Hujan


“Dia benar-benar bikin aku jatuh cinta.”

Aku tersenyum. Hanya itu yang bisa aku lakukan. Binar di matanya sudah cukup untuk menceritakan pria seperti apa yang membuatnya datang malam-malam ke rumahku seperti ini.

Bunga, boneka, coklat. Tiga ciri romantisme tipikal yang selalu ia dambakan, pasti telah diberikan pria itu.

“Dia berbeda, Rey.”

Aku menatapnya sambil tersenyum. Kalimat ini selalu muncul tiap ada pria baru datang dalam kehidupannya.  Dan ending-nya selalu sama. Hanya dalam hitungan bulan, minggu, bahkan hari, ia akan datang lagi padaku malam-malam seperti ini, menangis.

“Kali ini benar-benar beda, Rey. Mungkin selama ini aku selalu bertemu pria yang salah. Tapi aku yakin kali ini tidak. Beside, dia itu temen kuliahku dulu. Pokoknya, besok aku mau kenalin dia sama kamu.”

We’ll see.” Kukedipkan mataku sambil tersenyum, lalu mengacak rambutnya pelan. Selalu seperti ini akhir ceritanya.

*

“Jadi gimana pendapatmu tentang Radit?” tanyanya penuh semangat.

Aku menatapnya gamang. Pertemuan dengan Radit tadi pagi menyisakan pertanyaan yang belum bisa kujawab sampai sore ini. Entahlah, ada sesuatu yang terucap dari tatapan mata Radit tadi pagi.

“Aku belum bisa berkomentar banyak, Vi. Pertemuan sepuluh menit belum cukup untukku mengetahui apakah dia pria yang tepat buatmu atau enggak.”

“Nah, kebetulan Rey. Hobi Radit tu sama persis kayak kamu. Aku bakal ngatur jadwal biar kalian bisa pergi bareng.”

“Untuk?” Aku melotot ke arah Vivi. Ini jelas bukan ide bagus. Hobiku travelling dan fotografi. Membayangkan aku melakukan salah satu kegiatan itu bersama orang yang baru kukenal selama sepuluh menit jelas bukan ide yang menarik.

“Aku cuma pengin nunjukin kalau dia itu berbeda, Rey. Aku lelah memilih pria yang salah. Kali ini aku merasa menemukan sosok yang berbeda…”

Aku mengernyitkan kening, tanda ketidakpahaman.

“Kamu sahabat terbaikku, Rey. Aku butuh dukunganmu kali ini, aku butuh kamu bilang dia adalah pria yang tepat untukku.” Ucap Vivi memohon. Dan seperti biasa, aku tidak bisa menolak permintaan Vivi.

Aku mengangguk pelan. Pasrah.

**

Sore selepas hujan adalah saat yang tepat untuk hunting foto. Entahlah. Suasana sore selepas hujan membawa suasana magis buatku. Memberikan kesan muram, namun sekaligus damai. Ada yang berbeda dari wajah orang-orang di saat seperti ini. Dan memotret wajah adalah kegemaranku dari dulu.

“Kamu pecinta hujan ya?” Tanyamu sambil membidikkan kamera ke arah dua anak kecil yang sedang bermain genangan air, tak jauh dari tempat kita duduk.

“Kenapa kamu nanya kayak gitu?” aku menolehkan wajahku ke arahmu.

“Semenjak hujan turun tadi kamu selalu tersenyum. Mukamu ceria banget, kayak orang jatuh cinta.” Kamu menatapku sambil tersenyum. Lesung pipit itu…

Klik.

Damn! Aku kecolongan.

“Haha..mukamu lucu banget kalo lagi mikir.” Kamu ketawa kegirangan sambil ngeliatin hasil jepretan kameramu barusan. Dan entah kenapa, aku menikmati tawa itu.

“Aku hanya ingin menikmati pemberian Tuhan yang kadang nggak disukai orang. Hujan salah satunya. Banyak orang yang nggak suka hujan, dan bahkan merutukinya. Banyak orang nggak suka kehujanan, iya kan?” Aku menatapmu, yang balas menatapku sambil tersenyum.

