Serenada


Dia tampak cantik hari ini. Gaun pengantinnya yang berwarna keemasan senada dengan senyum cerianya yang tak hilang sedetikpun sejak seremoni ini dimulai. Wajah cantiknya tak hilang meski riasan tebal menutupinya. Cantik alami, seperti saat pertama aku mengenalnya.

Kali ini, dia menatapku dengan anggun, dan senyumnya…masih sama dengan senyum pertama yang kulihat dua tahun lalu. Senyum sama yang tak pernah hilang dari ingatanku sejak hari itu. Senyum sama, yang selalu menghadirkan debar halus di dadaku tiap aku melihat..dan mengingatnya.

***

“Tara.” Ucapnya sambil tersenyum. Nama yang indah. Nama yang berarti bintang, atau bisa juga berarti dewi pembawa kehidupan, dewi kasih sayang universal, dan dewi pelindung. Sangat tepat dengan pembawaannya yang ceria dan sangat ‘hidup’. Melihat senyumnya, bagiku seperti melihat bintang di gelapnya langit malam. Berada dekat dengannya, bagiku seperti terbangunkan dari kematian yang panjang.

Aku menerima uluran tangannya, dan menyebutkan namaku dengan kikuk. Entah kenapa, jantungku tiba-tiba berdetak terlalu cepat. Sangat cepat, seperti saat kali terakhir aku terguncang-guncang di atas roller coaster. Ya, roller coaster. Satu-satunya wahana yang bisa mengacaukan ritme jantungmu dalam waktu satu menit, tapi menghadirkan sensasi panjang dalam memori otakmu, dan membuatmu ingin mengulanginya lagi.

Dan senyuman itu, selalu menghadirkan sensasi roller coaster bagiku, bahkan hanya dengan mengingatnya saja. Sensasi yang terus berulang sampai detik ini, bahkan mungkin sampai nanti.

“Tahukah kamu, bintang itu manifestasi dari jiwa seseorang setelah jasadnya mati.” Ujarnya di suatu malam, sambil menatap bintang.

Aku pun menatap bintang, lewat matanya yang jernih.

“Aku ingin jadi bintang, jika tiba saatnya nanti, dan aku yang lebih dulu pergi. Aku ingin kamu menatapku di langit setiap malam, seperti saat ini.” Ucapnya lirih, sambil menatapku, dan tersenyum. “Apakah pintaku terlalu berlebihan?”

Dan kecupan lembut bibirku pada senyumannya mewakili jawaban hatiku. ‘Kamu sudah menjadi bintangku, sejak pertama aku melihat senyum itu di bibirmu’. Ucap hatiku lirih. Selirih angin yang berbisik di kala malam, kepada dedaunan yang menggeliat malu. Angin dan dedaunan, perpaduan alam yang unik, yang selalu menghasilkan serenada indah tak terperi. Bagiku, suara gemerisik dedaunan tertiup angin adalah simfoni alam yang tak tergantikan. Dan kehadiran Tara, adalah serenada terindah yang melengkapi simfoni hidupku.

***

“Tara, selamat yaa…finally.” Sarah memeluk Tara erat. Ada genangan air mata yang hendak luruh saat Tara menatapku kali ini. Air mata bahagia-kah? Definitely…maybe.

Kuanggukkan kepalaku pelan, dan tersenyum, tanpa mengalihkan pandangan sedetikpun darinya. Berharap itu akan memberinya sedikit kekuatan.

Sarah, sahabat baikku. Sekaligus jadi sahabat Tara, begitu mereka kuperkenalkan. Sarah selalu jadi orang pertama yang tahu kisah kami. Tak sedetik pun dari detil kisah kami yang luput dari pengetahuan Sarah. Kecuali kisah kami, hari ini.

Damn it, kenapa harus aku yang terakhir tahu?” Ucap Sarah gusar sambil menatap lekat-lekat undangan pernikahan itu. Hari itu, seminggu yang lalu.

Kertas undangan itu berwarna putih, berlapis beludru di bagian luarnya. Ada foto Tara bergaun pengantin dalam siluet, dan namanya tercetak anggun dalam tinta emas. Persis seperti rencanaku setahun silam, saat pertama kunyatakan niatku menikahinya.

