Mari Sayangi Lansia


Malam minggu kemarin (14/4), waktu saya makan di sebuah restoran cepat saji Jepang di Mall Atrium Senen, tanpa sengaja mata saya melihat seorang Bapak tua duduk sendirian di dekat meja saya. Tanpa berniat menelisik ingin tahu, saya melihat Bapak itu kesulitan memisahkan sepasang sumpit kayu yang memang didesain saling menempel satu sama lain. Beberapa kali beliau mencoba memisahkan kedua batang sumpit itu, dan sempat melihat ke kiri-kanan, mungkin hendak meminta bantuan. Tak satupun petugas restoran yang mampir di meja bapak itu, pun saya hanya terpaku tak berbuat apa-apa. Entahlah, saya terlalu takut dianggap ‘ikut campur’ kalau tiba-tiba saya mendekati bapak itu menawarkan bantuan.

Selang beberapa menit, akhirnya Bapak itu berhasil memisahkan sepasang sumpit di tangannya, lalu mulai makan. Saya merasa lega dalam hati, lalu ikut-ikutan mulai makan. Tapi terus terang, selama saya duduk di restoran itu, makan sambil mengobrol dengan teman saya, mata saya sesekali masih melirik pada Bapak itu. Bapak tua yang makan sendirian di sebuah restoran cepat saji di salah satu mall Ibukota. Entah kenapa saya merasa trenyuh.

Trenyuh, karena dalam bayangan ideal saya, seseorang yang lanjut usia sepantasnya menghabiskan waktu di luar rumah beserta anak-cucunya. Memang, hidup tidak selalu sesuai bayangan ideal. Dan kisah hidup yang dialami satu orang dengan yang lain tidak akan sama. Mungkin bapak itu sendirian karena anak dan cucunya sedang sibuk di luar sana, mungkin karena pasangannya sudah tiada, mungkin karena ia memang hidup sendirian…atau ia memilih sendirian?

Dalam salah satu bukunya, Saparinah (1991), mengatakan bahwa pada umumnya masalah kesepian adalah masalah psikologis yang paling  banyak  dialami  lanjut  usia. Beberapa  penyebab  kesepian  antara  lain; longgarnya kegiatan dalam mengasuh anak-anak karena anak-anak sudah dewasa dan  bersekolah  tinggi, berkurangnya teman/relasi akibat kurangnya aktifitas di luar rumah, kurangnya  aktifitas  sehingga waktu  luang  bertambah  banyak, meninggalnya pasangan  hidup, anak-anak  yang  meninggalkan  rumah  karena  menempuh pendidikan yang lebih tinggi, anak-anak  yang meninggalkan rumah untuk bekerja, atau anak-anak telah dewasa dan membentuk keluarga sendiri. Kalau dari penjelasan ini, seolah-olah ‘wajar’ memang jika seorang lansia tampak beraktifitas sendirian di ruang publik. Faktor kesepian menjadi alasan utamanya.

Apapun alasannya, saya selalu merasa trenyuh melihat seorang lanjut usia yang sendirian di tempat umum. Lebih trenyuh lagi kalau melihat seorang lanjut usia yang masih harus berjuang mencari sumber penghidupan, sendirian, di tengah kehidupan ibukota yang semakin keras. Seperti sebuah kisah yang baru saja saya baca di blognya bapak Rinaldi Munir, tentang seorang bapak tua penjual amplop di masjid Salman, ITB (silahkan klik di sini bagi yang ingin membaca cerita lengkapnya)

Dalam artikel yang dilansir VOA Indonesia di website resminya berjudul “WHO: Populasi Lansia di Dunia Semakin Bertambah“, disebutkan bahwa jumlah lansia dalam lima tahun mendatang akan lebih banyak dari jumlah balita. Di artikel itu juga ditulis bahwa lansia paling banyak terdapat di negara-negara miskin dan berpendapatan menengah. Berhubung Indonesia masih termasuk berpendapatan menengah, bisa jadi Negara kita adalah salah satu penyumbang tingginya jumlah lansia di dunia.WOW! Itu artinya, saya mungkin akan lebih sering merasa trenyuh dalam lima tahun mendatang.

