Demi Dia yang Mencintai Puisiku


Pertunjukan malam ini berakhir sudah. Aku duduk di sudut ruang ganti sambil menghisap sebatang rokok. Menikmati suara riuh rendah di ruang pertunjukan adalah kegemaranku setiap selesai pertunjukan. Ada suara tepuk tangan, tawa ceria, dan beberapa teriakan nama. Tokoh utama biasanya yang namanya akan diteriakkan. Tentu saja, karena tokoh utama selalu diperankan oleh orang-orang dengan tampang ‘lumayan.’

Malam ini, kelompok teater kami memberikan pertunjukan tari kontemporer yang dicampur dengan musik modern dan puisi. Tema utama sebenarnya Tari Ramayana, tapi kami menggubahnya menjadi sebuah sajian klasik kontemporer yang segar dan tidak membosankan. Aku, seperti biasa, kebagian peran membaca puisi untuk beberapa scene, terutama saat adegan romantis antara Rama & Shinta. Tidak ada yang spesial dengan peranku, tentu saja. Berharap jadi terkenal karena peran itu bagai mengharap dapat undian. Mustahil.

“Hei, kamu tadi yang baca puisi ya?” Seorang perempuan tiba-tiba sudah berdiri di depanku. Aku menatapnya, seolah tak percaya.

Perempuan itu cantik. Sangat cantik bahkan. Rambutnya lurus panjang dan hitam berkilauan, kontras dengan warna kulitnya yang putih bak pualam. Penampilannya yang tidak terkesan ‘wah’, justru membuatnya semakin sempurna. Ia hanya mengenakan celana jins dan kaos putih lengan pendek bergambar kungfu Panda besar di bagian depannya. Aih, bikin iri sekali Panda bodoh itu. Senyum dan gaya kungfunya benar-benar terlihat norak di kaos itu. Aku suka gayanya di film, tapi aku sama sekali tidak suka ia bergaya di dada perempuan cantik di hadapanku ini.

“Hei, kok malah ngelamun sih?” Tepukan ringan tangannya di bahuku membuatku bagai tersengat ribuan volt aliran listrik. Membuatku tersadar bahwa si Panda hanya tersenyum dalam gambar. Ia bahkan tak bisa melakukan apa-apa untuk perempuan itu. Ada perasaan lega dan sedikit rasa kemenangan muncul tiba-tiba di hatiku.

“Kok kamu tahu tadi yang baca puisi aku…aku kan pakai kostum tadi?” Jawabku sambil senyum-senyum. Sok malu-malu.

“Haha…kamu mau pakai kostum apapun bakal tetap kukenali. Rambut gondrongmu tak bisa menipu.” Jawabnya ringan sambil mengacak pelan rambutku.

Aku tersipu malu. Kali ini benar-benar malu. Karena aku tiba-tiba tersadar, sudah bilangan minggu aku tak mengawinkan rambut keritingku ini dengan sesuatu bernama shampoo.

“Oya, namaku Randy.” Aku mengulurkan tangan kananku pada perempuan itu. Tentu saja setelah aku menggosok telapak tanganku itu pelan di celana jinsku. Takut tanganku yang kotor ikut mengotori kulit tangannya yang putih bersih. Meski belakangan aku tersadar kalau celana jinsku belum kucuci sejak sebulan terakhir. Ah, sudahlah. Terlanjur pula, mau dikata apa…

“Aku Putri.” Ia menerima uluran tanganku. Lantas sambil mengernyitkan kening ia bertanya, “Aku pikir nama kamu Beo?”

“Hahaha…itu nama julukanku di sini.” Aku tertawa melihat muka bingungnya yang menggemaskan.

“Hah, kok bisa?”

“Kata orang aku mirip burung Beo…bisa menirukan bermacam-macam suara, termasuk berbagai karakter suara manusia. Makanya aku sering dapat peran yang mengandalkan kemampuan suaraku. Malam ini contohnya, aku diminta baca puisi.” Aku mencoba menjelaskan nama panggungku pada putri cantik di depanku ini, yang kebetulan namanya juga Putri.

