Keyla (Tetesan 1)


Key mengamati tumpukan kertas di depannya. Keningnya berkerut-kerut, sesekali mulutnya pun ikut mengerucut. Diambilnya koran di atas meja yang menampilkan nama perusahaannya besar-besar dalam sebuah headline bertema ‘kerusuhan’. Lalu, pandangannya beralih pada proyeksi di dinding kantornya yang berisi grafik penjualan tiga minggu terakhir.

“Kok bisa ya?” Gumamnya pelan. Dipijitnya pelipis kanannya penuh tekanan, seakan ada gumpalan batu tertanam di sana.

“Sudahlah Key…Take your time! Turun dulu yuk ngopi!” Seorang pria bersetelan Armani masuk ke ruang rapat direksi, dan berdiri tepat di depan Keyla.

“Kopi nggak akan balikin tiga minggu terakhirku, Rey.” Ucap Keyla pelan. “Damn….daaammmn!” Teriak Key sambil membanting kertas di tangannya ke atas meja. Berbulan-bulan ia merancang strategi penjualan untuk produk terbaru perusahaannya, strategi yang mendapat tepuk tangan paling keras saat rapat direksi waktu itu. Dan hari ini, di rapat yang sama, ia justru mendapat cemooh dan amarah gara-gara strateginya itu.

C’mon, Key… Kopi emang nggak bisa balikin waktumu, tapi paling tidak ia bisa menghilangkan sedikit kerut di keningmu ini.” Rey meletakkan telunjuknya di kening Key, dan menatap mata Key sambil tersenyum.

*

Tetes air hujan bagai benang tak berujung menghiasi jalanan sore ini. Beberapa orang tampak berlari kecil sambil menutupi kepalanya dengan apapun yang ada di tangannya. Mereka yang tidak mempunyai apa-apa untuk dijadikan pelindung, hanya bisa menutupi kepalanya dengan tangan. Percuma. Batin Key sambil tersenyum. Lepaskanlah, nikmatilah. Batin Key terus berujar, sambil matanya tetap mengamati orang-orang yang berlalu lalang.

What’s your plan now?” Tanya Rey yang duduk persis di depan Keyla. Tangan dan matanya terpaku pada sebuah gadget di atas meja.

“Berlari keluar, menikmati tetesan hujan.” Ucap Key tanpa mengalihkan pandangannya sedetik pun.

“Heh…gue serius nanyanya, Key.” Rey mengalihkan pandangannya ke arah Keyla, yang bahkan tidak peduli pada apapun di sekitarnya, selain hujan. Ia tampak asyik menatap jalanan di depan café tempat mereka berada sekarang, dari balik jendela kaca. Kondisi jalanan saat hujan seperti ini bukan pemandangan yang mengasyikkan, sebenarnya. Kendaraan berlalu-lalang, suara klakson dan rem mobil bersahutan, dan kadang dilengkapi suara makian dan teriakan. Apanya yang asyik? Batin Rey keheranan.

Tiba-tiba Keyla mengalihkan pandangannya dari kaca jendela, lalu menatap Rey sambil tersenyum. “Main tebak-tebakan yuk!” Keyla mengerlingkan sebelah matanya, lalu mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan café.

Rey sudah paham apa yang dimaksud Keyla. Mereka berdua sudah terbiasa memainkan permainan tebak-tebakan ini.

Tempat umum, bagi mereka berdua, adalah laboratorium observasi terbaik untuk memahami perilaku manusia. Dan acapkali, mereka menjadikan itu sebagai sebuah permainan yang mengasyikkan.

Keyla menunjuk sepasang laki-laki dan perempuan paruh baya yang sedang duduk di salah satu sudut ruangan. Kedua orang itu tampak duduk berhadap-hadapan, sibuk dengan dunia mereka masing-masing. Si laki-laki asyik membaca Koran, dan si perempuan tampak sibuk dengan gadget di tangannya. “Tipikal pasangan suami-istri yang telah menikah puluhan tahun, tapi belum menemukan esensi dari pernikahan itu sendiri.” Ucap Keyla sambil terus menatap pasangan itu. “Your turn.” Katanya sambil memalingkan kepalanya ke arah Rey, dan tersenyum lebar.

Rey menunjuk seorang perempuan bertampang umur 30-an yang duduk tepat di depan mereka. Wajahnya cantik, dengan balutan pakaian merek ternama. Rambutnya ikal, tergerai sebahu. Kaca matanya berbingkai ungu, memberi kesan cerdas di tampangnya yang rupawan. Sesekali ia mengangkat telpon, lalu berbicara cepat, tanpa pernah sedetikpun pandangan matanya beralih dari layar sebuah komputer tablet di tangannya. Sekilas hidupnya terlihat sempurna. Tapi ada siratan lelah dan kesepian di matanya yang tersembunyi di balik lensa kacamata.

“Seorang wanita karier yang belum punya pasangan. Hidupnya terlihat sempurna, tapi sebenarnya ada yang masih belum ia temukan.” Rey menatap Keyla, lalu tersenyum simpul.

She’s just like you…hahaha.” Reyhan tergelak sambil memegangi perutnya. Derai tawa mengalirkan air mata di sudut matanya. Tawa yang sangat puas. Sangat khusyuk, meminjam istilah Reyhan untuk tawa berderai semacam itu. Dan Keyla hanya bisa menikmati tawa itu, sambil merutuk dalam hati.