Saya tidak bermaksud mengasihani para lansia itu, sama sekali tidak. Karena, meskipun lansia termasuk kelompok usia non-produktif, tapi saya selalu percaya bahwa mereka masih bisa berkarya. Tetapi, perlu disadari juga bahwa bagaimanapun, kondisi fisik mereka sudah mulai menurun. Membiarkan mereka terus bekerja di usia yang terlalu senja, atau bahkan sekedar membiarkan mereka jalan-jalan sendirian di mall, mata dan hati saya rasanya kok tak tega.

Ada satu artikel lain di website VOA Indonesia yang menarik perhatian saya, judulnya Organisasi Nirlaba di AS Bantu Layani Kelompok Lansia. Artikel itu bercerita tentang sebuah organisasi sosial di AS bernama Virtual Village. “Virtual Village adalah sebuah jaringan lokal sukarelawan dan  penyedia layanan untuk membantu kelompok lanjut usia yang tinggal di rumah sendiri. Mereka membantu  orang-orang  lanjut usia dalam hal apa saja, mulai dari  transportasi dan membawakan barang-barang belanjaan, sampai pada memperbaiki rumah dan membawa anjing piaraan berjalan di luar rumah.” Demikian yang tertulis dalam artikel tersebut.

Terus terang saya agak terkejut. Di AS yang berbudaya individualis seperti itu, ternyata masih ada orang-orang yang peduli dengan para lansia di sekitar mereka. Bagaimana dengan Indonesia yang terkenal dengan keramahtamahannya ini? Entahlah. Saya belum pernah mendengar ada organisasi atau komunitas serupa di negeri ini. Justru yang sering saya lihat, banyak dari kita yang masih muda ini, terkesan tak peduli dengan keberadaan dan keterbatasan kondisi mereka.

Melalui tulisan ini saya tidak bermaksud mengajak pembaca untuk ‘mengasihani’ para lansia. Saya hanya ingin mengingatkan diri saya sendiri, agar lebih peka dan peduli pada sekitar. Agar lebih tanggap ketika ada seseorang berusia lanjut, siapapun itu, yang sedang butuh bantuan. Bukan bantuan bersifat materiil yang saya maksud, tapi bantuan-bantuan sederhana yang mungkin sangat berarti untuk mereka. Menggandeng tangan seorang nenek ketika menyeberang jalan, membawakan barang bawaannya, memberikan tempat duduk di kendaraan umum, atau bahkan sekedar mendengarkan mereka bercerita. Atau mungkin, belajar dari organisasi Virtual Village di negeri Paman Sam sana, saya dan teman-teman pembaca (yang mau peduli) bisa membentuk organisasi serupa di Indonesia.  😉

Barangkali ada yang berminat? Anyone? 😀

*gambar diambil di sini

Advertisements

36 thoughts on “Mari Sayangi Lansia”

  1. Postingannya mengingatkan pada nenek saya yang berusia 89 tahun.
    Sampai saya duduk di bangku kuliah pun, nenek selalu menyempatkan menulis surat buat kami, cucu-cucunya yang ada di bandung, bukan itu saja, beliau juga tidak lupa menyelipkan uang merah di amplop tersebut.

    (hihihihihii,,, sebagai cucu tetap merasa senang, walaupun uang yang dikasih sebenernya uang yang dikirimin sama bapak saya, dan ketika uang itu sampai di tangan saya, bapak saya tersenyum manis, lalu beliau segera mengirimkan uang kepada nenek untuk mengganti uang yg nenek berikan kepada saya… hahahahaahahah :D)

    Bayangkan, menulis surat, saya masih bisa melihat goresan pena ala zaman dulu.

    Dan saya patut bangga, nenek saya memiliki tulisan yang indah, konon dulu nenek saya adalah calon guru sekolah rakyat, bila tidak segera dinikahkan dengan kakek .

    Hikmah memiliki seorang nenek yang masih ada sampai saya berusia dewasa adalah saya merasakan benar, bahwa seorang yang sudah tua pun, mereka tidak akan lupa atas kebanggaan dan kasih sayang yang mereka miliki untuk keluarganya.

