Diteror Mantan di FB



Ini sebenarnya cerita teman kuliah saya. Kejadiannya sekitar setahun yang lalu. Teman saya pernah berpacaran dengan seorang cowok yang ia kenal lewat dunia maya. Kebetulan cowok itu satu universitas dengan kami, tapi beda fakultas. Dan dari awal saya diperkenalkan dengan cowok itu, saya memang merasa ada yang beda dengan pribadi cowok tersebut. Sampai akhirnya salah satu teman perempuan kami yang lain bercerita pada saya, kalau ia pernah ‘dipegang’ sama cowok itu.

Tapi kami terus terang saat itu tidak berani ‘memperingatkan’ teman kami tersebut tentang pribadi si cowok yang kami nilai agak ‘berbeda’. Bukan karena kami tidak peduli, tapi kami tidak berani, karena teman kami itu tidak pernah curhat atau bercerita apapun tentang cowoknya pada kami.

Sampai pada suatu hari, di akhir masa kuliah kami saat itu, ada kabar bahwa teman saya itu putus dengan cowoknya. Tidak ada yang spesial dari berita itu. Kami pun mendengar kabar itu sambil lalu. Kami baru terhenyak saat tiba-tiba menerima sebuah mesej di inbox FB kami dari akun teman saya tersebut, yang isinya sungguh membuat kami terkejut.

Di  mesej tersebut, si cowok membuat semacam pengakuan tentang kisah cinta mereka selama ini. Dia mengatakan bahwa mereka sudah menikah siri, tanpa seijin orang tua si cewek. Bahkan ia bercerita bahwa teman saya pernah hamil dan keguguran, dan dia menyalahkan organisasi kampus tempat teman saya beraktivitas, yang ia anggap sebagai penyebab keguguran itu.

Mesej tersebut sangat panjang, dan ia sangat ‘berani’ dalam mengungkapkan hal-hal yang sifatnya sangat pribadi. Bahasanya vulgar, dan ditulis dengan detil seolah-olah semua kisah itu benar keseluruhannya. Di akhir mesej, bahkan dia menuliskan nama sebuah komunitas agama di suatu kota, yang memang benar-benar ada. Ia mengatakan bahwa mereka berdua telah bersumpah atas nama komunitas beragama itu, dan akan terjadi apa-apa jika teman saya mengingkari janji tersebut. Dan di setiap kisah yang ia tulis, ia menuliskan nama teman saya itu lengkap, dengan huruf kapital semua. Ceritanya benar-benar persuasif, bahkan meski kami semua tahu, cerita itu tidak nyata.

Mengingat teman saya itu salah satu aktivis kampus, dan bahkan pernah jadi ketua sebuah organisasi olahraga di kampus, saya yakin teman-teman FB-nya pasti banyak. Dan mungkin salah satu, atau beberapa, di antaranya adalah dosen kami. Dan mengingat semua itu, saya merinding. Betapa besar efek traumatis yang akan ditimbulkan dari teror FB ini.

Teror itu pun tidak hanya berhenti dalam bentuk sebuah mesej yang disebarkan kepada seluruh teman di friendlist FB teman saya tersebut. Tapi juga dalam bentuk status dan postingan di wall. Termasuk juga postingan foto di profil FB teman saya tersebut. Teror pun berlanjut melalui telpon dan sms ke nomer HP teman saya dan keluarganya. Dan terakhir, teror masih berlanjut di twitter. Bagi saya, mesej FB itulah yang menjadi teror paling membuat merinding, karena ceritanya benar-benar detil dan panjang. Dikirim secara personal, satu-satu, ke seluruh friendlist FB teman saya.

Dari kasus ini saya belajar banyak hal. Bahwa FB bisa jadi media tindak kriminal. Dan buat saya, tindakan yang telah dilakukan mantan pacar teman saya itu sudah termasuk tindakan kriminal, dan efeknya sangat merugikan. Tidak hanya bagi teman saya maupun keluarganya, tapi juga kami yang mendapat mesej itu, karena mau tidak mau itu menganggu. Dan bagi teman saya, tentu saja teror itu menghasilkan efek traumatis yang mungkin berat dan berkepanjangan.

Ada beberapa tips yang mungkin akan berguna, untuk menghindari teror semacam ini. Pertama, jangan mudah percaya dengan orang yang kita kenal lewat dunia maya. Bukan berarti kita tidak boleh berteman dengan siapapun melalui media jejaring sosial. Namun, sikap hati-hati dan waspada harus selalu kita tanamkan dalam diri kita.

Tidak semua orang di dunia maya itu jahat. Ada juga teman saya yang akhirnya menikah dengan seorang pria yang dikenalnya di dunia maya. Berbisnis, berteman, bahkan akhirnya jadi sahabat, juga bisa dilakukan dengan seseorang dari dunia maya. Tapi sekali lagi, tetaplah berhati-hati dan waspada.

