Keyla (Tetesan 2)


Hari masih pagi benar ketika Keyla membuka matanya. Sisa tetes air hujan yang menderas semalaman masih terdengar di teras kamar tidurnya. Terseok-seok Keyla melangkahkan kaki menuju jendela kamarnya yang langsung menghadap jalanan kompleks. Saat jendela itu ia buka perlahan, angin dingin berhamburan masuk ke kamar Keyla. Tubuhnya yang hanya dibalut baju tidur tipis menggigil kedinginan.

Satu-dua tetes air hujan turun dari atap dan pucuk-pucuk dedaunan. Keyla mengamati setetes air hujan yang baru saja jatuh dari atap, tepat di atas bunga anggrek putih di sebuah pot tanah liat. Tetes air itu tak langsung pecah, bergulung-gulung bergulir di kulit bunga anggrek dalam bentuk butiran air bening. Tampak enggan ia mengucapkan kalimat perpisahan saat sampai di ujung tepian si bunga anggrek yang cantik. Perlahan butiran air bening itu melepaskan genggamannya pada si bunga, lalu bagai pemuda baru saja putus cinta, ia terjun bebas. Tetes air hujan itu sempat menabrak tepian pot tanah liat, sebelum terburai menjadi tetesan-tetesan kecil yang langsung membasahi lantai teras kamar Keyla. Indahnya. Keyla berucap pelan dalam hati.

Bagi Keyla, suasana pagi adalah pemandangan paling indah. Apalagi setelah hujan deras semalaman. Angin dingin di kala pagi membuat pikiran dan hatinya seperti terlahir kembali, bersih dan segar. Suasana pagi yang sepi, membuatnya mampu melahirkan ide-ide baru. Pagi, bagi Keyla, adalah saat yang tepat untuk bersyukur atas nikmat yang diberikan Tuhan di setiap detik hidupnya.

Dan hal paling menarik bagi Keyla adalah mengamati perubahan warna bumi, dari gelap menjadi terang. Hanya beberapa menit saja, dan perubahan itu selalu terlihat nyata.

Keyla melirik jam dinding di atas tempat tidurnya. Pukul 5.00. “Sebentar lagi dia datang.” Gumamnya pelan.

Dari ujung jalanan kompleks, seorang pria berjalan terbungkuk-bungkuk mendorong gerobak berisi buntelan-buntelan plastik. Ia selalu berhenti di depan tong sampah, memindahkan semua isinya ke dalam gerobak, lalu berpindah ke tong sampah berikutnya. Saat ia sampai di depan pagar rumah Keyla, ia berhenti sebentar, lalu menengadahkan kepalanya. Dilambaikannya tangan kanannya yang terbungkus sarung tangan usang ke arah Keyla.

Keyla membalas lambaian tangan itu, “Pagi, Kek!” Teriak Keyla sambil tersenyum sumringah. Pria bersarung tangan usang itu mengangkat jempolnya sambil tersenyum, dan segera berlalu dengan gerobak sampahnya.

Keyla belum beranjak. Ia masih mengamati pergantian warna bumi dari teras kamarnya. Perlahan-lahan jejak matahari mulai nampak. Warna langit yang tadi gelap pekat kini mulai memudar. Meski sinar matahari tak nampak, pun suara kokok ayam tak pernah terdengar sebagai penanda pagi di kompleks perumahan Keyla, namun pergantian warna bumi masih tetap bisa terlihat. Paling tidak, Keyla masih bisa menandai datangnya pagi dari ujung sebuah tower provider telekomunikasi yang terlihat dari teras kamarnya. Semakin jelas terlihat ujung tower itu, berarti hari semakin beranjak siang. Sekitar pukul 6.00, ujung tower itu akan terlihat jelas.

Dan saat itu pula, sebuah sepeda yang dikendarai seorang anak laki-laki berseragam biru-putih akan berhenti di depan pagar rumah Keyla. Terdengar suara Kring sebentar dari sebuah bel kecil di bagian depan sepeda yang juga kecil itu. Anak laki-laki itu lantas melemparkan segulung kertas berisikan banyak tulisan ke teras rumah Keyla. Mendongakkan kepalanya sebentar ke arah Keyla, melambaikan tangan sambil tersenyum dan berteriak, “Selamat membaca, Kak!” lalu beranjak pergi dengan sepedanya.

Tepat sebelum anak itu menggenjot sepedanya, Keyla akan berteriak, “Selamat belajar, Dek. Selamat mengejar mimpimu!”

Dan itulah saat yang tepat untuk Keyla beranjak. Memulai rutinitas paginya dengan hati senang dan tenang.

*

Kantor masih sepi saat Keyla sampai di mejanya. Sebuah memo kecil tertempel di keyboard komputernya. Rapat hari ini jam 9.00. Demikian pesan singkat yang tertulis di memo itu. Keyla menarik napasnya panjang, ada beban yang tiba-tiba memberat di dadanya.

Good morning my princess, here’s your morning coffee.” Reyhan menyodorkan satu cup espresso pada Keyla.