    Sebagai contoh, nenek saya selalu bangga menunjukkan saya pada tetangga-tetangga dan keluarga jauh yang tidak pernah saya temui (For information: Nenek saya tinggal di Medan, sedangkan saya tinggal di Bandung)

    Sebagai ilustrasi adalah hal yang terjadi ketika menemani nenek saya mengambil koran ke warung sebelah rumahnya (for information lagi: Nenek saya masih baca koran sampai sekarang)
    Orang : “Mak, ini siapa mak? Lain pula kulihat gadis ini” (memakai logat medan)
    Nenek : “Ini cucu awak dari Bandung, anaknya si feri, manis kan?” (Nenek menjelaskan sambil terus memegang tangan saya, masih memakai logat medan, dan disebelah seorang gadis tersipu malu karena dibilang manis hihihihihihihii :P)

    Lihat, betapa bangganya seorang nenek menunjukkan cucunya, dan betapa sayangnya beliau pada cucunya yang ditunjukkan oleh sepucuk surat.. Yes.. I’m a Lucky Grandchild 😀

    Yap, MARI SAYANGI LANSIA , lansia hanya tua di umur, tetapi mereka selalu memiliki kepekaan yang tinggi terhadap cinta, kasih sayang, dan kebanggaan.

  2. Huwaaa….commentmu sukses membuat mataku berkaca2…Honestly, aku tidak pernah bisa merasakan kasih sayang seorang nenek biologis, karena mereka sudah nggak ada sejak aku kecil dan belum mampu mengingat (just as my father 😉 ). Tapiiiii…tiap kali liat kakek/nenek, aku merasa mereka adalah kakek-nenekku sendiri. Dan aku sangat suka mendengarkan mereka berbicara…and I really want to hug and kiss them warmly (especially the grandmas :p). Pengin banget ketemu nenekmu someday…ohoho

  3. Ide bagus tuh buat bikin organisasi sosial semacam Virtual Village di sini.

    Selama ini aku sering denger bhw para lansia kurang suka masuk panti jompo karena di sana mereka harus tinggal bareng orang2 asing, di tempat yg asing, dengan kegiatan2 yg diatur, sehingga kurang bebas & kurang nyaman.

    Tapi kalo di Virtual Village kan mereka stay dengan hal2 & lingkungan yg selama ini mereka udah terbiasa, bedanya cuma jadi ada yg bantuin. Trus satu hal lagi yg penting, selain bantuan physically & emotionally, menurutku Virtual Village juga perlu ngasih bantuan UANG, karena lansia sangat rentan dgn penyakit, ditambah mereka gak punya penghasilan tetap lagi (dan anak-cucunya belum tentu peduli).

    Btw, off topic nih.
    Menurutku, AS gak se-individualis yg selama ini kita kira & dengar lho.
    Dari hasil baca2 blog/forum, terlihat bhw banyak dari mereka yg justru lebih peduli dgn keluarga & lingkungan dibanding kita. Di sana, banyak komunitas sosial yg positif. Banyak ibu2 yg jago ngurus anak, pinter masak, bisa bikinin baju utk anak2 & suaminya, bikin2 prakarya/kerajinan tangan, dll.
    Selain itu, mereka juga bagus bgt dalam hal sharing pengetahuan ke orang lain (bisa dilihat dari banyaknya artikel2 di internet yg sangat lengkap). Mereka juga saling support tentang pemerintahnya, budayanya, teman2nya, musik lokalnya, dan lain2. Intinya, kita bisa banyak belajar dari mereka lho sebenarnya. 😉

    1. Indahhhhh….suka banget ama komen and sharingmu…Iya ya, selama ini Amerika terlalu digambarkan sebagai budaya yang individualis, dan terkesan ‘urakan.’ Thanks banget Ndah…komenmu membuka mataku soal Amerika (jadi makin pengin kesana deh,,,hehe)

      Iya nih…aku juga kepikiran soal komunitas virtual village ini..Aku pernah kunjungan ke panti gitu, dan sedih banget ngeliat kondisi para lansia di panti. Apalagi dari cerita salah seorang lansia di sana, beliau jarang (bahkan hampir nggak pernah) dikunjungi keluarganya. Aku yakin kondisi psikologis mereka akan lebih baik kalau di rumah, dekat dengan keluarga. Tapi ya tentunya keluarga harus mendukung keberadaan mereka.

      Well…They need us…indeed!

  4. Wihii, jadi pengen cerita pengalaman barusan.. 😀 Saya baru aja nyampe Jakarta, bolos kuliah dua hari (informasi tidak penting hari ini).
    Aanyway.. tadi saya duduk di bangku deket aisle, dan di sebelah saya ada pasangan lansia.. Dan dua-duanya bingung gimana make seat belt, akhirnya tak bantuin, walaupun seat belt si bapak agak aneh karena letak gespernya menyalah :))
    Dan waktu udah beres masangin seat belt keduanya, si Bapak yang duduk pas di sebelah saya berulang kali bilang, ‘makasih banyak ya Mbak.. maaf merepotkan.’
    padahal cuma masangin seat belt yang bagi kita mungkin amatlah sangat simpel, sambil tutup mata juga bisa.. tapi keduanya perlu bantuan dan beberapa kali talinya terbelit, mungkin karena matanya sudah kurang awas..