“Wah, keren. Pantes tadi kamu bagus banget baca puisinya.” Kamu menghadirkan senyum paling menggemaskan yang pernah kulihat.

Aku ikut tersenyum, kali ini tak malu-malu. “Ah, masak sih? hehehe” Aku menggaruk kepalaku yang benar-benar gatal. Grogi selalu menghadirkan rasa gatal di kepalaku. Entah karena ada reaksi hormon-hormon tertentu di tubuhku, atau reaksi kutu-kutu di kepalaku yang tak rela tuannya dibilang keren. Aih, bahkan kutu saja cemburu padaku malam ini.

“Kapan lagi kamu baca puisi?” tanyamu sambil menatap mataku. Tatapan itu benar-benar membuatku ingin menggaruk kepala.

Aku akan bacakan puisi setiap saat buat kamu.

Ah, tentu saja itu hanya jawaban yang kusimpan dalam hatiku. Macam jawaban playboy kampung yang akan menghadirkan tawa berderai kutu-kutu di kepalaku, atau Panda bodoh di kaos perempuan itu.

“Minggu depan aku ada pertunjukan lagi di sini. Acara amal untuk menggalang dana bagi korban bencana. Ada sesi khusus baca puisi, sekaligus lelang puisi-puisi yang kami bacakan.” Aku menatapnya dengan tatapan ‘datanglah-minggu-depan’.

“Oke, aku pasti datang.”

Yes! Berhasil. Tatapan mataku memang bisa melumpuhkan hati setiap perempuan. Kali ini aku mencoba menatapnya dengan tatapan ‘ciumlah-aku-sekarang-juga.’ Terakhir kali aku menatap perempuan dengan cara ini, perempuan itu langsung pergi, dan tak pernah kembali.

“Eh, udah malam nih. Aku pulang dulu ya…sampai jumpa minggu depan…dadahhh!” Ia berlalu dari hadapanku sambil melambaikan tangan. Tas ransel kecilnya bergoyang-goyang ditelan kegelapan.

Dalam hitungan menit, perempuan ajaib itu hilang dari pandanganku. Meninggalkanku bengong sendirian bagai tersihir ilmu hitam. Tak kurang dari lima menit aku berdiri mematung. Jemari tangan kiriku masih memegang puntung rokok yang masih menyala, tinggal satu senti tersisa. Cepat kuhirup rokok itu dalam-dalam. Asap yang kuhembuskan, pelan membentuk sketsa wajah sang Putri. Aku jatuh cinta, kawan.

***

Sejak malam itu, tuan putriku selalu hadir di setiap pertunjukanku. Menatapku penuh kekaguman di deretan bangku penonton. Kehadirannya benar-benar menyihirku, membuatku selalu bersemangat saat bermain peran, ataupun membaca puisi. Lima minggu terakhir ini aku menjadi orang paling produktif di komunitas teaterku. Sekaligus orang yang paling bersih dan wangi. Berbagai macam puisi, naskah teater, bahkan konsep pertunjukan tari mengalir deras dari otakku. Membuat kawan-kawanku heran, dan mulai muncul gosip-gosip tak jelas. Aku dibilang sedang patah hati, sedang kekurangan uang, sedang bertengkar dengan orang rumah, bahkan ada yang mengatakan aku sedang kerasukan setan penunggu basecamp. Cih!

Hanya satu orang yang tahu persis kenapa aku tiba-tiba berubah seperti ini.

“Kalau jatuh cinta jangan terlalu berlebihan, kawan.” Ucap Dio siang ini sambil menyeruput jus ketimun kesukaannya. Jus paling aneh yang pernah kulihat dan tak pernah mau aku merasakan.

“Nanti kalau benar-benar jatuh, sakitnya sulit disembuhkan.” Lanjut pria berkepala botak ini sambil menatapku.

“Kali ini objeknya berbeda, Boy. Dan aku yakin ini akan berakhir indah.”