Bau harum kopi menyebar ke seluruh ruangan. Keyla menyambut kopi di tangan Reyhan dengan tersenyum. “You always know what I need the most, right at the time, Rey.” Keyla mengerlingkan matanya ke arah Reyhan, sambil menyeruput espressonya pelan. Wangi kopi bagai sihir dalam hidup Keyla. Seluruh bebannya seolah tiba-tiba luruh saat ia mencium aroma kopi, apapun jenisnya.

“Gue nggak bisa datang rapat pagi ini, Key. Ada ketemuan dengan klien jam 9 di Kemang.” Ucap Reyhan sambil menatap Keyla penuh sesal.

Don’t be so sorry, I’ll be just fine.” Keyla tersenyum dan mengusap pundak Reyhan. Meyakinkan bahwa dirinya akan baik-baik saja.

Yeah, I know. You will always be fine.” Reyhan mengangkat bahunya, lalu menyeruput kopi hitam di tangannya.

Ada keheningan yang tiba-tiba menyeruak di antara wangi aroma kopi.

I’ll be just fine. Batin Keyla meragu.

*

Baru lima menit Keyla memulai presentasinya, saat seorang pria berkumis bertampang umur 40-an mengangkat tangannya, dan berkata dengan intonasi tinggi, “Langsung ke intinya saja, Dek!”

Keyla tidak suka presentasinya dipotong, apalagi oleh seorang bapak-bapak berkumis yang memanggilnya ‘Dek’. Seandainya pria berkumis itu bukan manajernya.

“Jadi begini, Pak. Seluruh detil acara, termasuk segala perlengkapannya, sudah saya buatkan rancangannya. Kalau saja koordinator acara promo kemarin mengikuti seluruh rancangan yang saya buat, saya yakin kerusuhan itu tidak akan terjadi. Apalagi…”

“Omong kosong!” pria berkumis itu lagi-lagi memotong kalimat Keyla. “Dea menjalankan seluruh instruksimu, dan kerusuhan itu tetap terjadi. Dari awal saya sudah nggak yakin sama ide promo itu. Hanya buang anggaran dan energi, hasilnya nol besar!” Pria itu melotot ke arah Keyla.

“Kalau bapak tidak setuju, kenapa dulu tidak bapak sampaikan saat rapat direksi? Saya masih ingat, Bapak dulu ikut mendukung ide saya.” Keyla menatap pria berkumis itu. Ada yang terbakar di dada Keyla, panasnya membuat air mata Keyla hampir tumpah.

“Hari ini kita rapat bukan untuk membahas masa lalu. Hari ini kita akan mencari solusi atas permasalahan yang sudah terjadi. Silahkan lanjutkan pertengkaran kalian setelah rapat ini selesai.” Seorang pria berjas hitam menatap Keyla dan bapak berkumis itu bergantian. Mukanya tampak gusar.

Suasana rapat menjadi lebih tenang setelah pria berjas hitam itu angkat bicara. Keyla melanjutkan presentasinya, dan pembahasan selanjutnya mengalir lancar. Sesekali perdebatan kecil antara Keyla dan bapak berkumis itu masih terjadi, dan sesekali pula Keyla disudutkan oleh para lelaki di ruang rapat itu. Menjadi satu-satunya perempuan di ruang rapat seperti ini bukan hal baru lagi bagi Keyla.

Hari ini, Keyla mempresentasikan hasil analisanya terhadap kasus kerusuhan yang terjadi di acara promo seminggu yang lalu. Ada beberapa hal janggal yang ia temukan, yang mengarah pada satu kesimpulan: kerusuhan itu disengaja, entah oleh siapa. Setelah dua jam berlalu, rapat akhirnya ditutup oleh pak direktur berjas hitam. Saat seluruh peserta keluar dari ruang rapat, Keyla mendengar sebuah perbincangan antara manajer dan direkturnya.

“Dari awal, saya memang nggak yakin bahwa perempuan seperti Keyla bisa memimpin. Bagaimanapun, posisi pimpinan memang lebih baik laki-laki.” Suara kasak-kusuk bapak berkumis terdengar dari balik pintu.

Entah bagaimana respon direktur pemasaran berjas hitam itu. Suara para lelaki itu semakin mengecil, menyisakan hening di ruang rapat yang hanya tinggal Keyla dan kertas-kertas berserakan di atas meja. Sejak awal masuk di perusahaan ini, Keyla memang harus berjuang ekstra keras, hingga akhirnya bisa sampai di posisinya sekarang. Perusahaannya memang berlabel multi nasional, namun entah kenapa perempuan tetap harus berjuang dua kali lebih hebat untuk mendapatkan posisi yang sama dengan para laki-laki.

Keyla merapikan kertas-kertas yang berserakan di atas meja. Suara rintik hujan terdengar dari luar ruang rapat. Hatinya yang panas berangsur mendingin, seiring tetes air hujan yang turun ke bumi siang itu.

Hujan selalu membawa hawa dingin yang mampu mendinginkan, bahkan membekukan, panasnya hati.

Advertisements

4 thoughts on “Keyla (Tetesan 2)”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s