    Ya, I understand the ‘trenyuh’ feeling when you see that old man alone, mbak.. Wong masih muda aja ngelayap sendirian kesannya rada forever alone :)) *curcol*, tapi rasanya lebih gimanaa gitu kalo lansia yang sendirian.. Saya jg selalu nge-portray image lansia itu dikelilingi pasangan dan cucu-cucunya. 🙂 Walaupun masih bisa mandiri, tapi pasti lebih bahagia kalau dikelilingi keluarga dan teman di hari-hari tuanya. Eyang saya tinggal di rumah bertiga dengan pembantu, masih hobi berkebun, selalu sholat di masjid, dan sering gaul sama lansia-lansia sekitar. Anak-anaknya juga sekarang rumahnya deket, nggak kayak dulu Eyang di Medan anak-anaknya di Jakarta dan sekitarnya semua.. They look happier now 🙂

    *inti dari komen ini apaan sih* *nggak jelas :p*

    1. Huwaaaaa….komenmu bikin aku tambah sedih. Aku ampe sekarang masih kebayang kakek itu, dan nyesel banget karna kemarin ga langsung bantuin bukain sumpitnya. Salut buat kamu yang langsung tanggap…

      Yuk2…belajar lebih tanggap…hehe

  5. hidup di dunia ni memang harus tolong-menolong n peduli dengan yang lain. Gak hanya manusia tapi juga makhluk lainnya ciptaan Allah. Mamaku dah memasuki lansia tapi aku belum memberikan yang terbaik untuknya, menurut ukuran dan pandanganku. Pinginnya aku jadi orang sukses banget hanya untuk membahagiakan mama, karena selama ini mama saja yang berjuang untuk kehidupan aku dan kedua kakakku. Mohon doanya ya

    1. Iya mbak,,,ngebales kebaikan orang tua, apalagi seorang ibu, sepertinya emang nggak akan pernah terasa cukup yaa. Yang penting mbak udah lakuin yang terbaik buat mama. Dan sebenarnya, sukses secara materi itu bukan satu-satunya cara kok untuk membalas semua kebaikan mama, yang lebih penting perhatian, cinta kasih, dan kehadiran mbak di setiap beliau membutuhkan.

      Salam semangat ya mbak…saya yakin, mamanya mbak pasti bangga punya anak sebaik dan sehebat dirimu 🙂

      Salam juga buat mama 😉

  6. Selamat ya mbak e blog-nya menang…
    Aku juga punya lumayan bnyk pengalaman sama Kakekku. Yang enak dan ga enak juga ada.
    Setelah baca blog ini, aku jadi merasa bersalah selama ini ga begitu peduli sama opung di kampung. Sekarang si opung ilang dua hari, ga balik ke rumah. Hope he is still well out there 😥

