Adin, pejuang kecilku (part 1)


“Rey, bawa motornya cepetan!” Teriakku ke telinga Rey yang berusaha sekuat tenaga melarikan motor bebeknya. Keringat tampak menetes di sela-sela kerah polonya.

“Iya..sabarrrrrrr!” Teriak Rey nggak kalah kenceng. Aku melirik speedometer dari sela-sela rambut keriting Rey. 80 km/jam. God damn, kenapa motor ini serasa berjalan sangat lambat?

Telpon dari Tio 10 menit lalu benar-benar membuatku gila. Hanya satu kalimat Tio yang bisa kudengar dengan jelas, “Adin masuk rumah sakit, kondisinya kritis..” selebihnya, kalimat-kalimat Tio hanya terdengar seperti dengungan lebah di telingaku. Ditusuk, darah, pingsan, uang. Semua kata-kata Tio menghambur ke udara tanpa membentuk satu pun konstruksi kalimat bermakna. Yang ada di kepalaku hanya satu, sesegera mungkin sampai di rumah sakit dan melihat kondisi Adin. Adin, pejuang kecilku. Betapa dekat hidupmu dengan penderitaan, terlalu dekat malah.

Dua puluh menit perjalanan yang menyiksaku akhirnya usai sudah. Tempat outbound dengan rumah sakit memang agak jauh. Demi mendengar kabar Adin masuk rumah sakit, aku langsung meninggalkan outbound tanpa berpikir panjang. Aku tak peduli dianggap sebagai pemimpin yang tak bertanggung jawab, aku tak peduli jika harus keluar dari komunitas, aku bahkan tak peduli harus melewatkan kesempatan bersama seseorang yang pernah menjad harapan terbesarku. Aku sama sekali tak peduli. Aku hanya peduli pada nasib Adin seorang.

“Thank’s Rey..” aku langsung melompat dari motor begitu kami sampai di depan rumah sakit. Kaki Rey bahkan belum menjejak tanah dengan sempurna, membuat kami hampir saja terjerembab bersama. Aku tak peduli. Aku bahkan tak peduli jika harus jatuh dan berdarah-darah. Yang paling penting saat ini hanya satu, melihat kondisi Adin secepatnya.

Dengan helm yang masih terpasang di kepala, aku berlari menyusuri lorong rumah sakit, mencari letak ruang UGD, tempat Adin dirawat. Begitu tadi yang kudengar dari telpon singkat Tio. Sesampainya di depan UGD, aku melihat Mak Wati, emaknya Adin, duduk tanpa ekspresi di sebuah bangku panjang yang tepat menghadap ke taman rumah sakit. Baju lusuhnya berdarah-darah. Pun tangannya yang sedang mencengkeram ujung kain kebayanya. Pandangannya yang kosong menatap patung perempuan di tengah taman, yang juga sedang menatap kosong ke arah pintu UGD. Entah apa yang ditunggu patung perempuan berpakaian seadanya itu. Di samping Mak Wati, duduk Atin, adik perempuan Adin, yang sibuk menjilat dan menyeruput es lilin di tangannya. Matanya yang bulat tampak asyik menatap seekor burung gereja yang sedang merayu si patung perempuan. Mulutnya sesekali tersenyum kecil saat melihat burung gereja itu terbang rendah, lalu hinggap lagi di jari-jemari kaki telanjang si patung perempuan. Pemandangan yang sangat kontras. Dua anak pinak duduk bersebelahan. Si mamak diam tanpa ekspresi, anaknya tersenyum-senyum menjilati es lilin. Pemandangan yang membuat hati teriris.

Aku menarik napas panjang. Kukumpulkan kekuatan yang mulai luruh sedikit demi sedikit. Pelan, kudekati Mak Wati.

“Bu Periiiii….” Atin tiba-tiba berlari menghambur ke pelukanku. Selalu begitu tingkahnya saat melihatku. Ibu peri adalah panggilan khas untukku dari anak-anak sanggar Negeri Dongeng. Sanggar untuk anak-anak jalanan yang kubangun dengan peluh dan air mata bersama Tio sejak setahun lalu. Sanggar yang mempertemukanku dengan banyak hal, termasuk Adin dan kompleksitas keluarganya.

Aku memeluk Atin erat. Pelan kulepaskan helm-ku, dan kuberikan pada Atin. Atin selalu senang memainkan helmku, memakainya lalu berlari-lari berkeliling sambil berteriak, “Aku ingin jadi astronotttt!” Tapi kali ini aku memberinya isyarat untuk duduk diam. Atin mengangguk pelan, lalu duduk di lantai sambil memakai helmku.

Mak Wati masih diam, duduk tanpa ekspresi menatap kosong ke arah patung perempuan berpakain seadanya. Tak ada gerakan, tak ada tanda-tanda ia akan bicara, atau bahkan menangis. Aku duduk di sebelahnya, berusaha memeluknya. Tak ada reaksi apapun dari Mak Wati. Justru aku yang mulai sesenggukan, menangis dalam diam, sambil memeluk Mak Wati erat-erat. Setengah jam berlalu tanpa ada komunikasi di antara kami. Aku masih menangis tertahan sambil memeluk Mak Wati, dan Mak wati tetap menatap patung perempuan yang tak pernah berpaling dari pintu UGD.

Pelan kulepaskan pelukanku dari Mak Wati. Sambil menyusut sisa air mata, aku melihat Tio berjalan tergesa-gesa bersama dua pria yang tak kukenal ke arah kami. Begitu sampai di depan Mak Wati, Tio menepuk pundaknya, lalu pelan berkata, “Saya sudah menemukan dua orang yang mau menyumbangkan darahnya untuk Adin mak..”

Ajaib. Mak wati mengalihkan pandangannya dari si patung perempuan, lalu menatap Tio lekat-lekat. Keningnya mengernyit dan bergumam pelan, “Darah….darah…” Kepalanya tiba-tiba menunduk, menatap nanar kedua tangannya yang berlumuran darah. “Darahhhhh…” Mak Wati menjerit histeris lalu menenggelamkan wajahnya ke dalam kedua tangannya yang berlumuran darah. Bahunya tampak terguncang hebat, isak tangis terdengar dari sela-sela jari tangannya. Aku kembali memeluk Mak Wati erat-erat. Kali ini kami berdua menangis, hati kami berkomunikasi satu sama lain. Membagi kesedihan bersama, meleburkannya menjadi satu rasa yang sama.

(bersambung..)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s