu. Tapi jelas ini bukan passion saya yang sebenar-benarnya. Passion saya ada di tempat lain…passion saya kini hanya jadi aktivitas sambilan, sambil sesekali saya sesali dalam hati. Ah, rasanya saya iri dengan bu O yang berani bilang, ” Saya nggak suka sistem kerja yang seperti itu..makanya saya memilih pekerjaan ini.”

Ah, Bu O yang lugu…yang selalu hadir dengan cerita-cerita lucunya, namun banyak memberi pelajaran. Yang nggak bisa bilang ‘F’, sehingga nge-fans jadi ‘ngepen’ di lidahnya. Yang tahu banyak artis-artis muda seperti Cherry Belle, Derby Romero, Sm*sh, dan sebagainya. Yang terakhir mengajak saya bergosip tentang Raffi Ahmad dan Yuni Shara…yang selalu bilang terima kasih kalau saya sms minta dipijat.

Ah, Bu O…saya mah ngepen sama Ibuuuuuu….*peluk-kenceng* 😀

Advertisements

2 thoughts on “Belajar dari Tukang Pijat”

  1. Jadi kangen sama si Ibu O nih Mbak, di Bekasi belum nemu euy yg bisa delivery jasa pijat begitu he3
    btw, tulisan inikah yang mendasari “diskusi sudut” kemarin hahay ;p

    1. Hahaha… ini udah tulisan lama kok.

      Sekarang udah mulai bisa menyeimbangkan antara ‘kewajiban’ dengan ‘keinginan personal’ *uhuk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s