When U Love Someone


 

I love u but it’s not so easy, to make u here with me

I wanna touch and hold u forever

But u still in my dream…

 

Nayla menatap gitar tuanya. Sudah seminggu ini ia memainkan lagu itu berulang-ulang. Berharap ada kekuatan lebih untuknya setelah menyanyikan lagu itu.

Damn…gampang banget ya dinyanyiin, dilakuinnya susahhhhhh.

Nayla merutuk dalam hati. Lagu ini benar-benar merepresentasikan dirinya saat ini. Seorang perempuan yang jatuh cinta setengah mati pada seorang lelaki, namun sama sekali tak punya nyali untuk mengatakannya. Jangankan mengatakan, menunjukkannya saja Nayla tak berani.

***

@Rey_Reyhan When u love someone, just be brave to say…

“Mamiiiiiiiiiiiiiiiiiii….!!” Nayla berteriak histeris dari kamar kosnya. Seorang perempuan berkerudung handuk tergopoh-gopoh menuju kamar Nayla.

“Lu kenapa Nay??” dengan wajah panik perempuan berkerudung handuk itu mendekati Nayla.

“Ini apa maksudnya Rey nge-twit kayak gini, Mam? Jangan-jangan dia tau kalo gue suka ama dia?” Nayla berteriak tak kalah paniknya.

“Astagaaaaaa…kupikir ada apa Nayla.” Perempuan yang dipanggil Mami itu mengacak rambut Nayla kasar.

Perempuan itu adalah teman kos Nayla, sekaligus sahabat terbaiknya. Nama sebenarnya adalah Merry. Nasehat-nasehatnya yang kadang lebih mirip nasehat ibu-ibu itulah yang membuat Nayla memanggilnya dengan sebutan ‘Mami.’

“Lagian bukannya Lu harusnya seneng kalo dia tau Lu suka ama dia? Lebih cepat lebih baik Nay.” Merry menatap wajah Nayla, melotot lebih tepatnya.

“Yes, but not this time.” Nayla menutup mukanya dengan kedua tangannya.

“Setelah tiga tahun, dan Lu masih bilang ‘not this time’?? C’mon Naylaaaaa…” Merry mengguncang tubuh Nayla tak sabar. Sudah tiga tahun terakhir ini ia menjadi saksi jatuh bangunnya Nayla mencintai seorang Reyhan dalam diam. Dan ia yang selalu menjadi tempat sampah bagi curhatan-curhatan Nayla yang isinya selalu sama. Reyhan, dan ketakutan Nayla pada perasaannya sendiri. Dan itu melelahkan.

“Lu nggak capek ya Nay, menebak-nebak isi hati Reyhan dari status FB, isi Timeline, SMS-SMS, bahkan isi playlist-nya? Lama-lama bisa gila Lu, Nay.” Merry melempar Nayla dengan bantal bulunya. “Tidak ada siapapun di dunia ini yang bisa membaca isi hati orang lain, Nay, bahkan Magician sekalipun. Perasaan itu untuk diungkapkan, bukan disimpan rapat-rapat dalam hati. Bahkan rasa, kalau disimpan terlalu lama, akan basi juga. Dan kamu tau basi itu rasanya gimana? Kalau nggak kecut, ya pahit. Elu mau hidup Lu berasa pahit selamanya??” Merry menjulurkan lidahnya dan tertawa lepas setelahnya.

Nayla tertunduk. Diam. Tiga tahun terakhir ini memang hidupnya hanya punya dua rasa, kecut dan pahit.

***

When u love someone…

Just be brave to say, that u want him to be with u

When u love someone…

Don’t ever let it go, or u will lose your chance

To make your dreams come true

Nayla membanting gitar kesayangannya kasar.

Aku capek jadi stalker terus-terusan. Rutuk Nayla dalam hati.

Tiga tahun Nayla menyimpan rasa untuk seorang Reyhan. Tiga tahun ia diam-diam mencari tahu apapun tentang Reyhan. Dan benar kata Merry, tiga tahun ia belajar menebak isi hati Reyhan dari status-status Facebook dan Twitternya. Dan selama itu pula, status-status Reyhan mampu menjungkirbalikkan hati Nayla. Terkadang, cinta dalam diam memang lebih hebat dari cinta yang terucap. Meski terkadang pula, kata ‘hebat’ itu terlalu dekat maknanya dengan kata ‘bodoh.’

Pernah suatu hari Nayla tiba-tiba ke kampus dengan memakai high heels. Seorang Nayla yang tak punya alas kaki lain selain sandal jepit dan sepatu sneakers, tiba-tiba memakai heels. Hanya karena malam sebelumnya Reyhan menulis status ini di FB-nya: “A women and high heels,,,don’t ever try to separate them apart unless you want to die”

Hasilnya, Reyhan tertawa terpingkal-pingkal melihat Nayla berjalan kesusahan dengan heels-tujuh-senti-nya. Dan, usut punya usut, ternyata Reyhan menulis status itu justru karena ia tak suka melihat perempuan memakai heels terlalu tinggi.

Lain waktu, Nayla dibuat kelabakan dengan isi timeline Reyhan yang berbunyi, “You’re too sexy,, I can’t help falling in love with you.” Hampir dua hari Nayla menangis di kamar Merry, dan bersumpah akan menyerah mencintai Reyhan. Sampai akhirnya ia tahu, Reyhan menulis itu untuk kamera barunya.