  7. Pri..pri.. Congratz yaaa e-blog nya menang.. (early birthday present ^_^)
    Speaking about lansia dan lingkungan yang perduli, khususnya di kota Jakarta ini memang cukup menantang.. kota yang benar2 hiruk pikuk namun banyak didatangi pendatang dari daerah (seperti akyu dan kamyuu, hehe). Cukup sulit untuk menumbuhkan rasa perhatian kepada para lansia dan menjadikannya sebagai suatu culture yang deeply rooted within us, somehow senang rasanya masih ada muda-mudi seperti Pri dan teman2 lainnya yang mau mengingatkan kita semua untuk mulai membudayakan rasa perhatian terhadap para lansia.
    Aq boleh share cerita sedikit Pri?
    Sekitar setahun yg lalu, dalam perjalanan pulang (naik motorq si hitam) melewati terowongan bypass di daerah Senen, ada seorang nenek yang duduk sendirian ditengah kegelapan terowongan dengan tatapan kosong ke depan, termenung tak berdaya.. Hati nurani mengatakan harus berhenti dan membantunya tapi entah kenapa ada perasaan takut luar biasa untuk berhenti, ‘somehow this is Jakarta …###’, terowongan cukup gelap dan ditambah lagi si hitam jalannya cukup kencang. Alhasil aq jalan terus, namun entah kenapa pula muncul perasaan bersalah luar biasa, menyesal atas perasaan pengecut yang aq rasakan. Dan tanpa berpikir panjang (antara otak ma hati dan berantam luar biasa tuh, akhirnya yg menang si hati, xixixi) , akhirnya aq belok pada U-turn pertama yang aq jumpai, balik ke arah Senen dan mencari ATM terdekat (whaat?? pasti pada bingung kan kenapa aq malah nyari ATM dan bukan langsung ngebantu si ibu?).. itu karena aq terbiasa gak megang duit, takutnya si ibu butuh dana jadi aq harus prepare dulu, hehehe…
    Kemudian aq balik ke terowongan dan mencari si Nenek, dan ternyata beliau masih disana. Ternyata setelah ngobrol dengan beliau, aq baru tau bahwa si Nenek itu mau pulang ketemu sama anak2nya di daerah Lampung pedalaman sana (di Jakarta ga punya keluarga sama sekali). Beliau bengong di terowongan situ karena ga punya uang sama sekali dan ga ngerti gimana caranya bisa balik ke Lampung. Akhirnya aq antar beliau ke tempat bus-bus ngetem utk ambil kendaraan yang ke arah T.Priok dan disana nantinya akan ambil bus yang kearah Lampung (nyebrang). Untungnya aq dah mampir ke ATM, hehehe ^_^.
    Well, aq ga kebayang besarnya perasaan bersalah aq apabila waktu itu ga mutar balik dan sesuatu terjadi pada nenek itu..mungkin aq ga kenal dengan beliau, but for someone out there she could be the only One for him/her.
    Final touch Pri, keep up doing the good things and dont stop remind us all to do the same.
    Keep the spirit, dear .. and enjoy the i-Pad… ^_^

    1. Gilak,,,ceritamu bikin merinding, sumpah!!! Kalo aku jadi kamu waktu itu,,aku [asti gak berani berenti..

      Kamu keren mbak, as always *thumbs up* 🙂

  8. Mbak tulisannya bagus sekali loh… Saya jadi kepikiran, saat tua nanti saya bagaimana ya? Apakah ada yang akan mengurus atau menemani saya jalan-jalan? Mungkin itu semua bergantung dari apa yang kita lakukan saat ini. Jika kita menyayangi lansia saat kita muda, saya yakin karma akan bekerja. 🙂

    1. Makasih ya udah mampir dan komen 🙂

      Aku juga setuju kok, Tuhan tidak pernah salah hitung. Kalo kita berbuat baik skrg, Insya Allah kita juga akan dpt kebaikan dari orang lain…entah kapan, tapi pasti di waktu yang tepat. 😉
      Yuk2 berbuat baik, gak cuma sama lansia..tapi sama siapapun yg memang butuh kebaikan kita 😀

  9. tulisan yang sangat menyentuh mba, dan layak banget tampil sebagai juara! 🙂
    mungkin selain mendirikan organisasi atau yayasan sejenis, hal yang lebih penting lagi adalah meningkatkan kesadaran dan kasih sayang di hati setiap insan terhadap anggota keluarga nya yang telah sepuh ya mba… 🙂
    salam kenal dan kunjungan perdana…

  10. SAYA TERSENTUH MEMBACA TULISAN2 DIATAS, DARI MEREKA2 YG PEDULI LANSIA.. SY SENDIRI SEORANG LANSIA 73 TH, SEORANG KAKEK, YG KESEPIAN JAUH DR ANAK CUCU YG TINGGAL JAUH DITEMPAT LAIN, ………………APRESIASI DARI SY, TITO, LANSIA MAGELANG ,087834361266

    1. Wah,,,senang sekali baca komen ibu. Saya juga sangat ingin bergerak, melakukan sesuatu utk para lansia…mungkin kita bisa ngobrol2 bu 🙂

  11. Ide bagus Mbak. Insha Allah pengin ikut. Karena saya pernah ikutan kegiatan para pensiunan yang memang tergolong usia lansia, mereka biasa melakukan senam otak, melakukan prakarya kemudian prakarya tersebut di pamerkan tapi masih dalam skala kecil 🙂

  12. Saya suka melayani dan membantu dan sangat senang berkumpul bareng sam lansia . Walaupun saya msh belum lansia. Minta infonya dimana bs mendaftar.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s