“Bah, sapa pula yang mengajari kau berasumsi semacam itu. Tak ada yang pasti di dunia ini, macam cinta kau itu. Kau bahkan belum tembak perempuan itu.” Ucap Dio lantang dengan logat khasnya.

“Cinta itu bisa tampak dari tatapan mata, Boy. Dan aku lihat itu di mata Putri.” Ucapku semakin yakin.

“Bwahahahaha….goblok kali kau ini. Ini yang namanya cinta buta, Bung!” Dio menepuk pundakku keras. Hampir saja bakso di mulutku mencelat keluar.

“Tanyakan dulu padanya, baru kau boleh berkesimpulan. Ajaklah kawin kalau perlu, umur kau udah berapa?” Dio memberikan intonasi berlebihan pada kata UMUR sambil matanya melotot padaku. Seolah-olah sudah kepala tiga umurku. Padahal ulang tahun ke-30-ku masih hitungan beberapa bulan ke depan.

Hey, beberapa bulan lagi kawan.

Aku tiba-tiba tersentak. Kali ini aku memang harus segera bertindak. Belanda memang masih jauh, kawan. Tapi umur tinggal hitungan bulan. Tak bisa dibiarkan.

***

“Aku memang konvensional kalau urusan cari pasangan. Meskipun aku bisa berteman dengan siapapun, tapi kalau cari pasangan aku nggak mau sembarangan. Aku pengin punya suami pekerja kantoran, yang rapi, wangi, dan punya penghasilan tetap setiap bulan. Aku bahkan punya konsep pernikahan impian…” jawabanmu membuatku terdiam.

Pertanyaanku singkat saja, “Kapan rencanamu menikah?”

Tapi, jawabanmu mengalir bagai air bah sejak setengah jam lalu. Dan semua yang keluar dari mulutmu benar-benar tidak menggambarkan diriku. Sama sekali tidak. Kamu masih bergumam soal konsep pernikahan impianmu sambil menatap ujung Monas. Aku bergumam soal dirimu dalam hati, menatap ujung yang sama.

Jam 01.00 dini hari. Tempat ini bagiku adalah tempat yang paling tepat untuk berkontemplasi. Berbaring di atas rumput, memandang langit atau ujung Monas, adalah kegemaranku. Sudah sebulan terakhir ini kutularkan hobiku pada Putri, yang kini mulai mengagumi Monas di malam hari.

Dan Monas malam ini menghianatiku. Rupa-rupanya ia cemburu pada kemesraanku dengan Putri yang mengganggunya hampir setiap minggu. Aku yakin ia yang meracuni Putri dengan konsep pria idaman itu. Dan aku membenci Monas mulai malam ini, sama bencinya aku dengan gambar Panda bodoh di kaos Putri. Dan Panda itu pasti sedang menertawakanku, tepat di sampingku berbaring saat ini.

“Jadi, lelaki seperti aku ini tidak pantas ya jadi pendamping hidupmu?” Aku bergumam pelan sambil tetap menatap ujung Monas.

“Haha…kamu ini ngomong apa sih. Kamu adalah teman terbaikku, bahkan aku penggemar beratmu kan?” Putri mengalihkan pandangannya ke arahku. “Aku mencintai puisimu, Ran….tapi aku tidak mungkin menikah dengan pria berambut gondrong sepertimu…hahaha.” Putri tertawa lepas sambil mengacak rambutku.

Aku terdiam. Monas, Panda, langit, bintang. Semua terdiam. Bahkan tukang kopi yang duduk tak jauh dari tempat kami berbaring juga ikut terdiam. Aih, bahkan matanya pun terpejam. Sama sekali tak ada empati dengan kehancuran hatiku saat ini. Cih!

***

Seminggu sejak malam menyedihkan di Monas itu aku tidak lagi bertemu dengan Putri. Dan selama seminggu itu pula aku terus berpikir. Dan hari ini aku akan merealisasikan hasil pemikiranku itu.

