Ikhlas itu Tuhan yang Menentukan…


Tadi siang dapet materi menarik dari Ust. Arifin Ilham di pengajian bulanan kantor. Bersyukur banget, kerja di sebuah perusahaan yang peduli pada kebutuhan pekerjanya akan pengetahuan agama. Dan nggak tanggung-tanggung, setiap bulan selalu ada ustad terkenal yang diundang di pengajian bulanan kantor. Alhamdulillah ya, sesuatu banget…:D

Eniwei, tema pengajian siang tadi adalah tentang ‘Tujuan Hidup‘. Ada beberapa hal yang masih kuingat dari apa yang disampaikan Ust.Arifin tadi.

Pertama, ada tiga jenis manusia di bumi ini: Manusia Zero/kosong (atau apa gitu istilah bahasa Arabnya, uhuk…lupa T_T), yaitu mereka yang kehadirannya tidak berarti sama sekali bagi orang lain. Dia ada atau tidak ada, orang lain tidak merasa diuntungkan ataupun dirugikan. Pernah mengenal orang semacam itu? Atau pernah merasa menjadi orang semacam itu? Naudzubillahimindzalik…semoga tidak ya 🙂

Yang kedua adalah orang yang kehadirannya justru merugikan orang lain. Kalau orang itu tidak ada, orang lain justru berbahagia. Yang begini biasanya golongan-golongan penjahat, mulai dari kelas teri-cucut-bandeng-pindang-sarden-atau kakap…hehehe.

Yang terakhir nih, adalah mereka yang kehadirannya selalu dirindukan dan dinantikan, karena keberadaan mereka selalu memberi kebahagiaan. Kehilangan orang-orang seperti ini akan membuat banyak orang sedih.

Tentunya menjadi manusia jenis ketiga (yang lagi-lagi saya lupa istilah bahasa Arabnya, hiks) adalah dambaan setiap ummat. Menjadi seseorang yang bermanfaat, atau Impactful…meminjam istilahnya Pak Anies Baswedan, hehe.

Semoga kita semua tergolong orang yang Impactful ya. Amiinnnn…

Disamping itu, kata Ust.Arifin, ada lagi penggolongan umat Muslim yang wajib kita tahu. Pertama, adalah Muslim saja, yaitu mereka yang berstatus sebagai umat beragama Islam, namun belum menjalankan ajaran-Nya dengan baik dan benar. Barangkali agak dekat istilahnya dengan ‘Islam KTP’ ya, hoho.

Di level kedua ada Mukmin, yaitu umat Islam yang telah menjalankan ajaran-Nya dengan baik, namun  masih sering ‘lupa’ berbuat hal yang dilarang. Umat di level ini bisa kita jumpai di masjid, dalam saf sholat berjama’ah, atau di pagi buta saat orang lain tertidur dan dia berdingin-dingin mengambil air wudhu.

Level ketiga disebut Muklis, ini adalah golongan umat yang hampir sempurna ibadahnya. Namun ada beberapa hal yang membuat ibadahnya kurang sempurna. Misalnya sifat Ujub (semoga penulisannya benar :D), yaitu membanggakan diri sendiri atas ibadah yang telah dilakukan.   Ujub ini berbeda dengan Riya’, karna Riya’ berarti membanggakan diri di hadapan orang lain. Barangkali kita pernah ya berbuat baik, lalu terlintas di pikiran ‘Orang lain belum tentu nih bisa kayak gini,’ sifat seperti ini bisa tergolong Ujub loh. Uhuk…

Level tertinggi dimiliki oleh Muklas, yaitu mereka-mereka yang berpikir bahwa apapun yang mereka kerjakan adalah ibadah kepada Allah, dan mereka selalu berusaha mencari Ridho-Nya.

Orang-orang seperti ini adalah mereka yang selalu ikhlas dalam berbuat baik dan beribadah. Ikhlas dan Sabar menjadi kunci dalam segala perbuatannya. Selain itu, mereka selalu ‘merendahkan diri’ di hadapan Allah. Allah bahkan menyukai orang-orang yang selalu ‘menghinakan diri’ di hadapan-Nya. Artinya apa? Kita sebagai manusia nggak boleh sombong dengan apapun yang kita punya. Karena semua yang kita punya adalah pemberian dari Allah, Tuhan kita. Maka dari itu, dzikir yang sangat dianjurkan    setelah shalat, terutama shalat malam, adalah istighfar…Astaghfirullahaladzim. Agar kita selalu ingat akan kesalahan dan dan sifat sombong yang ada pada kita. Agar kita selalu memohon ampunan untuk setiap dosa yang kita perbuat. Agar kita selalu ‘merendah dan menghinakan diri’ di hadapan-Nya. Dan sikap ‘merendah’ ini juga sebaiknya tidak hanya kita tujukan pada Allah, tapi juga seluruh makhluk di muka bumi ini. Termasuk ‘merendah’ di hadapan orang-orang yang berada di bawah kita. Artinya apa? kita harus menghormati siapapun orang yang ada di hadapan kita, bahkan mereka yang status sosialnya dipandang lebih rendah dari kita. Karna bisa jadi, di hadapan Allah status mereka jauh lebih tinggi dari kita. Tentunya tanpa sifat Ikhlas, akan sulit bagi kita untuk selalu ‘merendah’ ya…

Ilmu ikhlas memang bukan ilmu yang mudah. Apalagi kita, sebagai umat manusia, tidak pernah bisa menentukan apakah kita sudah benar-benar ikhlas atau belum. Hanya Allah-lah yang tahu persis kadar keikhlasan kita. Tugas kita sebagai umat manusia adalah terus berusaha mencari Ridho-Nya, karena ikhlas itu hanya Tuhan yang bisa menentukan…^_^

Sebenarnya masih banyak yang disampaikan Ust.Arifin tadi. Berhubung kapasitas memori otak saya terbatas, hanya ini yang bisa teringat…hehe, semoga bermanfaat 😉

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s