Teater Pertama yang Membuat Saya Terkesan


Terus terang saya bukan pecinta teater. Saya hanya penikmat seni dan penonton pertunjukan. Tapi bukan teater.

Dulu waktu kuliah saya pernah nonton teater. Pertunjukannya teman-teman kampus saya pecinta teater. Teaternya bagus. Bagus saja, tapi tidak membuat saya lantas mencintai pertunjukan teater.

Sampai sekitar sebulan lalu, saya membaca sebuah iklan pertunjukan teater di Jakarta, sekaligus ulasannya di Kompas Minggu. Saya pecinta Kompas Minggu, tapi bukan pecinta teater.

Berhubung saya penikmat seni, dan suka menonton pertunjukan, saya mengajak teman kantor saya untuk menonton teater itu. “Lumayan, untuk mengisi waktu luang di Jakarta”, demikian pikir saya kala itu.

Setelah berencana sekian lama, dan tak kunjung terlaksana, akhirnya semalam saya berhasil menonton pertunjukan teater itu bersama dua teman kantor, dan pacar salah satu teman kantor saya itu. Tak banyak yang saya tahu tentang pertunjukan malam itu, kecuali nama komunitas – judul – nama sutradara – dan nama dalangnya, yang saya baca sekilas di Kompas Minggu.

Sie Jin Kwie di Negeri Sihir, demikian judul pertunjukan teater malam tadi. Dipentaskan oleh Teater Koma, dengan sutradara Nano Riantiarno. Dalangnya Pak Budi Ros.

Saya datang sekitar jam 7-lewat-sedikit ke Taman Ismail Marzuki, tempat teater itu dipertontonkan. Sampai di sana, saya sempat nyasar ke sebuah galeri-entah-apa yang sangat ramai, dan terdengar suara seorang pria berambut kriting yang sedang berdiri di depan mikrofon “Di pojok sebelah kanan ada snack, dan di lantai 2 masih banyak lagi yang bisa dilihat….Yak, di pojok sebelah kanan ada snack.” Mendengar kata ‘snack’, entah kenapa saya dan teman saya langsung menyimpulkan kalau kami salah ruangan. “Ah, nggak mungkin nonton teater dapet snack,” simpel saja pemikiran kami kala itu.

Sekitar pukul 19.30, pertunjukan teater dimulai. Dan, seperti judul yang ditawarkan pertunjukan itu, saya mulai tersihir dari sejak pertama saya duduk di depan panggung.

Pertunjukan dimulai dengan sajian tari para tentara berseragam warna emas, dengan musik tetabuhan bertalu-talu. Ki Dalang kemudian muncul bersama beberapa tokoh yang menceritakan awal kisah bermula. Dilanjutkan dengan munculnya wayang Tavip, yang menjadi salah satu bagian penting penceritaan kisah, sepanjang pertunjukan berlangsung. Dan sepanjang pertunjukan teater ini, saya tidak hanya menikmati lakon peran dan wayang Tavip saja, tapi juga seni tari, dan suara para tokoh yang melantunkan lagu-lagu nan sendu. Perpaduan seni yang menyatu harmonis, dengan tata panggung, make up dan kostum, serta musik yang tertata apik, adalah kehebatan teater ini. Termasuk pula kepiawaian para seniman Teater Koma yang berlakon dengan penuh totalitas.

Yang paling menarik bagi saya tentu saja suara lantang ki Dalang dan kepiawaiannya memancing tawa penonton. Paling suka adalah ketika ki Dalang menirukan berbagai suara dengan mulutnya, seperti suara musik ‘plak,,ketimplung‘ atau suara jatuhnya peci di atas kepala Sie Ting San ‘pluk!’ (Salut untuk Pak Budi Ros!). Selain Dalang, ada banyak hal lain di tengah cerita yang juga memancing tawa penonton: pembicaraan tentang konsep jalan tol oleh seorang tokoh kepala perampok, gaya&tingkah yang menggemaskan dari peri-peri di akkhhhhhirat (harus begitu ngomongnya :D), gaya Hwanlihoa menyebut nama ‘Siiiiiie Teng San’ (dengan logat cina yang khas), atau figur-figur wayang Tavip yang unik.

Beberapa kesalahan teknis kecil rupanya juga mampu memancing tawa penonton, seperti saat peri-binan menjatuhkan Kipas di tangannya, lalu dengan buru-buru mengambilnya kembali…atau tongkat sang guru Hwanlihoa yang nyangkut di sanggulnya…hahaha.

Kelucuan paling juara, bagi saya, adalah ketika salah satu tokoh – si kepala perampok yang mengaku penemu konsep jalan tol – mengeluarkan jurus ambles bumi. Dia berdiri sambil mengangkat satu tangannya, lalu menggoyang-nggoyangkan pantatnya, merunduk, dan langsung merangkak bersembunyi di bawah meja. Sesaat kemudian sebuah kain hitam turun menutupi kolong meja tempatnya bersembunyi, dan di atasnya tertulis kata ‘BUMI’. Haha…benar-benar juara!!

Ada beberapa pesan yang tersampaikan lewat pertunjukan sepanjang 4 jam ini. Tentang kejujuran, pengorbanan, kasih sayang keluarga, dan masih banyak lagi. Tapi ada satu tema yang saya tangkap dari dialog salah satu tokoh “Jangan terjebak pada takdir, manusia punya kesempatan untuk memilih masa depannya sendiri.”

Yup! Bagi saya, ini adalah tema yang penting dan menarik dari keseluruhan pertunjukan teater. Manusia selalu punya kesempatan untuk mengambil keputusan bagi masa depannya sendiri. Jangan pernah menyalahkan takdir untuk setiap kesulitan atau kesusahan yang dihadapi hidup. Jangan berhenti bermimpi dan berjuang untuk sebuah alasan bernama ‘takdir.’ Life is in our hand…and the decision is already in our pocket. Let’s decide our own destiny! 😉

Menonton teater selama 4 jam memang cukup membuat ngantuk. Apalagi ada beberapa cerita yang terkesan diulang-ulang sehingga kadang membosankan.

Tapi, sungguh..pertunjukan teater tadi malam merubah pandangan saya terhadap teater dan keseluruhan pernak-perniknya. Saya tetiba mulai menyukai teater. Dan kalau ada yang mengajak saya menonton pertunjukan teaternya Teater Koma suatu hari nanti, saya tidak perlu berpikir dua kali. Saya akan menonton teater lagi! 😀

Advertisements

2 thoughts on “Teater Pertama yang Membuat Saya Terkesan”

    1. Siap pak Budi Ros..Insya Allah saya akan menonton lagi September mendatang. 😉
      Makasih sudah mampir ke blog saya pak…hehe

      Salam,
      Prie

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s