“Gila kau!” Mata Dio melotot ke arahku, mukanya pun memerah. Sesaat setelah aku menceritakan hasil pemikiranku.

“Boleh kau jatuh cinta, tapi jangan rusak hidup kau macam ini.” Ucapnya dengan nada tinggi.

“Aku justru mau memperbaiki hidupku, Boy. Aku mau hidup normal, seperti pria-pria kebanyakan. Aku mau cari pekerjaan, dan tak lagi menyia-nyiakan hidupku di panggung pertunjukan.”

“Bah…sejak kapan seni itu jadi sesuatu yang sia-sia. Kau besar di panggung, kawan.” Dio menyeruput jus ketimunnya, “Aku hanya berpesan satu hal, kawan. Carilah pasangan hidup yang bisa menerima kondisi kau apa adanya. Bukan seseorang yang memaksa kau melepas jati diri, dan menjadikan kau orang lain. Cinta itu tidak pernah buta. Manusia yang membutakan dirinya sendiri. Jangan terlalu mendewakan cinta, itu akan membuat kau jadi seonggok sampah.”

Aku terdiam. Pendapat Dio selalu benar. Tapi, kali ini benar saja tidak cukup untuk merubah keputusan hatiku.

***

Dan, keputusanku benar-benar sudah bulat. Sore ini aku mendatangi rumah Putri. Akan kutunjukkan betapa serius hatiku ini kuserahkan padanya. Sudah kusiapkan puisi yang kubuat kemarin malam dengan sepenuh hati.

Kau bagai intan permata yang berkilauan,

Dan aku…layaknya tukang kayu yang tak tahu bagaimana menjadikanmu indah.

Demi indahmu, sungguh…kan kutinggalkan rumah kayu dan gergajiku

Ku kan tinggal di tanah-tanah tempatmu bersemayam

Agar ku bisa mengukir keindahanmu, di hatiku yang terdalam…

(Bait pertama puisiku untuk Putri)

Turun dari taksi, aku bak pangeran tampan yang baru turun dari kuda putihnya. Dengan gagah kuangsurkan uang 50 ribu, pinjaman dari Dio tadi pagi, pada abang supir taksi yang hari ini senyumnya terlihat manis sekali. Kubalas senyuman si abang. Dan sebelum kuucap sempurna kata ‘terima kasih’, si abang supir taksi sudah tancap gas, meninggalkanku sendirian di depan sebuah rumah besar bernomor 107. Aih, bahkan angka 7 itu tampak tersenyum padaku, menggemaskan.

Seorang perempuan setengah baya berbadan gempal tergopoh-gopoh mendatangiku yang berdiri di depan pintu gerbang. Ada banyak mobil terparkir di halaman rumah Putri. Ada suara riuh rendah terdengar dari bagian belakang rumah ini.

“Nyari siapa, Mas?” Tanya perempuan itu pelan dari balik gerbang.

“Putri-nya ada, Bu?” aku bertanya sopan. Se-sopan yang aku bisa.

“Ada keperluan apa, Mas? Ndoro Putri sedang ada acara lamaran.”

Glek!

Aku terdiam.

Suara klakson yang tiba-tiba menyalak di belakangku sama sekali tidak membuatku bergeming. Kubiarkan mobil mewah itu melewatiku, masuk ke rumah Putri, setelah perempuan gempal itu membukakan gerbang. Kutolehkan kepalaku ke arah mobil itu.

Ada bayangan seorang pria terlihat sekilas dari kaca mobil itu.

Seorang pria yang berdiri dengan muka muram seperti habis kalah perang, tangannya lunglai memegang serangkai bunga murahan. Pria itu memakai kemeja kotak-kotak lengan panjang, celana kain yang garis setrikanya masih tampak terlihat, sepatu mengkilap, serta rambut pendek berminyak yang tampak seperti habis dibabat.

Pria di kaca mobil itu tampak menyedihkan. Pria itu bukan Randy yang kukenal. Pria itu hanyalah seonggok sampah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s