Bermain ‘tebak rasa’ seperti itu sangat melelahkan, memang. Tapi, tiga tahun Nayla bertahan dalam kondisi serba tak pasti seperti itu. Dan Merry selalu menyebutnya masochist, yaitu orang yang suka menyakiti diri sendiri. Karena memang benar adanya, cinta dalam diam itu hanya akan menghasilkan sakit dalam diri. Semakin dalam kita memuja seseorang diam-diam, semakin dalam luka yang akan kita rasakan. Ibarat memeluk pohon kaktus, kata orang. Semakin kamu memeluknya, semakin dalam kulitmu tertusuk durinya.

***

            “Rey, gue mau ngomong. Penting.” Nayla berbisik pelan di samping Reyhan. Malam itu adalah malam syukuran wisuda sebagian besar teman-teman kampus se-angkatan Nayla. Reyhan, tentu saja, termasuk di dalamnya. Boleh jadi, malam ini sekaligus menjadi malam perpisahan buat sebagian orang. Karena bagaimanapun, setelah malam ini setiap orang akan mengembangkan sayapnya masing-masing, lalu terbang menuju impian yang sudah tergambar jelas di depan mata. Bagi mereka yang masih rancu dengan impiannya sendiri, terkadang lebih memilih sembunyi di dalam sangkar lamanya, ketimbang beredar di kampus dan bersiap untuk sebuah pertanyaan,”Habis ini mau ngapain?” Pertanyaan yang selalu dihindari oleh siapapun yang baru saja menyandang gelar ‘Sarjana’.

Dan Nayla tidak mau malam ini benar-benar menjadi malam terakhir untuknya dan Reyhan. Setidaknya bukan akhir yang dia inginkan.

“Ada apa Nay?” Tanya Reyhan pelan, sambil bersandar di bawah tiang lampu di taman kampus. Redup cahaya lampu memantul dari atas, jatuh tepat di muka Reyhan, menghasilkan pesona yang mampu membuat hati Nayla jumpalitan. Sedari tadi Nayla hanya bisa tertunduk, sambil tangannya meremas-remas ujung gaunnya yang terkulai pasrah.

Hanya sesekali Nayla berani mengangkat muka, dan memandang Reyhan yang balas memandangnya dengan tampang keheranan. Tak biasanya seorang Nayla yang ceria, tiba-tiba terdiam tanpa sedikitpun unjuk suara.

“Aku….” Nayla terdiam. Suaranya tercekat di kerongkongan. Setiap menatap Reyhan, serasa ada bola daging yang tumbuh tiba-tiba di kerongkongan Nayla, dan menahannya berbicara. Jangankan mengeluarkan suara, bernapas saja rasanya sulit tak keruan.

“Aku suka sama kamu sejak tiga tahun lalu.” Seperti bola yang menggelinding di jalan beraspal, tiba-tiba suara Nayla kencang keluar tak tertahankan. Setelahnya, hanya air mata di pipi Nayla yang menghiasi diam di antara mereka berdua. Ada perasaan lega bercampur haru yang keluar bersama deraian air mata itu.

Reyhan berjalan mendekati Nayla. Berdiri persis di depan Nayla, ia berucap pelan, “Kenapa baru sekarang?”

Nayla memberanikan diri menatap mata Reyhan, “Aku takut…takut jika kenyatan tak seindah bayangan yang kuciptakan.”

“Dan kamu lebih memilih hidup dalam bayangan selama tiga tahun? Bodoh.” Reyhan tersenyum pahit. Diacaknya pelan rambut Nayla.

Nayla hanya bisa terdiam, menatap Reyhan dengan tatapan penuh harap. Jadi?. Tanyanya pelan, dalam hati.

“Hmpff…” Reyhan menghela napas. “Aku pernah memberanikan diri menanyakan ini padamu, Nay, dan jawabanmu membuatku ragu.”

“Hah, maksudnya?” Nayla terhenyak.

“Hari itu, tiga tahun lalu, kalau kamu masih ingat. Katamu, Kita nggak mungkin jadian, karna kita sahabatan.” Reyhan terdiam sejenak. Mata Nayla berkaca-kaca menahan derai air mata.

“Sejak hari itu, aku belajar mengubur perasaanku padamu, Nay.” Reyhan tersenyum, mengacak pelan rambut Nayla, lalu beranjak pergi. Meninggalkan Nayla sendirian di tengah taman, tergugu dalam penyesalan.

*

Hari itu, tiga tahun yang lalu.

“Nay, Merry jadian ya ama Glen? Akhirnya… padahal kan mereka uda sahabatan ya sejak kecil.” Reyhan bertanya sambil lalu, seolah-olah itu adalah pembicaraan maha-tidak-penting.

“Iya tuh.” Jawab Nayla pendek sambil matanya terus menatap layar komputer. Hari ini adalah praktikum statistika, mereka berdua masih asyik di lab komputer, meski praktikum sudah usai sejak setengah jam yang lalu.

“Kalau kita jadian gimana ya, Nay? Hehe..” ucap Reyhan pelan, sambil tersenyum menatap Nayla.

Nayla terhenyak, lalu cepat menolehkan kepala ke arah Reyhan. Seketika tawanya pecah. “Hahaha…ya nggak mungkin lah, kita kan sahabatan. Ada-ada aja Lu.” Diacaknya rambut Reyhan pelan.

Secepat kilat Nayla berpaling dari pandangan Reyhan, lalu kembali sibuk menatap layar komputernya. Entah kenapa keringat dingin tiba-tiba mengalir deras di sekujur tubuhnya. Hatinya serasa jumpalitan. Dan seluruh layar komputer di depannya tiba-tiba dipenuhi senyum Reyhan. Hari itu, Nayla resmi jatuh cinta.

05 Maret 2012

Untuk sebuah penyesalan

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s