Aku tersenyum menatap Sarah, yang balik menatapku dengan pandangan tak mengerti. Genangan air mata di tatapan Sarah membawa lenganku merengkuhnya. Dan kami tergugu, saling berpelukan.

***

Seorang perempuan setengah baya berkebaya merah maroon melangkahkan kakinya dengan mantap, persis di depanku. Kain jarit-nya yang sempit membuat langkahnya terayun-ayun, dan hak sepatunya yang terlalu tinggi tampak membuatnya sedikit limbung. Tapi dengan anggun ia mengulurkan tangan ke arah Tara, berucap selamat dan mempertemukan kedua pipinya dengan pipi Tara, bergantian kiri dan kanan.

Aku menatap adegan itu bagai drama. Sedetik kemudian, dunia seolah berhenti berputar. Hanya ada aku dan Tara, berdiri mematung saling menatap. Sebuah karpet merah memisahkan kami dalam hitungan langkah. Yang bagiku kini tampak ratusan mil jaraknya. Aku menekan dadaku kuat-kuat. Ada perih menghebat di sana. Seperti luka tertusuk pedang tajam, yang tertabur garam pelan-pelan. Perih. Dan semakin menghebat.

Kulangkahkan kakiku perlahan, mendekati Tara. Setiap langkah yang kubuat, menghasilkan air mata yang semakin menderas, mengalir di pipi Tara. Dan saat langkahku terhenti persis di depannya, Tara memelukku erat. Badannya terguncang hebat. Ada kata ‘maaf’ terucap lirih, selirih angin yang tiba-tiba menghembus daun telingaku. Aku melepaskan pelukan Tara.

“Selamat ya, kamu cantik banget hari ini.” Ucapku sambil menggenggam tangannya. Tangan Tara terasa dingin dalam genggaman tanganku.

***

“Maaf.” Hanya kata-kata itu yang keluar dari bibir Tara, sesaat setelah tangannya mengangsurkan sebuah undangan berwarna putih, berlapis beludru, ke tanganku.

Ada nama Tara terukir dengan anggun dalam tinta emas, dan sebuah nama yang kukenal dengan sangat. Sebuah nama, yang setahun belakangan telah kurubah menjadi ‘Abang.’ Dia, pria yang selama ini memberi dukungan penuh bagi hubunganku dengan Tara. Dan pria bergelar ‘Abang’ itu sedang berdiri mengecup kening Tara, dalam sebuah siluet, di sampul undangan pernikahan di tanganku. Undangan itu berwarna putih, berlapis beludru.

“Aku sudah berniat melamarmu, Bintangku. Kenapa kamu tak mau bersabar sedikit?” Ucapku tak mengerti.

“Aku sudah mendengar niatmu itu sejak setahun lalu, tapi justru Abang yang datang ke rumahku, melamarku. Orang tuaku tak punya alasan untuk berkata tidak, pun demikian aku.” Tara menundukkan kepalanya dalam-dalam. Jemarinya saling bertaut, erat.

“Aku tidak berharap kamu datang di pernikahanku nanti.” Ucap Tara pelan sambil beranjak.

Kuraih tangan Tara. Tangannya dingin dalam genggamanku. Kurengkuh tubuhnya kuat-kuat, sekuat yang aku bisa. Dan kami sama-sama menangis, dalam diam.

***

Aku beranjak dari panggung pernikahan Tara. Tak kuhiraukan suara tukang foto sewaan yang memanggilku untuk berfoto bersama pasangan pengantin. “Foto kenang-kenangan,” ujarnya.

Tidak. Jawab hatiku lirih. Foto hanya untuk mereka yang tak bisa melupakan kenangan. Dan aku hanya ingin menyimpan senyum Tara saja sebagai kenangan, bukan potret kisah cinta kami yang terlanjur buram.

Kutinggalkan pernikahan itu sambil tersenyum. Kutekan dadaku pelan, perih itu masih di sana. Tapi, demi melihat sebuah bintang yang bersinar terang di langit malam ini, aku yakin perih itu akan berangsur hilang.

Jakarta, 19 Februari 2012

Tulisan ini terinspirasi dari kisah seorang sahabat.

 “Percayalah, kawan…perih itu akan berangsur hilang.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s