Manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang…(sekedar penyemangat)


“Aku menyerah,” gumamku pasrah.

Engkau menatapku sambil tersenyum. Pelan kau angsurkan sebuah novel bersampul gambar lima menara yang sedang kau baca. Kau tunjukkan sebuah kalimat di halaman pembukanya: Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang.

Aku tersenyum masygul. Kutepis uluran tanganmu, hampir saja novel tak bersalah itu terlepas dari tangan kokohmu.

“Kalau terlalu lama lelah, pahit sudah yang terasa, barangkali mati pada akhirnya.” Aku masih bersungut. Sudah kenyang aku dengan nasihat-nasihat bijak bestari yang memaksaku untuk bersabar. Bersabar? Ahh,,,sudah sejak dilahirkan sepertinya aku dekat dengan kata-kata itu. Bersabar sampai kapan?

Hauwwftttt….kuhembuskan nafas kuat-kuat.

“Kali ini aku benar-benar menyerah, aku lelah.” Isakku pelan.

Lagi-lagi kau hanya tersenyum. “Tuhan tidak akan memberikan cobaan pada umatnya di luar kemampuan yang ia miliki”

Aku tersenyum pahit. “Benarkah? Bagaimana dengan anak-anak korban bencana yang harus kehilangan orang tuanya? Di antara mereka sekarang ada yang harus rela jadi pengemis, gelandangan, hanya sekedar untuk bisa bertahan hidup. Apa kabar para pejabat yang bahkan tak pernah peduli dengan rakyatnya? Kenapa mereka masih bisa hidup bahagia?” Aku berteriak semacam kesetanan.

“Adil tidak harus selalu sama.” Kau letakkan novel dari tanganmu ke atas meja belajarku. “Tuhan sudah berikan    semua sesuai porsinya. Perbedaan ada untuk membuat kita belajar, dan bersyukur. Kalau semua manusia pintar dan kaya, kita tak akan belajar bersyukur, atas anugerah kepintaran dan rejeki yang diberikan Tuhan pada kita. Kalau semua miskin dan bodoh, kita tak akan belajar untuk menjadi lebih pintar, atau belajar caranya bekerja keras agar rejeki melimpah. Semua saling membutuhkan. Semua diciptakan saling berpasang-pasangan, termasuk kaya-miskin, pintar-bodoh. Tak ada setitik pun ciptaan Tuhan yang tidak ada manfaatnya. Bahkan pengemis, bisa jadi ladang sedekahmu.”

Aku terdiam. Mencoba mencari makna dari setiap kata-katamu.

“Mereka yang kau anggap pejabat jahat, jangan kau pikir hidup tanpa perjuangan. Terlepas dari apapun cara mereka memaknai dan menjalani perjuangan hidup itu, mereka pasti naik tangga dulu sebelum akhirnya sampai ke puncak.”

Engkau menatapku tajam. “Apakah kau sudah tau kapan perjuanganmu ini akan berakhir?”

Aku tergeragap. Pertanyaanmu yang tiba-tiba kembali ke pokok persoalan membuat pikiranku yang mulai tertata kembali buyar.

“Kalau aku tahu dimana ujungnya, sudah kukejar dari kemarin sore.” Aku kembali bersungut.

“Kalau kau bahkan belum tahu dimana ujungnya, kenapa berhenti sekarang? Bagaimana kalau langkahmu tinggal sepuluh, delapan, lima, atau dua lagi sebelum sampai di garis finis? Bagaimana kalau tinggal sejengkal lagi? Bagaimana kalau esok kau temukan apa yang kau cari? Jangan menyerah sebelum kau tahu kapan perjalananmu akan berakhir.”

Aku terdiam. Menatapmu menyeruput sisa-sisa kopi yang sudah mulai dingin.

“Bagaimana kalau perjalanan ini tak ada akhirnya?” Aku menatap kosong ampas kopi di dasar gelasmu.

 

“Perjalanan hidup memang tak pernah ada akhirnya. Ia hanya akan berujung di sebuah fase bernama kematian. Bahkan kematian pun terkadang hanya jeda, untuk perjalanan hidup selanjutnya yang diasumsikan abadi. Tapi, jangan pernah berpikir jalan hidup ini lurus tak berkelok. Ia selalu tawarkan bermacam persimpangan. Perjalananmu saat ini, akan berakhir di awal persimpangan baru. Perjuanganmu hari ini, akan membawamu pada pilihan hidup yang lain. ”

Aku termenung.

“Perjuangan adalah pertanda bahwa kau masih hidup. Sekali berhenti, ibaratnya kau mati. Kalau mau, menyerahlah. Dan kau tidak akan sampai pada awal persimpangan hidupmu selanjutnya.”

Engkau pergi. Meninggalkanku sendiri dalam diam.

 

 

*Untuk siapapun yang sedang ingin menyerah. Percayalah, manisnya hidup akan terasa setelah lelah berjuang…^_^

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s