*

Keyla baru saja pulang dari London dua hari yang lalu. Tiga minggu ia berkutat dengan diskusi-diskusi panjang dan melelahkan, di antara tamparan salju yang sedang menggila di jantung negeri kelahiran Lady Diana itu. Bukan keinginannya untuk ikut Product Development Course di kota yang menurutnya membosankan itu. Manajernya lah yang berinisiatif mengusulkan namanya untuk menjadi salah satu peserta course, yang belakangan baru ia sadari, course itu hanya alasan untuk menghancurkan strategi penjualan yang baru saja ia luncurkan.

“Harusnya gue ga usah ikut kursus sialan itu.” Rutuk Key sambil menyeruput espresso-nya.

Many people would kill for that course, Hunny. Ga usah disesali, ambil hikmahnya aja.” Ucap Reyhan pelan, sambil tangannya melambai ke arah seorang perempuan mungil berkaos hitam yang sedang hilir-mudik. Ada gambar biji-biji kopi dan sebuah nama berbahasa Itali di kaos perempuan itu. Gambar dan tulisan yang persis sama ada di cover daftar menu di tangan Reyhan. Dengan sedikit gerakan tangan, Reyhan memberikan kode ‘kopinya-nambah-satu’ pada perempuan gesit itu.

“Tapi kalau gara-gara course itu karir gue hancur, mendingan ga usah ikut deh.” Keyla menyeruput espresso-nya untuk yang terakhir kali. “Gue nggak pernah instruksiin Dea untuk merubah detil apapun di rencana promo itu. Kalau semua instruksi gue dijalanin, nggak mungkin hasilnya jadi kayak gini.”

Brak!

Suara dasar cangkir beradu dengan meja kayu membuat beberapa pasang mata melotot ke arah Keyla. Sorot mata khawatir muncul dari orang-orang berseragam kaos hitam, dengan gambar biji kopi dan tulisan Itali di bagian depannya. Sorot mata yang seolah berkata ‘jangan-hancurkan-café-kami-mbak’.

“Kerusuhan itu di luar rencana, Key. Kita juga nggak nyangka animo konsumen bakal sehebat itu.” Bisik Reyhan tertahan. Mukanya merah, antara malu dan menahan amarah. Bayangan kerusuhan di acara promo produk terbaru perusahaan mereka sebulan yang lalu membuatnya emosional.

Tiga bulan lalu, Keyla mengusulkan sebuah metode promo dengan membuat program “Two Days for Your Tomorrow” di salah satu mall terbesar di Jakarta. Di program tersebut, Keyla merencanakan penjualan produk terbaru perusahaannya secara massal dalam waktu dua hari. Produknya kali ini adalah sebuah komputer tablet, yang dirancang khusus untuk para pecinta desain grafis. Konsepnya sederhana saja, desain grafis yang lebih user friendly, bisa dikerjakan dimana saja, oleh siapa saja, bahkan pemula sekalipun. Di gadget terbarunya ini, siapapun bisa membuat sebuah karya grafis, tanpa harus menjadi ahli desain grafis. Ini karena banyak aplikasi grafis yang ditawarkan dalam satu unit komputer tablet, yang jauh lebih ringan dan easy to use, dibanding aplikasi yang selama ini sudah populer. Tentu saja tanpa meninggalkan aplikasi-aplikasi lain yang lazim ada dalam sebuah komputer tablet.

Keyla berniat memasukkan program promonya ini ke dalam Museum Rekor Indonesia, dengan mengajak 1000 pengunjung mall membuat karya grafis dengan produk komputer tablet yang ia jual. Targetnya sebenarnya bukan rekor itu, tapi dengan program ini, paling tidak akan ada minimal 1000 orang yang telah mencoba produk terbarunya, hanya dalam waktu dua hari.

Sayang, sebuah kerusuhan di hari kedua acara promo itu menghancurkan semua rencana Keyla.

*

Keyla adalah seorang perempuan enerjik berotak jenius. Energi dan semangatnya seolah tak terbatas, meruap kemana-mana. Berada di dekat Keyla seolah tiba-tiba ‘tercerahkan.’ Selalu ada ide baru di kepala perempuan cantik itu.

“Keyla itu seperti pelangi.” Begitu menurut Reyhan. Tidak hanya karna hidupnya yang terlihat berwarna, tapi juga karna kecintaanya pada hujan yang terkadang berlebihan. Hujan, bagi Keyla, seperti belahan jiwa yang lama hilang. Seorang Keyla yang energik, tiba-tiba bisa duduk diam berjam-jam melihat hujan. Benar-benar hanya duduk termangu di depan kaca, melihat tetes-tetes air hujan sambil tersenyum-senyum seperti orang jatuh cinta. Bagi Reyhan, itu tidak masuk akal.

“Kenapa sih kamu tergila-gila sama hujan?” pernah Reyhan bertanya pada suatu senja selepas hujan. Sore itu, mereka berdua sedang mengerjakan sebuah proyek promo di teras rumah Keyla.

Keyla terdiam cukup lama. Rambut ikal sebahunya terbang tertiup angin senja yang dingin. Matanya terpejam dan mulutnya menyunggingkan senyuman. Kedua tangannya sengaja ia tengadahkan di bawah cucuran air hujan yang jatuh dari atap rumah mungilnya.

“Hujan mengobati rinduku pada Papa.” Ucap Keyla tiba-tiba.

Reyhan terdiam, mengamati Keyla yang sedang menikmati air hujan. Pertanyaan berikutnya ia simpan diam-diam, takut merusak suasana sore itu. Pelan terdengar Keyla menggumam.

Hujan itu bagai mesin pemintal kenangan, setiap tetesnya mampu menghadirkan serpihan-serpihan kenangan masa lalu.


Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s