Emansipasi ala Kartini


April selalu mengingatkan saya pada Kartini. Tentu saja, karna di bulan April, entah kenapa semua tiba-tiba ‘berbau’ Kartini. Perayaan-perayaan kecil bertajuk hari Kartini, kuis-kuis di media yang bertema Kartini, bahkan diskon-diskon untuk produk perempuan dengan alasan ‘hari Kartini.’

Maka, bulan April bagi saya juga identik dengan perempuan..dan segala pernak-perniknya, terutama kebaya. Saya pecinta kebaya, dan sangat suka berkebaya. Tapi..apakah berkebaya sudah cukup untuk ‘merayakan’ hari Kartini? Apakah hingar-bingar perayaan hari Kartini bagi setiap perempuan di Indonesia sudah cukup untuk melanjutkan perjuangan Kartini? Apakah kita, sebagai perempuan, sudah benar-benar ber-emansipasi?

Emansipasi. Perempuan. Dua kata yang sangat melekat pada sosok perempuan kelahiran Jepara bernama Kartini. Emansipasi, yang diartikan kebanyakan perempuan sebagai ‘kesetaraan gender’ antara laki-laki dan perempuan. Kesetaraan gender, yang kemudian sering diartikan oleh para pejuang feminis sebagai “kesempatan yang sama dalam segala bidang untuk laki-laki dan perempuan.” Yang kini mulai disalahartikan oleh beberapa perempuan sebagai “Saya juga bisa seperti laki-laki.”

Maka, jangan heran kalau sekarang mulai banyak perempuan yang memiliki posisi sebagai pemimpin, setara dengan laki-laki. Banyak pula perempuan yang berpendidikan sangat tinggi, bahkan sampai bergelar profesor, sama dengan laki-laki. Makin banyak pula perempuan yang menjadi tulang punggung keluarga, menggantikan peran suami, sang laki-laki. Banyak perempuan yang kini terbiasa pulang lembur dari kantor, tak sempat mengurus ‘laki’-nya.

Kartini dulu mungkin tak berpikir sampai sejauh ini. Bahwa emansipasi yang diperjuangkannya dulu, menghadirkan sebuah peran baru bagi perempuan-perempuan Indonesia saat ini: menjadi wanita karir. Yang sayangnya, peran ini seringkali disalahartikan pula. Bahwa wajar seorang perempuan sibuk dengan pekerjaannya hingga pulang larut malam. Bahwa wajar seorang perempuan tak bisa memasak untuk suami dan anak-anaknya. Bahwa wajar seorang perempuan tak memberi ASI untuk 6 bulan pertama kehidupan generasi penerusnya. Bahwa wajar seorang anak lebih banyak diasuh oleh baby sitter ketimbang ibu yang melahirkannya, untuk sebuah peran baru yang sedang ia sandang: menjadi wanita karir. Bahkan kini mulai wajar, seorang perempuan merokok di depan umum, atau bahkan di pinggiran jalan.

Bukan. Bukan seperti ini mungkin, menurut saya, emansipasi yang diusung Kartini. Bukan lantas menyamaratakan laki-laki dan perempuan, dalam segala hal. Karna toh sejak lahir laki-laki dan perempuan sudah berbeda, bukan?

Kalau menilik di KBBI, emansipasi berarti: n 1 pembebasan dr perbudakan; 2 persamaan hak dl hukum (spt persamaan hak kaum wanita dng kaum pria).

Hak. Inilah yang diperjuangkan oleh Kartini kala itu. Kartini ingin perempuan memiliki hak yang setara dengan laki-laki. Hak dalam hal apa? Pendidikan yang terutama.

Kenapa? Karena perempuan, secara estimologi berasal dari kata ’empu’ yang artinya ‘mahir atau berkuasa.’ Maka, menjadi perempuan berarti menjadi seseorang yang mahir dalam segala hal, istilah kerennya multitasking. Menjadi seseorang yang mahir dalam segala hal hanya bisa dilakukan jika kita tahu banyak hal, salah satunya ya dengan pendidikan. Dengan pendidikan, perempuan menjadi pintar. Dengan menjadi pintar, perempuan akan bisa mendidik anak-anaknya dengan baik, dan sebaik-baiknya. Karena dengan menjadi pintar, seorang perempuan bisa memberi contoh yang baik bagi anak-anaknya, entah dalam sikap, pola pikir, maupun perilaku.

Maka menurut saya, emansipasi yang diusung Kartini bukan lantas menjadikan kaum perempuan sama persis dengan laki-laki. Tidak. Perempuan yang beremansipasi, (lagi-lagi) menurut saya, adalah perempuan yang pintar dan mahir dalam segala hal. Ia adalah perempuan yang bisa sukses dalam karir, namun tetap bisa ambil bagian dalam mendukung suksesnya sang ‘laki’, dan siap sedia meluangkan waktu dan tenaga untuk tumbuh kembang anak-anaknya.

Maka jangan ragu untuk belajar memasak, belajar mengasuh anak, belajar memelihara rumah tangga, sambil terus belajar mempercantik dan memperpandai diri. Karena sesukses apapun perempuan, secantik apapun perempuan, rasanya belum sempurna jika keluarganya di rumah tak sesukses dan secantik dirinya.

Emansipasi memang bukan perjuangan mudah. Emansipasi butuh pengorbanan, entah waktu ataupun tenaga. Untuk seluruh kaum perempuan, mari terus berjuang mewujudkan emansipasi ala Kartini. Menjadi perempuan yang seperti ’empu’, mahir dalam banyak hal. Menjadi perempuan yang sukses di setiap jengkal tanah yang ia pijak, termasuk tanah di dalam rumah.

Mari menjadi perempuan hebat! ^_^

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s