Tips kedua, jangan berikan password akun FB kita pada siapapun, termasuk orang terdekat kita. Jika sudah terlanjur diberikan, gantilah password secara berkala. Dalam kasus teman saya di atas, sebaiknya ketika kita sedang ‘bermasalah’ atau bahkan putus dengan pacar kita, segera ganti password FB dan akun jejaring sosial lain. Ini untuk menghindari terjadinya teror melalui FB, atau akun jejaring sosial yang lain.

Informasi yang sudah terlanjur tersebar di internet akan cenderung bertahan lama, dibandingkan informasi yang tersebar melalui media lain. Hal ini dikarenakan jumlah pengguna internet yang sangat banyak, serta mudahnya berbagi informasi hanya dengan sekali klik saja. Teror yang mungkin semula hanya tersebar di friendlist FB kita, bisa tersebar lebih luas hanya dalam hitungan jam, menit, bahkan detik.

Seandainya saja jumlah teman di friendlist FB kita 100 orang saja. Jika setiap satu orang dari friendlist itu juga memiliki 100 orang teman, yang mungkin tidak kita kenal. Akan ada kemungkinan, informasi atau teror itu tersebar pada 100×100 orang. Bayangkan jika jumlah teman di friendlist jauh lebih banyak dari itu (dan saya yakin memang lebih banyak). Bayangkan pula jika setiap orang menyebarkan teror itu pada hari yang berbeda, maka perputaran teror kemungkinan akan terus terjadi sampai jangka waktu yang sangat lama. Inilah kenapa saya mengatakan, informasi yang tersebar di internet, khususnya melalui FB dan akun jejaring sosial lain, akan bertahan lama. Dan efek traumatis yang ditimbulkan dari teror yang tersebar melalui FB, tentunya juga lebih berat dan akan bertahan lama.

Tips ketiga, belajarlah bersikap asertif, khususnya pada pasangan kita. Asertif berarti berani mengungkapkan isi perasaan atau pendapat yang sebenarnya kepada orang lain, tanpa menyakiti orang tersebut. Ini terutama berlaku ketika, misalnya, pasangan meminta kita melakukan hal-hal yang mungkin akan berdampak negatif di kemudian hari. Mulai dari hal-hal sederhana, seperti minta password FB atau twitter, sampai hal-hal lain yang melanggar norma seperti ciuman, berhubungan seksual, atau bahkan membuat dokumentasi aktivitas seksual. Ini untuk menghindari adanya teror ketika kita sudah tidak menjalin hubungan lagi dengan mantan.  Biasanya, teror atau ancaman teror dari mantan pacar muncul ketika dia merasa punya ‘senjata’ untuk menakut-nakuti kita.

Tips keempat, segeralah memberikan konfirmasi kebenaran ketika ada yang menyebarkan berita negative (yang tidak benar) melalui akun FB kita. Hal ini untuk menghindari berita negative tersebut berkembang lebih luas. Semakin luas berita itu berkembang, akan semakin susah kita meluruskannya. Hal ini juga berlaku bagi para penerima berita. Sebaiknya kita segera melakukan konfirmasi pada yang bersangkutan, ketika ada berita negative muncul dari akun FB-nya. Hal ini juga untuk menghindari kita menyebarkan berita (yang mungkin salah) tersebut kepada orang lain. Serta agar kita tidak salah paham dan salah bersikap.

Teror bisa datang dari siapapun: hacker yang tidak kita kenal, teman, fans, atau seseorang yang dekat – atau pernah dekat – dengan kita. Untuk itu, kita harus selalu berhati-hati dan waspada dalam bersikap dan bertindak, termasuk juga berhati-hati dalam menggunakan akun FB. Jangan sampai akun FB justru jadi boomerang buat kita, dan akhirnya merugikan – bahkan membahayakan – diri kita.

(Tulisan ini sebenarnya mau diikutkan dalam sebuah proyek antologi, tapi karena saya telat, akhirnya tulisan ini tidak sempat saya kirim. Selain itu juga tulisan saya ini kurang panjang, jadi tidak memenuhi syarat ikut proyek tersebut. Ehehehe…:D)

Advertisements

2 thoughts on “Diteror Mantan di FB”

  1. Kejadian spt ini saya aalami,saya bingung mau ngadu kmn,krn sya juga terganggu diteror dan diancam terus sama sang mantan.

    1. Yang pasti orang2 terdekat harus tahu mbak, esp orang tua. Kalo kasus teman saya, akhirnya orang tsb benar2 di-block komunikasinya….termasuk dg keluarga.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s