“…Padahal, hujan itu sesuatu yang unik. Bayangkan, ribuan – bahkan jutaan – tetes  air jatuh ke bumi dalam bentuk sulur-sulur benang tak terputus seperti itu. Dan yang paling keren adalah, hujan bisa menghadirkan pelangi.” Aku menatap langit sambil merentangkan tanganku. Menikmati dingin udara sore akibat hujan seharian ini. Dan aku tersadar, aku benar-benar jatuh cinta pada hujan. Mengajakku berdiskusi tentang hujan adalah ajakan yang salah. Karena aku tak akan berhenti berbicara tentang hujan, sebelum mulutku benar-benar berbusa.

Obrolan tentang hujan ternyata tak berhenti sampai di sini, kami terus mengobrol tentang hujan hingga larut malam. Baru kali ini ada seorang pria yang mau mendengarkanku mengoceh tentang hujan. Sesuatu yang mungkin bagi pria lain akan dianggap konyol. Ya, Radit memang berbeda…

***

“Aku bener-bener nggak nyangka, Rey. Kupikir semua baik-baik aja.” Malam ini, seperti yang sudah kuduga, Vivi datang ke rumahku. Menangis. Bahkan belum genap sebulan sejak ia datang dengan senyum jatuh cintanya.

“Radit bilang, ia menemukan seorang perempuan yang benar-benar bikin ia jatuh cinta.” Ucap Vivi sambil sesenggukan.

“Mungkin nggak, kalau perempuan itu…kamu?” Aku bertanya dengan ragu. Entah kenapa pertanyaan ini justru mengusik hatiku.

“Aku nggak tahu, Rey. Tapi dia beda banget waktu cerita soal perempuan itu. Dia terlihat lebih ceria, seperti bukan Radit yang kukenal. Padahal Radit sejak kuliah dulu terkenal cuek, dan nggak pernah tertawa.”

Aku terdiam. Bayangan Radit tertawa lepas di depanku setiap kami bertemu membuat hatiku kacau. Radit memang selalu tampak ceria setiap kali bersamaku. “Mukamu ceria banget, kayak orang jatuh cinta.” Ucapan Radit tiba-tiba terngiang di kepalaku. Membuat hatiku tiba-tiba bergetar.

“Dan nggak tahu kenapa akhir-akhir ini dia jadi suka hujan.” Mata sembab Vivi menatapku. Tatapan yang benar-benar membuat hatiku hancur seketika. Ya, obrolan tentang hujan itu memang tak berakhir malam itu. Beberapa kali Radit mengajakku pergi. Dan kami tak hanya mengobrol tentang hujan, tapi juga tentang fotografi, rencana travelling, bahkan terakhir kami membahas tentang rencana pernikahan impian kami masing-masing. Dan entah kenapa kami selalu memiliki kesamaan.

Bahkan kami sama-sama merasa, kami pernah saling bertemu, di suatu hari yang sama-sama kami lupakan.

Getar HP mengagetkanku. Kulirik sekilas. Nama ‘Matahari’ muncul saat kubuka inbox pesanku. Nama panggilanku untuk Radit.

Hujan…aku sudah menunggumu sejak setengah jam yang lalu. Jadi mengukir pelangi lagi hari ini? J

****

Senja Utama, Gerbong 7, No.14D.

Aku melihat ke sekeliling, mencari nomer kursi yang sesuai dengan yang tertulis di tiket keretaku. Syukurlah, masih kosong. Artinya aku masih bisa memilih tempat duduk yang dekat dengan jendela. Hujan malam ini, dan kereta, perpaduan unik yang wajib dinikmati di sepanjang perjalananku menuju Jogja.

Kukeluarkan sebuah novel dari tasku. Kalo dilihat sekilas dari ketebalannya, novel ini akan pas menemaniku sampai ke Stasiun Tugu. Baru beberapa paragraf kubaca, seorang pria berkaus hitam duduk tepat di sebelahku. Kami saling menatap sekilas, lalu masing-masing tersenyum. Lesung pipit menghiasi senyum sekilasnya. Tak ada perkenalan, tak ada obrolan. Masing-masing kami, kembali sibuk dengan dunia kami sendiri.

Tapi entah kenapa, aku merasa kami akan bertemu lagi suatu hari nanti.

Mungkin saat masing-masing kami telah melupakan hari ini.  

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s